<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453</id><updated>2011-04-22T07:11:31.824+07:00</updated><category term='Suara Pembaruan'/><category term='Kompas Minggu'/><category term='Lampung Post'/><category term='Tabloid Nova'/><category term='Sinar Harapan'/><category term='Republika'/><category term='Pikiran Rakyat'/><category term='Suara Karya'/><category term='Koran Tempo'/><category term='Seputar Indonesia'/><category term='Jawa Pos'/><title type='text'>CerpenKoran</title><subtitle type='html'>-- Apresiasi Cerpen Sastra Media Massa (Koran)--</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7564257832930984138</id><published>2008-12-27T12:03:00.000+07:00</published><updated>2008-12-27T12:03:00.797+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Karya'/><title type='text'>M Zainudin</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di Sebuah Senja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Oleh M Zainudin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=204845"&gt;Suara Karya&lt;/a&gt;, Sabtu, 19 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayup-sayup gema adzan maghrib menyirami ketenangan Dusun Kartaghanna. Dedahan berumbai mengikuti irama angin yang semakin gesit, burung-burung kecil berhamburan menuju sarangnya masing-masing. Sementara di ujung barat, Gunung Kalebungan berdiri megah menyembunyikan cahaya matahari di punggungnya. Sore itu, teja seperti membentuk sketsa agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Di atas amben, di samping langgar joglo, Sarto mengaso, sesekali menyeduh segelas kopi dingin di hadapannya. Wajahnya kusut menatap langit. Bulir-bulir keringat membasahi tubuhnya yang legam. Seharian penuh ia bekerja mencangkul di ladangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kemarin sore, sehabis ia bekerja, Rahem menemuinya, membawa sepucuk surat undangan yang sengaja diselipkan di sebungkus rokok Oepet. "Acara rokatan [1], Kang, di rumahnya Mad Juma," ucapnya, sembari melepas senyum datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sarto menimang-nimang bungkusan rokok itu. Matanya redup tak seperti biasanya. "Habis bekerja, Kang?" Sambung Rahem dengan senyum yang sama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ia, antisipasi, Hem, takut si Zainur minta kiriman lagi. Maklum, sekolah tinggi sekarang bayarannya tambah mahal. Sebagai orangtua, kalau mau anaknya pintar, harus berani banting tulang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Pasti sebentar lagi Zainur akan menjadi orang besar," ucapnya penuh kekaguman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Amiin...duduk, Hem," sahut Sarto, sembari menggelar tikar yang dirajut dengan serat pohon siwalan, di atas emperan joglo langgar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tapi sayang, semenjak Zainur sekolah di kota, desa ini jadi terasa sepi. Andai saja dia masih di desa ini, mungkin kita tidak perlu kesulitan mencari penerus tokang tegghes [2]," ucap Rahem tanpa mempedulikan raut Sarto yang semakin muram. Pandangannya kosong menatap kehampaan. Acara mamaca [3] empat tahun yang lalu, saat rumahnya baru direnovasi, kembali belingsatan meramaikan ingatannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Decak kagum para sesepuh desa ketika mendengarkan suara Zainur menggema penuh wibawa, neghasaghi [4] tembang yang menceritakan Bhetarakala [5], terasa semakin hangat dalam ingatannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Zainur muda, yang baru menyelesaikan sekolah menengah atas di Kabupaten Sumenep, dengan sekejap menjadi primadona di kalangan para sesepuh. Kekuatan vokal dan pamor suaranya memberi cukup alasan bagi mereka untuk mengaguminya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Hampir dua bulan penuh namanya selalu disebut-sebut. Kata mereka, "Benar-benar keturunan tokang tegghes." Kehadirannya telah membawa lentera baru di Dusun Kartaghanna. Nama Sarto pun tidak lepas dalam pembicaraan para sesepuh desa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Selaku orangtua sudah sepantasnya ia merasa bahagia dan bangga memiliki keturunan yang bisa diandalkan untuk meneruskan profesi keluarga sebagai tokang tegghes. Setiap hari Nikmah, istri tercintanya, sengaja menyisihkan waktu untuk sekadar meracik ramuan-ramuan sederhana guna menjaga kekuatan pita suara anak semata wayangnya. Tak jarang, di setiap sore dan pagi hari ia memarut khorbina jhei [6].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sebagai istri tokang tegghes, Nikmah tidak terlalu kesulitan untuk sekadar merawat dan menjaga kekuatan pita suara anaknya. Terlebih ia juga keturunan keluarga ahli mamaca di desa sebelah. Ia turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh suaminya. Baginya, profesi sebagai tokang tegghes mamaca mempunyai kebanggaan tersendiri. Selain dihormati oleh sebagian besar orang-orang desa, tokang tegghes juga dipercaya sebagai pemegang kehormatan desa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Jangan heran jika acara mamaca sering kali dibalur dengan kekuatan-kekuatan magis. Karena, selain sebagai hiburan, kegiatan ini juga merupakan acara ritual yang sarat dengan ajaran-ajaran suci keagamaan dan ajang kompetisi ilmu kesaktian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sederetan susunan kidung yang terdapat dalam kitab kuno mamaca, kesemuanya menceritakan tentang tokoh-tokoh suci dalam agama Islam, dan dipercaya memiliki kesakralan tersendiri. Tokang tegghes dan ahli mamaca bagi kalangan sesepuh desa adalah orang-orang pilihan, selaku penyampai risalah kebenaran. Dan Nikmah sangat paham tentang semua itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Malam itu, tapuk matanya berkaca-kaca. Selain bangga dan takjub kepada anak semata wayangnya, diam-diam ia juga ketakutan. Ada cerita, ketika si tokang tegghes atau ahli mamaca tidak mempunyai kekuatan magis yang cukup memadai, di waktu ia negghasagi tiba-tiba pita suaranya rusak total. Setelah itu, ia hanya akan menjadi bahan gunjingan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Profesi sebagai tokang tegghes tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin karena itu Zainur muda, yang malam itu tampil dengan begitu menawan dan penuh kewibawaan, sebagai juru penjelas syair mamaca, dengan sekejap menjadi primadona di kalangan para sesepuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Malam itu, Nikmah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, orang-orang kampung berkumpul membentuk lingkaran sederhana di emperan rumahnya. Beragam bentuk senjata, berupa pedang, clurit, dan parang berukuran besar, menyembul di antara punggung mereka masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sesekali terdengar bisik-bisik kecil. "Kalau si-Zainur, persis seperti bapaknya, tidak bisa dicoba-coba sembarangan. Ilmu apa pun tidak bakalan mempan mencegah kehebatan suaranya." ucap mereka, sembari menggeleng-gelengkan kepala. Tapi, jangan heran dulu, kebiasaan membawa senjata, seperti clurit, parang, pedang atau keris berukuran besar, merupakan kebiasaan orang-orang Madura secara turun-temurun. Menurut kepercayaan mereka, datang ke sebuah pertemuan tanpa membawa senjata atau jimat apa pun, secara tidak langsung telah memamerkan kesombongannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Zainur muda pun tidak bisa lepas dari senjatanya. Malam itu, ia menggunakan pakaian serba hitam, dengan kopiah hitam berukuran tinggi 10 cm, semakin menambah kewibawaannya. Kumisnya pun dibiarkan tumbuh memanjang dan lebat. Meski waktu itu umurnya masih berkisar sembilan belas tahunan, namun perawakannya layaknya laki-laki matang dua puluh lima tahunan. Kepul asap tembakau perancak menguap dari bibirnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Orang-orang semakin takjub memandangnya. Semenjak dahulu tokang tegghes tidak ada yang berusia di bawah umur tiga puluh tahun. Selain keheranan, mereka juga semakin tertarik untuk menguji kekuatan ilmu kanuragannya. Dan hasilnya, semua usaha mereka sia-sia belaka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Bisik-bisik kecil terus menjalar. Sarto semakin berkaca-kaca penuh kebanggaan. Di balik daun pintu kamar, Nikmah menyembunyikan air mata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Lima bulan kemudian, saat Zainur masih hangat-hangatnya menjadi bahan perbincangan. Tiba-tiba Sarto dikejutkan oleh keinginannya untuk melanjutkan sekolah di kota Yogyakarta. "Untuk apa melanjutkan sekolah? Percuma, banyak orang yang sekolahnya sudah tinggi, akhlaknya tidak bisa diandalkan. Bahkan tidak jarang di antara mereka hanya menjadi gelandangan dan tidak mempunyai pekerjaan tetap," cegahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tapi, mencari ilmu hukumnya wajib, Pak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Menjaga keutuhan tradisi para leluhur juga merupakan kewajiban bagi para penerusnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Pak, saya sekolah paling cuma empat atau lima tahunan. Setelah itu, saya akan kembali ke desa ini untuk melanjutkan profesi keluarga kita sebagai tokang tegghes. Saya sadar, tradisi lama selaku jatidiri desa ini tidak boleh punah. Tapi, kata Ustadz, mencari ilmu selagi masih muda, dalam ajaran agama kita hukumnya wajib," tandas Zainur penuh keyakinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Mendengar pernyataan anak semata wayangnya, Sarto hanya mampu terdiam. Ia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam, sekadar untuk menetralkan perasaannya, lalu menatap istrinya yang diam-diam menguping pembicaraannya di balik daun pintu kamar. Sisa-sisa gurat kecantikan di wajahnya yang sudah mulai menggelambir masih teramat kental melekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Andai saja anaknya tahu, di waktu ia masih muda harus rela banting tulang untuk belajar menjadi tokang tegghes profesional, semata-mata demi memperebutkan perasaan istrinya, yang waktu itu menjadi kembang desa di desa sebelah, mungkin ia tidak akan sembarangan meninggalkan profesinya sebagai tokang tegghes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Dulu, orang tidak bisa mamaca atau tidak bisa menjadi tokang tegghes, dengan sendirinya akan tersisihkan dari pergaulannya. Namun, perubahan zaman adalah isyarat halus berubahnya bentuk pemahaman dan pola berpikir manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sarto semakin gulana. Haruskah ia kecewa dengan pilihan putranya? Perlahan-lahan Nikmah menghampirinya "Kang, biarkan saja anak kita yang menentukan sendiri masa depannya," ucapnya pelan meminta pengertian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Nikmah, anak laki-laki adalah lambang penyambung tangan, yang akan meneruskan profesi dan citra keluarganya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kang, kita tidak bisa terlalu dalam ikut campur pada semua ketentuan Sang Maha Kuasa. Andai saja Zainur dititipkan kepada kita sebagai penerus profesi keluarga kita, ia pasti akan kembali pada kita, kalau tidak..." Nikmah menundukkan wajahnya, sengaja menyembunyikan matanya yang mulai basah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Lagi-lagi Sarto hanya mampu terdiam. Tak ada bahasa yang teramat penting untuk diucapkan. Lima bulan kemudian Zainur pun benar-benar hijrah ke kota. Empat tahun sudah berlalu, kerinduan Nikmah terus menikam kegalauanya. Putra kesayangannya yang dulu berjanji akan pulang setiap tahun, sampai saat itu masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Bahkan satu minggu yang lalu, ia mendapatkan telegram dari kota, sebentar lagi anaknya akan pergi ke negeri seberang sekadar meneruskan sekolahnya di Harvard University.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Perasaannya semakin berkarau. Haruskah ia bangga atau malah kecewa, sementara orang-orang kampung selalu menanyakan keberadaannya, "Kapan Zainur akan pulang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ia hanya tertegun ketika nama putranya disebutkan. Ia juga tidak tahu bagaimana kabar putranya di kota seberang. Ia hanya berusaha menjadi orangtua yang baik, penuh pengertian, dan tidak terlalu mengekang keberadaan anaknya. Namun, salahkah bila seorang ayah menaruh harapan pada anaknya? Ia tidak paham semua itu. Ia hanya lulusan sekolah dasar sebagaimana juga Nikmah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Perbincangan orang-orang desa tentang Mad Juma yang begitu getol memperjuangkan nilai-nilai tradisi para leluhurnya, semakin menyesakkan perasaannya. Setiap sore sehabis bekerja, di atas amben di samping langgar joglo, ia lesap dalam perenungannya. Sesal dan bangga bercampur menjadi satu dan ia tidak tahu apa namanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mad Juma yang lulusan sekolah tinggi di kota masih mau pulang ke desanya hanya untuk melestarikan kebudayaan dan tradisi para leluhurnya, padahal dulu ia tidak pernah bersinggungan dengan semua itu," ucap Rahem kemarin sore.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Senja menyusut, pendar-pendar cahayanya sempurna berganti gelap. Lamat-lamat bunyi seruling mamaca menggema dari arah selatan. Adzan maghrib telah selesai, sebentar lagi orang-orang akan menjemputnya.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;    Mohamad Zainudin, cerpenis tinggal di Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;    dan Mantan Wakil Kepala Suku Sanggar ANDALAS,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;    di PP. An-nuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;    Catatan: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;    [1]. Rokatan, (selamatan), biasa dilakoni ketika hajat orang-orang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         Madura berhasil terwujudkan, semisal untuk membangun atau mereno&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         vasi bangunan rumahnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;    [2]. Tokang tegghes atau pamaksod adalah juru penjelas tembang mamaca&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;    [3]. Mamaca (macapat) adalah bentuk kesenian tradisional yang menurut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         para pakar berasal dari Jawa Timur. Kesenian ini memulai membiak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         di Madura sebelum abad ke-15 (pra-Islam).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;    [4]. Neghasagi, menjelaskan tembang macapat yang terlebih dahulu di-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         nyanyikan dengan menggunakan bahasa Jawa Kawi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;    [5]. Bhetarakala dalam bahasa Jawa sering kali disebut Batara Kala,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         salah satu tembang macapat yang dibacakan tanpa iringan instrumen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         apa pun, dan biasanya dalam tradisi masyarakat Madura tembang ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         dibacakan khusus untuk acara rokatan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;    [6]. Korbina jhai, merupakan jamu tradisional Madura, yang diparut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         guna diambil sari patinya, untuk diminum demi menjaga kekuatan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;         pita suara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7564257832930984138?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7564257832930984138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7564257832930984138&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7564257832930984138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7564257832930984138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/12/m-zainudin.html' title='M Zainudin'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-4616366074297220602</id><published>2008-12-02T11:51:00.000+07:00</published><updated>2008-12-02T11:51:00.159+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Karya'/><title type='text'>Yonathan Rahardjo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanya Tukang Cuci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Cerpen: Yonathan Rahardjo&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=205462"&gt;Suara Karya&lt;/a&gt;, Sabtu, 26 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap pagi kami berjalan beriring ke rumah tuan yang mempekerjakan kami. Di situ sudah tersedia pakaian kering, yang kami jemur kemarin hari. Akulah yang bertugas menyetrika pakaian mereka, sedangkan ibuku menuju tempat tuan yang lain, untuk mencuci pakaian keluarga tuan itu. Baru setelah itu ibu pun ke tempat aku masih menyetrika, untuk mencuci pakaian tuan dan anak-anaknya, serta milik anak-anak kos yang mempercayakan pakaian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tempat aku menyetrika pakaian adalah teras kamar satu anak kos, yang tidak menyerahkan pakaiannya untuk kami cuci dan kami setrika sejak adiknya menumpang kos. Ia mengalihkan uang cuciannya untuk membayar tumpangan bagi adiknya. Hampir tiap hari, kini, anak kos ini mencuci pakaiannya sendiri. Namun, tidak pernah kulihat ia menyetrika, sehingga apabila kuamati pakaiannya memang tidak licin tersetrika, namun tetap dipakainya pergi bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kami tahu, anak kos ini adalah seorang pegawai perusahaan. Namun, aneh bagi kami, kelihatannya ia kok enggan mengeluarkan duit untuk mencuci-setrikakan pakaiannya kepada kami, sebagai satu paket pembayaran kos kepada tuan. Sedangkan kami dibayar tuan untuk tenaga yang kami keluarkan, sementara sabun, air, dan listriknya tanggungan tuan. Dari pembagian itu, kami mendapat bagian yang tidak seberapa. Murah, kesemuanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Aneh, ada orang sepelit pegawai yang kos ini. Uang yang tidak seberapa, mengapa ia enggan untuk berbagi dengan kami, dengan mempercayakan pakaiannya untuk kami cuci. Bukankah kini adiknya tidak menumpang di kamarnya lagi, sehingga uangnya bisa digunakan untuk membayar cucian? Bukankah dengan mempercayakan pakaiannya untuk kami cuci, berarti ia membantu meringankan kebutuhan hidup kami yang kekurangan ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Apakah sebetulnya yang ada dalam benaknya, setiap bangun pagi melihat kami berdua bahu-membahu mencuci dan menyetrika pakaian-pakaian ini? Apakah perasaannya tidak tersentuh melihat perempuan seperti ibuku menghidupi kami berdua dengan menjadi tukang cuci baju, dan jelas, aku yang masih sekolah pun harus membantu? Juga di sisinya, selain berbagi rezeki, ia juga mendapat keuntungan dengan pakaiannya selalu bersih dan rapi. Ah, dasar pelit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Aku hanya menerka-nerka sebetulnya apa yang dipikirkan anak kos itu. Pikiranku menembus dinding kamarnya, yang di sisi luarnya aku setiap hari menyetrika pakaian tuan dan anak-anaknya. Kalau pikiranku melayang seperti ini, aku terkadang juga membayangkan apa yang dilakukan anak kos itu di dalam kamarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Jendela kamarnya tertutup. Sering begitu, saat setiap pagi aku datang. Kadang ternyata anak kos ini tiba-tiba datang dari luar, dengan wajah kusut kepayahan dan pakaian kucal, membuka pintu, masuk kamar, menguncinya, dan tak keluar lagi barang seharian. Kadang lampu menyala dan ia baru bangun tidur, lalu membuka jendela, tepat di sisi aku sedang menyetrika. Kadang pula ia sudah bangun pagi, mencuci baju-bajunya lalu mandi, berpakaian rapi dan pergi. Meski aku tahu pasti, baju dan celananya tidak disetrika. Aneh. Benar-benar aneh, anak kos ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kini juga aneh, setiap aku dan ibuku datang untuk bekerja mencuci pakaian, ia masih di dalam kamar dengan jendela terbuka. Aku suka lewat di teras kamarnya dan melalui jendela kulirik apa yang dilakukan. Ia mengetik di depan komputer! Kadang-kadang menulis di kertas, kadang tiduran, kadang duduk membaca. Di lain waktu kulihat ia berkata-kata sendiri membaca puisi sambil bergaya ke sana kemari. Kadang ia melukis di depan kanvas, dengan tangannya memegang kuas, dan menggoreskan cat di kanvas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Aku yang selalu rutin melakukan pekerjaan kami, yang selalu sama setiap hari, heran melihat anak kos ini menjalankan kegiatan yang berbeda-beda setiap hari. Sungguh ia kaya dengan variasi kegiatan. Dulu bahkan sering kami dengar ia bernyanyi dengan lagu-lagu riang dan nyaring. Kini tidak pernah lagi kami dengar. Kalaupun ada suara, berasal dari televisinya yang dinyalakan olehnya. Sebetulnya, siapakah anak kos ini? Katanya pegawai perusahaan, tapi kok kegiatannya aneh-aneh macam itu? Sebetulnya, siapakah dia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sesekali ia keluar kamar, menyapa kami, lalu masuk kembali melihat suasana. Ia pun menyapa kami ketika berjalan menuju kamar mandi, lalu menutup pintunya. Kudengar gemericik air, disusul debar-debur air dari ember diguyurkan ke tubuhnya, pastinya. Segar ia keluar dari kamar mandi, melewati kami yang sedang beraksi dalam segala posisi. Ibuku berjongkok menggosok celana jins dengan sikat dan sabun berbusa, aku menyetrika baju. Anak kos itu minta jalan dengan mengucap permisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pintu kamar ditutup, gorden jendela ditutup, apa yang dilakukannya di dalam aku bisa menebak. Tak berapa lama gorden dibuka, jendela kamar ditutup, ia keluar, mengunci pintu dan mendekat kepada kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Atin, Ibu, ini kue.. silakan ambil..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Aha! Ini yang kami tunggu, wajahku terasa cerah ketika tanganku mengulur untuk menerima kue pemberiannya. Ibuku juga tertawa dan mengucap terima kasih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Anak kos itu segera pergi, ke luar rumah sambil mengucap salam. Pasti ia pergi ke kantor, sedangkan kami masih bekerja di "kantor" kami, beranda rumah lantai atas, berbasah-basah tangan dan kaki. Sampai hari kelihatan lebih terang dan mengarah ke siang. Begitu semua kerja kami hari ini selesai di rumah ini, kami pun beranjak ke rumah lain. Melakukan kegiatan yang sama. Namun, pikiranku masih tertuju pada anak kos itu... Siapakah sebetulnya dia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Hari demi hari berjalan seperti itu, kami sibuk dengan sabun, sikat, pelembut pakaian, air, ember, pipa air. Sedangkan anak kos itu pasti sibuk dengan berbagai kegiatannya yang warna-warni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Hingga ketika kami sedang menggosok pakaian, di belakang kami sudah berdiri Bapak Kos. "Bik," katanya kepada ibuku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Pembayaran upah mencuci bulan ini sebetulnya belum bisa saya berikan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ibuku tertegun. Terbayang kami tidak punya uang yang Rp 200.000 sebagai upah mencuci. Bagaimana harus membayar uang kos dan makan? Betapa berat hanya untuk mencukupi kebutuhan pokok ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mengapa belum bisa saya berikan...," lanjut Bapak Kos, "karena hampir semua anak kos di sini membayar kos bulanannya terlambat. Bahkan, ada yang sampai tiga bulan belum membayar."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Betapa pusing kepala ibuku, aku bisa melihat dari perubahan wajahnya yang memucat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Namun, pembayaran Rp 200.000 tetap kuberikan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Bapak Kos memberi kejutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Karena ... ini berkat satu orang dari enam anak kos yang membayar uang kos tepat waktu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Siapa dia, Pak?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mas yang kamarnya di sini," jawab Bapak Kos sambil menunjuk kamar kos anak yang kupermasalahkan, kuanggap pelit, aneh, dan tidak turut mencucikan pakaiannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Bulan berikutnya, hal itu pun terjadi lagi. Anak kos yang kuanggap pelit itulah, kata Bapak Kos, yang menyelamatkan pembayaran ongkos mencuci bulanan kami. Bagi kami jelas sudah, anak kos ini tidak turut menyerahkan pakaiannya untuk kami cuci, agar ia dapat membayar uang kos kamar secara tepat waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mas, terima kasih telah membayar uang kos tepat waktu. Karena, dengan pembayaran uang Mas itulah, kami, sebagai tenaga pencuci pakaian, dibayar oleh Bapak," kata ibuku kepada satu-satunya anak kos yang selalu tepat waktu membayar sewa kamar kos itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Lelaki, anak kos itu, hanya tertawa. Pakaiannya tetap kucal tak tersetrika, sedangkan pakaian kotornya menggunung di depan kamarnya. Aku tak lagi mempersoalkan hal ini. Aku juga tak lagi mempermasalahkan siapa dia dan apa pekerjaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sedangkan terhadap anak-anak kos yang lain, aku makin bertanya-tanya, sebetulnya apakah pekerjaan masing-masing mereka. Mereka adalah anak-anak kos yang pembayaran uang kos dan cuciannya selalu terlambat, namun tetap saja pakaian mereka licin dan rapi. Yang berarti, setiap hari selalu menikmati hasil kerja kami dengan membanting tulang dan memeras keringat, untuk mencuci dan melicinkan pakaian mereka. ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    Catatan Redaksi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    Yonathan Rahardjo adalah pengarang novel Lanang, salah satu pemenang "Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-4616366074297220602?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/4616366074297220602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=4616366074297220602&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/4616366074297220602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/4616366074297220602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/12/yonathan-rahardjo.html' title='Yonathan Rahardjo'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-3315648730539095983</id><published>2008-11-13T16:32:00.000+07:00</published><updated>2008-11-13T16:32:00.397+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Fathor Lt</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Tamu Istimewa di Hari Lebaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Fathor Lt&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 21 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang tak pernah hadir dalam mimpi-mimpiku semenjak perceraian yang tidak kita inginkan terjadi. Tiba-tiba saja pagi hadir membawamu beserta setumpuk kenangan yang lama telah terkubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak harus hidupku selalu berdampingan dengan orang-orang yang aku sayangi. Kesendirian pun bisa mengajariku tentang banyak hal, termasuk ego yang selalu menguasaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martabat, menjadi alasan untuk mengingkari hati. Jujur, aku masih merindukanmu. Sebab itulah kubunuh rindu ini dengan kesibukan-kesibukan yang tak pernah kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yon, bangun. Ada tamu. Isti."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yah?" kagetku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isti!" teriak ayah. "Bersama Andin," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anakku," desisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku berlari ke kamar mandi. Dan setelah ganti baju, baru aku ke ruang tamu. Terlihat di sana ayah sedang memangku seorang bocah yang tak lain adalah Andin, cucunya sendiri, anakku, juga anak Isti. Isti duduk berhadap dengan ayah. Dan di samping Isti duduk seorang lelaki yang tak kukenal. Mungkin lelaki itulah penggantiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihatku, kekagetan dan keharuan Isti tak dapat ia sembunyikan. Makanya aku berpura-pura tidak memandanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asslamu alaikum," sapaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alaikum salam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minal aidin wal faizin," tambahku sambil menyalami mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sama-sama, Mas," ungkap Isti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah... Ayah jahat. Ayah gak pernah jenguk Andin. Ayah gak sayang Andin. Ayah jahat...," teriak Andin sambil memukuliku, kemudian bergelayut dan duduk manja di pangkuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan ayah, nak. Ayah memang jahat. Jangan tiru ayah, ya. Ayah memang tak sayang lagi sama Andin. Andin tak usah ingat-ingat ayah lagi. Jalanin saja hidup baru Andin bersama orang yang menyayangi Andin," ucapku terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuciumi pipi Andin sepuasnya, seolah aku ingin melepas buncah kerinduan yang tak tertahankan. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening dan mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya... Andin pingin apa?" ungkapku memecah suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andin pingin ayah ikut ke rumah Andin yang baru. Dan nganterin Andin setiap pagi ke sekolah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kan...?" ungkapku tak bisa menjelaskan apa-apa. Kupandangi Isti dan lelaki di sampingnya, dengan harapan mereka bisa memberikan penjelasan pada Andin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan ada pengganti ayah yang siap nganterin Andin tiap pagi," jelas Isti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan...?" protes Andin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tu kan Andin. Masak lupa!? Katanya Andin tak ingin ngerepotin ayah," potong Isti. Sedang Andin hanya cemberut tak berkomentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya. Dari tadi kok lupa gak kenalan," Sela ayahku mengalihkan pembicaraan, sembari tangan kanannya dengan sopan menunjuk pada lelaki di samping Isti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"E... Saya Dodi. Kami...," ungkap Dodi tergeragap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini suami saya," sambung Isti. "Sudah lima bulan kami nikah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O... Begitu. Jadi ini suamimu. Kami ikut bersyukur. Semoga kalian menjadi keluarga yang baik," tanggap ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Amin...," balas Dodi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya, dari tadi Yuli kok gak kelihatan?" tanya Isti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yuli berlebaran di rumah mertuanya," jawab ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi ya, saat ini di sini tinggal kami berdua. Tak ada perempuannya. Ha ha..." kelakar ayahku yang tak merasa hal seperti akan menyinggung perasaan Isti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah ayahku tanggap. Segera ia kembali mencairkan suasana menjadi riang dengan penuh keakraban. Bahkan perbincangan kami tidak berhenti di meja saja, melainkan ayahku juga mengajak Dodi ke kebun kami di belakang rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat kekaguman Dodi pada ayahku. Ia tak henti-henti memuji ayahku. Bukannya sekadar basa-basi, melainkan ayahku memang orang tua yang pantas dikagumi. Walau secara lisan aku tak pernah mengungkapkan kekagumanku. Bahkan segala pendapatnya tak jarang aku bantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir kali aku membantahnya, saat dia tidak menyetujuiku untuk menerima perceraian yang diajukan Isti. "Yon, kamu jangan menyerah. Jangan putus asa. Aku yakin ini semua bukanlah kemauan Isti. Jadi tak ada salahnya jika kau ambil Isti dari orang tuanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah, yah. Aku tak ingin memperpanjang masalah. Biarkan Isti hidup tanpa aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu itu bodoh Yon. Jangan gampang menyerah. Ingat! Isti dan Andin pasti mederita ditinggalkan kamu. Dan tanpa Isti dan Andin, hidupmu akan lebih kacau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah, yah. Aku tak ingin banyak berdebat. Bagiku sudah jelas mereka semua tak bisa menerimaku lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, terserah kamu, ayah tidak memaksa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata apa yang dikatakan ayah benar. Hari-hariku terasa hambar. Segala aktivitasku kian tak bisa kunikmati. Dan lima bulan setelah aku dan Isti dinyatakan bercerai, kehidupanku makin tak terarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih profesiku sebagai perupa, berganti menjadi pedagang seni. Karya tak lagi terpikirkan. Siang dan malam yang ada dalam benakku hanya uang dan uang. Hingga sepenuh-penuhnya aku dapat melupakan Isti dan anakku. Anehnya ayah hanya diam saja melihatku. Tapi saat aku mulai membeli mobil dan tanah yang ukurannya cukup luas, barulah ayah angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu bukan lagi seniman. Kamu bukan lagi perupa. Kamu adalah broker yang dapat menghancurkan kehidupan para seniman. Tidakkah kamu rindukan kehidupanmu yang dulu. Di mana kamu masih bisa berpikir, bertindak dan merenung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa membantah. Sebab aku akui, ungkapan ayah memang benar adanya. Tapi bagaimana untuk bisa mengembalikan aku pada kehidupan yang dulu. Juga mustahil Isti dan anakku akan kembali padaku. Padahal bukan merekalah yang menjadikan aku seorang perupa. Sebelum mereka hadir dalam kehidupanku, aku sudah menghasilkan banyak karya. Aku sendiri tak mengerti, kenapa mereka sangat berpengaruh dalam kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalah artinya kemewahan jika engkau tak bisa menikmatinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah ketidakputus-asaan ayah mengingatkanku. Di setiap aku mencoba berpura-pura dalam kesibukan, dan mendustai diri untuk sesuatu yang tak pernah aku inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seniman memang berat. Materi selalu merayu untuk segera meninggalkan kehidupan seperti itu. Apalagi karya seni yang kucipta bukanlah karya pop yang diminati banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti inilah yang menyebabkan perceraianku dengan Isti terjadi. Memang sejak awal hubunganku dengan Isti tidak mendapat restu dari kedua orangtuanya. Hingga terpaksa aku kawin lari. Dan mengingat ibuku sudah meninggal, maka ayah memintaku untuk tinggal bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Isti di rumah ini bagai cahaya. Isti mampu menjadi menantu yang baik. Ayah sayang padanya, melebihi aku dan Yuli adik perempuanku. Yuli pun demikian, merasa terayomi dengan kehadiran Isti. Sungguh lengkaplah kehidupan kami yang sederhana. Penuh kasih dan sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun kemudian, seisi rumah ini dibahagiakan atas kehadiran peri kecilku. Ayah memberinya nama Andinia Zulfa. Kupanggil ia Andin. Ia cantik seperti ibunya. Banyak tetangga yang memuja kecantikan Andin. Sempurna. Kami pun bersepakat untuk mengabarkan berita bahagia ini pada mertuaku. Mungkin dengan ini mereka bisa menerima aku dan Isti. Begitulah pikir ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan memang begitu. Bahkan aku dan Isti diminta tinggal bersama mereka di Jakarta. Sebab, tiga kakaknya sudah tinggal di rumahnya masing-masing. Aku dan Isti sepakat. Tapi ayah meminta untuk menunggu setelah pernikahan Yuli selesai, barulah kami bisa pindah ke rumah mertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun lamanya aku tinggal bersama mertua, dan tiga tahun itu pula hidupku bagai dalam penjara. Bagaimana tidak, jika di antara aku dan mertua banyak perbedaan yang tak bisa dipertemukan. Semakin lama mertua kian menyepelekanku. Kadang bicaranya sangat memukul perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti ini yang tak aku inginkan Isti mengerti. Aku tak ingin memberi beban pada kehidupan Isti. Toh, walau pada akhirnya bau bangkai yang kusimpan terendus juga, di saat kita makan satu meja bersama mertua. Percecokan pun tak terhindari. "Jalan pikiran kita berbeda," bantahku saat mertua mulai bicara yang tidak-tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa hanya dengan menjadi pematung kau dapat memberi anakku rumah, mobil!? Mana hasil yang selama ini kau dapatkan! Kau tidak berkaca pada menantuku yang lain. Ingat di sini kau tak membawa apa- apa, kecuali hanya numpang makan dan tidur. Jadi aku tak ingin anakku hidup kekurangan," bentak mertua, membuatku kehilangan kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubanting piring dan hidangan yang ada di atas meja. Semuanya berantakan. Mertua perempuanku berlari keluar memanggil satpam, sedang Isti berteriak histeris bagai kesetanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keluar dari rumah ini sekarang juga. Dan jangan melihat anakku lagi. Kau tak pantas menjadi menantuku," bentak mertuaku berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga aku mulai berkemas-kemas. Untung saja Andin tak tahu peristiwa itu. Aku pamit pada Isti. Ia masih sesenggukan dan bergulingan di atas lantai. Kukecup keningnya yang terakhir kali. "Maafkan Mas, Isti. Semua ini bukan keinginan Mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, kabar tentang Isti dan anakku tak pernah kudapat. Baik itu melalui surat atau telepon. Apalagi telepon rumahnya diganti. Aku benar-benar kehilangan kontak dengan Isti dan anakku, sampai surat cerai dan hak asuh anak jatuh ketanganku tanpa ada proses. Aku menerimanya juga tanpa protes. Walau ayah memaksaku untuk melakukan gugatan, tapi tetap saja aku menerima putusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, dari tadi kok ngelamun," tiba saja suara Isti mengagetkanku dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah tidak... Habis lihat-lihat kebun, ya!?" ungkapku mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Kebunnya indah sekali, ya," timpal Dodi. "Oh, ya, Mas Yono. Ini, katanya Isti pingin bicara sama mas," sambung Dodi lagi sembari tangannya mempersilahkan Isti untuk duduk di kursi depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silahkan. Aku ke kebun dulu, ya," pamit Dodi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas kelihatan kurus," ungkap Isti mendahului pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, siapa bilang," bantahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Yon. Yang mengatur ini semua adalah Mas Dodi. Setelah ia mengetahui segala kejadian yang menimpa keluarga kita dulu, ia langsung berinisiatif untuk mengunjungi Mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh begitu. Aku salut padanya. Mudah-mudahan ia menjadi suami yang baik untukmu, selamanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, kami pun saling bertukar cerita. Dari semenjak perceraian, sampai Isti mendapatkan seorang duda yang ditinggal mati istrinya, yaitu Dodi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, apa Mas tidak ingin kembali padaku?" tanya Isti yang seketika mengagetkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong. Jangan berpikir tentang itu. Aku tidak ingin kau mengalami sesuatu yang kedua kalinya," sanggahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak Mas. Ini semua permintaan Mas Dodi. Dia akan merelakan aku, jika Mas ada keinginan untuk kembali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isti, jangan sia-siakan cinta Dodi. Karena ketulusannya, ia bicara seperti itu. Jadi, bahagiakanlah dia. Membahagiakan dia, berarti kau membahagiakan aku. Dan aku akan merasa bahagia, jika kehidupan keluargamu bahagia. Tolong jangan resahkan aku dengan ketidak-bahagianmu, Isti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi kelopak matanya yang mulai mengalirkan bak cahaya putih-bening memenuhi pipinya. Kemudian terdengar suara tangis yang tertahan di tenggorakan. Dengan napas yang tersengal-sengal ia berucap, "Mas, terima kasih. Aku takkan melupakan Mas selamanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Isti sekeluarga pamit pulang. Sebelum pergi Dodi memelukku erat, seolah menyatakan bahwa kita bersaudara. Sedang Isti tak lagi memperlihatkan wajah masamnya. Apalagi Andin yang selalu saja menggoda kakeknya, terlihat ceria. Sungguh Idul Fitri kali ini benar-benar memberiku kehidupan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan kalian bagai malaikat yang diutus Tuhan untuk menunjukkan jalan terangku. Terima kasih Isti, Dodi. Maafkan aku Andin, aku tak bisa menemanimu tidur, jalan-jalan, dan bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat jalan Dodi. Tolong jaga Isti dan Andin," ungkapku terakhir kali, sebelum mobil melaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-3315648730539095983?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/3315648730539095983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=3315648730539095983&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/3315648730539095983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/3315648730539095983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/11/fathor-lt.html' title='Fathor Lt'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7012440785991422865</id><published>2008-11-06T11:44:00.000+07:00</published><updated>2008-11-06T11:44:00.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Karya'/><title type='text'>Humam S. Chudori</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; e d d y&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Humam S. Chudori&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=205952"&gt;Suara Karya&lt;/a&gt;, Sabtu, 2 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teman kuliah saya yang satu ini mengaku gampang jatuh cinta. Meskipun tidak setiap wanita yang dikenal Teddy akan dicintainya. Tetapi, paling tidak sudah lebih dari sepuluh wanita yang diceritakan kepada saya sebagai orang yang dicintainya. Kendati tidak semua wanita-wanita tersebut pernah diperkenalkan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Mungkin saya dianggap layak untuk dijadikan tempat curhat, hingga ia sering bercerita tentang wanita yang pernah dicintainya. Padahal, temannya sangat banyak. Ia memang supel, pergaulannya luas. Teman akrabnya bukan hanya saya. Namun, mereka nyaris tidak ada yang memberi respon jika Teddy sudah bercerita tentang wanita.&lt;br /&gt;   Tidak mengherankan jika Teddy tak pernah bercerita kepada teman, kecuali saya, apabila sedang jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Teddy pernah memperkenalkan Wulan kepada Sarko. Tujuannya ingin mencari masukan dari Sarko. Bagaimana penilaian Sarko terhadap wanita itu. Namun, jawaban Sarko di luar dugaan Teddy. Ia menilai tanggapan Sarko sangat mengecewakan. Sebab Sarko sama sekali tidak memberikan pendapatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Bagaimana pendapat kamu tentang Wulan, Ko?" tanya Teddy, sehari setelah ia memperkenalkan Wulan kepada Sarko.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Apa yang harus saya nilai?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, apa saja. Terserah kamu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Buat apa saya harus memberikan penilaian kepada orang itu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Soalnya saya mencintai dia, Ko."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kamu cinta sama dia?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Teddy mengangguk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Serius?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Untuk kedua kalinya Teddy mengangguk. Lalu katanya, "Bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sarko hanya tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ini saya tanya serius, Ko."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sarko makin tertawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Apa saya salah jika mencintai dia, Ko?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Siapa yang bilang kamu salah. Kalau laki-laki mencintai perempuan wajar kan? Tidak ada yang salah. Nah, kalau kamu mencintai sesama laki-laki baru jadi masalah," jawab Sarko. Lalu Sarko tertawa lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Memang. Bukan hanya sekali Teddy memperkenalkan wanita yang dicintainya kepada Sarko. Meskipun demikian, Sarko tidak pernah memberi komentar terhadap mereka kecuali hanya tertawa. Apalagi tatkala Teddy memperkenalkan Mira - janda beranak satu yang sudah punya rumah sendiri di daerah elit. Sarko malah terpingkal-pingkal tatkala Teddy minta pendapatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Setelah beberapa kali jawaban Sarko hanya tertawa, seperti ada sesuatu yang lucu, setiap kali Teddy minta pendapat tentang wanita yang hendak didekatinya. Teddy tidak pernah lagi memperkenalkan wanita dengan Sarko.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Lain Sarko lain pula Aris. Teman Teddy ini memang tidak tertawa seperti Sarko. Melainkan ia selalu balik bertanya, "Apa sudah kamu pikir masak-masak kalau kamu mencintai perempuan itu, Ted?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Teddy mengangguk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, sudah. Kalau kamu sudah mempertimbangkannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tapi, pendapat kamu bagaimana Ris?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Katanya sudah kamu pertimbangkan, kenapa masih minta pendapat saya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Apa tidak boleh saya minta pendapat kamu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Siapa yang bilang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Nah, kalau begitu bagaimana pendapatmu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "No comment!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Maksudnya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, pokoknya no comment."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Demikian selalu yang terjadi, jika Teddy minta pendapat kepada Aris tentang wanita yang dicintainya. Percakapan yang senada hampir selalu berulang. Toh, pada akhirnya Aris akan berkata "no comment" kepada Teddy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tatkala Teddy merasa jatuh cinta dengan Lusi, pemuda ini sempat berbincang-bincang dengan Kadir. Sayangnya, wanita ini masih berstatus sebagai istri orang. Tidak heran jika Kadir marah mendengar cerita Teddy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kamu sudah gila, Ted. Bagaimana pun juga Lusi itu masih istri orang. Jadi"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tapi, saya mencintainya Dir," potong Teddy, "Dia juga mencintai saya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mestinya kamu berpikir dong. Pakai otak! Cinta tidak harus melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Saya tahu. Tapi, katanya dia akan segera minta cerai kepada suaminya. Jika saya mau menikahinya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Batalkan saja rencana kamu itu, Ted."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tapi, kami saling mencintai."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Jadi, cinta itu buta seperti orang bilang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kenyataannya demikian, Dir."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, sudah! Terserah!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tapi,"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Terserah! Tak usah tanya saya lagi, Ted."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Demikian Teddy pernah mengatakan kepada saya. Setiap orang yang dimintai pendapat tentang wanita yang dicintainya. Jawaban mereka dianggap tidak masuk akal oleh Teddy. Betapa tidak, karena ada yang hanya tertawa, ada yang selalu bilang no comment, ada yang menyuruh Teddy berpikir sendiri, ada yang cuma mengangkat bahu, bahkan ada yang marah-marah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Saya sendiri merasa janggal melihat kelakuan Teddy. Lantaran ia selalu minta penilaian orang lain setiap kali mendekati wanita. Padahal tubuhnya dapat dikatakan ideal. Wajahnya pun lumayan ganteng. Tapi rupa-rupanya ia kurang pede. Tidak percaya diri. Sehingga perlu mencari pendapat dari teman-temannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Meskipun Teddy mengaku tidak sedikit perempuan yang dicintainya. Namun, ia selalu sulit merawankan hati mereka. Gara-garanya setiap kali ia mencintai wanita - masih mencoba menjajagi wanita itu - atau sudah terlanjur "nembak" tetapi belum mendapat kepastian, tiba-tiba Teddy akan bertemu dengan wanita lain yang membuat ia jatuh cinta lagi. Akibatnya bukan hanya satu atau dua perempuan yang mengganggu pikirannya. Bahkan, menurut pengakuannya, ketika ia hendak tidur, Teddy bisa terbayang tiga atau empat sekaligus wajah wanita yang dicintainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Mungkin hal inilah yang menyebabkan teman-teman enggan memberi komentar jika ditanyai pendapat tentang wanita yang hendak dicintai oleh Teddy. Saya sendiri sebetulnya merasa sebal jika Teddy sudah menanyakan soal wanita. Tetapi, saya tidak bisa seperti teman-teman lain. Saya selalu berusaha memberi pendapat kendati tidak pernah diterima Teddy. Barangkali karena itu pula, teman-temannya tak pernah serius memberikan komentar jika Teddy bertanya tentang wanita. Sebab Teddy tak pernah mau menerima pendapat orang lain. Ironisnya, Teddy selalu minta pendapat orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ketika saya pindah di sebuah kompleks perumahan, saya bertemu dengan Teddy. Agaknya ia sudah lebih dulu tinggal di sana. Hanya saja, ia tinggal di lain wilayah RT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Setelah saya tinggal di kompleks perumahan itu, kebiasaannya curhat seperti ketika masih sama-sama duduk di bangku perguruan tinggi, kembali lagi berulang. Namun, tidak sesering dulu ia bisa datang ke rumah. Sebab di samping saya sudah berkeluarga. Pekerjaan saya pun tidak memungkinkan saya bisa sering menerima kedatangannya, karena saya selalu tiba di rumah setelah malam hari. Selain itu saya pun sering mendapat tugas ke luar kota.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Yang paling sering dilakukan Teddy apabila hendak curhat adalah lewat telepon. Melalui alat komunikasi dua arah itu Teddy akan menceritakan nama-nama wanita yang dicintainya. Ia tak pernah membawa wanita yang dicintainya ke rumah saya. Mungkin ia menyadari jika membawa wanita ke rumah saya akan punya dampak yang kurang baik. Lantaran saya sudah punya istri. Yang pasti, ia sering menelpon apabila saya tidak mendapat tugas ke luar kota.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pukul sebelas malam, telpon di rumah berbunyi. Teddy menelpon saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Sedang apa Mam?" demikian sapanya melalui pesawat telepon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, sedang terima telepon kamu. Basa-basi kamu sudah basi, kawan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Sudah mau tidur?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Pertanyaan kamu aneh, Ted. Kamu tahu sendiri bukan? Kalau saya tidak biasa tidur dibawah pukul duabelas. Kecuali kalau sakit. Atau udara sangat dingin dan istri ..." saya sengaja menggantung kalimat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Terdengar tawa Teddy di seberang kabel. Lalu katanya, "Saya bingung Mam."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Bingung?" tanya saya, "Kapan sih kamu tidak bingung? Soal cewek lagi, kan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Saya jadi tidak tahu kenapa saya begitu gampang jatuh cinta."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Siapa lagi?" tanya saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Rosita."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Jadi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, sekarang ini selain Tuti, Marni, dan Erika. Kini, saya jatuh cinta lagi sama Rosita."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Saya diam. Gendheng, saya membatin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Orangnya cantik, Mam. Hidungnya mancung. Pipinya ada lesung pipit. Bibirnya Alaaamak! ...... Kalau sudah senyum saya seperti mau klenger, Mam. Saya kenal dia sebulan yang lalu. Saya sudah ke rumahnya. Wah! Ternyata dia orang kaya. Cuma dia itu janda. Anaknya sudah dua. Ia menjanda karena tidak mau dimadu suaminya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Saya diam. Benar-benar gila ini orang. "Hallo! Imam masih mendengar bukan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, iya dong!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kalau tiga perempuan sebelumnya kan sudah saya cerita. Nah, kini apa yang harus saya lakukan? Pokoknya biar yang terakhir ini janda saya cinta banget."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tapi,"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Jangan dipotong dulu, dong. Saya belum selesai menceritakan Rosita."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, ya teruskan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Begini lho, Mam. Kalau saya bisa kawin sama Rosita kan sudah tenang. Tidak perlu mikir rumah lagi. Apalagi ternyata dia seorang manajer di sebuah perusahaan swasta. Nah, kalau saya kawin dengan yang lain. Masa depan saya makin tidak jelas. Kamu sudah tahu, kan berapa honor tulisan saya? Apalagi yang saya tulis lebih banyak puisi. Karena itu saya bingung sekali. Kenapa Rosita harus seorang janda. Coba kalau dia itu masih gadis."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Lho, katanya kamu cinta sama dia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Iya, tapi yang bikin saya bingung dia itu sudah janda, Mam."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Lantas?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tak ada jawaban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kalau memang kamu cinta ya tidak masalah tho?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Benar, sih. Tapi, apa nanti saya tidak menyesal jika kawin sama dia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aduh, kamu itu bagaimana Ted. Katanya kamu mencintainya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Rosita mau secepatnya saya menikahi dia," jawab Teddy, "Cuma saya belum berani memutuskan untuk secepat itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kalau begitu, kamu tanya saja sama Tuhan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Maksudmu, shalat istikharah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Betul."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Sudah. Tetapi Tuhan belum memberi jawaban. Masa sudah dua minggu saya masih belum mendapat jawaban. Saya tak mimpi apa-apa. Padahal sudah tiap malam saya istikharah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, jawaban itu tidak harus lewat mimpi, Ted. Yang jelas, nanti kamu akan bisa menentukan sendiri. Dan itu merupakan jawabannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Lha katanya Tuhan yang menjawab, kok saya menentukan sendiri."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Saya diam. Saya benar-benar bingung menjelaskan hal ini kepada Teddy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Begini saja, Ted. Ya, nanti kalau kamu sempat, datang saja ke rumah. Tapi tidak dalam minggu-minggu ini. Soalnya lusa saya ada tugas ke luar kota."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Sorry nih kalau mengganggu waktu kamu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Setelah berkata demikian, ia menutup teleponnya. Itulah percakapan kami terakhir kalinya. Sebab setelah saya pulang dari Surabaya. Lelaki itu tidak pernah menelpon lagi, apalagi datang ke rumah. Ketika saya datang ke rumahnya ia sudah pindah. Rupa-rupanya Teddy hanya mengontrak rumah itu. Bukan sebagai pemilik, sebagaimana kebanyakan penghuni lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    SEPULUH tahun sudah berlalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tatkala mengunjungi Taman Ismail Marzuki saya berjumpa dengan seorang lelaki yang rambutnya sudah memutih semua. Andaikata ia tidak menyapa lebih dulu, barangkali, saya sudah lupa. Sebab bukan saja karena wajahnya sudah berubah lebih tua (rambutnya sudah memutih semua, kerutan kulit di wajahnya juga sudah tampak). Melainkan pula tubuhnya sudah kurus. Kerempeng. Penampilannya sudah berubah total.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Imam," Teddy menegur saya duluan, "Masih ingat saya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Saya Teddy," katanya sebelum saya sempat mengingat namanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tinggal dimana sekarang kamu, Ted?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, dimana saja,"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Bercanda kamu, Ted."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Swear!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Saya tak menyahut kata-katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Itulah jeleknya saya, Mam. Lha, padahal saya ini orang yang gampang jatuh cinta. Tapi kenapa belum juga punya istri. Apa karena saya seorang penyair?" lanjut Teddy, "Nah, kalau orang susah jatuh cinta, wajar susah dapat istri. Tapi, kalau gampang jatuh cinta kan mestinya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ayo dong Yah. Nanti keburu tutup loketnya," ujar Lucky, menghentikan kalimat yang hendak dilontarkan Teddy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ini anakmu, Mam?" tanya Teddy. Ia bertanya demikian lantaran Lucky belum lahir tatkala Teddy terakhir kali ke rumah. Bahkan istri saya waktu itu belum hamil. Lucky belum ada di perut Wiwin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Jadi, sekarang anakmu berapa Mam?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tiga," jawab saya, "Ya, Lucky ini yang paling kecil."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ayo, Yah!" seru Lucky.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Memang Lucky mau kemana?" tanya Teddy kepada Lucky.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mau lihat planetarium, Om."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ya, sudah sana Mam. Nanti kalau sudah tutup malah anakmu tidak bisa nonton."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Saya dan Lucky segera melangkah menuju ke planetarium. Sementara itu, Teddy kembali melanjutkan langkah. Ia keluar dari Taman Ismail Marzuki. Entah mau kemana. Yang saya heran kenapa pemuda yang masih bujangan itu tak pernah mau menelpon saya lagi. ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7012440785991422865?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7012440785991422865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7012440785991422865&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7012440785991422865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7012440785991422865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/11/humam-s-chudori.html' title='Humam S. Chudori'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-5179186294098605792</id><published>2008-11-01T15:56:00.000+07:00</published><updated>2008-11-01T15:56:01.043+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Hasan Al Banna</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Monolog Lelaki Merindukan Pulang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hasan Al Banna&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 30 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku, betapa berhasrat hendak menggelinjangkan ikan-ikan ke pangkuanmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersebab wajahmu yang sebening pucuk jambu itu, sedikitpun tak pernah membersitkan rasa takut atau curiga tentang kesenanganku bepergian ke mana saja aku suka. Ai, sama sekali kau tidak pernah bertanya: Mengapa aku pergi? Hendak ke mana pergi? Sedang apa aku dalam pergi? Berapa lama pergi? Atau adakah nanti aku pulang setelah pergi? Kapankah pulang setelah pergi? Adakah siang hari? Adakah pulang senja hari? Adakah malam hari? Adakah tengah malam? Adakah pulang usai diseduh subuh? Atau bahkan aku tidak pulang sama sekali untuk waktu yang tak pernah tertebak olehmu. Ohoi, aku sebut kau setegar batu, tapi hatimu, sungguh sedebar salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kau hendak pergi, aku rela, dan aku akan melepaskanmu. Tapi aku akan menunggu kepulanganmu, kapanpun. Jika kau tak hendak pergi, aku pun rela, dan aku akan melayanimu. Lalu aku akan memenuhi segala kebutuhanmu, keinginanmu, seberapa pun."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maka aku, betapa berdegup hendak tersesat di belantara cintamu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersebab ketika aku selalu pergi setiap pagi, kau sama sekali tak pernah lupa menyiapkan segala sesuatu keperluanku; air hangat dan handuk untuk mandi, pakaian yang sudah dicuci bersih dan pasti sudah disetrika rapi, kaus kaki, serta sepatu dengan kilat yang berderai. Dan tentu menyusul suguhan sarapan; sepiring lontong sayur, opak, dan segelas teh hangat, juga membekaliku dengan ini dan itu. Padahal, sama sekali aku tidak pernah menyuruh, apalagi memerintahkanmu melakukan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah, tak usah repot kali. Biar aku saja yang menyiapkan segala sesuatunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tidak mengapa. Sedikitpun aku tak pernah merasa repot mengerjakannya untukmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah terbiasa melakukan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, aku memang belum terbiasa melakukannya. Makanya aku ingin terus membiasakan diri untuk itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti kau merasa terbebani. Jika mengerjakan segala sesuatu dengan perasaan yang terbeban itu, tidaklah baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beban itu, jikapun ada adalah ibadah bagiku. Dan mengerjakan ibadah sama artinya dengan mengerjakan suatu yang baik pula."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendeknya, aku tidak pernah merasa terbebani."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, tapi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atau kau yang merasa terbebani?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, hanya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, sudah! Berangkatlah, semoga hari ini perjalananmu menyenangkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku, betapa lonjak hendak terjerat di pelukanmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersebab sering bila aku tidak pulang, kau sangat sedia dan setia dalam jaga dan tidur menungguku di ruang tamu. Bagimu persoalan waktu tidak terlalu penting. Tak peduli hari adakah senja, adakah malam, adakah tengah malam, atau sekalian subuh. Dan untuk itu kau tidak pernah merasa keberatan, tidak pernah merasa dirugikan, tidak pernah merasa terhina, tidak pernah merasa diabaikan, atau tidak pernah merasa disepelekan. Lantas kau tak pula pernah memendam benci, memendam durja amarah, apalagi memendam dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak perlu kau menungguiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat-saat yang paling kutunggu adalah saat-saat menunggumu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O, aku pulang tidak tentu waktu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mhh, aku menunggumu tidak pernah menggunjingkan waktu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, tapi kasihanilah dirimu. Jaga kesehatanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku malah lebih kasihan terhadap diriku, jika tak mampu menunggui dan menyambutmu. Malah aku jatuh sakit karena ketidakmampuan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mubazir namanya itu. Pekerjaan sia-sia!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kita menikmati setiap pekerjaan itu, mubazir itu bisa jadi adalah kebutuhan. Tidaklah sia-sia. Ketahuilah, menunggumu bagiku adalah sebuah pekerjaan yang sangat nikmat. Penuh kejutan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau kan tahu, aku punya duplikat kunci? Jadi aku bisa pulang dan masuk kapan saja tanpa menyusahkanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selain menikmati, kunci nikmat dari melakukan pekerjaan itu adalah ikhlas. Tentu tidak akan ada lagi kata-kata menyusahkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah, sedikitpun aku tidak pernah merasa susah menungguimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keberatankah kau jika aku menungguimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku, betapa tersirap hendak melabuhkan ciuman di dahimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersebab jika suatu kali aku tidak ingin dan tidak sedang ke mana-mana, meski itu langka adanya, kau selalu menyiapkan dan menghidangkan makan siang yang nikmat untukku; nasi hangat yang mengepul, ikan bakar yang lemak, sambal kacang dan teri yang menyengat lidah, daun ubi tumbuk yang tanak, tempe goreng yang gurih, segelas air putih hangat, dan irisan semangka yang ranum. Padahal, sama sekali aku belum selera untuk makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perutku belum lapar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makan sebelum perut lapar itu lebih baik. Dan kalau bisa, berhenti makan sebelum kenyang, malah lebih baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku belum selera makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terkadang selera makan itu datang setelah terlebih dahulu mencicipi makanan yang terhidang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, tapi, tapi hidangkan sajalah apa adanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahkan yang kuhidangkan ini belum ada apa-apanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ou..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah makan! Nanti dingin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mensyukuri rezeki itu perbuatan baik. Dan menikmati hidangan ini adalah salah satu perwujudan rasa syukur. Maka, silakan dinikmati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku, betapa bersihentak hendak memetik bertangkai senyum di bibirmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersebab pula, jika aku sedang menikmati malam di beranda, kau tidak pernah lupa menyuguhkan secangkir teh atau kopi, juga menghidangkan sejumputan penganan. Bersebab sebelum tengah malam, kau selalu menyarankanku untuk istirahat di kamar; merebahkanku, menyelimutiku, menemaniku, dan meniupkan dongeng-dongeng cinta ke telingaku. Dongeng-dongeng yang menjelma perahu, berarung ke lautan tidur, ke samudera mimpi. Padahal saat itu, sama sekali aku belum ingin beranjak ke tempat tidur. Belum seberapa ngantuk. Pokoknya, belum digoda uapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku belum ngantuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Istirahat itu tidak mesti ngantuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku belum mau tidur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Istirahat itu juga tidak harus tidur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mohon, aku belum ngantuk dan belum ingin tidur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Istirahat sajalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Istirahatkan bisa juga di beranda atau ruang tamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti masuk angin. Sebab angin malam itu tidak bagus untuk kesehatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku kan sudah makan, tidak akan masuk angin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Angin itu tidak mengenal persoalan makan atau tidak makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oalah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah, ayo, berbaring saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rebahan saja. Tidak sulit kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku, betapa berkelebat hendak menggantang telaga di matamu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersebab sudah terlampau lama aku pergi bertandang ke rumah-rumah yang lain; menikmati tuturan ramah pemiliknya, menikmati tawaran sarapan yang selalu berbeda, menikmati hidangan makan siang yang memanjakan selera, menikmati makanan senja yang bermacam adanya, menikmati suguhan minuman yang beragam rasa-warnanya, menikmati cerita-cerita beraneka kiranya, juga menikmati tidur yang paling nyaman tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kau hendak pergi, aku rela, dan aku akan melepaskanmu. Tapi aku akan menunggu kepulanganmu, kapanpun. Jika kau tak hendak pergi, aku pun rela, dan aku akan melayanimu. Lalu aku akan memenuhi segala kebutuhanmu, keinginanmu, seberapa pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ke rumah siapa pun aku pergi, dan di rumah mana pun aku berleha diri, ada yang tak bisa kutemukan, selain padamu. Entahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku, betapa bergegas hendak mengunci diri di bilik hatimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersebab kau adalah rumah yang lalai mengernyit, rumah yang alpa menjewer. Bersebab kau adalah rumah yang tak pernah menghardik; tempatku mengombakkan buih-biuh pahala, sebagai lengan-lengan air yang menghanyutkanku ke dermaga surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tolong katakan padaku, siapa orang yang tak hendak hanyut ke dermaga surga? Katakanlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah, aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ops, tidak lagi! ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Medan, Duaribuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dewi Haritsyah Pohan, mmh, terima kasih atas ketabahanmu. Jangan pernah khawatir, aku mencintaimu!)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-5179186294098605792?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/5179186294098605792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=5179186294098605792&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/5179186294098605792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/5179186294098605792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/11/hasan-al-banna.html' title='Hasan Al Banna'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7983398987152875255</id><published>2008-10-17T16:11:00.000+07:00</published><updated>2008-10-17T16:11:00.619+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Dharmadi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Tatapan Mata Ibu &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Dharmadi&lt;br /&gt;Diambil Dari &lt;em&gt;Suara Pembaruan&lt;/em&gt;, 23 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat HP di meja: "Ya, halo?" "Wok, agak santai? Ibu baru saja nelpon, kalau bisa kamu diminta pulang sebentar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa? Ibu gerah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak; Ibu sehat-sehat saja; katanya kangen, hanya ingin ngobrol-ngobrol saja dengan kamu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, besok saya usahakan; sampaikan pada Ibu, tapi hanya semalam, lusanya mesti pulang karena siangnya ada acara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, nanti saya nelpon Ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuletakkan kembali HP di meja setelah hubungan putus, tak lagi kudengar suara mbak Nita, salah satu kakakku, satu-satunya perempuan dari tiga saudaraku yang kini tinggal di Kudus ber-sama keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pasti ada yang penting yang akan disampaikan Ibu meskipun katanya hanya kangen dan ingin ngobrol-ngobrol saja. Selama ini Ibu hanya memintaku pulang, baik sejak ketika dulu aku masih kuliah di luar kota maupun setelah kini bekerja dan berkeluarga, kalau ada hal-hal yang penting yang perlu dibicarakan denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya bedanya, kalau dulu waktu aku masih kuliah kalau Ibu ada kepentingan denganku dan memintaku untuk pulang langsung meneleponku, tetapi sekarang sejak aku bekerja apalagi setelah berkeluarga, mesti lewat mbak Nita atau saudara lain. Ketika pernah kutanya, mengapa, Ibu hanya menjawab, takut kalau mengganggu kesibukan kerjaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga sejak dulu Ibu tak pernah langsung mengatakan kepentingannya; paling seperti apa yang disampaikan mbak Nita tadi, kangen dan ingin ngobrol-ngobrol saja. Berdasarkan pengalaman pasti ada yang akan disampaikan dan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan besok tak ada pekerjaan yang mesti kuselesaikan, perlu kusempatkan pulang; sulit kalau direncanakan waktunya. Pernah beberapa kali aku merencanakan pulang dengan keluarga, selalu gagal; ada-ada saja pekerjaan yang tiba-tiba mesti harus cepat diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Lebaran kemarin aku tak pulang, giliran mudik ke rumah mertua. Kami, aku dan istriku telah membuat kesepakatan sejak perkawinan; dalam mudik Lebaran kami buat jadwal; kalau Lebaran tahun ini ke orang tua istriku, Lebaran tahun berikutnya ke orangtuaku, dan seterusnya bergantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kami mudik sehari dua hari setelah Lebaran, malah terkadang ketika Lebaran tak mudik ke mana-mana. Tak ke orangtuaku, juga tak ke orang tua istriku. Orang tua kami sudah memahami kebiasaan kami, demikian juga dengan saudara-saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutepuk bahu Ibu dari belakang; agak njenggirat kaget, Ibu menengok; "Sedang asyik masak apa Bu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, wis tekan, jam piro saka ngomah?" Ini nggoreng kepala ayam dan nanti nyambal terasi kesenanganmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat di penggorengan ada potongan-potongan daging ayam, juga kepala ayam yang masih dengan batang lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi habis subuhan, terus ke stasiun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat waktu kecil, kalau Ibu masak ayam yang disembelih dari piaraan sendiri atau membeli, setelah membagi-bagi dagingnya kepada kami, selalu memberiku kepala sambil memberi perlambang, agar kelak menjadi pemimpin. Mas Wib diberi sayapnya, biar bisa terbang ke mana-mana, mbak Nita diberi ceker-kakinya, biar pandai ceker-ceker mencari makan sendiri dan adikku Wid diberi bagian dada agar menjadi kesatria yang berani menunjukkan dadanya, bukan menjadi pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu cerita lucu tentang kesenanganku pada kepala ayam. Suatu ketika Ibu masak ayam, kepala ayam dimakan mas Wib. Aku menangis sejadi-jadinya, ngamuk, berteriak-teriak, mengancam, mau masuk sumur kalau tidak diberi kepala ayam. Ibuku kalang kabut. Disuruhnya mbak Nita ke pasar hanya untuk membeli kepala ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tetangga, Budhe Bakri, mendengar teriakan tangisku, datang dan bertanya pada Ibu kenapa aku ngamuk; Ibu menjelaskan. Sejak itu, kalau Budhe Bakri masak ayam, pasti aku dikirimi kepala ayam, sambil memberi berkata: "Ini kepala ayam, jangan njegur sumur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, kalau aku pas pulang silaturahmi ke rumahnya selalu Budhe Bakri meledek: "Ora njegur sumur?" Dan peristiwa itu diceritakan kepada istri dan anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu menunggui aku yang sedang makan: "Ada yang perlu disampaikan Bu, kok tiba-tiba Ibu minta aku pulang?" tanyaku sambil menggigit kepala ayam untuk kubuka dan kuambil otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, ndak, hanya Ibu terkadang kok kangen ingin ngobrol-ngobrol saja. Bagaimana kabar istrimu, anak-anakmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sehat-sehat Bu, mereka titip sungkem." Ibu diam, kulihat selintas Ibu memandangiku dalam-dalam yang sedang memegang kepala ayam yang kugigit- gigit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah dengar kabar masmu Wib?" suara Ibu pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhentikan gigitanku. Kupandang wajah Ibu. Kulihat kerutan-kerutan di sekitar kelopak mata dan pipinya. Kutatap matanya. Aku kaget sendiri. "Oh, Ibu sudah nampak tua," kataku dalam hati. Aku sadar; ternyata selama ini aku tak begitu perhatian. Setiap pertemuanku dengan Ibu, dan itu saja jarang, kuanggap hanya pertemuan biasa saja. Aku tenggelam dengan urusanku sen- diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau itu benar, masmu Wib ditahan, kemudian masuk penjara, lalu bagaimana nama baik keluarganya, anak istrinya, dan nama baik ...?" Kata-kata Ibu terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap mata Ibu, kupandang wajah Ibu. Ibu memandangku. Hatiku galau, tergetar. Ada sesuatu yang kubaca dari tatapannya, dari mimik wajahnya. Ibu mengharapkan sesuatu dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, aku sudah tahu. Ibu tak usah banyak berpikir, doakan saja semoga mas Wib, selamat tak mengalami suatu apa," kataku perlahan, menunduk kembali ke kepala ayam, kugigit, kubuka tempurungnya, kuambil otaknya, menghindari tatapan Ibu dengan galau pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok aku mesti pulang. Begitu sampai, langsung kantor ada pekerjaan yang tak mungkin ditunda. Sejak tadi siang, sampai tadi waktu makan malam bersama, Ibu tak lagi berkata sesuatu, tak juga menyinggung-nyinggung tentang mas Wib, apalagi minta agar aku membantu mas Wib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aku tanggap, ke mana arah kata-kata Ibu tadi siang yang berhenti pada:"... nama baik.... Pasti yang dimaksud nama baik orang tua, dan tentu saja nama baik Ibu. Dan itu merupakan kegelisahan Ibu yang kutangkap dari wajah dan sinar matanya. Dan dari mimik wajah dan tatapan matanya, seperti bicara, memohon padaku, 'Tolong masmu Wib'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mungkinkah aku memenuhi permohonannya, menghapus gelisahnya, dan menghilangkan beban pikirannya dengan menolong mas Wib melepaskannya dari jeratan hukum karena perbuatan korupsi yang dilakukan bersama dengan beberapa temannya sesama anggota legislatif di salah satu provinsi di luar Pulau Jawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gelisah. Sulit tidur. Ingat kata-kata Ibu di masa kecilku. Kelak jadilah orang yang baik dan berguna dalam kehidupan, ingat kepala ayam agar jadi pemimpin, ingat selalu dibangunkan Ibu di tengah malam untuk nonton wayang kulit kalau kebetulan di balai desa atau ada salah satu warga kampung nanggap wayang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lambang kepala ayam, yang menjadi kegemaranku sejak kecil sampai sekarang, dari cerita-cerita wayang dan tokoh-tokohnya aku telah mengobsesi diriku untuk benar-benar ingin mewujudkan menjadi orang yang baik dan berguna seperti apa yang dinasehatkan Ibu. Dan obsesi itu coba aku wujudkan sekarang dalam tugasku sebagai jaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan Ibu terus menghunjam. Wajah Ibu terus membayang, dan aku membaca dalam tatapan mata Ibu, dalam mimik wajah Ibu, permohonan meskipun tak terucapkan: "Tolong masmu Wib!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan permohonan Ibu bukan hanya untuk kepentingan mas Wib dan keluarganya saja, tetapi untuk kepentingan seluruh keluarga. Nama baik bapak ibu, nama baik saudara-saudara, dan nama baikku juga. Nama baik keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut. Ada ketukan di pintu. "Belum tidur Wok?" kudengar suara Ibu. Kulihat jam, jarum pendeknya menunjuk angka dua, jarum panjangnya menunjuk angka sembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas kubuka pintu. Kulihat Ibu masih menggunakan mukena, melangkah masuk duduk di atas tempat tidur. "Jangan kau pikirkan apa yang Ibu katakan tadi siang Wok. Ibu menyadari: Ndog sak petarangan senajan saka babon sing podho yen wis netes bisa bedho-bedho. Ana sing ireng ono sing putih, ono sing walik ono sing brontok wulune. Wis ngaso, sesuk mbok krinan, kan bali jam nem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku berkata sesuatu, Ibu telah beranjak dari tempat tidur melangkah meninggalkan kamar. Ibu baru saja berkata-kata memberi gambaran, bahwa meskipun telur satu eraman, yang keluar dari induk yang sama, bisa beda ketika menetas. Ada yang hitam, ada yang putih, ada yang seperti ikal, ada yang trotol-trotol bulunya. Intinya, meskipun dari Ibu yang satu watak anak-anaknya bisa beda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ibu memintaku istirahat, tidur, agar tak kesiangan karena besok pagi pulang jam enam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana Wok, sudah ketemu Ibu? Cerita apa saja Ibu? Lalu apa jawabmu? Kabulkan permintaannya Wok. Kasihan Ibu sudah tua. Saatnya kau membalas budi Ibu. Ini kesempatan yang baik untuk kamu membalas Ibu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ya, ini di atas kereta mbak, dalam perjalanan pulang. Nanti kutelepon lagi kalau sudah sampai rumah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta laju berjalan menuju tujuan. Tak demikian pikiranku. Serasa buntu, tak tahu apa yang mesti kulakukan dan apa yang mesti kukatakan pada mbak Nita nanti setelah sampai seperti apa yang telah kujanjikan tadi dalam percakapan. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7983398987152875255?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7983398987152875255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7983398987152875255&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7983398987152875255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7983398987152875255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/10/dharmadi.html' title='Dharmadi'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-4752703945242151429</id><published>2008-10-11T14:43:00.000+07:00</published><updated>2008-10-11T14:43:00.740+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lampung Post'/><title type='text'>Rilda A. Oe. Taneko</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Perempuan di Seberang Jendela&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Rilda A. Oe. Taneko&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;em&gt;&lt;a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008040513450211"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, Minggu, 6 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kamu boleh mencari apa pun, tapi tidak dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu boleh mencari apa pun, tapi tidak dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu boleh mencari ......&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ia tinggal di sebuah apartemen di centrum kota. Ada dua ratus kamar di sana. Ia menempati kamar nomor empat-lima, di lantai dua, blok b, paling pojok kanan gedung. Kamarnya cukup luas, lengkap dengan kamar mandi dan dapur. Cukuplah untuknya hidup sehari-hari. Apalagi yang dibutuhkan manusia sebenarnya? Dia punya tempat untuk tidur, mengolah makanan, menyimpan makanan, mandi, dan buang air. Cukup itu. Apalagi di tambah sebuah komputer di atas meja belajar. Lalu, internet, yang membuat segala batas tak lagi nyata. Bisa saja ia ngobrol berjam-jam dengan teman-temannya di ujung lain Belanda atau di Indonesia atau di Amerika atau di Inggris atau Jerman. Bisa juga ia ngobrol dengan mereka semua dalam waktu bersamaan. Cukup itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia merasa selalu sepi. Kamarnya tetap saja sunyi. Tak ada benda bergerak selain ia sendiri. Tak ada. Ah ada juga, kalau ia buka jendela, angin akan berembus masuk. Angin dingin di bulan November. Tapi angin tak berbentuk. Walaupun ia dapat merasai geraknya, hempasan dingin yang kadang membuatnya menggigil. Tetap saja, angin tak dapat menjelma bentuk. Kadang ia membayangkan, angin masuk lewat celah kaca jendela dan menyapanya dengan tangan-tangan yang dingin. Tapi tak lama, hanya sesaat saja, kemudian segera ia tutup kembali jendela itu dan menghidupkan pemanas. Terlalu dingin untuk berteman dengan angin. Tak ada benda bergerak di kamar itu selain ia sendiri. Ha'! Tapi ada benda hidup lain selain dirinya. Sebuah pohon di dalam pot yang ia beli di pasar kamis. Lama sudah bunganya layu, tapi daunnya tetap segar dan hijau. Walaupun tumbuhan tidak dapat bergerak, setidaknya ia bukan satu-satunya makhluk hidup di kamar itu. Kadang ia berpikir untuk memelihara kucing atau anjing. Tapi peraturan di apartemennya jelas: Tidak ada hewan peliharaan di apartemen ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, dari kaca jendela kamarnya, ia dapat dengan jelas melongok ke kantor seberang jalan. Rijkswaterstaat, kantor yang mengurusi masalah air, kantor pemerintah. Kecuali rangka gedung, kantor seluas satu blok itu ditutupi oleh kaca. Kaca bening, hingga dari jendela kamarnya yang juga bening, dia dapat jelas melihat aktivitas orang-orang di dalam kantor itu. Hampir di setiap sudut ruangan kantor, ia dapat melihat pohon-pohon hijau. Kadang ia tertawa juga, teringat ia pada akuarium ikan koki-nya waktu kecil. Akuarium segi delapan dengan kaca bening dan bermacan tumbuhan di dalamnya. Pernah suatu waktu, salah satu ikan kokinya, Koen, hamil. Lama sekali ia melihat perut Koen besar dan tidak juga bertelur. Suatu hari diambilnya Koen dari akuarium dan diletakkannya di tangan, lalu ia tekan perut Koen pelan-pelan. Telur-telur ikan segera keluar. Tapi tak disangkanya, ketika ia masukan Koen kembali ke akuarium, tubuh Koen membalik, perutnya melayang di permukaan air. Ia menangis karenanya. "Aku hanya ingin membantu Koen mengeluarkan telurnya. Supaya ia tak perlu berat-berat membawa telur-telur itu. Kasihan ia, tangisnya saat itu pada Ibu. Tapi itu sudah lama sekali. Bukan pengalaman yang penting untuk diingat. Hanya saja, sejak itulah, tak ada lagi keinginannya untuk memelihara ikan. Mungkin juga tidak perlu, pikirnya, sekarang ia punya akuarium yang lebih menarik. Kantor di seberang jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia bosan, ia akan duduk di depan jendela, memperhatikan orang-orang yang sedang bekerja. Ada enam meja yang dapat dilihatnya dengan jelas. Tiap meja menjadi milik satu orang, dan setiap hari mereka duduk di meja yang sama. Kerja mereka sangat monoton, duduk di depan meja sambil menghadap komputer masing-masing. Sejak pagi hingga sore hari. Hanya sesekali saja mereka berdiskusi sambil minum-minum. Hanya di jam makan siang mereka akan meninggalkan meja, namun sedetik kemudian mereka kembali lagi dengan membawa sandwich. Lalu sambil mengunyah, mereka kembali ke kerja semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu meja yang menarik perhatiannya, meja itu dihiasi boneka-boneka kecil dan bunga. Pemiliknya seorang perempuan muda, berambut cokelat dan berwajah ramah. Mungkin usianya masih lagi dua puluh tujuh tahun. Berbeda dengan yang lain, ia selalu terlihat gembira. Setiap pagi ia datang lebih awal dan selalu menyapa teman-temannya. Bahunya selalu terguncang-guncang ketika tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang perempuan itu terlihat tersenyum sendiri di kala bekerja. Seolah apa yang dikerjakannya adalah sesuatu yang membahagiakan. Tanpa sadar, di tengah lamunannya, perempuan di kamar empat-lima berpikir, terlihat seperti apakah wajahnya sendiri? Seperti apakah ia ketika bekerja? Suatu waktu, pikiran itu terlintas kembali, tepat di tengah ketikan sebuah artikel dan tumpukan buku-bukunya. Segera saja ia mengambil cermin di samping tempat tidur. Berusaha tak mengerakkan sedikit pun wajahnya. Lalu ia melihat, wajah seorang perempuan yang murung, kerut di dahi dan garis hitam di bawah matanya. Ia meraba rambutnya yang kuning ikal, lama sudah ia tidak menyisir. Tak bahagiakan ia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, perempuan di kamar empat-lima menangis. Entah kenapa ia merasa lelah. Dunia baginya sangat tidak adil. Betapa tidak, bertahun-tahun ia mencari dirinya, di tiap kemajuan yang ada ia harus kembali ke titik nol. She has to return to previous condition. Selalu pertanyaan yang sama muncul: Dari mana ketidakadilan ini bermula? Seperti itukah memang seharusnya ia -mereka-? Ah. Tak satu pun jawaban yang ditemui dapat memuaskan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata perempuan di seberang jendela pun murung. Mendung meliputi wajahnya, wajah yang biasanya selalu ceria. Ah, lihatlah, dia perempuan juga, sama seperti dirinya. Ketika menjadi perempuan kesedihan itu akan hadir. Kesedihan akan keperempuanan mereka. Kegelisahan akan takdir yang tak juga mampu dikalahkan. Digesernya kaca jendela kamar, lalu ia bertanya, "Mengapa murung hari ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan di seberang jendela diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kamu dan aku -kita- gelisah pada hal yang sama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan di seberang jendela tetap diam. Wajahnya makin murung dan tiba-tiba ia meneteskan sebutir air mata. Segera saja disekanya dan berlalu ia ke belakang kantor. Ketika kembali wajahnya sedikit berubah, tapi kemurungan itu tetap di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu usap berapa kalipun wajahmu, kemurungan itu tak bisa disembunyikan. Kita perempuan, kita merasai sedih yang sama. Aku pun menangis hari ini. Kadang lelah juga menjadi seperti ini. Apakah perempuan memang ada untuk tiada?" tanya perempuan di kamar empat-lima..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan di seberang jendela terlihat berusaha tegar. Tapi mata itu kembali meneteskan kesedihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tahu, pernah satu saat seorang Ibu berkata padaku, inilah masa depanmu. Sambil menangis ia. Matanya lebam oleh pukulan dan tangannya kasar oleh kerja rumah sehari-hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan di seberang jendela, menangis terseguk. Jam makan siang sekarang, tapi ia tetap di mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi aku menolak masa depan seperti itu. Demi itu aku rela sendiri. Tak butuh aku dengan apa itu yang mereka sebut keluarga. Keluargaku ada, seluruh dunia ini keluargaku. Karenanya aku terus tegar. Kamu juga, aku harap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan di seberang jendela menyeka matanya. Ada kekuatan di wajahnya, pancaran yang menegaskan keyakinan. Dia harus tegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah yang tak pernah ia lihat berbulan-bulan ini. Diambilnya kamera, diarahkannya ke kantor seberang jalan. Diaturnya jarak agar setiap detail wajah perempuan itu dapat terekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan pejuang, sama seperti dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba di balik lensanya, ia melihat samar sebuah foto. Didekatkannya lagi wajahnya ke jendela. Di layar komputer perempuan itu, ada foto seorang anak perempuan, sekitar tiga tahun, sedang tertawa dengan muka yang berlumuran cokelat. Anak itu duduk di bahu laki-laki yang tertawa lebar sambil memeganginya erat. Di bawah foto itu tertulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Very much missing you, mummy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back home soon. The best holiday is waiting for you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With all the love in this universe,&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanya and Daddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan di seberang jendela menatap penuh harapan. Penuh cinta yang melelehkan tumpukan salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin dingin kembali berembus kencang, berpusar dan berdesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu boleh mencari apa pun, tapi tidak dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu boleh mencari ......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamarnya, ia menggigil dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Den Haag, 21 November 2005&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;For those who (once, make me) affraid of marriage ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Seorang penulis kelahiran Lampung. Saat ini menetap di Belanda&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-4752703945242151429?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/4752703945242151429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=4752703945242151429&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/4752703945242151429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/4752703945242151429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/10/rilda-oe-taneko.html' title='Rilda A. Oe. Taneko'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7649924756562780058</id><published>2008-10-02T16:08:00.000+07:00</published><updated>2008-10-02T16:08:00.768+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Sunaryono Basuki Ks</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Kisah Cinta Sukma&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Cerpen Sunaryono Basuki Ks&lt;br /&gt;Diambil Dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Suara Pembaruan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, 18 November 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang akan terjadi pada Sukma yang telanjur jatuh cinta pada tiga lelaki pada waktu yang sama? Semua tampan, semua kaya, semua penuh perhatian, semua setia dan semua segera meminangnya. Lalu, siapa yang harus diterima? Menolak Adrian Majid yang sudah punya kedudukan bagus di tempat kerjanya sama dengan membuang berlian ke selokan. Menolak Agus Supono sama dengan membuang rasa rindu yang selalu berkobar saat bertemu dengannya. Agus selalu memberinya debar, dan debar itu tetap berulang-ulang walau Sukma berhadapan dengan Rusdi yang kumisnya tipis dan senyumnya selalu menawan banyak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entah apa yang akan terjadi pada diriku sebab aku jatuh cinta pada tiga orang lelaki sebaya yang semuanya tampan, kaya, setia, penuh perhatian, dan, dan, entah apa lagi," keluh Sukma.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang harus mendengar keluh Sukma? Bukankah jatuh cinta dan dicintai merupakan anugerah Tuhan yang besar? Dan debar cinta di dadanya bukan suatu kesalahan. Sukma tidak merasa bersalah telah jatuh cinta pada tiga orang lelaki pada waktu yang bersamaan. Tak ada beda saat jatuh cinta pada Adrian, Agus Supono, atau Rusdi. Semua serasa sama, semua mendebarkan, semua menggairahkan, semua menjanjikan. Gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu memang gila Sukma," kata Lisa. "Mestinya kamu pilih salah seorang dan tak memberi harapan pada dua lainnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana aku mampu memilih salah seorang kalau semuanya sama baiknya, semuanya sama mendebarkannya? Bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu harus pakai hatimu. Intuisimu. Diamlah sejenak dan tanya hati nuranimu sendiri. Orang bilang, hati kecilmu. Apa yang dibisikkannnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah berkali-kali aku tanya hatiku, dan jawabannya sama saja. Ambil semuanya,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini benar-benar gila. Kamu mau praktekkan poliandri, dan tiga lagi! Kenapa tak empat sekalian?" Lisa menyemprot Sukma dengan rasionya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukma tak bisa berpikir jernih menurut Lisa, namun Sukma merasa bahwa pikirannya jernih. Dia menimbang dengan hati dan pikiran, dengan selera dan cinta, semuanya jelas, bahwa dia memang benar-benar mencintai ketiga lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Adrian pergi, dia dengan segera dapat merindukan Agus Supono tanpa mengurangi rasa rindunya pada lelaki pertama. Saat Agus tak lagi di sampingnya, dia dengan segera merindukan Rusdi tanpa kehilangan rindunya pada Adrian dan Agus. Aneh? Sukma tak merasakan keanehannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota besar ini wajar kalau saat dia keluar makan malam dengan Adrian, dia tak bertemu dengan Agus atau Rusdi. Ketiga lelaki itu punya selera yang berbeda-beda dalam menentukan tempat makan. Adrian sangat suka sea food, dan selalu memilih restoran sea food terbaik. Mereka sering makan di restoran Samudera di puncak BRI Tower. Dari sana mereka menikmati panorama Jakarta di waktu malam, kelap-kelip lampu bangunan dan lampu kendaraan yang tak putus-putusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu-lampu itu tak pernah memberi kesempatan bintang gemintang di langit Jakarta untuk mempertontonkan dirinya yang elok. Apalagi udara terasa berkabut terus menerus, dan mereka harus puas dengan gemerlap ratusan ribu lampu merkuri. Dari BRI Tower ini, Seribu Kunang-kunang di Manhattan*) terasa bagai dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta mungkin lebih modern dari Manhattan, sehingga nuansa pedesaan dalam judul kisah itu tak terasa. Adrian paling suka menguliti kepiting di piringnya, seolah menelanjanginya, lembar demi lembar pakaiannya.Wajahnya selalu bersinar kalamana berhasil mengupas kepiting dan mengisap dagingnya sampai Sukma merasa menggigil seolah disedot mulut lelaki itu. Pernahkah dia menyedotnya, atau Sukma hanya berkhayal tentangnya? Sensasi seksual yang muncul hanya dari khayalan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian juga sangat suka menguliti udang goreng yang terhidang. Memang, mula-mula pelayan membawa ke meja mereka udang yang masih hidup dan menawarkan apakah udang itu dimasak di atas meja. Adrian tersenyum dan memandang Sukma yang ragu, tetapi kemudian Sukma setuju menyaksikan binatang itu menggeliat sekarat dalam air mendidih di atas meja makan mereka, sementara keduanya menonton dengan takjub. Dulu petarung-petarung Sparta berlaga hidup mati dan penonton malah bersorak-sorak. Kalau ada yang kalah, terdengar teriakan agar pecundang dibunuh saja. Kenikmatan macam itukah yang mereka rasakan sekarang dalam bentuknya yang berbeda namun dalam esensinya yang sama? Saat Adrian mengupas kulit udang, Sukma merasa ditelanjangi, lalu disantap dengan lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Supono sangat berbeda. Entah karena dia berasal dari Madiun, maka dia sangat menyukai pecel. Dengan mobil mereka menelusuri jalan Jakarta, dan setelah mendapat info santap dari sebuah koran, memburu kenikmatan di warung pecel Madiun yang terletak di tepi jalan, bukan di sebuah restoran mewah, tetapi benar-benar pada sebuah warung. Walau terletak di jalan yang jauh dari keramaian, warung itu sekarang ramai dikerumuni pembeli yang kebanyakan mengendarai mobil, dan saat meninggalkan warung dengan mulut setengah kepedasan, memuji-muji pecel yang dijual di situ. Agus juga sangat bangga dengan masakan khas pecel Madiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di kota kelahiranku, pecel dihidangkan sebagai menu sarapan. Setiap mulut orang Madiun selalu merindukannya. Kadang, kami juga menyantap lempeng gapit, yakni dua lembar krupuk puli dengan pecel yang digapitnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukma melihat mata Agus yang berkilat-kilat saat bercerita dan menyantap pecel yang pedas. Anehnya, Sukma juga menyukai masakan pedas itu dan matanya ikut berlinang air. Agus juga bercerita, bahwa orang Madiun dulu sangat membanggakan jeruk Nambangan, yakni jeruk Bali yang dihasilkan oleh daerah Nambangan, secuplik daerah di Madiun agak selatan. Namun, budidaya jeruk Bali itu sekarang berpindah ke Magetan, dan di Madiun, jeruk Nambangan menjadi bagian kisah masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak mata Agus berkaca-kaca menceritakan kisah sedih itu, dan Sukma merasa ingin meletakkan kepala Agus di dadanya, mengelus-elusnya, dan membiarkan mulut lelaki itu mengendus-endus dadanya bagaikan seorang bayi yang merindukan kasih sayang ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusdi sering mengajaknya ke Restoran Minang, lantaran dia memang asli Urang Minang. Kegemarannya menyantap rendang tak bisa reda walau sebetulnya dia dilahirkan di Jakarta dan memegang KTP DKI. Seumur hidup dia hanya sekali pulang ke kampung halamannya. Sukma dibawanya bekelana dari satu warung Padang ke warung Padang yang, dan saat berkunjung, dia selalu mengajak pelayannya berbahasa Minang. Namun, suatu ketika dia merasa kecewa saat memasuki sebuah Restoran Padang yang pelayannya tak seorang pun bisa berbahasa Minang. Bahkan pemiliknya, bukan orang Minang tetapi berasal dari Singaraja. Pak Nyoman memang pebisnis yang ulet, dan tahu peluang bisnis dengan Restoran Padang yang tak penah sepi, dia membuka beberapa restoran yang menyajikan masakan Padang. Ditanggung halal, sebab juru masaknya tidak seorang pun yang berasal dari Bali. Hanya beberapa pelayan memang Buleleng asli, kerabat Pak Nyoman yang mendambakan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendang harus dimasaki dalam waktu yang lama, supaya daging menjadi empuk dan bumbu terasa merasuk ke dalam daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kamu tak menjadi pengusaha restoran saja?" tanya Sukma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusdi hanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang Minang kalau perlu jadi presiden, bukan hanya pemilik lepau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi, kalau kamu punya dua puluh lepau yang besar, ditambah beberapa puluh cabang lagi di berbagai kota, bukankah penghasilanmu menyaingi penghasilan presiden?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gengsinya lain. Siapa yang mengelu-elukan pemilik lepau?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Rusdi, kita harus bersungguh-sungguh saat memasak rendang, saat memasak gulai otak, dan pada saatnya kita dapat menyantap masakan lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukma merasa dirinya telah dibumbui, dimasak dalam waktu lama, dan kemudian siap disantap sebagai hidangan lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang salah dengan cinta Sukma? Dia selalu membayangkan sensasi seksual yang luar biasa saat bersama Adrian, atau Agus Supono, atau Rusdi. Dan sekarang, saat Lisa mendampratnya, dia tidak tahu harus memilih siapa? Sukma hamil namun dia tak tahu dengan pasti siapa ayah bayinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ingat, pada suatu hari, siang sampai malam, dia bercinta dengan Adrian, dengan Agus Supono, dan dengan Rusdi, dan, hal itu terjadi berulang-ulang, sebagaimana dia berulang-ulang mengalami kepuasan yang luar biasa dengan masing-masing dari ketiga lelaki itu. Dan saat Lisa menyemprotnya, dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa? Minta Adrian bertanggung jawab, dia takut kehilangan Agus Supono. Minta Agus bertanggung jawab, dia takut kehilangan Adrian dan Rusdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Sukma harus menjadi perempuan pertama di dunia yang mempunyai tiga orang suami sekaligus pada waktu yang bersamaan, dan anaknya nanti akan memanggil "Papa" kepada tiga ayah yang berbeda? Sukma binggung atau merasa tenang-tenang saja? Lisa yang bingung memikirkan sahabatnya yang luar biasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Lisa juga tak mau mewarisi salah seorang dari tiga lelaki itu, walaupun memang benar, mereka tampan, setia, penuh perhatian, dan kaya raya. Apalagi, siapa tahu lelaki yang diwarisinya justru ayah bayi itu. Ah.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Singaraja 21-23 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;*) "Seribu Kunang-kunang di Manhattan" judul cerpen Umar Khayam&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7649924756562780058?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7649924756562780058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7649924756562780058&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7649924756562780058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7649924756562780058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/10/sunaryono-basuki-ks.html' title='Sunaryono Basuki Ks'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-8959487832187319212</id><published>2008-09-30T14:54:00.000+07:00</published><updated>2008-09-30T14:54:00.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sinar Harapan'/><title type='text'>Yeanny Suryadi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Di Muka Rumah-Mu Tuhan&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Yeanny Suryadi&lt;br /&gt;Diambil dari: &lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0618/bud1.html"&gt;Sinar Harapan&lt;/a&gt;, 18 Juni 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu beberapa jamaah masjid laki-laki mulai berkumpul dan berbisik-bisik. Mereka benar-benar tidak suka dengan gaya pemuda itu, pura-pura ikut shalat magrib dengan memarkirkan sepeda dagangan bakso gorengnya di halaman depan pagar. Padahal sudah jelas-jelas menggantung di pagar besi depan masjid itu tentang informasi mengenai larangan berjualan di depan atau di halaman masjid. Awalnya tidak ada yang terlalu perduli, sampai entah siapa yang memulai, kegelisahan itu perlahan-lahan mengusik para bapak jamaah masjid di kampung itu. Lelaki muda pedagang bakso goreng yang mangkal di halaman masjid waktu mulai menjelang gelap, magrib, sampai masuk waktu isya kini menjadi sorotan mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Saya yakin kalau dia bisa baca tulisan itu, wong terima uang ribuan aja paham kok, “ ujar pak Komar sambil menggerutu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu dia memang berniat melecehkan kita, “ tambah yang lain membenarkan, lalu duduk bersila mendekati Pak Komar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi bagaimana?” kali ini, Pak Amir yang bicara, “ Kita tindak sekarang?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Iya, nanti keburu dicontoh pedagang lain!” tambah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Kita disangka pilih kasih!” Pak Komar kembali membenarkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba semua hening sejenak, angin terasa begitu teduh terhempas di antara mereka dari sebuah beberapa kipas angin yang dipasang di langit-langit masjid, dan jam sudah menunjukkan hampir tibanya waktu shalat magrib. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Begini saja Pak Komar, “ Amir memberikan pengarahan, “Sekarang kita shalat magrib dulu, nanti kita bicarakan lagi. Yang jelas , peraturan yang ada harus dipatuhi, demi ketertiban dan kedisplinan!” Semua mengangguk dan setuju akan saran pak Amir, “Bukankah disiplin adalah bagian dari iman?” Kembali semua mengangguk dan mengiyakan pendapat Pak Amir sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri dan mengikuti shalat magrib berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kurang ajar memang anak muda itu, “ Pak Komar kembali mengumpulkan beberapa jamaah lelaki di masjid itu usai berwudhu guna mempersiapkan shalat magrib, “ rupanya dia bertato!”&lt;br /&gt;Riuh jamaah langsung terdengar ramai. “Apa kataku, seharusnya kemarin kita tindak saja dia!” salah seorang jamaah berucap dengan kesal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ini akan mempengaruhi jamaah yang masih muda, mereka yakin akan hal itu. Berawal dari sekedar ‘numpang’ shalat, dilanjutkan dengan duduk-duduk sebentar di tangga teras masjid, ngobrol kanan kiri, terutama pada anak- anak muda, ditambah berjualan sambil pura-pura nunggu shalat Isya! Keterlaluan pemuda bertato ini! Ada maksud terselubung di balik kepura-puraannya itu! Ini tidak bisa dibiarkan, sudah terlalu banyak kegilaan di negeri ini dengan segala akal bulus yang dikemas sedemikian manis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apa mungkin ini isyarat bagi kita ?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Isyarat apa?’ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya, membantu membersihkan keadaan anak muda kampung kita saat ini. Bukankah bisa kita lihat sendiri, bagaimana begitu banyaknya cara yang dilakukan oleh para iblis untuk membawa anak-anak muda kita pada kesesatan ?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Semuanya serba kebetulan. Misalnya Pak Komar kebetulan melihat tato si anak muda, dan kemudian tanpa kita sadari kita telah memasang papan pengumuman dilarang berjualan di muka masjid, sehingga kita ditunjuki-Nya pada perilaku anak muda jahat tapi bodoh itu!”&lt;br /&gt;Para jamaah menganggukkan kepalanya setuju. “Belum terlambat, sebelum terlalu jauh, mumpung dia belum berkenalan dengan anak-anak kita!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi bagaimana baiknya?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kita usir dia, sebelum dia mengotori kampung kita, “ jawab yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Katanya untuk menghilangkan tato mudah saja, asal memang sudah berniat dan ada keberanian untuk menahan sakit yang luar biasa. Tapi baru sedikit saja ujung setrikaan panas mengenai kulit tangannya yang bertato, Danang sudah menjerit kepanasan. Tapi tidak seorang pun tetangga bedengnya perduli. “Wong edan,” begitu kata mereka. Sebenarnya dari dulu, mereka ingin mengusir Udin yang sudah dianggap terlalu oleh para penghuni bedeng sekitar. Tapi belum sempat mereka menggerebek rumah tua bangka itu, kabarnya dia keburu meninggal setelah dilarikan ke rumah sakit oleh Danang, anak satu-satunya. Kebanyakan minum, kebanyakan mabuk, judi dan main perempuan, itu pasti penyebab utama kematian si tukang rusuh. Dan sampai akhirnya yang tersisa tinggal satu-satunya anak menempati bedeng bobrok itu, harapan warga tidak juga pudar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bapak sama anak sama hancurnya. Tubuhnya kurus dengan mata cekung yang mirip dengan mata-mata kaum morfinis. Dulu di lehernya bergantungan macam- macam rantai, dari tipis hingga rantai yang mirip untuk menggembok pagar-pagar rumah orang kaya lengkap, juga mirip dengan rantai untuk mengikat anjing-anjing mereka di balik pagar. Tidak cukup dengan kalung rantai dan wajah morfinis, di hari berikutnya dia pulang dengan lengan penuh tato, jalan terhuyung-huyung melewati para bapak yang nongkrong di pinggir kanan dan kiri gang menuju bedeng. Tidak ada yang coba cari masalah dengan Danang, salah-salah hilang nyawa di tangan pemabuk, sia-sia! Lucunya, Danang tidak pernah berurusan dengan mereka, apalagi menggoda seorang gadis di jejeran bedeng itu, dia terlalu sibuk berpikir tentang ‘kenapa‘ lalu tenggelam dalam kemabukan dan melupakan semuanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang tinggal di sekitar bedeng itu awalnya berpikir kalau ujung-ujungnya akhir hidup Danang adalah sebuah sel. Tapi kemudian pemuda itu menghilang hampir dua minggu, dan pulang dengan leher tidak lagi dikalungi rantai sambil membawa sebuah sepeda kumbang tua, dilanjutkan dengan kesibukan baru yang aneh ditampakan oleh si pemuda itu, mencuci perkakas dapur di sungai! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sore berikutnya, pemuda kurus itu sibuk memotong lempengan-lempengan kayu di bawah sinar matahari. Memakunya menjadi satu bangunan, lalu mengikatkannya pada ekor sepeda yang dibawanya hari kemarin. Tanpa bicara apa pun, dan tanpa meminta pertolongan seorang pun tetangganya dia bekerja dengan tekun. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kapan?” seorang bapak menggeser duduknya mendekati Pak Komar, “Sekarang?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pak Komar masih memejamkan matanya, duduk diam di teras masjid sambil memandangi jalan yang sepi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar lagi isya,” Pak Komar menjawab. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apa setelah isya?” lelaki itu kemudian duduk di sebelah Pak Komar, memandangi pemuda dengan sepeda bakso gorengnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lihat, dia mulai cari perkara,” Pak Komar bangkit dari duduknya, berjalan pelan menuju anak tangga, meraih sandalnya. Sementara anak-anak kecil dengan celotehnya mulai mengkerubuni Danang dengan sepedanya, mereka tertawa ceria, bercengkerama, dan mulai merogoh-rogoh saku dari rok dan tas kecilnya, mengeluarkan cahaya-cahaya dari kepingan uang logam. Rizky di muka rumah tuhan! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seretan langkah Pak Komar tidak terlalu jelas. Tawa gembira bocah makin marak, Danang kewalahan melayani mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bang, bang saya satu!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bang, dicabein dong bang, tiga!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Danang tergesa, bahkan untuk tersenyum pun sulit. Seharian ini di perjalanan awan begitu mendung, dia hampir putus asa. Tapi suara-suara yang suka mengajaknya bicara dalam kesendirian selalu membuatnya untuk terus berjalan, berjuang dan bertahan. Kadang dia pikir itu suara bapaknya, tapi kadang dia pikir itu suara Didin, kawannya yang sudah meninggal karena dikeroyok massa dua bulan lalu. Nyawanya masih genyatangan, dan karena mereka sahabat karib, mungkin saja Didin berniat mengawaninya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adzan menggema, waktu isya tiba. Pak Komar menahan langkahnya diikuti seruan para bocah, “Eh, eh , isya, isya tahu!” Danang pun terdiam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, ayo sudah dulu ya,” Danang menyudahi dagangannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku belum bang!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kan duitnya udah bang!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Danang kebingungan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bang, bang, aku tadi uangnya udah bang!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tika, ayo, dimarahin bapak lo!” bocah yang lebih besar menarik tangannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku udah bayar! Aku udah bayarrr!!” anak kecil itu merengek, hampir menangis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Danang membuka kembali pancinya. Anak kecil itu berhenti menangis, Pak Komar berbalik kembali menuju masjid. Giginya gemertak, suara panggilan shalat memenuhi dada dan kepalanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dua orang menariknya dengan kasar ke pinggir, menjauh dari sepeda dan panci bakso gorengnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apa tidak kau baca, heh, tidak bisa kau baca heh??!!” bentak seorang lelaki berbadan yang menarik lengan kanan Danang, menunjuk-nunjuk papan tipis di muka masjid. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Danang tergopoh, mencari-cari yang dimaksud lelaki ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak kau hargai kami rupanya heh?” tambahnya keras. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah papan lusuh dari seng dicat biru, dengan tulisan dilarang berjualan di muka masjid dengan huruf A yang sudah hampir pudar, dan karat yang menguning. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ap-apa??” Danang mencoba bertahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kau pikir ini apa??” bentaknya lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang berkerumun, lelaki muda itu semakin tersudut. Berkali-kali dicobanya untuk menengok ke belakang mencari sepedanya, tapi orang-orang ribut mengajaknya bicara. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lihat ini, lihat!” seorang lelaki lagi menarik lengan baju Danang, lukisan tato tampak memenuhi atas lengan serta bahunya. Semua terperangah, semua ribut. Bocah-bocah menangis terkejut, uang receh jatuh berhamburan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bawa saja, bawa, “ seru yang lain meriuhkan suasana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bawa saja, iblis itu!” sahut yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, sudah, Nak..” bujuk perempuan itu , sambil membelai kepala Tika. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu terus menangis, menahan pedas dari pukulan ayahnya, kening dan pelipisnya basah oleh keringat, dia terus menangis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Belajar menantang bapak, begitu jadinya!” suara bapaknya masih terdengar keras dari ruang tamu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, sudah, Nak,” perempuan setengah baya itu kembali mengusap kepala Tika yang menangis semakin kencang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti!” teriak bapaknya dari ruang tamu, tangis Tika semakin kencang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti!” ulang bapaknya seraya menghampiri Tika, “Berhenti!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Siapa , siapa yang suruh jajan?!” Pak Komar memelototi putri kecilnya,” Sudah dengar adzan, masih berani jajan!!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satu pukulan perih dirasa Tika kembali, gadis kecil itu meraung. Waktu hampir satu pukulan lagi mengenainya, dia berlari cepat menghindar. Menuju pintu luar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tika!” panggil bapaknya marah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dciiitt!! Semua berteriak. Sebuah mobil melintas kencang menabrak tubuh mungil Tika. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tikaaa??!!!” jerit ibunya dari dalam.Tapi sudah terlambat.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-8959487832187319212?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/8959487832187319212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=8959487832187319212&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/8959487832187319212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/8959487832187319212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/09/yeanny-suryadi.html' title='Yeanny Suryadi'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-1349098730370920920</id><published>2008-09-26T11:18:00.000+07:00</published><updated>2008-09-26T11:18:00.253+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Pos'/><title type='text'>FA Sunaryo Basuki KS</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sirene Polisi dan Spotlight Helikopter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cerpen FA. SUNARYONO BASUKI KS&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.jawapos.co.id/"&gt;&lt;br /&gt;Jawa Pos&lt;/a&gt;, Minggu, 03 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasanya sebilah pisau berkilat di leherku mendengar raung sirene mobil polisi, beberapa buah kedengarannya, menyerbu lingkungan yang hanya sejengkal dari kulitku. Apakah polisi datang mengepung tempat kami tinggal? Tapi kami penghuni sah, sepuluh orang dalam sepuluh kamar, pemegang paspor dinas dan peserta program Refresher C Dirjen Dikti. Di Columbus hanya lima bulan, menulis buku ajar masing-masing dalam bidang keahlian kami. Tak ada hubungannya dengan drug business, juga bukan bisnis penyelundupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, walau terasa menempel di telinga, ternyata raung sirene itu tidak menuju rumah kami. Dari jendela kecil di kamarku di lantai atas, kelihatan beberapa mobil polisi dengan lampu-lampu merah-biru byar pet, dan di langit sebuah helikopter menderu, spotlightnya menyorot wilayah yang dikepung. Cahaya spotlight itu mengingatkanku pada lampu kereta api yang melintas Desa Pakisaji pada malam hari, suatu malam di tahun 1948. Ular naga raksasa berwarna hitam itu mendengus-dengus memompakan uap panas dari lubang-lubang hidungnya: jes-jes-jes-jes-wuuzzz... Aku selalu berlari ke tepi rel kereta api yang hanya berada dua puluh meter dari halaman rumah nenek yang terletak di seberang stasiun kecil, terpesona oleh cahaya sorot mata naga yang menembus gelap malam. Kereta dari Kepanjen mungkin juga dari Blitar menuju Malang Kota, di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Peristiwa di depan hidung itu terasa jauh. Di Malang, kalau ada keributan di luar rumah, orang-orang keluar rumah dan saling bertanya. Ada maling tertangkap. Ada pasangan selingkuh tertangkap basah. Tetapi di sini, kami memilih untuk tinggal di dalam kamar. Dari jendela kamar tak terlihat ada orang lain selain polisi yang sibuk, padahal jam baru menunjukkan sebelas malam. Bar baru saja tutup, jalanan lengang. Esok paginya TV lokal menyiarkan beritanya. Katanya, komplotan pengedar obat terlarang ditangkap, lengkap dengan data lokasi penangkapan. Padahal, kami yang bertetangga tuli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Columbus bukan kota yang sangat besar, walaupun kota ini ibu kota Ohio State. Cleveland dan Cincinatti katanya jauh lebih ramai, dan pasti jauh lebih banyak tindak kejahatan. Kalau aku menumpang bus ke arah luar kota, aku sering membaca papan peringatan di mulut sebuah jalan: hati-hati di malam hari! Tidak aman. Awas penodongan, penjambretan! Kegemaran kami berkelana ke tempat-tempat belanja membuat kami menumpang bus kota ke arah luar kota. Aneh, semua pusat belanja, yang berupa mall, terletak di ujung-ujung luar kota. Mall sendiri bangunannya tak menarik nampak dari luar. Mirip gudang raksasa dengan tempat parkir sangat luas. Tetapi memasukinya kita disambut toko-toko dan taman-taman di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan santai aku dapat duduk di bangku-bangku taman sebelum menjelajah toko-toko yang ada. Sebetulnya tak ada yang unik. Paling JC Penny dan semacamnya, atau kalau di Inggris Mark &amp;amp; Spencer. Tetapi di mall itu juga terdapat bermacam restoran tempat kami makan siang. Padahal, ada satu toko besar di dalam kota, Toko Lazarus, yang setiap pekan terakhir, seluruh barang di lantai enam diobral sangat murah. Orang yang belanja mengangkut barang belanjaannya dalam kantung plastik hitam besar yang biasa dipakai tempat sampah, memanggulnya di punggung, seperti maling membawa barang curian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Washington lain lagi. Kota besar, ibu kota negara, dan aku merasa tak nyaman tinggal beberapa malam. Menginap di Ramada Inn bersama rombongan. Sekamar aku bertiga bersama Riza dan Narji, ke mana-mana pergi bertiga. Aku dan Narji yang dosen Penjaskes itu berbadan besar, toh nyaliku kecil saat segerombolan pemuda negro meneriaki kami dari tepi jalan, melontarkan kata-kata yang tak kupahami, padahal aku dosen bahasa Inggris. Di seberang jalan, seorang polwan siap berjaga, lengkap dengan pistol di pinggang. Padahal di Inggris, polisi hanya membawa pentungan. Di dalam kedai fried chicken pun ada security yang bersenjata pistol. Untung di Chicago aku hanya singgah di Bandara O'Hare beberapa kali. Kalau aku harus turun ke kota, pasti akan terjerat cerita ''Arak Gelap di Chicago'' yang pernah kubaca di masa kanak-kanak. Entah bagaimana pula keadaan di kota yang terkenal dengan tindak kejahatannya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rasanya berbeda dengan tinggal di Inggris. Aku tinggal di Leeds selama sembilan bulan, tak satu kali pun mendengar suara sirene mobil polisi, padahal Leeds disebut Metropolitan City. Aku merasa aman berjalan di jalan-jalannya yang sepi. Lampu jalan yang berwarna kuning menyebabkan perempuan yang muncul dari belokan bagaikan wajah hantu, rias wajahnya mengerikan, tetapi tak ada ancaman. Sering aku ngobrol di rumah teman sampai jam satu pagi, dan di sepanjang jalan yang kosong tak pernah merasa terancam. Apalagi di Lancaster yang kutinggali selama 12 bulan penuh. Aku tinggal di asrama dalam kampus Lancaster University yang luas. Di kampus itu terdapat satu kolam renang, tempat main squash, dan 50 lapangan tenis, belum lagi lapangan terbuka untuk olahraga yang lain. Ada taman kanak-kanak, asrama khusus bagi yang sudah berumah tangga, dan hutan yang mengelilinginya, tempatku melakukan jalan kaki pada Ahad pagi. Di pintu kamar selalu kugantungkan tanda: Sunday walk, around campus. Dan teman-temanku tahu bahwa aku suka menelusup ke dalam hutan kampus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku juga pernah tinggal di Canterbury dan Arberdeen selama sebulan, dan dalam masa-masa pendek berkali-kali bekunjung ke Edinburgh, London, dan tentu ke kota kecil Marske-by-the Sea di selatan Newcastle upon Tyne berkunjung ke keluarga Sasti dan Richard Watson. Di Canterbury aku juga dijamu Bill Watson dengan anak-anaknya yang ayu, Dewi dan Putri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi di London aku selalu menginap di rumah Dr Peter Southwell, teman Ridwan, kecuali saat aku diundang sebagai sarjana tamu oleh The British Council, aku dimanja dengan tinggal di hotel dan diberi uang saku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada Peter aku bilang, aku akan berkunjung ke rumah Annabel Gallop, pustakawati yang bekerja di The British Library seksi Melayu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Di mana dia tinggal?'' kata Peter sambil memberiku kunci pintu depan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Di wilayah selatan sini juga, di Bromley.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Hah! Hati-hati di malam hari. Tidak aman.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Toh aku berangkat dengan mengucap basmallah dan sampai dengan selamat di rumah Annabel dan disambut dengan makan malam dengan lauk ayam bumbu kecap. Annabel juga mengangkat telepon memperkenalkan padaku dengan Pak Boediardjo, yang sudah lepas dari penjara Soeharto tapi gagal bergabung dengan istri dan anak-anaknya yang punya kewarganegaraan Inggris. Besok paginya aku harus bertemu lelaki tua itu, yang hidup sendirian, dan pasti sangat kesepian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kekhawatiran Peter tak terbukti. Aku kembali selamat ke rumahnya. Yang mendebarkan justru sebelum aku berangkat ke Inggris. Gara-gara ingin beli stiker bendera merah putih, aku menaiki tangga penyeberangan di Jalan Sudirman di depan Komdak. Memang di lantai jembatan ada beberapa pedagang, satu di antaranya menggelar aneka stiker. Aku asyik memilih saat kudengar suara: ''Jangan takut! Tenang aja!''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat aku menoleh ke kanan, kulihat seorang gadis mengenakan seragam sekolah putih abu-abu, dikerubut tiga lelaki, salah seorang di antaranya memegang pisau belati yang menempel di lehernya. Gadis itu menangis tetapi mereka tak peduli. Hanya empat meter di sebelah kananku. Aku gemetar. Apakah akan kugunakan ilmu bela diriku? Kalau aku selamat dengan melumpuhkan mereka, siapa yang tanggung bahwa di bawah tak ada lelaki lain yang tanpa basa-basi menusukkan pisaunya ke perutku? Jantungku berdegup keras, aku mengucap doa dan menuju ke arah mereka. Makin dekat aku makin berdebar dan kemudian kulewati mereka dengan tergesa dan langsung kuturuni tangga, sepi tak ada orang. Mereka tak memperhatikanku. Andaikata perhatiannya terpecah padaku, mungkin mereka bisa menyerobot beberapa ratus ribu dari dompetku. Tapi hal itu tak terjadi. Andai terjadi, mungkin aku juga mengalami nasib sama dengan Mas Slamet Sukirnanto, yang ditodong dan kehilangan uang setengah juta kemudian mengalami stroke. Kata anak-anaknya, ''Padahal, bapak biasanya ikhlas. Ini bukan kali pertama dia ditodong.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mungkin sebilah pisau menempel di lehernya, dan karena usia tuanya, tak tahan lagi atas perlakuan itu. Mungkin dia juga sedih, kenapa rakyat yang dibelanya dalam pusi-puisinya justru menodai kepercayaannya.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Singaraja, 31 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-1349098730370920920?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/1349098730370920920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=1349098730370920920&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1349098730370920920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1349098730370920920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/09/fa-sunaryo-basuki-ks.html' title='FA Sunaryo Basuki KS'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-8082651864993300233</id><published>2008-09-21T14:40:00.000+07:00</published><updated>2008-09-21T14:40:01.069+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lampung Post'/><title type='text'>Iskandar Saputra</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Pupusnya Mimpi Sabila&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Iskandar Saputra&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;em&gt;&lt;a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008041213592611"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, Minggu, 13 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tetap bunga seperti yang kau kenal dulu. Mungkin tak seranum kala warnaku mulai merekah dan menebar aroma wangi. Suatu pesona yang memikatmu kala pertama kau memandangku. Di pagi hari bersamaan dengan kemilau sinar mentari yang terbiaskan oleh butiran embun di kelopakku. Memang, kini aku tak seputih melati atau seelok pelangi seperti dulu kau panggil aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau akan menyesal, Mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?" Bima memandang lekat wajah gadis di depannya. Sorot matanya tajam mencari jawab atas misteri yang memenuhi pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bukan Sabila yang dulu pernah kau kagumi. Waktu telah membawa kita pada tempat yang berbeda. Tak pantas rasanya aku berada disampingmu lagi. Aku telah...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cukup. Percayalah, apa pun yang pernah kau alami, kau tetap bunga yang menghiasi taman hatiku. Menjadi penyejuk di saat hatiku gersang dan penyambung semangat hidupku."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, Mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila, sampai kapanpun keberadaanmu tak akan pernah tergantikan. Aku ingin merajut kembali asa yang sempat terkoyak bersamamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana berubah haru. Aku tak mampu menatap matanya. Ketulusannya menerima apa adanya diriku membuat hatiku luluh. Hatiku serasa terbasuh oleh air telaga. Kubiarkan air mata ini mengalir membanjiri kedua belah pipiku. Mungkin hanya menangislah yang mampu aku lakukan. Sungguh, mengucap sepatah kata pun aku tak bisa. Lidahku serasa kelu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis malam itu terus berjatuhan. Menjadi nyanyi sunyi di antara gelap malam. Berpadu dengan rinai air mataku. Puncak dari sebuah penyesalan. Aku gadis kampung yang kini sudah kehilangan kekampungannya. Keputusanku menjadi tenaga kerja di luar negeri mengantarkanku pada kehidupan gemerlap. Dunia baru yang tak pernah terbayang sebelumnya, bahkan dalam mimpi sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mewujudkan sebongkah mimpi yang pernah tergenggam, aku rela meninggalkan tanah kelahiran dan sanak keluarga di kampung. Di negeri seberang yang penuh impian, di sana sejuta harapan kulabuhkan. Bayang-bayang kehidupan yang lebih baik seakan nyata di depan mata. Sayang, semua hanya bayang-bayang yang tak selamanya bisa tergapai. Khayalan kerja enak dengan gaji besar ternyata pupus sebelum berkembang, yang ada hanya ratapan nestapa dengan serangkaian sesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja kulempar pandangan jauh keluar. Menikmati rintik-rintik air hujan dari balik jendela kapal. Ada kesedihan yang mengimpit dadaku. Luka yang dulu telah kering seakan berdarah kembali. Kenangan pahit selama di negeri seberang terlintas diingatan. Hari-hari di mana matahari tak bersinar dan angin berhenti berembus. Dunia yang semula penuh canda tawa tiba-tiba berubah sunyi tanpa suara. Jiwa terasa mati suri dan raga bagai boneka yang bisa dimainkan semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru sadar kalau telah masuk perangkap setelah agen yang membawaku menyerahkanku pada seorang warga keturunan. Setibanya di ibu kota negara tetangga tersebut aku disekap dalam penampungan. Tempat yang sebenarnya tak layak huni. Ruangannya sempit, pengap dan usang. Rupanya sudah banyak TKW asal Indonesia yang lebih dulu tertampung di sini, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun. Dari wajah mereka kudapatkan isyarat keputusasaan. Sedih, sesal dan bosan mengkristal seiring bergulirnya waktu. Terpaksa menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan, bak seekor pipit dalam sangkar baja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji manis untuk mempekerjakanku di sebuah industri tekstil ternyata hanya umpan belaka. Biaya yang semula diminta untuk mengurus paspor dan surat izin pun tak tahu ke mana larinya. Aku seperti buronan di negeri orang. Diperbudak tanpa bisa melawan. Bagaimana tidak, keberadaanku yang ilegal ini menempatkanku pada kondisi serbasalah. Mau kabur dari penampungan pasti aku ditangkap polisi yang rutin melakukan razia. Di negeri ini petugas keamanannya tak kenal ampun. Apalagi pemerintah setempat sedang gencar-gencarnya mendeportasi para imigran gelap, termasuk aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan linangan air mata terpaksa kujalani profesi nista ini. Kurelakan mahkota yang bertahun-tahun aku jaga dirampas begitu saja. Hari itu lilin di hatiku benar-benar padam. Andai tak takut bertambah dosa, sudah kucukupkan hidupku di dunia. Apalah artinya hidup jika tanpa harapan. Kukuatkan hatiku menerima cobaan ini. Ada satu keyakinan yang mampu membuatku bertahan: Tuhan tidak akan membebani hambaNya di luar batas kemampuan yang ia miliki. Aku yakin suatu saat aku bisa keluar, tak selamanya badai bertiup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenekatanku bekerja di luar negeri karena impitan ekonomi keluarga yang tak kunjung selesai. Keluargaku terbelit utang setelah ayah memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Semua sawah dan tabungan ludes. Kekuasaan telah membuat ayah lupa diri. Ia bayar orang-orang suruhan untuk mempengaruhi warga agar mau memilihnya. Berbagai cara ditempuh, tak peduli harus mempertaruhkan semua harta yang ada. Sayang, dalam pemilihan ayah kalah. Di mata warga ayah memang bukanlah sosok pemimpin yang ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan ini membuat ayah frustrasi. Mungkin karena ia belum bisa menerima kenyataan. Ia jadi sakit-sakitan. Kondisi ini membuat beban keluarga jadi semakin bertambah. Selain untuk kebutuhan hidup sehari-hari, kami harus mengeluarkan uang ekstra untuk biaya pengobatan ayah. Belum lagi biaya sekolah kedua adikku dan tagihan utang yang harus dibayar setiap bulan. Keluargaku benar-benar kehilangan tulang punggung. Kesehatan ayah yang semakin menurun memaksa ibu bekerja serabutan. Pekerjaan kasar yang dulu tak pernah ibu sentuh terpaksa ia kerjakan. Itu semata-mata untuk memenuhi kebutuhan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak pertama aku tak bisa tinggal diam. Perih rasanya jika harus melihat ibu yang sudah setua itu diangkut truk menuju perkebunan kopi. Berangkat dipagi buta dan pulang menjelang magrib bersama buruh petik kopi lainnya. Bekerja sebagai buruh cuci baju pun sempat aku lakoni. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Joni, agen TKI yang menawariku bekerja di luar negeri. Saat itu aku tak sempat berpikir panjang. Mendengar iming-iming akan mendapat upah besar, aku semakin tergiur. Apalagi kedua orang tuaku pun ikut mendukung. Di tengah kesulitan ekonomi, kami saling patungan untuk membiayai keberangkatanku ke luar negeri. Tabungan yang aku sisihkan untuk bekal berkeluarga dengan Mas Bima terpaksa diambil. Kekurangannya kami pinjam dari beberapa saudara dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berharap padaku. Setidaknya dari upah itu nantinya aku bisa melunasi hutang dan membantu biaya sekolah kedua adikku. Keberangkatanku pun diwarnai tangis haru. Begitu berat mereka melepasku. Untuk terakhir kali kupandangi wajah-wajah polos penuh harap itu. Sebuah pengingat yang kelak bisa menjadi penyemangatku selama di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tak selamanya mimpi itu indah. Bukannya upah yang aku peroleh, melainkan siksaan dan perlakukan yang tak manusiawi. Bertahun-tahun aku bekerja seperti sapi perahan, berpindah dari satu "tangan" ke "tangan" yang lain. Memang untuk itu aku dibayar mahal, tapi bukan aku yang menerima hasilnya. Pengelola penampunganlah yang tertawa di antara rintihan tangisku. Saat itu semua impian sirna sudah. Bermacam cara aku lakukan agar bisa keluar tapi selalu gagal. Penampungan selalu dijaga ketat. Tak mudah melewati mereka. Akhirnya takdir menuntunku meninggalkan tempat ini. Aku bisa kabur di saat penjagaan lengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minumlah dulu, barangkali bisa sedikit menenangkan pikiranmu." Suara Bima membuyarkan lamunanku. Ia duduk di sampingku seraya menyodorkan segelas air putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih. Sebenarnya aku malu, aku sudah terlalu banyak merepotkan Mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Semua yang aku lakukan tidak ada artinya dibandingkan dengan kehadiranmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, Mas." Sekali lagi kutatap bola matanya yang bersinar hangat. Ada kebahagiaan terpancar di sana. Entah mengapa ia masih saja seperti dulu, sama seperti diawal kami merajut cinta. Lima tahun lamanya kami saling setia sampai akhirnya kuputuskan untuk menjadi TKW di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kita tidak menikah saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabila menarik napas dalam-dalam, menahannya, dan melepasnya perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa. Aku tak mau membawamu larut dalam persoalanku. Biarlah keadaan ini tetap menjadi milikku, bagian dari hidupku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Izinkan aku menjadi setengah jiwamu. Dermaga tempat di mana kau labuhkan sampan cintamu. Saat gelombang dan badai kehidupan memorak-morandakan semua mimpimu. Di sana dadaku terbentang luas, ladang di mana kita bisa menyemaikan benih cinta kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sssstttt." Sabila meletakkan jarinya di bibir Bima. Ia biarkan Bima meraih jemari itu dan mengecupnya. Saat itu Sabila merasakan betapa tulusnya cinta Bima. Sebuah pengharapan yang membawa keteduhan bagi hatinya yang gersang akan kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah andai semua masih seperti dulu. Andai dokter tak memvonis umurku sepanjang hitungan jari tangan. Dan andai penyakit "memalukan" ini tak hinggap ditubuhku. Sudah barang tentu akan kubalas cinta Bima. Tapi kini, semua itu tak mungkin untuk dijalani. Aku hanya akan menjadi aib. Biarlah kujalani takdir hidupku meski tanpa cintanya. Pertemuan di kapal itu menjadi pertemuan terakhirku dengan Bima. Sengaja aku menghindar darinya. Hanya kukirimkan sebuah pesan pendek agar melupakanku. Aku tak ingin melihatnya bertambah sakit ketika harus mengetahui keadaanku sebenarnya. Belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang aku derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil kupaksa untuk terus melupakan Bima, aku mulai menyiapkan diri menghadapi keluargaku. Aku sadar kehadiranku akan membawa suka dan duka. Masih jelas diingatanku bagaimana kondisi ekonomi keluargaku saat kutinggalkan. Belum lagi berbagai utang yang pembayarannya menunggu kedatanganku. Tapi kini, yang aku bawa bukanlah uang melainkan aib dan penyakit. Meski tak pantas jika harus menyalahkan takdir yang membawaku pada alur lain yang tak dapat kuhindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu cepat waktu berlalu. Hitungan jari tangan telah habis atas masanya. Sabila tak lagi menangis. Ia berhenti merintih. Koma menghilangkan rasa sakit yang dialaminya. Mungkin tak sampai senja baginya untuk menutup mata. Ia akan pergi. Menunggu Bima di ruang yang berbeda. Di sana cinta abadi dan mimpinya akan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;-------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iskandar Saputra, lahir di Jaya Murni 5 Januari 1985. Sambil menyelesaikan kuliahnya di Universitas Lampung, ia terus belajar menulis dan aktif &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;di Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-8082651864993300233?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/8082651864993300233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=8082651864993300233&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/8082651864993300233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/8082651864993300233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/09/iskandar-saputra.html' title='Iskandar Saputra'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-793048580765191051</id><published>2008-09-18T16:01:00.000+07:00</published><updated>2008-09-18T16:01:00.906+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Azwar</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Jantung Batu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Azwar&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 26 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Senja rebah ke tepian, sudah lebih dua putaran jarum jam. Tapi sisa-sisa gerah udara kota masih saja berbekas di malam itu. Tempat kos sederhana itu terasa semakin panas bagi Sutan. Sudah sejam lebih dia bermenung dan sesekali mondar mandir di depan ruangan yang hanya dibatasi triplek. Triplek tipis yang tidak bisa meredam suara-suara yang terjadi dalam ruangan di dalamnya. Ada erangan dan rintihan perempuan kesakitan, sakitnya terasa di jatung Sutan. Berkali-kali, beratus kali, beribu kali. Sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pikiran Sutan berterbangan wajah ibu yang melahirkan, menyusui, dan bersusah payah mempertahankan hidupnya. Ibu yang dengan air mata menimang-nimang di larut malam saat tangisannya datang tanpa kenal waktu. Siang, petang, dan malam perempuan itu menderita karenanya. Kini, seorang perempuan juga sedang menghabiskan penderitaan untuk hidup dan dia menumpang hidup dari derita perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Betapa terkutuknya aku." Batinnya pedih. Dalam galau yang semakin tidak menentu itu seorang laki-laki paruh baya keluar sambil merapikan celananya. Dia menyeka keringat di wajah, merapikan kemeja, lalu menyambar tas di atas meja tua di pojok ruangan sederhana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tugas kuliah untuk besok tidak usah dibuat, aku kasih nilai A untuk mata kuliah Budi Perkerti kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan tidak menjawab, dia tidak melihat wajah lelaki itu, bukan karena tidak berani, tapi benci karena laki-laki itu memanfaatkan kemiskinannya. "Anjing," makinya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tersenyum puas yang nakal, laki-laki itu pergi. Dia pergi meninggalkan luka yang menganga di hati Sutan. Setelah laki-laki itu hilang di telan kelam malam, Sutan menyibakkan tirai pintu. Di atas tilam lusuh seorang perempuan terbaring lelah, menyamping menghadap dinding yang dilapisi kertas koran. Rambutnya tergerai basah karena keringat, tubuhnya mengkilat entah karena keringat atau bekas dijilat. Di samping perempuan itu berserakan lima lembar uang dua puluh ribuan. Sutan mendekati perempuan itu, sunyi waktu itu pecah oleh derit ranjang yang didudukinya. Setelah itu kembali sepi, hanya tangan Sutan bergerak menaikkan kain jawa hingga menutupi tubuh perempuan yang terbaring itu. Waktu itu dia tidak kuasa untuk menahan tangannya agar tidak membelai bahu gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sutan...aku lelah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan menarik tangannya, memang dia tidak bermaksud untuk mengulang menyakiti perempuan itu. Dia berharap dengan belaiannya perempuan itu tahu kalau dia merasakan kepedihan yang sama, duka yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alia...aku belikan makan malam untukmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jawaban, hanya sunyi menari-nari. Perempuan itu masih memunggungi Sutan, dia raba-raba di sekitar tempat tidurnya hingga menemukan selembar uang. Lalu di remasnya dan diberikannya pada Sutan. Tangan Sutan bergetar menerimanya, dengan perasaan tidak menentu dia pergi keluar ruangan. Setelah Sutan pergi, perempuan itu mencuri-curi pandang melihat punggung Sutan. Sejujurnya dia tahu kalau laki-laki itu menahan sebak air mata yang berlinangan di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sutan...jangan lupa belikan dua lembar kertas folio."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan berhenti, tanpa menoleh dia berkata pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata Pak Gun kita tidak usah mengerjakan tugas, nilai akhir sudah ada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Alia tidak percaya dengan janji dosen itu, tapi dia tidak ingin bersuara lagi. Badannya terasa remuk, sementara perih seperti diiris-iris pisau masih membekas di tubuhnya. Dia lelah. Dia sakit. Dia menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam butir-bitir air matanya ada kehidupan lama yang juga sakit dalam kenangan. Panas desa, tanah retak, dan terik matahari. Sementara itu suara martil berdering-dering hinggap di batu. Dari kejauhan sebuah truk merangkak berjuang mendekati onggokan batu yang dikumpulkan Alia. Melihat kedatangan truk itu, dia berhenti memecah batu. Menyeka keringat dengan handuk lusuh yang tergantung di lehernya, lalu menyingkir ke sebuah warung beberapa meter dari tempatnya mengumpulkan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sopir truk itu menyusul ke warung setelah memarkir truk tepat di sisi tumpukan batu yang dikumpulkan Alia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa sekarang ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seratus lima puluh, harga batu murah, orang lebih suka menggunakan batu sungai untuk membuat pondasi rumah, sementara pabrik dolomit sudah kelebihan batu gunung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia pasrah mendengar penuturan sopir truk itu. Ia mengambil sebuah botol aqua lalu duduk di balai-balai warung itu. Sopir truk menghampiri Alia, lalu mengeluarkan empat lembar uang lima puluh ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untukmu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia menerima uang penjualan batu, lalu matanya menatap jijik pada sopir truk itu yang mengipas-ngipaskan uang lima puluh ribu. Saat Ina -pelayan penjaga warung- meletakkan kopi panas untuk sopir truk itu, lak-laki itu menangkap pinggang Ina dari belakang, menyelipkan uang lima puluh ribu ke balik dada Ina, lalu mereka tertawa ke ruang belakang tempat istirahat sopir truk sambil menunggu muatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Memang jarang perempuan yang kuat memecah batu, makanya Ina memilih menjual tubuhnya dari pada harus susah-susah memecah batu. Tidak lama, bak belakang truk sudah penuh diisi dengan batu. Laki-laki buruh angkat yang mengisi truk menutup ombeng belakang, lalu berjalan ke warung untuk mengambil upah angkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sutan..., ini upah angkatmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah, lalu berjalan meninggalkan satu-satunya warung di ladang batu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woi...Alia..., hutangmu !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besok aku bayar, ndak ada uang kecil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia berlalu, tidak menghiraukan teriakan Bu Ami pemilik warung. Sutan menyusul, diambilnya perkakas kerja yang ditenteng Alia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar aku yang bawa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia menyerahkan perkakas kerjanya pada Sutan, mereka beriringan berjalan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti aku pinjam bukumu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti malam aku antar ke rumahmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terimakasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sutan...jadi kau kuliah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah, aku lihat dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kamu betah seumur hidup menjadi tukang batu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja turun di jalanan berbatu yang penuh debu. Alia dan Sutan beriringan pulang ke rumah tidak jauh dari ladang penggalian batu. Dua remaja SMU itu berpisah di simpang jalan yang memisahkan rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan itu adalah apa yang terjadi tiga tahun lalu, saat mereka masih di kampung ketika masih sekolah di SMU. Di desa, sekolah tidak serumit di kota, makanya Sutan dan Alia bisa menjual satu truk batu yang dikumpulkan di ladang batu milik kaumnya selama seminggu. Sementara Sutan yang tidak punya ladang batu, memilih untuk menjadi buruh tukang angkat. Dengan kerja seperti itulah mereka bisa mengumpulkan uang untuk bekal mendaftar di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota ternyata tidak seperti yang mereka duga. Suatu malam, Alia minta ditemani oleh Sutan untuk pergi ke rumah dosen mengurus nilainya. Dengan berjalan kaki sejauh 5 km mereka pergi ke rumah Pak Gun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa tidak diselesaikan di kampus saja ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia menghentikan langkahnya, ditatapnya mata Sutan, dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah sudah aku katakan, kalau Pak Gun itu tidak punya cukup waktu untuk menyelesaikannya di kampus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia mulai tidak bisa mengontrol emosinya, lelah berjalan mungkin menguras kesabarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau keberatan menemaniku, biarlah aku sendiri yang pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkata seperti itu, Alia kembali berjalan. Kata-kata itu bagi Sutan bukannya membebaskan, tetapi menyeret langkahnya mengikuti Alia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya mengkhawatirkanmu, bagaimana kalau..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan tidak melanjutkan kata-katanya, Alia tidak menjawab kata-kata Sutan. Dalam hati dia sudah bertekad untuk menghadapi segala apa yang terjadi. Tak lama membisu di jalanan, akhirnya mereka sampai ke alamat rumah yang diberikan Pak Gun. Dari luar rumah kelihatan sepi, ragu-ragu Alia mengetuk pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam terdengar suara berat Pak Gun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya Pak, Alia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, terdengar langkah terburu-buru membukakan pintu, dari balik pintu Pak Gun tersenyum lebar menyambut tamunya. Saat Alia dan Sutan melangkah memasuki rumah itu, kesan sepi yang terasa ternyata benar-benar sepi, di rumah itu tidak ada siapa-siapa kecuali dua ekor kucing dan seekor burung hantu yang bertengger pada gantungan di pojok ruangan. Pak Gun mempersilahkan tamu-tamunya duduk di kursi tamu. Setelah berbasa-basi Alia mengutarakan maksud kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak...saya mengurus nilai BL Pengantar Etika."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen itu tersenyum, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, meletakkan di bibir hitamnya, sambil menyulut dengan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nilaimu sudah tidak bisa tertolong, kalaupun akan diberi nilai, paling D atau E."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia menatap wajah Pak Gun dengan pandangan memelas, Sutan yang duduk di sampingnya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mempermainkan kukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak saya datang ke sini minta pertolongan Bapak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia masih memelas, lalu Sutan menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa tidak bisa diselamatkan nilainya Pak ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen itu seperti di atas angin, dia hembuskan asap rokok dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Gun berdiri, kemudian memberi isyarat pada Alia untuk mengikutinya. Sementara Sutan disuruhnya untuk tetap menunggu di ruang tamu. Walau ragu, Alia mengiringi langkah Pak Gun. Dalam pikirannya mungkin Pak Gun akan memperlihatkan nilai-nilai ujiannya. Sutan pun berpikir seperti itu, makanya dia biarkan Alia ke ruang kerja Pak Gun. Prasangka buruk mulai berlintasan dalam pikiran Sutan setelah cukup lama Alia berada dalam ruang kerja Pak Gun. Semakin lama, semakin menjadi dugaan yang tidak dapat di bayangkan Sutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian ternyata benar, Alia keluar sambil menangis tertahan. Dia berlari, meninggalkan rumah Pak Gun. Saat Gun keluar sambil merapikan pakaiannya Sutan memandang jijik pada dosennya itu. Tapi hanya sebatas pandangan, setelah itu dia menyusul Alia. Malam itu temannya telah menyerahkan sesuatu yang berharga pada dirinya untuk menebus nilai kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Alia telah memilih jalan terburuk dari hidupnya. Dia telan kepahitan, dia relakan untuk menjual tubuhnya, sementara Sutan sendiri yang menjadi germonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;u&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Sutan kembali membeli nasi, tiba-tiba dibekangnya menyusul Pak Un. Pegawai TU di kampusnya. Sutan sudah tahu maksud kedatangan Pak Un, bukankah sekarang bulan baru, tentu tadi siang dia sudah gajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sutan...bisa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia lelah, barusan ada tamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alah... kau kira aku tidak akan bayar lagi ? Ini kau ambil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegawai TU itu memasukan tiga lembar uang lima puluh ribu ke kantong baju Sutan, lalu tanpa dapat dicegah, dia menerobos masuk ke dalam ruangan tempat Alia sedang terbaring lelah. Sutan tidak jadi makan, dia letakkan dua bungkus nasi itu di atas meja di sudut ruangan. Dia mondar-mandir di ruangan sempit yang terasa semakin sempit itu. Hatinya semakin tidak menentu, menjalani hidup yang tidak dipilihnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam berlalu, pegawai TU itu keluar dari kamar. Laki-laki itu menyeringai puas seperti binatang. Sutan tidak berani masuk ke dalam kamar. Dia masih menata hatinya saat itu. Cukup lama Sutan duduk di luar sambil menyesali nasib. Saat dia lihat dua bungkus nasi di atas meja, baru dia sadar bahwa Alia pasti sudah kelaparan, makanya dia buru-buru masuk ke dalam kamar membawa nasi. Sementara di dalam kamar Alia hanya mengenakan handuk selesai mandi, dia sangat lelah dan saat itu keinginannya hanya tidur. Sutan meletakkan dua bungkus nasi begitu saja di lantai. Dia tidak jadi makan, dia juga tidak merasakan bagaimana kepedihan yang diderita Alia, bahkan ketika dia menindih perempuan itu beberapa waktu kemudian, dia juga tidak tahu kalau jantung wanita itu sudah mengeras seperti batu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang, Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-793048580765191051?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/793048580765191051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=793048580765191051&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/793048580765191051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/793048580765191051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/09/azwar.html' title='Azwar'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7745400078387884441</id><published>2008-09-15T11:14:00.000+07:00</published><updated>2008-09-15T11:14:00.903+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Pos'/><title type='text'>Aris Kurniawan</title><content type='html'>Lelaki Pub&lt;br /&gt;Cerpen Aris Kurniawan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.jawapos.co.id/"&gt;&lt;br /&gt;Jawa Pos&lt;/a&gt;, Minggu, 10 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam ini pub tidak seramai kemarin. Kami duduk di meja agak depan, beberapa jengkal dari meja kasir. Sebenarnya aku ingin memilih meja paling belakang supaya leluasa melihat pengunjung lain. Dan tentu saja memperhatikan Tita, pelayan pub bermata sendu itu. Tetapi tentu saja aku tidak mungkin memaksakan keinginanku. Boleh dibilang aku tidak punya pilihan. Semua Juan Esteban yang menentukan. Termasuk di pub mana dia ingin minum bir. Laki-laki tua di depanku ini memang meminta pendapatku saat memilih meja, tapi itu basa-basi belaka. Sebab setiap aku memberi usul Juan selalu bilang, ''Pilihanmu kurang tepat anak muda!'' Kalimat itu masih akan bertambah panjang dengan, ''Anak muda sekarang sering membuat keputusan yang kurang tepat.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini Juan Esteban mengenakan pakaian ala koboy: baju corak kotak-kotak dengan garis-garis warna merah marun dan hitam, dipadu rompi kulit, celana jeans belel, dan tak ketinggalan topi laken yang menyembunyikan rambut tipisnya. Hanya saja tak ada pistol di pinggangnya. Mungkin dia ingin mengenang saat menjadi gembala domba pada masa muda dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Minum apa anak muda?'' tanya Juan Esteban. ''Bir saja, sama denganmu, Juan,'' ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak lama setelah itu pelayan datang mengantarkan pesanan. Dia tersenyum manis pada Juan. Bahkan matanya mengerling nakal. Padaku dia hanya tersenyum alakadarnya. Juan langsung menenggak bir di depannya seperti orang kehausan. Padahal di panti tadi dia baru saja menghabiskan sebotol bir. Cairan berwarna kuning yang berkilauan disentuh pendar lampu itu mengalir deras ke tenggorokannya. Segelas besar bir tandas dalam satu kali teguk. Ujung lidahnya menyapu ceceran bir di sudut bibir. Dia lantas menyulut cerutu. Aroma cerutu segera mengapung memenuhi ruangan pub yang remang-remang bercampur dengan aroma ganja dan parfum para pengunjung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Walaupun jaraknya cukup jauh dari panti, pub inilah yang paling sering dikunjungi Juan Esteban untuk minum bir. Dibanding yang lain pub ini suasananya memang lebih nyaman dan menyenangkan. Mungkin karena atmosfer gothic yang dihadirkannya. Letaknya tersembunyi di antara deretan toko-toko pakaian dan rumah makan. Pelayannya rata-rata berusia belasan tahun. Mereka adalah mahasiswa yang bekerja paruh waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Minumlah anak muda. Jangan murung seperti itu. Aku tidak suka melihatnya,'' ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak bisa tidak, aku pun meraih gelas bir, menenggaknya perlahan-lahan. Rasa sepat memenuhi rongga mulutku, tapi aku berusaha menikmati. Juan Esteban tampak senang melihatku. Dia tersenyum, lantas menyorongkan cerutu. Matanya berpendar gembira. Dia tampak tampan meski gurat-gurat usia terpahat jelas di raut wajahnya. Sesunguhnya dia orang yang cukup menyenangkan. Dia juga sangat royal apabila dia merasa puas dan terhibur dengan kehadiranku. Dia memberi tips yang cukup buat beli satu stel pakaian dan sepatu. Tentu saja ini di luar tunjangan dan upah yang diberikan Javier padaku tiap bulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hanya saja sikap menyebalkannya muncul saat mulai mabuk. Sebelumnya dia akan berbicara kian kemari tentang apa saja. Paling sering dia bicara tentang masa mudanya. Meski sebal aku mesti menyimaknya, sebab kalau tidak dia akan marah dan mengancam akan melaporkannya pada Javier, putranya, supaya memecatku. Dia tidak hanya menuntutku menyimak pembicaraannya tapi juga mengomentarinya. Sebalnya dia akan menunjukkan sikap tak suka apabila aku memberi komentar negatif. Kalau dia sedang bercerita jangan harap aku punya kesempatan memperhatikan gerakan Tita yang tangkas meladeni pengunjung. Melihat tubuhnya yang ramping namun padat berseliweran dari meja ke meja. Sedikit mataku beralih darinya, Juan Esteban akan menggebrak meja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Juan kadang menanyakan kabarku, meminta aku bercerita tentang keluargaku, pacarku, kegemaranku, buku-buku yang kubaca, tempat-tempat yang pernah aku kunjungi atau apa saja yang sekonyong melintas di kepalanya. Maka aku akan bercerita. Tapi tentu aku hanya mengarang-ngarang saja. Toh dengan seenaknya dia bisa memotong ceritaku, memberi nasihat-nasihat dan saran yang membosankan, bagaimana mestinya aku bersikap menghadapi setiap persoalan. Selebihnya dia akan berpanjang lebar membanding-bandingkan kisah hidupnya yang terdengar sangat heroik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tengah malam sudah lama lewat. Juan Esteban masih tampak segar. Belum ada tanda-tanda akan mabuk. Pub makin ramai dengan sajian live music. Lagu Manuela milik Julio Iglesias melantun dari mulut penyanyi di panggung. Mata Juan mengerjap-ngerjap gembira. Kepalanya tampak bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti irama musik. ''Ini lagu kesukaanku, inilah lagu yang menandai kisah cintaku dengan Martina,'' ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Manuela, Manuela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Manuela, Manuela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Como a noite&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Como un sonho&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sao os olhos&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Negros meu amor, Manuela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Como a flor na primavera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Como a lue chea e assim, Manuela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia turut melengkingkan syair lagu dengan suaranya yang terdengar serak. Nama Manuela dalam lirik lagu tersebut dia ganti menjadi Martina. Sementara gerakan kepalanya makin bersemangat meniru gerakan penyanyi di panggung. Dia memintaku ikut bangkit menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama. Entah berapa lama kami menari mengentak-ngentakkan sepatu ke lantai, yang pasti Juan Esteban makin segar dan bersemangat. Wajahnya berkilau karena keringat. Kurasakan bajuku yang basah lengket pada tubuhku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Alunan lagu yang membangkitkan kenangannya pada Martina, mereda. Kali ini berganti dengan alunan musik yang lebih santai. Tapi rupanya penderitaanku belum berakhir. Juan mulai bercerita tentang kisah cintanya dengan Martina, sambil berkali-kali bilang jangan menceritakan ini pada Javier.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kurasakan kepalaku pusing, bukan karena harus menemani dia menari ataupun menyimak cerita dia, tapi karena ingatan akan Pedro dan Caras. Dua putraku itu panas tubuhnya naik lagi saat kutinggalkan. ''Apa tidak bisa libur semalam ini, Mario?'' kata Selena, istriku. Wajahnya tampak cemas memandangi Pedro dan Caras. ''Tidak ada dalam kesepakatan,'' ujarku lirih. Aku tak kuasa menatap matanya yang berkaca-kaca.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Kalau menyalahi kesepakatan kita tidak hanya akan kehilangan upah bulanan, Javier juga akan meminta kembali upah yang sudah habis kita makan,'' kataku dengan suara rendah. Aku bergegas pergi setelah berjanji akan segera pulang apabila tugasku selesai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika aku sampai di panti Juan Esteban masih bermalas-malasan di kamarnya. ''Halo Juan,'' sapaku sebisa mungkin memasang wajah riang gembira.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Mario, kau sudah datang rupanya. Hampir saja aku menelepon Javier,'' ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Apakah aku terlambat?'' aku bertanya cemas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Tentu saja tidak. Aku hanya ingin meminta pendapatmu tentang pakaian apa yang akan kukenakan malam ini,'' jelasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku menarik napas lega. ''Dengan pakaian apa pun kau tetap tampan, Juan,'' kataku, bermaksud menghiburnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lebih dari satu jam aku harus menunggu Juan mandi dan berpakaian. Sebenarnya aku sebal dengan pekerjaan ini. Pekerjaan yang membuatku tampak seperti badut bodoh. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ini. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya sangat ringan ini. Aku mendapatkan info pekerjaan ini dari iklan di sebuah koran lokal. Javier dibanjiri surat lamaran dari orang-orang yang ingin memperoleh pekerjaan ini. Entah pertimbangan apa yang membuat Javier akhirnya memilihku. Barangkali karena nasib baikku saja yang membuat Javier menyisihkan puluhan pelamar lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tugasku hanya menjemput Juan Esteban dari panti pukul enam sore, membawanya ke sebuah pub, menemaninya minum bir sampai dia puas, lantas mengantarkan dia kembali ke panti. Selama menemani Juan aku tidak diperkenankan mengaktifkan ponsel. Tugas ini kulakukan hampir setiap malam. Hari liburku bergantung pada Juan. Kalau dia sedang malas ke pub, berarti aku libur. Tapi aku harus selalu siap sedia apabila dia meneleponku untuk menemaninya minum bir di panti. Untuk pekerjaan ini aku mendapat upah lima dolar per jam. Di luar itu Javier juga memberi tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan tunjangan perumahan. Aku dikontrak selama setahun. Apabila Juan merasa puas dengan pekerjaanku, Javier akan memperpanjang kontraknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Bila Anda memutus kontrak di luar waktu yang sudah ditentukan, maka Anda tidak hanya harus membayar denda, tapi upah yang sudah Anda terima pun harus dikembalikan separuhnya," papar Javier.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebaliknya, apabila Juan sudah tidak berkenan denganku, aku tetap menerima upah dan tunjangan sampai kontrakku habis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Saya harap Anda bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik,'' ujar Javier. ''Anda akan mendapat hadiah di luar upah dan tunjangan apabila Juan merasa sangat puas,'' imbuh Javier.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebelum aku, Javier pernah mempekerjakan dua orang sekaligus untuk tugas ini. Yakni seorang pensiunan dokter dan mantan tentara. Mereka berbagi tugas menemani Juan minum bir. Tapi sebelum kontrak habis, Juan memecat keduanya. Yang tentara terlalu banyak cerita mengenai pengalamannya perang di Irak dan menganggap enteng komentar Juan. Sementara yang pensiunan dokter selalu menasihati Juan Esteban tentang bahayanya terlalu banyak begadang dan minum bir. ''Ayahku juga tidak menyukai cara mereka menatap matanya,'' ujar Javier. ''Jadi tataplah mata ayahku dengan pandangan takjub. Dan selalulah memasang wajah gembira di depannya. Anda harus menjadi teman diskusi yang menarik, bukan hanya pendengar setia. Bila kamu bisa melakukan ini ayahku akan suka sekali,'' saran Javier.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tanpa berpikir terlalu lama aku menandatangani kontrak kerja yang disodorkan Javier. Besoknya aku langsung menyuruh Selena berhenti dari pekerjaannya sebagai pramuniaga di sebuah toko retail. ''Kamu di rumah saja mengurus Pedro dan Caras.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari mendekati pukul tiga dini hari. Tapi Juan Esteban belum tampak letih sedikit pun. Kali ini dia sudah tidak bicara lagi. Dia membuka topi lakennya, rambutnya yang tipis lekat menempel di kulit kepala. Separuh pengunjung telah surut. Juan meletakkan telapak tangannya pada dagu. Matanya menyapu seisi pub. Entah apa yang dipikirkan. Dia pernah bilang bahwa sebenarnya dia tidak menyukai cara Javier dan anak-anaknya yang lain memperlakukan dirinya. Juan sebenarnya tidak ingin tinggal di panti. Dia ingin tinggal bersama Javier dan melihat perkembangan cucunya. Tapi, begitulah, anak-anak mengirimnya ke panti jompo, tak lama setelah usia Juan menginjak 70. Juan tidak bisa menolak karena ini sudah dianggap seperti kemestian adat. Juan tidak menikah lagi setelah Glebova, istrinya, meninggal oleh penyakit liver sepuluh tahun lalu. Waktu itu bisnis retailnya yang dirintis sejak muda tengah maju pesat. Si sulung Javier telah menikah dan mengelola sebagian usahanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah Javier, dua anaknya yang lain, Ramos dan Arroyo, satu per satu menikah, mengambil alih bisnisnya dan meninggalkan Juan dengan cuma ditemani seorang pembantu di rumah. Mereka secara halus menolak ketika Juan mengutarakan keinginan tinggal di salah satu rumah mereka. Karena merasa kesepian Juan akhirnya meminta Javier mengirim ke panti jompo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Juan menenggak lagi birnya. Aku lupa menghitung, sudah berapa botol bir yang meluncur ke lambung Juan dan sudah berapa kali pula dia ke toilet. Dia menggumamkan sebuah lagu yang tak kukenal. Matanya mengawasi beberapa pelayan yang masih sibuk bekerja melayani pengunjung dan membersihkan meja yang telah kosong. Sesekali ekor matanya melirikku. Rasa bosan yang menyerangku sejak tadi tak dapat lagi kutahan. Aku bangkit, minta izin pada Juan pura-pura ke toilet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat aku kembali kudapati Juan masih menopangkan dagu, memperhatikan seorang pelayan. ''Apa yang kau pikirkan, Juan?'' tanyaku memberanikan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Kau lihat pelayan itu, Mario? Yang rambutnya dicat hijau,'' ujarnya. Kulihat matanya berkabut. ''Ya, kenapa Juan? Kau tertarik? Bukankah kau masih kuat?''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Juan Esteban terkekeh sebentar. Suaranya terdengar hambar. Sejurus kemudian mimiknya berubah serius. ''Dia mirip Martina,'' ujarnya dengan suara rendah. Aku ingat, Juan pernah bercerita pernah punya pacar gelap bernama Martina, gadis desa yang bekerja sebagai pramuniaga di toko retail miliknya. Setelah Martina hamil, Juan membayar seorang anak muda pengangguran untuk menikahi dan membawa pergi Martina entah ke mana. Dia tidak tahu rahasia ini sudah diketahui Javier dan dua anaknya yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Mungkinkah dia anakmu, Juan?'' ujarku. Laki-laki gaek ini melirikku sebentar, lalu meneruskan amatannya pada pelayan itu. ''Perlu kupanggil pelayan itu kemari?'' usulku. Tanpa menunggu persetujuannya aku memanggil pelayan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Ada yang bisa saya bantu, Tuan?'' kata pelayan itu ramah, bergantian menatapku dan Juan. ''Bisa tambah birnya Nona,'' ujar Juan setelah agak lama terbengong memandang wajah pelayan yang jadi sedikit salah tingkah ditatap serupa itu. Kurasa pelayan itu juga heran dengan permintaan Juan karena di meja kami masih ada dua teko besar berisi bir penuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah pelayan itu beranjak mengantarkan pesanan, Juan tidak lagi meneruskan pembicaraan mengenai Martina maupun pelayan yang mengingatkannya pada bekas pacar gelapnya tersebut. Dia mengalihkan pembicaraan tentang pub yang besok akan dikunjunginya untuk minum bir. Setahuku hampir seluruh pub yang ada di kota kecil ini sudah dikunjunginya. ''Aku bosan dengan suasana pub yang begini-begini saja, Mario. Aku ingin mencari pub yang beda,'' ujarnya. ''Masih ada satu pub yang belum kukunjungi di kota ini,'' sambung Juan. Aku mencoba berpikir pub mana yang dimaksud Juan Esteban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Pub Gommora, Mario,'' cetus Juan menyebut nama sebuah pub yang khusus untuk kalangan gay.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Tidak salah, Juan?'' kataku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Kamu keberatan, Mario?'' tanya Juan. Aku tak menyahut. Kurasakan ponselku bergetar. Pastilah dari Selena. ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*) Cerpen ini terinspirasi dari sebuah berita di harian The Times, London, edisi 24 April 2008 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7745400078387884441?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7745400078387884441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7745400078387884441&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7745400078387884441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7745400078387884441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/09/aris-kurniawan.html' title='Aris Kurniawan'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-2015608960754621608</id><published>2008-09-11T10:41:00.000+07:00</published><updated>2008-09-11T10:41:00.842+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Karya'/><title type='text'>Hamzah Puadi Ilyas</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S a k i l a&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Hamzah Puadi Ilyas&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=206490"&gt;&lt;br /&gt;Suara karya&lt;/a&gt;, Sabtu, 9 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namanya Sakila. Ia benci manusia, tapi bukan yang berkelamin wanita. Itu menurut ceritanya dari balik jeruji penjara. Apakah ia berdosa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sakila telah menatap kekerasan, mereguk kemarahan, dan berselimut kesedihan dalam setiap detak jam. Suatu pemandangan yang indah jika engkau tak pernah mengenal kebaikan. Apa itu kebaikan? Tak ada yang bisa mengukurnya dan tak punya standar. Sakila melihat itu dengan samar, tak sadar sedang berada di wilayah mana karena ia tak mengerti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Ia baru mengerti dosa saat berada dalam penjara. Itu juga saat ada orang yang datang - lelaki tampan mantan preman- sambil membawa kitab tebal. Dari sikap orang itu yang ramah, sopan dan menyejukkan, Sakila mulai mengenal kelembutan hati serta kepasrahan jiwa. Jauh di dalam ruang kosong dirinya, Sakila merindukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Lelaki itu mulai membimbing Sakila, mengajarinya mantra-mantra penyejuk rasa dan pembangkit jiwa. Lelaki itu menyebutnya doa. Katanya, "doalah yang telah menjauhkan diriku dari kehancuran. Begitu pun dengan engkau Sakila. Kau akan segera mengetahui mukjizatnya. Berdoalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila cantik, tapi tak mengerti arti kecantikan. Yang ia tahu hanyalah berada di antara perempuan-perempuan perkasa. Mereka silih berganti menghirup harum bunga yang baru mekar. Tingkah mereka bagai kumbang jantan yang sedang bermain-main di kelopak bunga. Kadang Sakila juga menikmati, terutama saat gejolak beranjak panas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila menjadi gemulai jika berdekatan dengan perempuan perkasa. Itulah yang diharapkan oleh Mela, kumbang betina yang suka menghisap putik bunga. Ia sangat berkuasa bak seorang raja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Mela buas. Ia biasa menjilat dan menggigit. Lidahnya menyapu setiap titik-titik keringat yang muncul dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia akan terus begitu hingga kelelahan menyapa dan kepuasaan menyundut raga, dan akhirnya terlentang lemah di atas kasur busa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Syakila -perempuan polos yang tak tahu ada kata 'dosa'- tak mengerti bahwa Mela juga serpihan luka, walau berasal dari sayatan pisau berbeda. Tapi Mela sangat mengerti dengan sebutan yang ditujukan padanya, karena selama bertahun-tahun ia duduk di bangku ruang kuliah, mendengarkan ceramah tentang ketidaknormalan. Bahkan ada yang menyalahkan. Orang-orang tak sadar bahwa Mela adalah bagian yang sedang mereka perbincangkan. Bila tahu, mungkin akan bergidik atau meludah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sesekali Mela muak. Kadang pada dirinya sendiri, kadang pada para penuduh yang dianggapnya sok suci. Tapi ia sebenarnya sengsara, cuma pandai memainkan kaca. Sehingga yang tampak adalah tertawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Siang malam Sakila menjadi penyedap rasa, pemanis duka, penawar hasrat dan bantal guling yang bernyawa. Ia bisa berada dimana saja - dada, muka, tangan, paha. Dunia menjadi begitu indah karena dia, terutama untuk Mela yang perkasa. Tapi Sakila tetap tak bisa mengerti. Ia sekedar menjalani hidup yang telah ditakdirkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila sedang menghisap puting ibunya ketika tangan kekar sang ayah menarik lengan wanita sendu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Anak sudah besar masih dibiarkan menetek!" Ayahnya membentak. Sakila menjerit. Ibunya berusaha meneruskan, tapi tangan itu terlalu kuat untuk dilepaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Dengan mata indahnya, Sakila melihat ibunya yang sudah sangat jenuh dan lelah, tetapi harus melayani lelaki mabuk. Lelaki itu terus memacu kelaparannya atas sebuah pelepasan. Sakila telah didorongnya menjauh. Punggung anak itu meraba dinding sudut ruangan. Berjongkok dan menangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Lelaki itu melolong bagai srigala dan mengerang penuh kepuasaan. Tangannya yang legam membawa pecut. Bagai seorang penunggang kuda, ia memecut kudanya agar berlari lebih kencang. Suaranya bagai kilatan halilintar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila melihat ibunya bagai kuda yang merintih kesakitan. Wanita itu telah melepaskan suara penderitaan dan erangan menyayat, tapi ayahnya sama sekali tak peduli. Lelaki yang mulutnya bau comberan itu terus memberikan sabetan-sabetannya. Ia makin bersemangat mendengar suara yang keluar dari rasa kepedihan. Gairah yang muncul dari buhul-buhul yang dilemparkan iblis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sambil mengeluarkan lolongan, ayahnya jatuh terkulai di atas kuda tunggangannya. Perlahan-lahan ibunya akan melepaskan diri dari dedemit itu. Ia merasa sangat kotor, lalu berjalan lunglai menuju kamar mandi. Kemudian wanita itu akan kembali kepada Sakila dan mereka pindah ke kamar lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kenapa ibu mandi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Lelaki itu najis anakku." Kata ibunya. "Jangan kau biarkan najis lelaki menempel pada kulitmu. Apalagi memasuki pintu gerbangmu. Ia akan membuatmu menderita busung lapar dengan perut membesar."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kenapa begitu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kelak kau akan tahu. Tetap ingatlah kata-kata ibu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Lalu ibunya memeluk Sakila dan melanjutkan memberikan putingnya agar dihisap Sakila. Telah lima tahun Sakila melakukan hal itu. Ia tak lagi bisa membedakan apakah benda yang menggelantung di dada ibunya itu masih mengeluarkan minuman segar atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Jika lelah, kedua wanita itu akan berpelukan mesra. Sakila merasa seperti kembali ke rahim ibunya, dilindungi dinding-dinding perkasa yang menjauhkannya dari mahluk-mahluk yang siap memangsa. Itulah saat-saat bahagia yang tak akan pernah terlupa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sejak itu tertanam di jiwa bahwa kedamaian ada dalam rangkulan wanita, bukan pria. Pria itu cuma penunggang kuda dan penyiksa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila makin lengket pada ibunya. Walaupun sudah masuk sekolah, pada saat-saat tertentu Sakila masih menetek, dan ibunya tidak peduli. Ia biarkan saja Sakila mencari kepuasan. Tak ada lagi yang bisa diberikan untuk menyenangkan hati anaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tapi lambat laun kesenangan itu dirampas. Oleh siapa lagi kalau bukan seorang pria yang mengeluarkan napas comberan. Ia selalu datang tiba-tiba dan memaksa ibunya untuk memberikan uang. Jika tidak, tangan iblis itu melayang ke pipi ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kita akan pindah dari tempat ini anakku." Ibunya berkata dengan suara parau suatu ketika. Suara merdunya hilang karena terlalu sering menjerit kesakitan. Ada jejak pagutan di lehernya yang pucat. Orang-orang berperasaan yang melihatnya pasti akan ngeri. Makhluk apa yang telah menancapkan taringnya di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kamana Ibu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kamu akan tahu nanti." Kata wanita itu. "Yang pasti ke tempat yang lebih murah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kenapa kita tidak boleh tinggal di sini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ibu tidak mampu lagi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kenapa?" Sakila terus bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ibu sudah tidak punya uang." Wajah ibunya semakin muram. "Cepat bereskan barang-barangmu. Ini dua kantong plastik."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Syakila tak bergerak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tapi kita akan kemana Ibu?" Sakila merengek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Anakku. Jangan bertanya terus. Kita akan pindah ke rumah di dekat kali itu. Di sana sewanya tidak semahal di sini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Terbayang oleh Sakila rumah-rumah kayu yang berdiri sepanjang kali yang biasa ia lewati sewaktu berangkat ke sekolah. Ia membayangkan anak laki-laki yang biasa meledeknya saat melewati jembatan. Mereka sangat jahat seperti ayahnya. Dan ia selalu mengingat kata-kata yang sering diucapkan ibunya - Laki-laki itu najis anakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila bergegas ke kamar. Ia memasukkan baju-bajunya yang kebanyakan sudah lusuh ke dalam kantong plastik pertama, lalu buku-buku pelajaran ke dalam kantong kedua. Terakhir ia mengambil boneka berambut pirang kesayangannya. Setelah itu ia kembali ke ruang tengah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Saat Sakila duduk di kursi menunggu ibunya yang sedang membereskan barang-barang, tiba-tiba muncul ayahnya sambil membawa botol minuman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mana ibumu?" Ia berteriak. Sakila sangat takut. Tubuhnya mengkerut. Ia terbayang peristiwa-peristiwa malam hari yang membuat ibunya menjerit kesakitan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila berlari ke dalam dan merangkul ibunya. Ayahnya mengikuti dengan pandangan srigala liar yang kelaparan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku butuh uang. Berikan!!!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku sudah tidak punya uang lagi. Sudah kupakai untuk membayar uang muka sewa rumah." Ibunya berkata terbata-bata. Tangannya memeluk tubuh Sakila.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Apa?! Kamu ingin melarikan diri dariku." Pria itu menenggak lagi air haram. "Cepat berikan! Kalau tidak..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Sungguh, sudah tidak ada." Ibunya memelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Lelaki itu mendamprat dengan kata-kata kotor. Ludah bercipratan, bagai semburan bisa ular. Lalu tangannya menarik rambut wanita itu dan menyeretnya ke luar kamar. Wanita itu berteriak minta tolong. Sakila hanya bisa menangis sambil memegangi daun pintu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pipi wanita itu kembali ditampar. Entah yang keberapa kali. Ia kehilangan keseimbangan. Tubuh kurusnya terhuyung dan kepalanya membentur tembok. Sesaat ia diam, dan secara perlahan tubuhnya runtuh ke lantai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Mendengar jeritan Sakila dan teriakan ibunya, beberapa tetangga berlarian ke rumah itu. Beberapa orang menangkap tangan lelaki mabuk itu. Tapi ia berontak sehingga kepalan tangan mendarat ke wajahnya. Ludah kembali muncrat, kali ini berbau bangkai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Para wanita datang mendekati tubuh yang terbaring di lantai. Suara-suara sanjungan Tuhan dikumandangkan. Sakila memeluk ibunya sangat erat. Seerat lakban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Mulutnya terus memanggil-manggil ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila berada dalam selimut bersama Mela yang sedang tertidur lelap. Sakila perlahan menyingkap selimut karena mendengar suara itu lagi, berkali-kali. Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ia termangu beberapa saat, lalu membuka jendela untuk mencari dari mana datangnya suara itu. Tiba-tiba angin menabrak dirinya. Ia melangkah ke belakang. Angin itu seolah terpental kembali, menghalangi cahaya bulan. Kemudian angin itu seperti membentuk tubuh seorang wanita. Ya, itu adalah ibunya. Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila bagai terhipnotis. Ia berbalik, menatap ke tempat tidur dan melihat tubuh kekar Mela yang telanjang bagai sesosok laki-laki perkasa. Suara itu kembali berbisik di telinganya. Kali ini seperti ada beratus-ratus pembisik, menghunjami pikirannya dengan suara-suara. Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila tiba-tiba menjadi liar dan merasakan kekuatan yang luar bisa. Matanya nanar. Jari-jarinya membentuk cakar. Kebenciannya pada laki-laki memuncak, terbayang ibunya yang terus-menerus disiksa hingga menderita. Dalam diri Sakila ada 'dia' yang tak bernama, namun daya sihirnya bagai magma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tanpa diduga Sakila melompat ke atas tempat tidur dan dengan cepat mencekik leher dari seonggok tubuh yang dianggapnya sebagai sosok lelaki jahat. Tubuh itu mencoba berontak, tapi tak memiliki tenaga karena telah terkuras pada permainan dahsyat beberapa jam sebelumnya. Lambat laun gerakannya menjadi lemah dan akhirnya diam dengan lidah menjulur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sakila mengenal dosa setelah datang seorang lelaki mantan preman yang membawa kitab tebal. Dialah yang mengajarkan kata itu. Tapi sebelumnya Sakila tidak pernah tahu dan mengerti apa itu dosa. Kini ia jadi suka termenung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ada perasaan kangen yang dirasakan Sakila untuk kembali bertemu dengan orang itu bila ia telah pergi. Perasaan yang dulu tak pernah ada dalam benaknya. Apalagi yang bernama laki-laki. Tapi akhirnya Sakila bercerita tentang dirinya, tentang ibunya, tentang ayahnya, tentang Mela, dan juga tentang perasaannya pada lelaki mantan preman yang membawa kitab tebal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Itulah cerita yang telah dituturkannya kepadaku. Karena akulah lelaki mantan preman yang membawa kitab tebal itu dan telah mengenalkan kata 'dosa' padanya. Aku mengajarkan doa, bukan mantra.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-2015608960754621608?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/2015608960754621608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=2015608960754621608&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/2015608960754621608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/2015608960754621608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/09/hamzah-puadi-ilyas.html' title='Hamzah Puadi Ilyas'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-6973208808474128336</id><published>2008-09-07T10:33:00.000+07:00</published><updated>2008-09-07T10:33:00.376+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Darman Moenir</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara yang Kian Lemah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Darman Moenir&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 03 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pacuan zaman yang kian cepat, Suara merasakan kehidupan yang kian getir. Mengapa tidak? Di usia tua-renta, sama sekali Suara belum memunyai tempat berteduh. Kalau sekarang Suara terbaring di dipan kayu tanpa kasur, maka ruang tempat tidurnya tidak lebih daripada sepetak kamar kontrakan yang terletak di bagian belakang rumah induk, nun jauh di pinggir belantara ibukota. Suara terbaring seorang diri dengan sebuah muk air putih terletak di lantai unjuran kaki. Di sebelah muk itu ada sebuah piring kanso berisi nasi yang mengeras. Ada sepotong kecil ikan asin yang dingin, mungkin basi. Di sana tidak ada obat, tidak ada pil, tidak ada ramuan tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Suara batuk, batuk, dan batuk lagi. Sedikit basah, berdahak, batuk Suara yang kadang-kadang melengking tinggi itu selalu mengeluarkan lendir. Penyakit batuk itu diidapkan Suara bukan selama sejam-dua jam, bukan sehari-dua hari, bukan sepekan-dua pekan, melainkan sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Laki-laki itu mulai terbatuk-batuk sejak remaja setelah dia menjadi seorang ahli isap rokok permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan dulu Suara tidak meninggalkan kampung-halaman, semestinya dia tidak terlunta-lunta. Namun, itu soalnya! Suara menghapus jejak di kampung halaman sendiri. Bagaikan sebatang arang, Suara patah dengan kampung-halaman. Dan kedua patahan itu tidak mungkin disambung, tidak bisa disatukan lagi. Patah arang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebelum meninggalkan kampung halaman, Suara bersiul dengan larik-larik senandung: tinggi malangiklah kau batuang, indak den tabang-tabang lai. Tingga mancanguiklah kau kampuang, indak den jalang-jalang lai (tinggi melangitlah kau betung, tidak kutebang-tebang lagi. Tinggal ber- sedihlah kau kampung, takkan kujelang-jelang lagi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akan tetapi, sekarang Suara terlunta-lunta dan mengalami kehidupan yang sangat nestapa. Suara hidup bukan tanpa pernah beristri. Bahkan Suara mempunyai dua. Dan istrinya kedua, yang dengan kesetiaan mau hidup menemaninya sejak mereka menikah belasan tahun lalu, pada hari itu, sedang berjualan kue-kue kecil, dari satu ke lain gang, dari rumah ke rumah, dari satu pintu ke lain pintu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitulah, dengan berjualan kue, istri Suara melanjutkan kehidupan rumah tangga mereka. Tetapi, laba yang diraih dari berjualan itu tidak menjamin, bahwa mereka bisa hidup wajar. Bila hari hujan, atau calon pembeli membatalkan niat untuk membeli, serta juragan tidak mau setoran kurang atau ditangguhkan, itu semua adalah sejumlah halangan yang sering ditemui istri Suara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Belum lagi ketika keadaan fisik istri Suara sendiri yang tentu saja bisa lelah, demam, atau serba tidak enak. Bila kondisi demikian terjadi, maka istri Suara dipastikan tidak berjaja. Dan, selanjutnya, bila tidak berjualan, maka tentu saja dia tidak mendapatkan laba. Padahal, dengan sedikit laba itulah keluarga Suara menjalani kehidupan apa adanya, bukan sebagaimana mestinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akan tetapi, istri kedua Suara bersungguh-sungguh menjalakan pekerjaan rutinnya setiap pagi, setiap hari. Parak siang, ketika hari masih sangat pagi, istri Suara terbangun dari tidurnya. Dia meninggalkan suaminya, yang terbaring di ranjang seorang diri. Pada saat itu mereka masih memunyai sebuah ranjang biarpun tidak begitu empuk. Untuk membeli beras berkualitas rendah dengan harga relatif murah, ranjang seken itu pun harus mereka jual. Istri Suara bukan hanya pernah menjual ranjang, tetapi juga beberapa kali melego peralatan dapur, almari pakaian, meja makan dan pakaian usang ke pasar loak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dua bentuk perhiasan yang pernah dia pakai, cincin dan gelang yang berat keduanya tidak lebih dari sepuluh emas, pun hangus di rumah pegadaian. Kedua benda itu tergadai, tetapi kemudian, sampai tanggal jatuh tempo, sama sekali tidak pernah tertebus. Istri Suara tidak kehilangan hak atas sisa uang yang masih bisa didapatkan dari pegadaian itu. Namun, selanjutnya perhiasan itu dilelang, dan tidak pernah kembali!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;DAN Suara adalah lelaki yang terbongkar dari akar dan terlempar ke kehidupan yang musykil. Paling tidak musykil apabila rujukan adalah kehidupan personal Suara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah menghabiskan masa kanak-kanak yang amat menyenangkan di kampung-halaman, hidup merantau dipilih dan dijalani Suara. Dia tidak berpikir untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Sampai kelas dua SMP dia anggap cukup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain orang tuanya tidak berkecukupan untuk menyekolahkan, Suara berkesimpulan otaknya tumpul untuk belajar. Hidup di kampung halaman, dengan pilihan yang tersedia hanya menjadi petani kalau tidak mau menjadi penganggur, dianggap Suara tidak pas. Dia juga mendengar kisah-kisah sukses perantau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mengapa aku juga tidak merantau?" angan Suara, dulu, pada suatu malam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan, tanpa banyak ba-bi-bu, Suara meninggalkan kampung-halaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku pergi jauh," pamit Suara kepada ayahnya, di hadapan ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ingat kami dan adik-adikmu," harap ibu Suara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan pakaian sepertegak yang melekat di tubuh, Suara pun menumpang pada sebuah truk yang sekali sepuluh hari ulang-alik ke ibukota, J. Untuk itu, di perjalanan, Suara mau melakukan apa saja yang disuruh sopir dan kernet. Dengan demikian, dia bisa makan kenyang dan bahkan mendapatkan sejumlah uang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam perjalanan darat yang panjang dan melelahkan selama dua malam tiga hari, kemudian, Suara memahami, bahwa bumi bukan hanya sebingkah kecil tanah yang ada di kampung halamannya. Memasuki Metropolitan J. di kala subuh, Suara takjub setakjub-takjubnya. Dia tidak habis mengerti mengapa ada, dan dibuat, gedung-gedung sedemikian tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bagaimana caranya orang-orang menaiki gedung-gedung itu?" pikir Suara polos.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suara pun terkagum-kagum, bahkan seolah tidak percaya, ada Monumen Nasional yang berkilau alangkah memesona diterpa cahaya. Dan, bersamaan dengan kedatangan siang pertama berada di ibukota, Suara remaja pun gugup, tidak tentu ojok.i Truk yang membawa Suara selama beberapa hari di Jalan Lintas Sumatera, menyeberangi Selat Sunda, sudah kembali ke pangkalan untuk, lusa, dikemudikan ke kampung halamannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seorang diri, dalam kesepian luar biasa, Suara tidur di emper-emper oko, di kaki-lima. Dia pernah sepekan tidak mandi, tidak pernah ganti pakaian. Dan, di Tanah Abang, dia pernah minta-minta nasi dan rokok di rumah makan padang. Mujurlah, tidak sampai tiga bulan Suara benar-benar canggung berada di ibukota. Kemudian dia bisa bekerja, asal bisa makan dan merokok, di sebuah lapak milik urang awak.ii Dengan orang yang santun dan menyantuni itulah Suara kemudian memulai kehidupan yang ternyata selalu liat, keras, pelik dan penuh tantangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun, pengalaman dan kenyataan yang dilalui Suara cukup membuktikan, seliat, sekeras, sepelik dan sepenuh apa pun tantangan kehidupan, bisa, dan oleh siapa pun harus ditundukkan. Kalau tidak, siapa pun itu akan kalah. Kalah dan dikalahkan kehidupan yang fana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suara memang tidak sampai pada kesimpulan seperti ini. Tidak! Namun pada hari-hari, pekan-pekan, bulan-bulan selanjutnya Suara lambat- lambat, tetapi pasti lantas bersahabat, dan bahkan berhasil membelai- belai J.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan tulang yang delapan kerat itu Suara bisa pindah kerja dari satu ke lain lapak, dari satu rumah-makan ke lain rumah-makan, dari satu majikan ke lain majikan. Paling mengesankan adalah bekerja di banyak tempat, sebagian besar kalau takkan semua, Suara bermajikan urang awakii.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di masa remaja, J. bagi Suara adalah surga. Di sela-sela kesibukan membanting tulang, Suara menjalani masa remaja dengan langgam anak-muda ibukota. Biarpun tidak sepenuhnya, namun cara dan gaya hidup anak-anak muda J. memengaruhi Suara. Tetapi, ketika untuk pertama kali pulang ke kampung-halaman setelah sepuluh tahun merantau, Suara langsung dicarikan istri oleh mamakiiidan disetujui oleh kedua-orang tuanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Wa ang alah gadang, alah patuik babini,"iv ujar sang mamak dengan bahasa ibu yang kental.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan Suara tidak bisa menolak ketika semua keperluan pernikahan, perhelatan dan bahkan jaminan hidup untuk setahun sesudah nikah, disediakan dan ditanggung keluarga calon istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sini memang bermain, atau diberlakukan, aturan adat-isitiadat yang dimamangkan tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Pada puak tertentu di etnik M. keluarga perempuan memang harus menjemput atau membeli lelaki. Bahkan sampai sekarang ketentuan itu masih belaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;AKAN tetapi perkawinan itu tidak membahagiakan Suara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mengapa aku diperlakukan seperti ini?" tanya Suara dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hanya beberapa pekan Suara berada di kampung setelah beristri, kemudian dia balik ke rantau seorang diri. Dia tidak membawa istrinya. Jangankan mengajak, memberi tahu, bahwa dia hendak balik ke rantau, pun sama sekali dia tidak. Suara pergi begitu saja, tanpa pamit bahkan kepada siapa pun. Kembali berada di rantau, Suara sempat merenung. Ternyata dengan perkawinan itu dia dijadikan tumbal untuk menutupi aib keluarga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia dijodohkan dan dibodohkan. Istri Suara ternyata tak lagi perawan. Bahkan ketika menikah, diketahui si (calon) istri hamil empat bulan. Biar kemudian kandungan istrinya gugur, bukan digugurkan, tetapi bagaimanapun Suara benar-benar tidak dapat menerima perlakuan dan penipuan itu. Memakan waktu lama kemudian dia memaafkan, namun dia tidak mau lagi berurusan dengan siapa pun. Termasuk tidak mau berurusan dengan ayah dan ibu, mamak serta adik-adiknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tingga mancanguiklah kau kampuang .........&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan kejantanan yang sumbing, Suara mengharungi belantara J.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suara tidak saja berenang dalam samudera ibukota yang berombak sangat ganas, tetapi juga sampai ke sudut-sudut negeri di seantero Pulau Jawa. Bahkan untuk beberapa bulan dia terpaksa di Pulau Bali dan Kalimantan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia, secara sentimental, disebut sedang membawakan untung dan perasaian. Namun, apa sesungguhnya arti untung dan perasaian bagi seorang lelaki bernama Suara yang secara instik tidak mau kalah, dikalahkan oleh kehidupan? Dengan dan kepada siapa untung dan perasaan harus dibagi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di usia setengah abad lebih, Suara pun menyunting seorang perempuan yang dia temukan di lembah nista. "Lembah nista" itu merupakan rumusan orang-orang bermoral. Suara tidak menganggap dirinya bermoral, namun dia yakin, perempuan yang entah dari etnik mana itu pantas dijadikan istri dan, siapa tahu, setia. Pilihan Suara tidak salah, biarpun kehidupan yang baik masih belum memihak kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain menderita batuk, dia pun tidak beranak. Dalam keadaan demikian, sekuat tenaga dia masih mau mengekas, memilih remah yang terserak di jalan-jalan kehidupan metropolitan. Memilih remah, menjalani kehidupan berumah tangga dengan semangat yang masih berapi, tetapi di umur yang tergerus senja dan dengan keadaan fisik yang mulai rapuh memungkinkan Suara gagap dan gugup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bukan tidak pernah dia teringat kampung halaman, terkenang masa kanak-kanak yang alangkah indah namun, serta-merta, pada saat itu juga dia terngiang nyanyian tinggi malangiklah kau batuang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan nyanyian itu sesungguhnya Suara menunjukkan, bahwa dia ingin menjadi lelaki yang menang. Jiwa Suara bagai hidup sampai ke ujung zaman, biarpun di kamar kontrakan itu dia tidak mempunyai apa- apa. Suara memandang loteng dengan pandangan sayu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selama berada di rantau, dia tidak pernah menangis. Namun pada pagi itu air mata berlinang dan meleleh di kedua pipi Suara yang tirus dan kusam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Istri Suara juga tidak mengeluarkan air mata ketika, sehabis berjaja, menemukan suaminya terbaring, kian lemah. Sang istri menempelkan sebuah ciuman ke kening Suara sebelum kemudian memberi tahu pemilik rumah dan tetangga, bahwa suaminya bernapas, tersengal-sengal, sangat sesak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Padang, 29 Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;i ojok = arah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ii urang awak = orang kita, ungkapan untuk orang dari etnik Minangkabau&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;iii mamak = paman, saudara (kakak dan atau adik) lelaki dari ibu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;iv Wa ang alah gadang, alah patuik babini = Kamu sudah besar, sudah pantas beristri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-6973208808474128336?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/6973208808474128336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=6973208808474128336&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/6973208808474128336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/6973208808474128336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/09/darman-moenir.html' title='Darman Moenir'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7753715246528246794</id><published>2008-09-03T14:37:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T14:37:00.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lampung Post'/><title type='text'>Wira Apri Pratiwi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Politik Haji Ebod&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Wira Apri Pratiwi&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008041914542511"&gt;&lt;em&gt;Lampung Post&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;, Minggu, 20 April 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;TAK satu pun warga Pulau Panggung, tidak mengenal nama Haji Ebod. Juragan sawah, juragan tanah, dan juragan kawin menjadi gelar yang melekat untuk Haji Ebod. Tiga perempat sawah di kampung kami dimiliki Haji Ebod. Begitu juga dengan tanah di kampung ini, hampir seluruhnya dikuasainya. Dan untuk perkara kawin, tak ada yang bisa menandingi Haji Ebod. Di usianya yang kini menginjak 55 tahun, Haji Ebod sudah sebelas kali kawin. Tapi Ngah Dati, istri pertama Haji Ebod, masih menjadi perempuan yang paling disayang Haji Ebod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah sebelas kali kawin, Haji Ebod tak pernah hidup dengan lebih dua kali istri. Tiap kali Haji Ebod mau kawin, satu istrinya pasti dicerai duluan. Tapi itu tak pernah terjadi pada Ngah Dati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali Haji Ebod kawin lagi, hati kecil Ngah Dati menangis. Namun, didikan agama yang kental di dadanya, pada akhirnya bisa melapangkannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ada seorang warga di Pasar Baru yang iseng bertanya tentang seringnya Haji Ebod kawin, Ngah Dati hanya menjawab, "biar saja poligami, itu kan sunah Rasul." Sehabis itu, tak ada lagi yang berani bertanya padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemasyhuran Haji Ebod, sebenarnya bukan hanya karena kekayaan dan seringnya beliau kawin. Namun, Haji Ebod jauh termasyhur sebagai pedagang minuman keras di kampung kami. Warga tidak berani menegur Haji Ebod, begitu juga kepala desa kami yang sama-sama takut melarang Haji Ebod untuk tidak menjual minuman keras itu. Maklum, dengan kekayaannya yang melimpah, Haji Ebod jadi banyak pengikutnya. Pengikutnya ini dijadikan Haji Ebod sebagai centengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kali memang pernah ada satu warga yang mengingatkan Haji Ebod. Dia adalah Ustaz Endang, satu-satunya guru ngaji yang ada di kampung kami. Tapi malang, sehari setelah mengingatkan Haji Ebod, malamnya Ustaz Endang didatangi orang-orang bertopeng. Dia dipukuli habis-habisan, rumahnya yang juga dipakai tempat ngaji anak-anak di kampung kami ludes dibakar. Meskipun mereka memakai topeng, warga sudah tahu orang-orang itu adalah centeng Haji Ebod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, tak ada lagi warga yang berani melarang Haji Ebod, bahkan hingga bulan Ramadan tiba pun masih belum ada warga yang berani lagi melarangnya. Karenanya tak heran, meskipun di bulan suci, masih banyak pemuda di kampung kami yang mabuk-mabukan. Hampir tiap malam kami jumpai para pemuda mabuk-mabukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebaliknya, di masjid-masjid menjadi sepi dari pemuda yang tarawihan. Hingga pada suatu hari di bulan suci, datanglah Adin Nana ke kampung kami. Ia adalah anak angkat Haji Ebod. Konon, 23 tahun yang lalu, dia ditemukan Haji Ebod dalam keranjang di kebun pisangnya. Saat itu, Nana kecil terlihat diendus anjingnya Haji Ebod yang telah mati beberapa tahun lalu. Bayi itu lantas dijadikan anak angkat Haji Ebod karena memang Haji Ebod mandul. Anak itu lalu diberi nama Adin Nana. Di usianya yang ke-sepuluh, Adin Nana ikut pesantren di Banten sekaligus kuliah di sana, dan kini setelah 13 tahun menempa ilmu, ia kembali ke pangkuan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa gembira keluarga Haji Ebod dengan kedatangan Adin Nana, begitupun sebaliknya, Adin Nana begitu senang bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Ebod mengadakan syukuran, seluruh warga diundang. Syukuran itu diisi pengajian dan makan-makan. Pada kesempatan itu ternyata juga hadir keluarga Pak Lurah yang diwakili anaknya, Udo Jafar. Sebuah kehormatan yang luar biasa dikunjungi Udo Jafar. Konon, kata orang Udo Jafar adalah dosen, ia juga dekat dengan jajaran pemerintahan serta anggota Dewan. Ia dihormati warga sekampung, dan atas kedatangannya di acara syukuran, haji Ebod sangat tersanjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sesi terakhir, pas acara makan-makan, Udo Jafar diberi kesempatan bicara. Kesempatan itu tidak ditolak, dan segera Udo Jafar berdiri, lalu berpidato yang garis besarnya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perlu bapak-ibu ketahui, bahwa sebentar lagi Lampung akan mengadakan pesta demokrasi pemilihan gubernur baru. Kita sebagai warga Lampung tentunya harus ikut andil untuk menentukan siapa pemimpin yang pantas untuk Ruwa Jurai. Nah, sekarang partisipasi bapak ibu sekalian bisa langsung disalurkan dengan memilih calon kita di pilkada nanti. Kaya pemilu kemarin, tentunya bapak ibu sekalian sudah tahu kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kira-kira isi pidatonya. Warga bertepuk tangan. Suasana syukuran menjadi riuh. Haji Ebod tersenyum. Baginya, itu adalah bentuk pengakuan dari pejabat akan eksistensinya di kampung Bojong. Haji Ebod tidak tahu, kalau acaranya digunakan kendaraan politik oleh Udo Jafar. Warga pun tersenyum karena tidak lama lagi mereka akan dapat kaus, beras serta uang. Maka setelah malam itu. Rumah Haji Ebod sering dikunjungi warga, pasalnya warga mendengar kalau Udo Jafar memberi banyak beras dan uang pada Haji Ebod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, tak lama kemudian. Seluruh kampung penuh dengan poster, berisi gambar dua orang berpeci lengkap dengan nama, nomor dan partainya. Terutama di rumah Haji Ebod, ada baliho dan poster besar juga stiker. Rupanya, rumah Haji Ebod dijadikan posko cagub-cawagub majikan Udo Jafar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Udo Jafar sangat cerdik. Ada banyak alasan untuk melibatkan Haji Ebod. Pertama, Haji Ebod dianggap orang kampung yang udik, yang pasti akan merasa bangga didekati politikus macam Udo Jafar. Dosen pula. Kedua, adalah kekayaannya.. Setidak-tidaknya Haji Ebod juga akan membantu mendanai kampanye di kampung. Untuk yang satu itu, Udo Jafar menjanjikan perlindungan terhadap bisnis Haji Ebod. Terakhir, adalah para centeng dan pengikutnya yang banyak dan dikenal sebagai preman. Kekuatan mereka akan dijadikan sebagai kekuatan eksternal untuk menakut-nakuti warga yang akan memilih calon lain. Begitu skema yang tergambar di otak Udo Jafar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngah Dati sekarang sangat sibuk, ia mendadak rajin ke desa, sama Bu Lurah, ia kembali menghidupkan ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita. Mengadakan latihan paduan suara, memasak, merangkai bunga dan acara lainnya. Haji Ebod sendiri kini banyak tinggal di rumah, bersama Udo Jafar ia sering kedatangan tamu. Ada dari kecamatan, kabupaten, sampai provinsi. Bahkan orang-orang sudah mendengar kabar tentang cagub dan cawagub yang tak lama lagi akan datang ke kampung mereka. Haji Ebod tentu akan semakin berbunga-bunga. Karena sudah barang pasti rumahnya yang dipilih sebagai tempat kunjungan. Halaman rumahnya yang luas akan disulap jadi tempat yang nyaman untuk tamu kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar itu memang benar adanya, seminggu lagi cagub dan cawagub akan hadir di kampung Pulau Panggung, seluruh warga turun ke jalan, membersihkan jalan dan selokan. Spanduk ucapan selamat datang sudah dipasang di gapura, umbul-umbul dipasang di sepanjang jalan. Suasana kampung menjadi meriah layaknya agustusan. Apalagi rumah Haji Ebod, selain ditempeli poster berukuran besar, Haji Ebod memasang lampu-lampu kerlap-kerlip berwarna-warni. Agar indah dan mewah, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung kecil dibuat di halaman rumah. Karpet dan tikar digelar, ada sound system, dan dekorasi lain yang unik dan kreatif karya anak-anak karang taruna. Semuanya dibikin sesuai instruksi Udo Jafar. Padahal tadinya Haji Ebod hendak membeli sofa baru, juga menyewa kursi. Namun, kata Udo Jafar lebih baik lesehan saja, biar terlihat merakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang magrib, warga sudah bersiap-siap. Jam tujuh rombongan datang. Tim penjemput yang sudah disiapkan segera bergerak menuju gapura. Malam itu adalah malam yang bersejarah bagi warga Pulau Panggung. Selain ceramah dari calon, acara itu juga akan diisi jaipong, teater, dan kasidahan sebagai jamuan untuk tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah Yu Entin, suasana sangat heboh. Pasalnya kedua anak Yu Entin, Sari dan Suminten akan menari jaipong malam itu. Di depan pejabat, juga di depan keluarga Haji Ebod. Sungguh membuat mereka semakin bersemangat. Dua bersaudara itu teman Adin Nana sewaktu kecil. Mereka dari kecil sudah bersaing menarik hati Adin Nana, maka malam itu mereka akan tampil sebagus mungkin di depan Adin Nana. Dalam benak mereka, mungkin malam itu juga Adin Nana akan memilih satu dari keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo milih dua-duanya pun, kita mau ko!" celetuk mereka sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit sangat cerah, bulan terang tepat di atas halaman rumah Haji Ebod. Orang-orang berduyun-duyun memadati halaman rumah haji Ebod. Bapak-bapak, Ibu-ibu, sampai anak-anak malam itu tumpah di satu tempat. Para centeng dengan mengenakan jaket kulit dan kaca mata hitam siap sedia berjaga-jaga, ditambah beberapa polisi dan tentara yang biasa mangkal di arena judi sintir di sawah bersama para penjudi di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iring-iringan rombongan telah tiba, lima mobil mewah memasuki lokasi. Warga berdesak-desakkan ingin menyalami para pejabat yang baru turun dari mobil. Para centeng dan aparat keamanan sibuk bukan main menghalau warga. Para tamu kehormatan itu segera duduk di barisan terdepan bersama keluarga pak Lurah dan Haji Ebod. Acara pun digelar. Layaknya hajatan pernikahan anak presiden, malam itu Kampung Pulau Panggung diselimuti pesta akbar. Namun, ada juga beberapa warga yang memilih diam di rumah, mereka yang sama sekali tak tertarik urusan politik atau mereka para pendukung calon lain. Apalagi mantan isteri dan gundik Haji Ebod. Mereka malah berkumpul di sebuah tempat untuk menggunjingkan kelakuan Haji Ebod. Bagi mereka, Haji Ebod adalah sosok jahat yang tak tahu malu. Mereka para korban poligami, malah bermaksud merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Haji Ebod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di antara mereka yang tak menyukai perilaku Haji Ebod adalah anak angkatnya, Adin Nana. Malam itu ia bergeming di kamarnya. Dari awal memang ia tak suka keluarganya dimanfaatkan Udo Jafar untuk alat politik. "Ini pembodohan," pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Ebod celingukan mencari anaknya, ia ingin sekali mengenalkan anaknya pada pak cagub, ia berharap anaknya kelak bisa diangkat jadi PNS di pemda. Namun, orang yang dicari tidak kunjung muncul. Ngah Dati pun bolak-balik ke kamar memanggil Adin Nana. Akhirnya dengan langkah berat Adin Nana keluar, namun ia tetap tak mau duduk di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembawa acara memberikan kesempatan terlebih dahulu pada Pak cawagub. Dalam pidatonya pak cawagub mengingatkan kalau Lampung saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang saleh, jujur, dan amanah. Dan itu ada pada mereka. Di akhir pidato pak cawagub juga mengingatkan pada warga untuk mencoblos foto mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak-bapak, ibu-ibu sekalian. Biar gampang, carilah foto yang berkumis, itu adalah pilihan bapak ibu sekalian. Itulah wajah kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, giliran Pak calon gubernur yang pidato. Pak cagub bicara panjang lebar soal kondisi Lampung yang penduduknya masih mengalami kemiskinan dan kesengsaraan. Untuk itu ia memberikan beberapa solusi yang dijanjikan akan ia lakukan jika terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kita miskin? Itu karena kita bodoh. Masih banyak masyarakat Lampung yang buta huruf, itu disebabkan sulitnya masyarakat mengenyam pendidikan. Sekolah kita terlalu mahal, maka jika saya terpilih nanti, saya akan menggratiskan pendidikan!" Ucap Pak cagub berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepuk tangan warga bergemuruh diiringi teriakan-teriakan. "Hidup, hidup, hidup!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin larut, seisi kampung hanyut dalam kegembiraan. Acara dilanjutkan dengan makan-makan.. Sebelum bubar, Udo Jafar sibuk membagi-bagikan amplop pada warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pilkada, suasana kampung Pulau Panggung semakin ramai dan panas. Pasalnya calon lain pun berdatangan, tawuran antarcenteng terjadi. Tiap malam, motor para preman meraung-raung berkeliling kampung. Warga bingung harus memilih siapa, semua calon memberi mereka barang yang setara jumlahnya.. Adin Nana semakin tak betah di kampung. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi kembali ke pesantren. Ia disuruh mengajar oleh Pak Kiai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Ebod sedih bukan kepalang ditinggal anaknya. Ia sakit-sakitan dan kemudian penduduk Pulau Panggung gempar, telah ditemukan sesosok mayat yang tak lain adalah Haji Ebod terdampar di tepi waduk bersama puluhan dus minuman keras yang biasa ia jajakan di warung. Warga menduga-duga kalau Haji Ebod jatuh terpeleset ketika hendak membuang semua miras sebagai tanda tobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggamus, 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wira Apri Pratiwi, lahir di Tanjungkarang, 30 April 1987. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mahasiswa UPI Bandung asal Talangpadang, Tanggamus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7753715246528246794?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7753715246528246794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7753715246528246794&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7753715246528246794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7753715246528246794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/09/wira-apri-pratiwi.html' title='Wira Apri Pratiwi'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-1536089691694883481</id><published>2008-09-01T16:16:00.000+07:00</published><updated>2008-09-01T16:16:00.786+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Adek Alwi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Kemilau Danau&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Adek Alwi&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;em&gt;&lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, 11 November 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJUK sekali! Di mana ini?" Mirna memeluk tangan, menengok berkeliling. Hijau daun di mana-mana. Bunga aneka warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Embun Pagi," jawab Herman di luar mobil. "Tiga puluh kilo dari Bukittinggi. Keluarlah, lihat ke bawah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirna keluar mendekat, mendadak terhenti. Di dasar lembah terhampar danau, tenang tak beriak, airnya biru dipagari bukit hijau. Rumah bertebaran di pinggir, juga masjid dan surau, atapnya seng berkilau disinari matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Danau Maninjau." Herman tersenyum. "Indah, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indah!" Mirna tak membalas tatap lelaki itu. Ia amat terpesona. Pikiran yang memberat oleh kesibukan dan kerisauan ibu melihat dia masih sendiri di usia 33 luruh seketika. Ia tak sempat berpikir bagaimana alam dapat meredam galau jiwa manusia, menenangkan hati dan pikiran. Ia takjub, terus menatap; menampakkan garis kening, hidung, bibir, dagu yang indah dari samping. Herman berdebar. Lalu dia menggeleng, merasa diri sudah tak berhak. Perempuan ini bisiknya di hati, niscaya bukan yang dulu lagi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Itu Sungai Batang," tunjuk Herman. "Di situ Hamka dan Noer Sutan Iskandar lahir. Juga kampung penyair Samadi alias Anwar Rasjid."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirna menoleh, lalu kembali memandang danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu Sigiran, kampung penyair Leon Agusta," sambung Herman. "Sebelah situ Bayur. Desa kelahiran Jusuf Sou'yb, novelis dan penyair."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Mirna menghadapkan wajah. Herman lagi-lagi merasa desir lama di hati; bangkit dari lubuk yang dalam. "Tentu keindahan danau ini membuat putra-putranya jadi seniman," balas Mirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin. Novel Kemarau pun ditulis AA Navis sewaktu tinggal di Maninjau masa PRRI. Inspirasinya dia peroleh setelah mengamati danau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, Maninjau bukan hanya melahirkan seniman," sambung Herman. "Juga M. Natsir, Rasuna Said, ulama besar ayah Hamka, Syekh DR Abdul Karim Amrullah. Dan, Buya Tuo AR Sutan Mansur. Beliau ini abang ipar Hamka, pernah memimpin Muhammadiyah, dan ayah penyai Samadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirna manggut-manggut. Tiba-tiba, dipandangnya Herman. "Kukira kau mau mengajakku ke kampungmu," katanya. "Apa namanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saruaso."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak pernah kau sebut waktu kuliah. Di mana itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dekat Pagaruyung. Eh, mengapa tertawa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirna menggeleng, tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tertawa!" Herman penasaran. "Ada apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Hanya terpikir, mungkin karena dekat Pagaruyung aku tidak kau bawa ke sana. Dekat pusat budaya Minang tentu adatnya kuat. Kau pasti risi jalan dengan perempuan lain, takut dikira selingkuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan karena itu!" bantah Herman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jauh. Dan, kau suka danau. Lihat Lido saja dulu takjub, padahal danau kecil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa tahunkah itu? Sepuluh? Sebelas? Lelaki itu masih ingat. Saat itu libur kuliah dan mereka ke danau dekat Bogor itu. Tapi kenapa merasa harus ada yang berarti bila orang ingat sesuatu, pikir Mirna. Aku pun tetap ingat lelaki ini, kapan saja, di mana pun, padahal itu sia-sia. Mustahil Herman masih sendiri, seperti masa kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Lido kecil dibanding ini," kata Mirna. "Betul tidak ada danau di Saruaso, Man? Danau Singkarak itu di mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dekat Padang Panjang. Kalau kamu lama di Sumatera Barat kubawa ke sana. Juga ke kampungku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke Saruaso?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak?" sahut Herman. "Eh, mengapa terkejut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirna menggeleng, kembali melihat danau. Senyum. "Menurutmu apa dengan pergi berdua begini kita sudah selingkuh?" dia bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa bertanya begitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena aku tak ingin ada yang dikhianati. Sakit dikhianati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman tertegun. "Jadi, kamu merasa ada yang kita khianati di Jakarta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seperti yang di Saruaso?" balas Mirna tangkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman diam, melayangkan mata ke danau. Bagaimana ia jawab sindiran itu? Masih berguna dijawab? Sepuluh tahun tidak jumpa bukan waktu yang singkat. Pasti Mirna tidak sendiri lagi. Dengan ketenaran sebagai doktor ekonomi, cantik, mustahil dia masih sendiri. Langkahnya pun telah jauh, menjejak benua-benua asing, saat studi atau untuk berseminar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;MENTARI mendekati tengah langit, cahayanya kemilau di permukaan danau. Di Embun Pagi tetap sejuk. Herman merasa, saat ini yang terbaik adalah minta maaf. Bukankah dulu dia lenyap begitu saja dari Jakarta, usai wisuda, saat ayahnya wafat? Bukankah dia yang ingkar janji?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau janji bagi banyak orang kini diumbar lalu diingkari, tapi tidak baginya. Herman tak setuju pemeo titian biasa lapuk, janji biasa mungkir. Ia suka pemeo Tiongkok: sekali kata diucap, tiga ribu kuda tak mampu menariknya kembali. Ia pun tahu, meski tak terlihat di wajah Mirna saat jumpa kemarin, juga dalam kebersamaan mereka sejak pagi tadi, Mirna terluka dia tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke siapa dia dulu cerita sebelum pulang? Tak ada. Semua serba tergesa. Mirna mudik ke Jawa, dan dia panik mendengar kematian ayahnya, pontang-panting mencari ongkos pulang. Lalu terikat di kampung, jadi tiang keluarga, dengan ruh melayang ke Jakarta, juga Amerika, mendengar Mirna studi di negeri jauh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo ke bawah, Mir. Biar kamu lihat danau itu dari dekat," ajak Herman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lewat jalan itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namanya Kelok 44, karena ada empat puluh empat tikungan, dibangun masa Belanda. Lewat di situ danau bak minta disentuh. Dan di bawah, di Maninjau menanti makanan khas sini, palai rinuak, pepes ikan kecil-kecil putih sepentul korek api. Ayo, kapan lagi kamu ke Ranah Minang dan menikmati salah satu danaunya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu kenal betul daerah ini padahal jauh dari kampungmu," kata Mirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu lupa aku pengusaha hotel walau kelas melati?" Herman tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Juga karena sering kemari?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan istrimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman tertegun. Nyeri. "Waktu SMA," katanya. "Lalu mengantar wisatawan. Ayo!" Dia berjalan ke mobil, membuka pintu, dan Mirna masuk. Wajahnya memerah seperti jambu. Hati Herman berdebar kembali, namun lekas dia stater mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirna lalu menikmati danau lewat jendela mobil yang terbuka. Danau semakin indah; kadang di kiri, kanan, dan terus mendekat. "Dari siapa kau tahu ada aku dalam seminar itu?" Mirna mengalihkan mata dari danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kubaca iklannya di koran. Doktor Mirna Ciptarianing jadi pembicara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu menyetir dari Padang ke Bukittinggi memastikan? Berapa jaraknya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sembilan puluh kilo. Aku ingin memastikan tidak ada yang berubah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ternyata?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ternyata... Doktor itu memang pembicara." Herman tertawa. "Walau tentu ada yang berubah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?" Suara Mirna bergetar. "Kamu tentu juga berubah, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, aku kini pengusaha hotel kecil." Herman ketawa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirna mencari mata lelaki itu tapi Herman melihat ke jalan. "Menurutmu apa yang berubah padaku?" desak Mirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman berpikir. Akan ia katakan terus terang? Tidakkah jawaban Mirna nanti menyakitkan? Bahwa, karena ia ingkar janji, lenyap begitu saja, perubahan itu terjadi! Siapa sudi terus sendiri, menanti lelaki yang tak jelas hutan rimbanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu... ya, seperti sekarang. Ekonom terkenal, tiap hari ditulis koran, masuk televisi!" Herman membelokkan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngenyek!" Mirna meninju lengannya. Hati Herman berdebar pula. Tapi naluri pemilik hotel dan pemandu wisata dia beri peluang bereaksi. "Ini Kelok 13," katanya. "Saat perang saudara dibuat orang pasar di sini. Hubungan putus dengan Bukittinggi, kota kabupaten. Penduduk dan para pemimpin PRRI yang mengungsi ke sini terisolir. Daerah Maninjau dihujani mortir dari Embun Pagi. Korbannya, ya, rakyat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selalu rakyat jadi korban," sahut Mirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Bagaimana menurutmu danau itu dari sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makin indah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, dari tiap kelok danau itu kian indah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sering kamu bawa istrimu kemari?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman melihat jalan. Tahukah dia, mendengar itu wajahnya yang terbayang? Ah, akan dia katakan saja sekarang? Masih bergunakah? Tak lebih menyakitkan? Hm, ada baiknya belajar pada alam, renung Herman. Pada danau yang menerima segalanya dengan tabah. Lihat, danau tetap teduh-indah meski sungai yang mengaliri tentu tidak hanya membawa air. Juga yang serba tak sedap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEREKA sampai di kelok pertama, gerbang kota kecil Maninjau. "Belok kiri ke kampung Hamka, Leon Agusta," Herman menjelaskan. "Kita ke kanan arah Bayur. Ada restoran di tepi jalan, sebagian bangunannya di atas danau, makanya makanannya enak. Mata leluasa memandang danau, telinga mendengar riak-riak yang lunak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu pemandu wisata profesional," puji Mirna. "Aku menurut saja." Ia tahu Herman belum menjawab pertanyaannya tapi matanya berbinar. Danau dua-tiga meter di kiri. Di seberang terlihat rumah penduduk, juga di kanan jalan. Bebukitan hijau di belakang danau melingkar menjaga keasrian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana ada keteduhan begini? Mirna ingat, dia pernah ke Bali saat galau hati tak tertanggung. Tapi ada yang khas pada Maninjau, tak ditemui pada danau di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman memarkir mobil di muka restoran berarsitektur Minang. Mirna keluar, melepas sepatu, lari mencelupkan kaki ke air. Tepi danau tak berpasir, cuma batu-batu kecil, dan ikan di selanya. Saat ia angkat muka ia lihat Herman di atas depan restoran, tersenyum. Hati Mirna teriris. Tak mungkin lelaki itu masih sendiri di negeri elok ini. Tapi, ia kini bersamanya. Apakah ia telah mendorong Herman mengkhianati istrinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman mendekat lewat tangga batu, berseru, "Makan dulu, nanti ke situ!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirna menarik kaki dari air dengan patuh, menjinjing sepatu dan bersijingkat di bebatuan. Mereka duduk dekat jendela di restoran, memandang danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Permai?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangat indah!" Mata Mirna bercahaya. "Sering kamu ajak istrimu ke sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman menatap. Lalu menyahut, dengan getar suara yang nyata, "Satu kali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O, ya?" Mirna coba tersenyum, tapi gagal. "Saat kalian baru... menikah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman terus memandang. "Bukan. Saat ini!" Mirna kaget. Jarinya bergetar di meja, ditariknya ke pangkuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kamu kira aku punya istri?" Herman menuntut -ia tak tahu dari mana datang keberanian. "Karena meninggalkanmu? Ayahku meninggal, Mir. Aku tertahan di kampung, mengurus ibu, adik-adik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirna masih terpana, lalu senyum. "Dan, kamu," balasnya dengan suara nyaris tidak terdengar. "Mengapa menduga ada yang kukhianati di Jakarta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu lagi jawaban, penjelasan. Mata Herman bersinar. Danau kian indah kilau-kemilau memantulkan berkas cahaya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-1536089691694883481?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/1536089691694883481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=1536089691694883481&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1536089691694883481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1536089691694883481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/09/adek-alwi.html' title='Adek Alwi'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7582447462293529452</id><published>2008-08-29T10:58:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T00:42:16.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Karya'/><title type='text'>Indrian Koto</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lelaki yang Menangis di Kamar Mandi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen: Indrian Koto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=204300"&gt;Suara Karya&lt;/a&gt;, Sabtu, 12 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia paling benci menunggu. Ia sudah terbangun pagi-pagi sekali dan sungguh mati kantuknya lenyap begitu saja. Padahal semalam ia hampir tak bisa tidur. Menunggu, ah betapa waktu bergerak lamban rasanya. Jam seperti ikut mengejeknya, bergerak pelan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ia meminta Rima datang pagi ini, jam sepuluh pagi. Tak ada yang luar biasa dengan angka itu. Pada jam-jam tersebut tentu tidak terlalu subuh seseorang bertamu. Beberapa pekerjaan kecil tentu sudah bisa diselesaikan oleh mereka: mandi, beres-beres kamar, belanja, dan semacamnya, sebelum seluruh waktu setelahnya akan mereka habiskan berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pagi ini, beberapa jam sebelum waktu yang mereka tentukan -Rima akan datang ke kamarnya, bercakap-cakap sejenak sebelum kemudian keluar- ia sudah duduk di depan komputer. Ia sudah tak bisa melakukan apa pun. Membuka-buka file dan tak berselera menuliskan apa pun. Ia putar winamp yang semalam lagu-lagunya dipilih Rima sebelum gadis itu pulang.&lt;span class="fullpost"&gt;Ia keluar kamar, mengambil segelas air putih dan membawanya kembali ke kamar. Wana masih tertidur dengan pasrah di ruang depan, Jusuf belum bangun, Ridwan dan kawan-kawan yang lain belum datang dari kampung sejak lebaran kemarin. Rumah kontrakan itu masih sepi, padahal subuh sudah dari tadi berlalu. Biasanya, dia pun di jam-jam seperti ini masih juga terlelap seperti yang lain. tapi pagi ini, sebuah janji telah membuatnya tak bisa tidur. Tak bisa melakukan apa pun. Sungguh, ia merasa begitu konyol. Jatuh cinta dan berubah kekanakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sambil tiduran ia mendengarkan beberapa lagu yang diputar pelan; beberapa komposisi Jazz yang tidak ia tahu milik siapa. Sial, semua bergerak makin lamban. Jam sepuluh yang hanya berjarak 15 menit dari sekarang terasa begitu panjang. Sejak tadi pagi dia terbangun, tapi tak juga sempat melakukan apa pun. Bahkan belum ke kamar mandi sekedar gosok gigi. Pelan, matanya mulai terasa berat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Antara bangun dan jaga, ia merasakan tiupan kecil di telinganya. Ia merasa ada tangan yang sedang mengusap pipinya. Ketika ia membuka mata, ia melihat Rima duduk di sampingnya sambil tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Oh, aku ketiduran." Katanya mengusap mata, membenahi posisi tubuh dan pakaiannya yang berantakan. "Sudah lama, Sayang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Rima tersenyum. Menggeleng pelan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Masih ngantuk?" Tanya Rima lembut, "tidur jam berapa semalam?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku harus jujur? Nyaris gak bisa tidur. Kau dan janji kita siang ini membuatku insomnia." Katanya sambil ketawa. Rima mencibir dengan kerlingan mata yang terlihat lucu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Mereka terlibat percakapan ringan dan sederhana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mandi sana, bauk." Bisik Rima sambil medorong kecil ketika ia hendak mencium pipi gadis itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ia terbahak. Sebuah lagu mengalir dari winamp: Bagaimana bila aku bukanlah perawan seperti yang kau ingin (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Satu pertanyaan untukmu," Katanya dengan mimik wajah serius. Rima tertawa melihat mimiknya yang sok serius. "Seberapa pentingkah arti keperawanan menurutmu kasihku?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pipi Rima memerah. "Menurutmu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ia mendesah ringan. "Selalu kamu memberikan pertanyaan balik untukku. Hmm, baiklah kujawab terlebih dahulu. Tergantung. Nilainya bagiku amat tergantung situasi. Nah sekarang giliranmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Menurutmu?" Rima bertanya lagi. Ia gemas melihat mata bening dan kekanak-kanakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kamu selalu tak mau jawab." Balas lelaki itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Rima menunduk. Laki-laki itu tak jadi berdiri. Rima memeluknya dari belakang. Sunyi beberapa saat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Min, kamu marah nggak kalau aku bicara serius."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ia tersenyum sambil menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ngomong saja."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Rima diam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ia membalikkan tubuhnya, memandang perempuan yang baru menjadi kekasihnya beberapa minggu ini. "Ngomong saja."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Diam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Hei, ada apa? Kita sudah janji tidak ada rahasia-rahasiaan bukan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Rima membenamkan kepalanya di kasur, lelaki itu mengecup rambut gadis itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Soal tadi." Ucap Rima serak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Yang mana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Diam. Ia sedikit berdegup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mandi?" katanya mencoba bercanda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Yang tadi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Degup jantungnya makin keras. "Perawan? Ada apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku gak tahu ngomongnya gimana."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Jangan serius-serius begitu, ah." Ia memeluk Rima dengan cepat. Tetapi secepat kilat Rima mengibaskan tangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ia terhenti sejenak, menatap Rima dengan seksama. Ada sesuatu yang serius, pikirnya. Keseriusan yang bermula dari omongan basa-basi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku tidak bisa mendiamkan ini lama-lama, Min. aku harus mengatakan sebelum kita terlanjur jauh. Mungkin sekarang waktunya. Tetapi aku benci mengatakan ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Rima mulai terisak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ma, kalau memang belum bisa dibicarakan, tak usah dipaksa. Nanti akan ada waktu yang tepat. Ini masih terlalu pagi untuk membicarakan hal-hal yang membuatmu sedih."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tidak, Min. aku harus bicara sekarang. Terserah kau akan bersikap seperti apa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Oke, oke. Aku akan mendengarkan. Tapi sebelumnya aku minta maaf kalau kata-kataku telah membuatmu tersinggung."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku harus mengatakan ini. Aku tidak mau, suatu waktu kau menyesali ini, atau tahu dari orang lain. Aku sudah tidak perawan." Bibir itu bergetar ketika mengatakan itu. "Ya, aku sudah tidak perawan.."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kaget?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "T-tidak. Aku"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku paham. Aku paham, Min. tentu kau tidak percaya ini semua. Berapa lama kita kenal? Empat bulan belakangan ini saja kan? Berapa lama aku jadi pacarmu? Belum dua bulan. Kita kenal sejak kita sama-sama KKN di desa yang sama. Selebihnya, betapa kau alpa masalaluku dan aku nyaris tak paham masa lalumu. Seberapa banyak kita bicara masa lalu? Nyaris tak ada. Kita lebih banyak bicara masa depan. Igauan-igauan tentang rumah, anak dan segala hal yang belum pasti. Kini, aku harus mengatakan ini padamu, sebelum kita terlalu banyak memupuk mimpi yang lain."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ma, dengarkan aku, Ma..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Biarkan aku menyelesaikan ceritaku, selagi aku bisa. Aku melakukannya dengan pacarku di SMA. Di SMA, kau tahu. Beberapa tahun lalu. Aku tidak tahu menyalahkan dia yang terus-terusan memaksaku atau menyesali aku yang bodoh. Ia selalu meminta keperawananku sebagai bukti cinta. Dan aku, ketika itu begitu mencintainya,"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Amin meraih kepala Rima, menyusupkan dalam pelukannya. "Sudahlah, sudahlah Rima. Aku paham. Aku mengerti."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku terlalu bodoh, Min. menyerahkan semua kepadanya. Aku tak tahu, hidup begitu panjang, aku akan bertemu banyak orang, mereka dan dirimu. Aku terlalu bodoh. Aku kira hidupku akan selesai dengannya saja." Rima meratap lebih keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ceritalah, kalau kamu mau cerita."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku tidak tahu bagaimana menceritakannya. Aku terlalu goblok. Aku bodoh." Rima menyusupkan kepalanya lebih dalam ke dada Amin. "Aku merasa tak akan bisa melepaskan diri darinya. Aku berkali-kali mencoba lari darinya, berkali-kali dia menemukanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Setiap pertengkaran selalu meninggalkan bekas ditubuhku. Dia terlalu kasar dan menekanku. Entah kenapa aku selalu gagal melawan bujukannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Diam sesaat. Tiba-tiba saja, kamar itu rasanya penuh sesak oleh haru-biru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Orang tuaku kemudian melarang kami berhubungan. Dan aku masih anak SMA yang tolol. Merasa hidup kami seperti cerita-cerita picisan. Hubungan yang tak direstui. Kami melakukannya agar kami bisa menikah dan diterima keluarga. Kau bayangkan, goblok sekali bukan? Tetapi aku baru menyadari, setelah aku mulai kuliah, mengenal lebih luas dunia, aku merasa dunia tak berhenti di sini saja. Tapi aku tak semudah itu lepas darinya. Kau tentu tahu bagaimana usahaku menghindarinya. Sampai saat ini pun, rasanya bayangannya ada di mana-mana. Menguntitku. Aku takut. Aku takut sekali. Aku ingin menghapus seluruh bayangnya. Menghapus dia dari hidupku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Rasanya tak ada yang lebih mendamaikan selain pelukan dan usapan halus pada ujung-ujung rambut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kamu boleh meninggalkanku sekarang kalau kamu menyesali masalaluku." Tangisnya pedih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kalau aku mencari orang yang sempurna justru aku tidak akan memiliki siapa-siapa. Karena aku akan meninggalkanmu untuk mengejar yang lain lalu meninggalkannya untuk yang lain pula."(2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Jeda sesaat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Bolehkah aku menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku?" (3)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kau tak menyesal?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Segala yang sudah lewat adalah kenangan. Ia menjadi peristiwa masa lalu. Dan denganmu aku inginkan untuk masa depan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Rima memejamkan mata. Sebuah ciuman lembut mendarat di bibirnya. Inilah ciuman yang paling nikmat yang pernah dia rasakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kuharap tak ada yang perlu kita sesali suatu waktu nanti dan tak ada yang perlu kita tutup-tutupi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Rima memeluk kekasihnya dengan erat. Erat sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku mandi dulu, setelah itu aku ingin mengajakmu makan dan jalan-jalan seharian. Jangan katakan mama tengah menunggumu di rumah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Rima tergelak dan mengangguk. "Aku akan menunggumu dan mengikuti ke mana pun kamu mau." Katanya sambil melepaskan pelukan. Dipandangi tubuh lelaki itu sampai keluar dari kamar dengan keharuan yang tak tertahankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Laki-laki itu masuk ke kamar mandi. Di putarnya kran air besar-besar lalu menangis sejadi-jadinya, di sana.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  Poetika, November 2006-Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  1. Sekali Cinta tetap Cinta, lagu yang dinyanyikan Helena.&lt;br /&gt;  2. Adaptasi dari sebuah dialog dalam film Jomblo.&lt;br /&gt;  3. Adaptasi dari judul cerpen Hamsad Rangkuti, "Maukah Kau Menghapus&lt;br /&gt;     Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7582447462293529452?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7582447462293529452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7582447462293529452&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7582447462293529452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7582447462293529452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/08/indrian-koto.html' title='Indrian Koto'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7584882982684454986</id><published>2008-08-27T10:29:00.000+07:00</published><updated>2008-08-27T10:29:00.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pikiran Rakyat'/><title type='text'>Fina Sato</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Monolog Hujan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Cerpen Fina Sato&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pikiran Rakyat, Sabtu, 26 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Percakapan Awal: Surat Tanpa Alamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu-pintu tahun bersibak seperti pintu-pintu bahasa, menuju entah. Semalam kau bertutur kepadaku: esok, kita musti menemukan isyarat-isyarat, mengurai lanskap, merancang rencana di halaman ganda. Esok, kita mesti menemukan, sekali lagi (1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu kembali mengirim pesan yang sama. Ditulis olehnya di atas kertas lusuh dengan tinta hitam, tanpa tanggal, tanpa salam. Amplop yang hampir menguning karena disimpan terlalu lama di dalam almari pakaiannya. Namun, lelaki itu tampak tidak peduli dengan keadaan surat yang kisruh itu. Sebuah pesan—juga beberapa pesan lainnya telah ia tulis jauh hari sebelumnya, yang tidak mungkin sampai di tangan Paz. Perangko kilat itu pun telah dijilatnya jauh hari lalu ditempelkannya dengan sangat hati-hati. Hingga akhirnya pada hari ini, lelaki itu melangkahkan kakinya dengan gegas ke sebuah kantor pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung kantor pos tua yang rimpuh. Kantor pos yang lengang. Lelaki itu hanya bisa terpana melihat sekeliling ruangan kantor pos yang lengang dan menggaung. Sekarang orang-orang lebih senang berkirim kabar dengan telepon, pesan-pesan singkat pada telepon genggam, atau surat elektronik. Konon, kala senja tenggelam dalam keheningan, hampir setiap hari lelaki itu sering berkirim kabar dengan kawan-kawannya yang berada di luar kota melalui pesan-pesan singkat melalui telepon genggamnya. Tetapi kali ini tidak. Saat ini kabar itu dikirimnya melalui pos, dengan surat tanpa alamat. Surat tanpa alamat. Akankah sampai? Sungguh, ia tak tahu lagi alamat Paz. Paz sudah lama hilang. Dia gelisah. Lelaki itu tak dapat melanjutkan hidupnya tanpa merindu Paz. Tanpa melayarkan kata-kata—walaupun hanya beberapa larik saja—kepada Paz. Ya! Hanya kepada Paz semata. Namun lelaki itu percaya, surat-surat itu akan sampai di tangan Paz walaupun tidak ada alamat tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di ruangan kantor pos, langkah kaki lelaki itu menggema. Menapaki jejak-jejak kenangan yang lekang, tanpa usia. Ada sebongkah ingatan; lama sekali lelaki itu melayani rasa bersalahnya yang besar pada kehidupan. Tanpa asal-usul, tanpa duga, tanpa prasangka, yang lambat laun merambat pada jisimnya yang semakin ringkuh. Pada memoar perjalanan yang dahulu telah diselaminya, bersama Paz. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemudian diserahkannya surat itu, seperti menyerahkan duka dari luka yang tidak dapat disembuhkan. Dulu, petugas kantor pos menolak semua surat yang akan dikirimkan lelaki itu. Alasannya sangat jelas: surat tanpa alamat. Namun, lelaki itu tetap bersikeras menolak mengambil surat-surat itu kembali. Lelaki itu selalu memaksa untuk mengirimkannya, karena dia percaya Paz akan menerimanya. Lelaki itu kembali memaksa. Akhirnya, petugas kantor pos menyimpannya, mungkin suatu hari lelaki itu akan kembali ke kantor pos itu dan memberitahukan sebuah alamat atau kelak petugas kantor pos itu mengetahui alamat tujuannya: Paz. Ya, secarik alamat bagi ribuan kata yang kesepian dan sendiri pada kertas-kertas lusuh dan mungkin kelak pesan-pesan itu akan bersauh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Percakapan Malam: Sebuah Pertemuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mungkin puisi hanya menyisakan mendung dan luka, keluh saya pada lelaki itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Seperti wangi yang menyisakan debar dalam pahitnya perjalanan," ucapnya. Walaupun langit sehabis hujan, masih ada bintang yang sedikit terang di langit. Seandainya saya dapat menatap apa yang tengah kau tatap saat ini, mungkin saya tidak akan mengeluh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku melihat pintu lantai atas masih terbuka. Tutuplah. Nanti ada angin jahat...." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ah, apakah setiap peristiwa terjadi dengan kebetulan belaka? Atau hanya keterdugaan semata? Pintu di lantai atas memang masih terbuka, tapi tidak menjemput angin, melainkan sedang menjemput hujan yang kini datang. Di kotamu mungkin kau telah merasakannya. Hening bukan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau begitu biarkan saja pintu itu berbisik, yang tulus murni di hati manusia tak lapuk dibasuh hujan. Mungkin kita seperti ikan yang bercakap-cakap di kedalaman," akhirnya kau sadar. Maaf, selama ini saya harus terus bersembunyi darimu. Bersembunyi di belakang kata-kata yang membuatmu terus bertanya tentang saya, tanpa henti. Tentang asal-usul saya yang membuatmu gundah. Mungkin tak labutlah saya lakukan itu. Ingin saya tanyakan tentang Paz kepadamu, tapi saya enggan. Kabar kalian yang tidak takut untuk saling bertemu, bahkan sesekali saling merindu, dan berbagi puisi, itu kata Paz. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Angin memberimu kisah rantau dan biarkanlah riak air menjadi udara yang mengantarkan kata-kata yang tak terdengar. Kita hanya manusia yang tak pernah menjelma ikan, lalu menyelam lebih dalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya mungkin begitu. Sekarang berpejamlah di kedalaman cemas risauku, hari sedang berkisar... Selamat tidur," saya tahu kelelahanmu. Larungkan cemas risaumu pada sisa-sisa mimpi yang tak jadi. Genaplah pagi menjadi layaran kudus... Ya selamat tidur. Esok masih menagih janji. Jaga dirimu. Tabik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Segera saya matikan telepon genggam saya, lalu terlelap menatap gelap. Entah kapan lagi lelaki itu akan berkirim pesan kepada saya, karena kedatangannya tidak bisa saya duga. Mungkin hanya kegelisahan yang akan menghantarkan rahasia sunyi di hati. Pesan-pesan tak terucap, namun kita saling tahu, saling bertemu di udara yang tak dapat kita genggam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Percakapan Pagi: Sebuah Kekalahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hujan 00:29 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku rindu kau. Kirimkan aku puisi. Malam ini aku mau mabuk sampai pagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pagi ini saya harus menemui pesan-pesan itu kembali. Pesan-pesan yang tidak pernah berhenti di telepon genggam saya. Setiap hari hujan tak pernah mereda. Saya tidak tega menghentikannya. Kini, hidupnya dipenuhi kemarahan, ketakutan, dan kesepian. Dia lelah menjadi pihak yang kalah: keinginannya mengalahkan takdir. Tapi dia tidak mau lagi berkorban. Sudah cukupkah apa yang telah dikorbankannya? Entahlah. Saya semakin tidak mengerti, kadang terpaksa coba mengerti. Namun pada akhirnya, saya hanya bisa mengiriminya beberapa penggal puisi dari kawan yang tak dikenal atau sahabat yang tertambat di seberang. Saya pikir, puisi dapat menjadi penawar galaunya selama ini, di antara hari-harinya yang menyedihkan. Iya, hanya itu yang dapat saya lakukan untuknya. Mengiriminya puisi. Hanya beberapa penggalan saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di persimpangan sejarah, kita bersulang senyum sambil mempercakapkan kelahiran demi kelahiran, benda di etalase mimpimu, jurang-jurang atau gang-gang gemerlap yang dingangakan kecemasan metropolitan (2).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hujan 00:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beri aku puisi, agar bisa hidup lagi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak biasanya kau berkirim pesan seawal ini. Malam ini saya sedang lelah. Tidak ada kata-kata di ujung mulut saya. Sejak tadi sore, hujan tidak pernah berhenti. Saya kedinginan. Maafkan saya, malam ini tidak ada penggalan puisi dalam pesan singkat pada telepon genggammu. Jangan memaksa saya dan mengertilah. Hujan malam ini tak membawa bingkisan mimpi untuk saya. Di sini hujan tidak pernah mati, melainkan mengetuk setiap pintu dan jendela dengan atap-atap sirap. Membunuh kehangatan dan kelam mimpi para penghuni rumah, juga puisi malam ini yang harus saya simpan baik-baik di almari serapi mungkin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Percakapan Bias: Saya dan Paz &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Paz, bagaimana kabarmu?" seperti biasa, Paz hanya bermain dengan kata-kata pada puisi-puisinya yang belum jadi. Tak ada jawaban. Saya kira Paz tahu, menanyakan kabarnya hanya basa-basi saya saja, yang tiba-tiba (terpaksa) menyapa. Saya pun diam, seperti hendak mempersilakan waktu untuk berhenti sesaat, kemudian lewat di antara kami dan menyihir kami dengan denyut-denyut angin yang sedari tadi menerbangkan helai rambut yang menutupi wajah Paz. Kedua mata Paz enggan menyapa saya. Mata yang diam dan kaku. Mata yang semu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bagaimana kabar Jose? Saya dengar kau pernah berkirim kabar dengannya? Masihkah?" lantang saya menanyakan hal itu kepada Paz. Sungguh, awalnya saya tak punya niat bertanya hal itu kepadamu, Paz. Saya tahu. Kenapa saya harus memberi pisau lagi kepadamu, setelah dia melukaimu. Entahlah Paz. Ada yang menampar mulut ini tanpa saya perintah. Ada yang tak bisa saya cegah dalam diri saya ini. Maaf dan mengertilah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tiba-tiba Paz berhenti bermain. Tertegun sesaat. Adakah yang melintas di sana? Adakah serpihan yang disisakannya untukku? Di dalam relung kenangan yang sempat usang itu? Ah, Paz rupanya masih mengingat. Mengingat jejak-jejak lekang itu dalam dirimu, Paz. Syukurlah jika Paz merasa aku ada di sana bersamanya. Namun, diam Paz hanya sesaat dan dia kembali bermain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Paz, apa yang harus aku lakukan terhadapmu? Aku pun lelah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lama sekali saya tidak memberinya kabar," ucap saya, dengan harapan Paz segera memberitahu saya ke mana bisa menghubungi kembali lelaki itu. Ingin saya bercerita kepada Paz tentang hujan yang tak pernah mereda, mencucuri malam saya dengan pesan-pesan asing. Teka-teki asing. Pesan-pesan yang membuat saya tidak bisa tidur terlelap setiap malam. Malam yang berubah menjadi sekam dan membuat hidup saya menjadi semakin mencekam. Tapi Paz, seperti biasa, saya enggan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya ingin sekali tahu, Paz. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Paz semakin asik bermain dan bertingkah seolah saya tidak ada di sana. Kami diam. Sebenarnya saya yang diam, karena Paz masih bermain. Namun, Paz diam dengan beribu-ribu ragu dalam perjalanan masa lalu. Saya menduga, Paz sepertinya tidak ingin jika saya memberi kabar kepada lelaki itu. Kepada lelaki yang membuat daun-daun gugur di musim semi saya. Lelaki yang mengalirkan arus kenangan dan kerinduan dalam kelok alir hidup saya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Paz menyembunyikan sesuatu dari saya tentang lelaki itu dan sungguh, saya tak peduli apa yang disembunyikannya. Itu bukan urusan saya. Itu urusan Paz dengan lelaki itu, dan saya yakin tak ada hubungannya dengan hidup saya selama ini. Saya hanya ingin memberi kabar saja. Tentang sebuah kisah, Paz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Paz, bicaralah," ucap saya sedikit memaksa. Paz tahu saya kesal, tapi dia tetap diam saja. Sedikit pun tak berkutik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku di Mixcoac. Surat-surat membusuk dalam kotak-kotak pos (3). Secangkir kopi pahit dan sepotong dosa, itu sudah cukup. Hujan hanya singgah sebentar," Paz yang tersedu. Saya kaget mendengarnya. Apa yang telah dilakukan hujan pada lelaki itu? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Katakan Paz?!" saya memaksa. Namun Paz hanya berceloteh hal-hal yang tidak saya mengerti. Paz menceracau tentang entah, tentang hal-hal yang sama sekali tidak saya ketahui. Paz seperti kehilangan kendali dirinya, lalu tiba-tiba menangis memeluk saya. Air matanya membasahi bahu saya. Saya hanya diam. Kesedihan tiba-tiba menyergap hati dan ingatan saya. Paz terus tersedu. Sungguh, saya tidak bisa memaksanya lagi untuk bercerita lebih banyak tentang lelaki itu. Lelaki yang menemani mimpi-mimpi saya. Akhirnya, saya hanya bisa memeluk erat Paz dan meredakan sedu-sedannya lalu berharap, kapankah hujan akan reda di pelupuk matamu, Paz? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Percakapan Akhir: Monolog Hujan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, hujan itu pindah ke luar jendela kamarku. Sekarang aku kedinginan. Aku tak ingat siapa diriku. Aku hilang pada sebuah insiden di malam hujan. Kenapa aku ditinggal? Di sini hujan. Aku tak yakin kau tengah merindukannya, apalagi mencintainya. Malam nanti hujan akan turun di sana. Tunggulah di balik jendela, sambil rangkaikan mimpimu untuknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hujan deras di luar rumah. Rinainya menggenang seperti danau. Aku sedang mencari angsa di sana. Masih hujan, tapi apakah kau percaya atau tidak, aku mendapat angsa di tengah danau rinai hujan. Aku menari bersamanya. Mungkin besok aku sudah sampai di jalan-jalan yang dulu pernah dilewatinya dan juga tempat-tempat yang memungkinkan bagi dia dikuburkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku hanyut dalam sengkarut ingatan. Rasa-rasanya dia ada di sini, tapi di mana? Hujan adalah kenangan hidup dan awal kehidupan. Di mana lumpur menggenang adalah tumpukan sejarah yang mengingatkan kita pada masa silam. Pada sebuah pertemuan yang membahagiakan dan perpisahan yang menyedihkan. Kenangan pada kisah kota tua. Kata-kata yang merampas peradaban yang ada di sana. Petani yang mencangkul genangan lumpur dan berharap dia mendapatkan secercah harapan dari sejarah yang buram. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mari, tulis sejarah baru dari rinai-rinai hujan sore ini. Jadikan manuskrip tua dengan bau yang khas dari perpustakaan lama. Adalah doa yang memayungi kata-kata dari hujan makna. Hujan adalah kenangan pada masa-masa lapar dan miskin yang mengutuki kehidupan kita. Lembar-lembar yang termaktub di dalam lumpur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebuah Epilog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lelaki itu terlampau mencintai laut. Mencintai gelombang pasang, deru ombak, ringkik karang, tangis tanjung, dan bulir pasir yang menemani kelam mimpi dan gelisah hidupnya. Melindungi dirinya dengan kisah-kisah yang ditulis dalam kertas lusuh dan amplop tanpa alamat. Lelaki itu sendiri menyelami setiap luka dan duka yang disayatnya untuk saya: perempuan yang mencintai laut dan hujan. Namun, luka itu menjadi bersahaja dan menjelma menjadi kerinduan dalam kenangan perjalanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya hanya perempuan yang tersesat dalam danau. Di sini terlalu dingin. Saya hanya dapat mencintai hujan, sedangkan laut yang kaucintai, menjadi serpih rindu dari permainan puzzle yang setiap petang saya mainkan. Mencintai adalah melepaskan kehendak diri. Bagi saya, kau hanya menjadi teka-teki asing yang tak dapat menepati janji.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(1) Penggalan puisi "1 Januari" karya Octavia Paz.&lt;br /&gt;(2) Penggalan puisi "Duka yang Dikirim Waktu" karya Nanoq Da Kansas.&lt;br /&gt;(3) Penggalan puisi "Kembali" karya Octavia Paz.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7584882982684454986?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7584882982684454986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7584882982684454986&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7584882982684454986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7584882982684454986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/08/fina-sato.html' title='Fina Sato'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-2325187918165104826</id><published>2008-08-24T10:24:00.000+07:00</published><updated>2008-08-24T10:24:01.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Pos'/><title type='text'>Gunawan Maryanto</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;T a m b i j u m i r i l&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Gunawan Maryanto&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.jawapos.co.id/"&gt;&lt;br /&gt;Jawa Pos&lt;/a&gt;, Minggu, 17 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampailah Tambijumiril pada batas yang semula disangkanya tidak ada. Kenikmatan ternyata berbatas. Kebahagiaan punya garis tepinya sendiri. Dan, sesudahnya adalah kekosongan. Padang kehampaan yang belum lagi diketahui luasnya. Di sanalah sekarang Tambijumiril berada. Saudagar muda dari Benggala dengan kekayaan yang tak terhitung jumlahnya itu kini gelisah. Ia tak punya lagi mimpi yang mampu menggerakkan dirinya. Tak punya lagi mimpi yang memanggil-manggil --sebagaimana dulu ketika dirinya masih jadi orang kecil. Hari-harinya berlalu begitu saja. Lamban dan tanpa tekanan. Hambar dan tak menggetarkan. Ia seakan mati sementara kematian yang sesungguhnya belum memberi tanda-tanda kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para budak yang berjumlah ratusan itu tentu tak akan paham, bahkan jika harus dijelaskan ribuan kali, mengapa juragan mereka yang luar biasa kayanya itu tak bahagia. Salah-salah malah dikira gila dan dianggap tak mensyukuri karunia Gusti Allah. Karenanya Tambijumiril memilih diam dan berdiam di kamar. Berhari-hari. Berminggu-minggu hingga suatu pagi ia keluar dan mengumpulkan seluruh dayang, pengawal, dan budaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Diamlah kalian dan dengarkan suaraku untuk terakhir kalinya. Selain sejumlah pengawal pilihan, kalian semua mulai hari ini kubebaskan. Pulanglah kalian ke Ngabesi atau carilah majikan yang lain di kota ini. Aku akan memberi masing-masing dari kalian pesangon yang cukup untuk bertahan hidup hingga beberapa tahun ke depan. Aku juga akan memberi surat keterangan bahwa kalian semua adalah pelayan pilihan yang sulit dicari bandingannya. Gunakan semua pemberianku itu sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Tentu kalian bertanya-tanya apa pangkal dari ini semua. Sejujurnya aku juga tak tahu. Kenapa berminggu-minggu aku mengurung diri dalam kamar juga tak mudah untuk kujelaskan kepada kalian. Simpan saja pertanyaan-pertanyaan itu sebagai bagian terakhir dari ingatan kalian tentangku. Siang ini juga aku akan pergi. Maka tinggalkanlah aku sebelum aku meninggalkan kalian. Buat kalian para pengawalku, jagalah seluruh harta milikku. Ambillah secukupnya untuk gaji kalian selama kutinggalkan. Dan, jika dalam sewindu aku tak juga pulang, bagikanlah seluruh hartaku kepada mereka yang membutuhkan. Selamat jalan. Semoga nasib baik selalu menaungi kita semua.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagaimana yang telah dikatakan, setelah menyelesaikan seluruh kewajibannya, Tambijumiril pergi. Seluruh pelayan dan budak tak kuasa melepas kepergiannya dengan hati ikhlas. Bertahun-tahun menjadi hamba seorang yang mulia membuat mereka tak bisa menerima begitu saja kenyataan yang begitu mengejutkan itu. Seperti mimpi buruk yang tak akan mau mereka ulangi sekali lagi. Mereka, dengan berbaris rapi di sepanjang jalan, melepas kepergian juragannya denga doa dan air mata yang tak habis-habis, bahkan ketika Tambijumiril sudah lama hilang dari pandangan mata. Warga Kota Benggala tak ketinggalan melepas salah satu warga mereka yang paling terpandang dan dermawan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Juga bukan hal yang mudah bagi Tambijumiril. Perjalanan siang itu menjadi perjalanan terberat yang pernah dialaminya. Tapi di balik kesedihan yang mengharu biru itu, ia bisa merasakan kembali denyar kehidupan di dadanya. Ia bergetar oleh sesuatu yang menunggu jauh di depannya. Ada yang kembali memanggilnya. Entah apa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapal batas Benggala baru saja dilewatinya dengan berat hati. Kota tercinta yang sekian lama membesarkannya itu seperti mencengkeram kuat-kuat sepasang kaki Tambijumiril di saat terakhir. Saudagar muda itu sempat berhenti cukup lama di batu besar tersebut. Bersujud. Uluk salam perpisahan. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah padang datar luas yang hanya dipenuhi angin dan perasaan asing, Tambijumiril menginjakkan kakinya di tepi hutan Purwakanda. Purwa awal, Kanda cerita. Hutan di mana seluruh cerita bermula kata para tetua. Tambijumiril berhenti sekali lagi. Panggilan itu dirasanya seperti berasal dari sini. Dari kegelapan dan kewingitan hutan yang tak seorang pun pernah kembali jika berani masuk ke dalamnya. Dada Tambijumiril bergetar hebat. Jika memang takdirku berakhir di sini maka berakhirlah, batinnya, menggerakkan langkahnya kemudian. Dengan cepat tubuhnya lalu lenyap ditelan hutan. Tinggal angin menghapus bau tubuhnya dengan tak kalah cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sehari lagi sewindu akan lewat. Batas waktu yang telah ditetapkan Tambijumiril di hari keberangkatannya sudah hampir habis. Para pengawal yang menjaga rumah dan harta bendanya sudah demikian lelah berharap. Sama sekali tak ada pertanda bahwa majikan mereka akan kembali. Tak ada kabar tak ada mimpi yang membuat harapan mereka bisa bertahan lebih lama lagi. Para pengawal itu yakin harapan sekecil apa pun tetap butuh pijakan sekecil apa pun. Harapan tak bisa berpijak pada harapan yang lain. Ia butuh alasan, senaif apa pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kini mereka mulai berkemas dengan hati yang berat --jauh melebihi saat Tambijumiril berangkat. Dikeluarkanlah seluruh harta benda yang selama delapan tahun mereka jaga dengan sungguh-sungguh. Lalu mereka bagi harta itu ke dalam ratusan --mungkin ribuan-- peti kecil, siap untuk dibagikan ke seluruh warga Kota Benggala yang membutuhkan. Para pengawal itu mengerjakan semuanya dalam kediaman, dalam kebisuan yang sangat. Sementara sesungguhnya dalam batin mereka tengah berlangsung kesedihan yang hebat. Melepas harapan adalah sebuah kekalahan yang menyakitkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di tengah hiruk-pikuk yang senyap itu mereka sama sekali tak menyadari kehadiran seseorang yang kehadirannya telah mereka tunggu sepanjang delapan tahun. Lelaki itu diam di sudut halaman, memperhatikan lalu-lalang para pengawal yang menumpuk peti-peti di muka pintu gerbang. Lelaki itu tetap diam hingga seluruh kesibukan itu berakhir. Tampaknya ia memang sengaja menunggu hingga para pengawal itu menyelesaikan tugasnya. Dan, ketika saat itu tiba, ketika para pengawal beristirahat di di teras rumahnya, ia datang menghapiri mereka, uluk salam sebagaimana biasa ia dulu menyapa mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Selamat sore, semuanya...''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak seorang di antara mereka yang bisa langsung mempercayai pengelihatannya. Tapi, tak berapa lama kemudian, kebisuan yang berlangsung sedari pagi pecah berantakan. Mereka bersorak melepas seluruh kesedihan selepas-lepasnya ke udara terbuka. Mereka bergerak hampir-hampir serempak untuk bersujud di kaki Tambijumiril.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malamnya Tambijumiril mengumpulkan kembali mereka semua. Kepada mereka Tambijumiril membagi kisah petualangannya sepanjang delapan tahun. Ia bercerita dengan cepat, tak mau berpanjang-panjang, dan melebih-lebihkan kisah yang sebenarnya terjadi. Bahkan ia bercerita terlalu singkat untuk sebuah kisah sepanjang delapan tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pendeknya ia cuma bilang bahwa selama delapan tahun, entah bagaimana caranya, ia bertapa sungsang --dengan kepala di bawah dan kaki di atas-- di bawah pohon randu di tengah hutan Purwakanda. Dan tepat di hari terakhir di batas janji yang diucapkan malaikat Jabarael datang membangunkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Kulup Jumiril, bangunlah dari tidurmu yang menggetarkan ini. Aku Jabarael datang membawa pesan dari Gusti Allah: Kau tak bisa menjadi raja diraja di muka bumi ini jika itu yang kau inginkan jauh di dalam hatimu. Kuasa itu tak akan jatuh di tanganmu sebab kau memang tak ditakdirkan menjadi raja, juga seluruh anak-turunmu kelak. Kau telah diberi kuasa atas ratusan budakmu, tapi tak akan lebih dari itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Ikuti saja jalanmu. Masa depanmu memang telah pergi dari Benggala. Masa depanmu ada di seberang lautan, di kota bernama Mekah. Pergilah ke sana. Tapi jangan pernah bermimpi menjadi raja. Di sana kau akan bertemu dengan jodohmu. Dan kelak akan lahir dari rahim istrimu seorang lelaki jenaka yang sakti mandraguna. Jangan pula bermimpi ia kelak akan menjadi raja. Tidak, Kulup. Ia hanya akan menjadi sahabat raja, sahabat Wong Agung kekasih nabi yang akan lahir berbareng dengan kelahirannya. Ia akan menjadi sahabat sejati yang luar biasa dari seorang lelaki yang dinaungi bulan di setiap langkahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bangunlah. Sudahi tapamu. Para pengawalmu telah terlalu lama menunggumu.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Para pengawal mendengarkan cerita Tambijumiril dengan saksama. Dada mereka bergetar mendengar cerita yang singkat namun luar biasa dahsyat itu. Mereka semakin bertambah hormat dan cinta pada junjungannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Jadi bersiaplah, kalian semua. Kita akan segera berangkat menyeberangi lautan. Bawalah seluruh peti yang telah kalian tata di muka gerbang. Bagikan pada yang membutuhkan sepanjang perjalanan. Sisanya buat bekal kita selama perjalanan.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malam itu juga mereka berangkat menuju dermaga. Dengan harta yang berlimpah Tambijumiril tentu saja tak menemui kesulitan untuk memperoleh kapal beserta nahkoda berikut awak kapalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan kemudian adalah lautan dan gulungan-gulungan ombak yang menidurkan, memabukkan, dan mengancam. Di langit bulan dan bintang bertahan setia memberi tengara. Tambijumiril menikmati malam dan perjalanan yang seperti diciptakan khusus untuknya. Kebahagiaan yang bertahun-tahun hilang dari dirinya seperti kembali lagi dalam wujud yang berbeda. Lebih segar lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tambijumiril tiduran di buritan. Menatap keheningan dan keluasan langit. Masa depan seperti tergambar dengan terang terwaca di sana. Meski hanya sejumlah tanda, tapi ada --dan sepertinya bermakna. Tambijumiril menerawang. Sedemikian jauhnya hingga jatuh tertidur. Bulan menghadirkan wajahnya yang begitu tenang. Nafasnya berhembus halus layaknya bayi di pelukan ibunya. Kapal terus melaju dengan gagah membelah gulungan-gulungan ombak. Membelah malam yang seolah tak akan pernah berakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi ketenangan tak pernah berlangsung begitu lama. Seperti kaca yang bisa pecah kapan saja. Begitulah. Tambijumiril tergeragap bangun. Sebuah mimpi mengguncang kesadarannya dengan keras. Beberapa pengawal yang mendengar igauannya segera mendekat. Nafasnya yang semula tenang sontak berdegub cepat. Mimpi Tambijumiril telah berakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Segera setelah pulih kesadarannya ia membagi mimpinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Sebuah cahaya melintasi malam dengan cepat. Seperti bintang jatuh. Tapi cahaya itu kian lama kian besar. Cahaya berwarna kuning emas yang menyilaukan mata.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seorang pengawal menyarankan Tambijumiril untuk mendatangi orang yang mampu membaca mimpi. Kebetulan orang itu tinggal tak jauh dari mereka. Di sebuah pulau kecil yang sebentar lagi akan mereka lintasi. Orang itu bernama Kanjulmukmin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kanjulmukmin sudah menanti kedatangan mereka di pintu rumahnya. Pendeta waskita itu menyambut seluruh rombongan Tambijumiril dengan tangan terbuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Masuklah, Anakmas. Sudah lama pulau sepi ini tak kedatangan tamu. Lebih-lebih seorang yang mulia seperti Anakmas.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tambijumiril menyampaikan hormat yang sedalam-dalamnya. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah sang pendeta. Sementara sejumlah pengawal menanti di halaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Mimpi Anakmas adalah mimpi yang luar biasa. Seluruh manusia berharap memiliki mimpi serupa itu.'' Kanjulmukmin tanpa diminta langsung membaca mimpi Tambijumiril.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Tentu saja maknanya akan berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Sebenarnya Anakmas tak perlu bersusah payah mendatangi pendeta tua di pulau sepi ini. Anakmas telah bertemu dengan malaikat Jabarael. Mimpi yang baru saja Anakmas alami adalah penegasan apa yang telah Anakmas dengar sendiri dari malaekat Jabarael."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tambijumiril mengucap syukur berkali-kali dalam hati. Pada Gusti Allah. Pada jalan terang yang telah terbuka di depan matanya. Pada kewaskitaan dan kerendahhatian Kanjulmukmin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Anak itu kelak akan mengagungkan nama Anakmas. Dia adalah seorang abdi dan prajurit yang gagah berani. Dia akan menjadi abdi dan sahabat setia dari seorang kekasih nabi. Dia juga seorang yang jenaka, nakal dan pintar berkelakar. Dan, maaf, Anakmas, dia juga seorang yang panjang tangan. Copet yang ulung. Ha-ha ha...''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tambijumiril mengernyitkan dahinya mendengar kalimat terakhir sang wiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Tenang, Anakmas. Ia tak akan menggunakan tangannya untuk perbuatan yang nista. Tapi begitulah adanya. Ia bukan copet sembarang copet. Umur lima tahun ia sudah bisa mencopet sambil duduk. Sepuluh tahun ia bisa mematahkan leher seorang raja tanpa seorang pun mampu melihatnya. Ia juga bisa melompati seluruh tembok yang pernah ada. Ia juga bisa berlari lebih cepat daripada angin dan tak seorang pun di atas bumi ini yang mampu menangkapnya. Dan, sekali lagi ia adalah seorang yang jenaka. Semua orang baik kawan maupun lawan akan menyukainya. Sudahlah, Anakmas. Tak perlu saya berpanjang lebar merentang masa depan. Saya tak punya kuasa apa-apa. Berangkatlah segera ke Kota Mekah.''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tambijumiril menghaturkan sembahnya sekali lagi. Lebih dalam dan lebih lama. Sampai-sampai Kanjulmukmin menepuk bahunya beberapa kali agar sang saudagar segera menyudahi hormatnya yang dirasa berlebihan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu berangkatlah Tambijumiril berikut rombongannya melanjutkan perjalanan yang tertunda. Kali ini ia tak ingin menunda-nunda lagi. Ia ingin segera sampai ke Mekah. Sesegera mungkin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mekah adalah sebuah kadipaten kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Yahman. Meski kecil ia adalah kadipaten yang agung dan diperintah oleh anak turun Nabi Ismail. Kala itu adalah masa pemerintahan Baginda Sim. Seorang adipati yang bijak dan rendah hati sebagaimana para leluhurnya. Meski bertubuh bungkuk ia adalah adipati yang luar biasa. Sembilan belas tahun sudah ia menggantikan kedudukan ayahnya, Baginda Abdulmanap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada kisah kecil yang cukup menarik perihal cacat tubuh yang dimiliki Baginda Sim. Sewaktu lahir ia punya saudara kembar bernama Umiyar. Mereka lahir kembar dampit punggung dengan perut. Baginda Abdulmanap memisahkan keduanya dengan sebilah pedang. Akibatnya satu anak tubuhnya jadi condong ke depan, satunya lagi condong ke belakang. Melengkung lebih tepatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Baginda Sim telah dikaruniai tiga anak. Pembayun perempuan benama Siti Mahiya. Sedang kedua adiknya lelaki bernama Alip dan Abdulmuntalip.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan kabar kedatangan saudagar dari seberang telah sampai di telinga Baginda Sim. Ia mendengar dari para punggawa dan prajurit bahwa saudagar tersebut bernama Tambijumiril. Ia juga mendengar laporan bahwa saudagar muda itu membagi-bagikan harta kekayaannya pada warga Mekah yang ditemuinya. Dan kini saudagar itu telah menunggunya di alun-alun. Baginda Sim buru-buru kepingin menemuinya. Ia tergetar juga penasaran, apa yang membuat Tambijumiril membagi-bagikan harta dan ingin bertemu dengannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di tengah alun-alun Tambijumiril duduk menunggu seorang diri. Seluruh pengawal yang mengantarnya telah dibubarkan. Dan Baginda Sim tergetar sekali lagi oleh kehadiran Tambijumiril, seorang lelaki muda dengan tubuh yang memancarkan cahaya. Cahaya yang membuatnya jatuh cinta pada lelaki muda itu. Apakah ia jodoh dari Siti Mahiya yang selama ini dinantikannya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jogjakarta, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catatan: Kisah ini berangkat dari Serat Menak karya R. Ng. Yosodipuro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-2325187918165104826?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/2325187918165104826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=2325187918165104826&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/2325187918165104826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/2325187918165104826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/08/gunawan-maryanto.html' title='Gunawan Maryanto'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-787456050028391742</id><published>2008-08-20T14:33:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T14:33:00.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lampung Post'/><title type='text'>Ruth Marini</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Selepas Hujan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Ruth Marini&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;em&gt;&lt;a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008050400224426"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, Minggu, 4 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;HUJAN tinggal separo. Sore pun tunai. Malam perlahan merayap, menyiratkan dingin yang sengit. Langit seperti tak pernah menyisakan warna siang. Pekat. Bau daunan, bau batang yang lembap seakan tercium dari beranda tempatku berdiri. Menyaksikan malam yang membuatku tiba-tiba sangat mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pratiwi, perempuan yang kunikahi tiga tahun lalu. Meminangnnya saat musim panen selesai, membawanya hidup dengan bahagia yang kujanjikan tak akan tunai. Perempuan yang percaya akan hidup yang terlalu kubuat-buat untuknya, perempuan yang sabar menungguku mendapatkan pekerjaan untuk menghidupinya dan anaknya. Anak kami tepatnya. Yah, terlalu banyak yang Pratiwi berikan padaku, selain cinta dan kepercayaannya besar padaku, dia juga memberikanku hadiah yang sangat indah. Anak perempuan yang cantik, seperti istriku. Aku memberinya nama Gendis. Itu nama yang paling kusuka dari dulu. Aku pernah berjanji kelak kalau aku menikah dan punya anak perempuan maka akan kuberi nama Gendis. Sejak kecil yang biasa mengurus Gendis adalah ibunya Pratiwi. Pratiwi harus bekerja dari pagi hingga sore atau terkadang hingga malam hari kalau ada pekerjaan lebih. Sedangkan aku tidak bisa mengurus bayi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu caranya meladeni bayi yang menangis, buang air, atau apalah. Makanya, Pratiwi selalu bangun pagi-pagi sekali. Memberesi rumah, mencuci, masak, dan menyiapkan semua keperluan aku dan Gendis. Kemudian, sembari berangkat bekerja Pratiwi menitipkan Gendis pada ibunya. Begitulah sehari-harinya hidup kami. Aku dulu sebelum menikah memang bekerja di pabrik penggilingan padi. Gajiku lumayan. Tapi setelah menikah tiga bulan aku dipecat. Pengurangan tenaga kerja alasannya. Aku memang dapat pesangon yang lumayan, tapi hanya cukup untuk keperluan dua bulan. Setelah itu Pratiwi mencoba melamar kerja di pabrik kain, dan diterima. Dari gaji Pratiwilah kami sekarang bisa terus melanjutkan hidup. Aku kasihan padanya dan pada Gendis. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah berusaha cari pekerjaan, tapi ditolak. Sekarang aku hanya bisa menunggu di rumah selama istriku bekerja. Pratiwi, sosok perempuan yang selalu membuat aku memiliki perasaan yang sama seperti pertama kali aku melihatnya. Perempuan yang selalu membuatku jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan habis. Tetesan air jatuh dari atap beranda. Suara hewan mulai terngiang. Dingin sudah banal dalam tubuhku. Aku melihat arloji. Setengah delapan pas. Sudah waktunya aku menjemput anak istriku. Bergegas aku beranjak dari beranda hendak masuk ke dalam rumah. Dingin rupanya sudah masuk ke seluruh penjuru rumah. Aku mengambil jaket bulu yang kugantung di belakang pintu kamar, dan meraih kunci motor. Baru aku hendak beranjak ke dapur untuk mengeluarkan motor. Tiba-tiba pintu diketuk. Aku terdiam. Siapa yang datang? Apa Pratiwi sudah ada yang mengantar pulang? Tapi siapa yang mengantarnya? Temannya atau... Ketukan pintu berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya sebentar!" aku bergegas membuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga! siapa ini di balik pintu. Sebuah bibir ranum, tubuh sintal, rambut basah, dan mata yang bundar menabrak pandangan mataku. Perempuan itu berbaju terusan biru. Keadaan pakaian yang basah membuat lekuk tubuhnya kentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, boleh aku beristirahat sebentar di sini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara lembutnya menggulir dari bibir yang terlalu menjadi pusat perhatianku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O, silakan. Di dalam saja. Di beranda masih sangat dingin selepas hujan begini." sekonyong aku memberinya izin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih" terdengar balas lembut menyahut. Sebuah tubuh sintal masuk tepat melewati depan tubuhku. Seketika tubuhku hangat. Entah perasaan macam apa yang sekarang berkecamuk dalam diriku. Seketika aku tersadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, mari silakan duduk," kataku mempersilakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu duduk tepat di hadapanku. Rambutnya yang panjang ia kibaskan ke bawah. Sepintas payudaranya yang ranum terlihat olehku. Tiba-tiba ia tersadar aku memperhatikannya, ia langsung memberesi letak pakaiannya. Mataku berjatuhan di sekujur tubuh perempuan itu. Rok terusannya sedikit tersingkap, menyiratkan paha mulus di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, kalau aku merepotkan," suara lembut itu terdengar memecah lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O..tidak apa-apa. Kau butuh handuk? Biar kuambilkan," kataku seraya bangun mengambil handuk di kamar dan memberikan padanya. Sekarang aku duduk tak lagi di hadapannya, tapi di sampingnya. Wajah itu terlalu cantik dilihat dari dekat. Dia menyeka sekujur tubuhnya. Lalu menggulungkan handuk di rambutnya. Sekarang lehernya tepat berada di hadapanku. Dingin tak lagi hinggap. Hanya panas yang terlalu bergejolak di tubuhku. Perasaanku tak keruan. Sama seperti malam pertama aku dan Pratiwi. Aku ingin mencium leher perempuan ini. Memberinya rasa hangat. Aku ingin tidur dengannya. Entah setan mana yang merasuki aku dan perempuan itu. Tiba-tiba saja ia menaruhkan kepalanya di bahuku. Sekarang tampak jelas sekali di mataku payudaranya yang ranum. Wajahnya tepat di depan wajahku. Tangannya merangkul pinggangku. Jantungku seakan berhenti berdetak. Saraf dalam tubuhku menegang. Seketika kuraih tubuh perempuan itu dengan tanganku. Mulutku tak henti menciuminya. Mata, wajah, bibir, leher dan sekujur tubuhnya kuciumi. Tubuh itu begitu harum. Sisa-sisa air hujan menambah semangatku untuk menjilatinya. Terus dan tanpa henti sampai pecah seperti butiran embun pagi hari yang jatuh pada daun-daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring malam, selepas hujan, dan sisa temaram lampu yang kumatikan, betapa cinta sebesar pengkhianatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam berdentang lagi. Seketika aku dan perempuan itu terbangun dari lelah. Aku melihat arlojiku. Celaka, jam sembilan! Seketika tubuhku ketakutan. Yah, aku punya anak istri. Aku punya Pratiwi. Istri yang sangat kucintai. Tapi apa ini?! Kenapa aku melakukan ini. Bagaimana Pratiwi. Sekejap saja aku telah mengkhianati Pratiwi. Ketakutan luar biasa hinggap di diriku. Kulihat perempuan itu memberesi pakaiannya. Bagaimana ini?! Kekecewaan terhadap diriku sendiri tak bisa terbendung. Bahkan waktu menjemput mereka pun kulewatkan untuk penghianatan. Tidak, aku mencintai Pratiwi. Hanya dia yang kucintai. Aku tak bisa hidup tanpa dia! Aku bergegas memakai semua pakaianku. Aku harus menjemput istri dan anakku!. Tapi, langkah kakiku terhenti. Tubuhku berbalik menyaksikan perempuan yang berdiri menungguku, yang berjanji mengantarnya pulang. Aku memang lelaki tak berguna. Apalagi yang dapat kubela dari pengkhianatan ini. Kepercayaan yang Pratiwi berikan kuhancurkan di hadapan perempuan ini. Apalagi yang dapat kubanggakan sebagai laki-laki di hadapan Pratiwi. Tidak aku tidak boleh pengecut! Aku harus tentukan sikap. Menjemput istri dan anakku atau mengantarkan perempuan ini. Sekali aku sudah mengkhianati istriku, apa harus dua kali lagi. Tapi tidak, tak ada satu kali pengkhianatan pun untuk sebuah kata cinta dan rumah tangga. Aku ingin mendapat kehormatan sedikit, setidaknya bagi diriku sendiri. Aku bergegas ke dapur mengeluarkan motor, menghidupkannya keras-keras. Tubuh perempuan itu duduk di belakangku. Motor bergerak, mengantarkannya ke tempat yang tak pernah kutahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebuah malam, yang membuatku tiba-tiba yakin kalau aku mencintaimu, dan mengkhianatimu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 2006&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Ruth Marini yang biasa dipanggi Uthe, lahir di Tanjungkarang 18 Agustus 1984. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Aktif sebagai aktor pada Teater Satu, Lampung.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-787456050028391742?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/787456050028391742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=787456050028391742&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/787456050028391742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/787456050028391742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/08/ruth-marini.html' title='Ruth Marini'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-3526415034529371710</id><published>2008-08-17T15:20:00.000+07:00</published><updated>2008-08-17T15:20:00.988+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Ida Ahdiah</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Calon Istri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ida Ahdiah&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 7 Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satu pagi, Sabtu, saat orang masih lelap di peraduan, lelaki itu berangkat ke taman dekat tempat tinggalnya. Ia hendak memetik bunga-bunga musim panas yang tengah bermekaran di taman kota. Kekasihnya, mudah-mudahan suka bunga merah, ungu, pink, dan kuning yang ia tidak tahu namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memetik bunga sengaja sembunyi-sembunyi, takut terlihat mata sekelompok orang yang sedang berolah napas Tai Chi. Tak enak rasanya kelihatan mengambil bunga di taman milik umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ia mampir ke kedai membeli dua cangkir kopi. Cangkir pertama buat sang kekasih ia bubuhi sesendok gula dan dua sendok susu rendah lemak. Memang, kekasihnya selalu menghitung jumlah asupan kalori tiap hari. Alasannya agar sehat dan berat tubuh terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan cangkir kedua untuk dirinya sendiri ia bubuhi sesendok gula putih dan dua sendok krim tinggi lemak. Ia juga membeli dua buah muffin rasa cokelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini ia berencana sarapan bersama kekasihnya. Tak hanya itu. Yang lebih penting, ia akan melamar sang kekasih menjadi istrinya. Lelaki itu percaya, sang kekasih hati tulus mencintainya. Buktinya, sang kekasih mengajaknya pindah apartemen dan memulai hidup bersama. Lelaki itu terpana.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini niscaya adalah lamaran keempatnya kepada seorang perempuan. Tiga lamaran sebelumnya ditolak. Kekasih pertamanya mengaku belum punya rencana menikah, lebih suka pacaran alias tidak ada ikatan. "Kalau kita tidak cocok, kita bisa pisah kapan saja. Tidak perlu menunggu pengadilan yang menentukan. Percayalah bahwa aku mencintaimu. Aku masih ingin ber- bagi waktu denganmu," kata sang kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kekasih kedua, seorang pemurah, suka mentraktir makan dan nonton bioskop, hanya menganggapnya sebagai lelaki simpanan. Kekasih kedua ini adalah istri orang. Ia kesepian karena suaminya sering ke luar kota berminggu-minggu. "Sayang, aku tak akan meninggalkan suami dan anak-anakku tapi tetaplah jadi kekasihku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih ketiganya, seorang imigran, mengaku menjalin hubungan hanya main-main. Nun jauh di tanah kelahiran, kekasih ketiganya ini sudah punya pacar. "Wajahnya mirip sekali denganmu. Berada di dekatmu seakan berada di dekatnya. Maaf," kata perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tidak patah hati. Sebenarnya ia pun tak sungguh-sungguh mencintai ketiga perempuan itu. Ia hanya ingin memperistri mereka. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan beristrikan perempuan orang yang tercatat sebagai penduduk negeri ini, maka jalannya untuk menjadi rakyat negeri gemah ripah loh jinawi ini pun mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini memang luar biasa. Air mengalir tak berkesudahan di sungai- sungainya yang didiami ikan-ikan besar dan kecil. Tanahnya ditumbuhi gandum, sayur-mayur, dan buah-buahan dengan panen besar setiap musim. Sapi dan biri-biri di peternakannya tambun dan segar, menghasilkan susu dan daging berkualitas nomor satu. Di lapisan tanahnya juga ada sumur minyak yang mengalirkan rezeki untuk rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua rakyat negeri ini mampu membeli makanan empat sehat lima sempurna. Dua jam upah minimum regional seorang buruh di pabrik kaus kaki bisa cukup buat makan dua kali. Jika ada peminta-minta, tentu dia pemalas sebab lapangan kerja tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja bisa mengajukan diri untuk menjadi rakyat negeri ini. Bagian imigrasi negeri ini akan menyeleksi kemudian menentukan pengabulan atau penolakan. Tapi temannya bilang, prosesnya berbelit-belit. Bisa jadi ia harus menunggu bertahun-tahun sebelum diterima dan disumpah sebagai rakyat negeri makmur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata temannya, yang juga perantau, cara paling mudah untuk menjadi rakyat negeri ini adalah menikahi perempuannya. "Istrimu kelak yang akan mengajukanmu untuk menjadi rakyat negeri ini. Jalannya lebih mudah dan cepat," kata temannya yang menikah dengan perempuan negeri setempat. Temannya itu kemudian menceraikan istrinya setelah ia memegang kartu penduduk negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperistri orang di sini. Mengapa tidak? Begitu pikirnya hingga ia mulai menjalin hubungan dengan perempuan negeri makmur ini. Lalu lelaki itu mulai melupakan kekasih sejatinya yang berada di belahan benua lain. "Doakan aku berhasil mengumpulkan uang. Lalu aku akan pulang, menikahimu. Kita akan membuka warung kecil." Begitu ia berjanji saat hendak pergi merantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Warung apa maumu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Warung nasi untuk para pedagang di pasar pagi. Aku doakan Aa selamat sampai tujuan dan diberi rezeki yang halal. Aku akan menunggu Aa," jawab sang kekasih waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan-bulan pertama ia selalu tidur dengan mendekap foto kekasih sejatinya. Saat menyewa kamar bersama seorang teman, ia simpan foto itu di dompet. Rindunya tak lagi menjadi-jadi sebab ada teman bicara saat kesepian. Di negeri baru ini lambat lain ia mengenal banyak lelaki dan perempuan yang kian mengauskan rindunya pada kekasihnya itu. Apalagi negeri ini memberinya kegembiraan tak berkesudahan dengan begitu banyak kesempatan kerja yang menghasilkan dolar. Bila ditukar dengan rupiah maka ia adalah jutawan di kampung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia gagal untuk ketiga kalinya melamar perempuan di negeri makmur ini, lelaki itu sadar bahwa memperistri perempuan negeri ini tidak mudah. Ia nyaris putus asa. Lelaki itu akhirnya berpikir bahwa semua kegagalan itu akibat dari dosanya mengkhianati kekasih sejati. Saat hasratnya kembali kepada kekasih sejati, seorang teman menawarinya seorang perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba sekali lagi. Lelaki pantang putus asa. Yang satu ini, begini.'' Temannya mengacungkan jempolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tak mengambil serius ucapan temannya. Jalannya sudah lurus, pulang ke negerinya setelah uang terkumpul, menikah dengan kekasih sejati. Lalu ia akan membawa kekasih yang sudah menjadi istrinya itu ke negeri ini. Berdua mereka akan bekerja, bersama-sama mengumpulkan uang. Setelah itu ia dan istrinya mengajukan diri menjadi rakyat negeri ini. Tak soal lagi berapa tempo yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebuah sore membelokkan jalannya yang sudah lurus. Temannya itu mengenalkan seorang perempuan yang membuatnya terkesima. Perempuan itu putih tinggi, berkaki panjang, leher jenjang, dan berhidung menjulang. Tubuhnya harum semerbak. Berbeda dari dirinya yang pendek, sawo matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia terlalu sempurna untukku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan rendah diri begitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak pantas memperistrinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiba-tiba kamu menjadi tidak percaya diri...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan harum itu sudah berada di apartemennya yang terletak di kawasan imigran kelas bawah. Jelas terlihat perempuan itu sempat mengernyitkan hidung ketika tiba di apartemen yang berantakan itu. Pakaian kotor berserakan. Pun piring dan gelas yang belum dicuci. Bahkan ada setengah panci opor ayam basi di atas kompor. Bau makanan basi itu menyebar. Namun, si perempuan tampak berusaha sopan. Ia tidak bereaksi berlebihan malah pura-pura menyusut hidungnya yang tak berair dengan tisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak punya apa-apa untuk membuat perempuan itu jatuh cinta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setahuku perempuan ini suka pria Asia sepertimu." Temannya berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan harum itu menjadi kekasihnya. Lelaki itu pun merasa kejatuhan bintang dari langit. Bangga ia bisa mendekap dan menciumnya. Hidungnya mekar jika melihat orang menatapnya iri saat ia menggandeng sang kekasih. Lupa sudah ia pada kekasih sejatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pindahlah ke apartemenku agar kita bisa lebih mengenal," kata perempuan harum itu kemarin. Ucapan itu keluar dari mulut perempuan harum dengan mata gemerlap oleh cinta. "Kita bisa menanggung kebutuhan hidup bersama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu terpana. Ia merasa telah menemukan kekasih sejati. Ia mabuk kepayang. Kali ini ia justru lupa akan rencana menjadi warga negeri ini. Ia benar-benar ingin menikahi perempuan harum itu karena cinta. Ia bahkan tak keberatan membawa pulang perempuan harum itu ke negerinya. Bahkan hidup di mana pun asal bersama kekasihnya yang cantik jelita, tinggi langsing, tubuh wangi semerbak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi inilah saatnya. Berbekal dua cangkir kopi, dua potong muffin, dan tentu saja bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku belum gosok gigi," bisik perempuan harum ketika lelaki itu hendak melumat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tertawa dan memberinya bunga segar yang ia petik dari taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cantik sekali. Terima kasih." Perempuan itu mengambil vas bunga dan mengisinya dengan air dan meletakkan bunga itu. Lalu ia menyeruput kopi yang dibawa lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mengusap kedua pipi lelaki yang duduk di sampingnya. "Ada apa datang pagi benar. Rindu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin memperistrimu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menatap kekasihnya dengan mata penuh cahaya, bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maukah kau menikah denganku?" Tanya si lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu merebahkan lelaki itu ke dadanya dan berkata, "Lamaranmu begitu tiba-tiba. Aku tak bisa menjawabnya sekarang. Besok sore, tunggulah aku di taman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak sabar aku menunggu esok sore. Tapi baiklah." Lelaki itu melepaskan diri dari pelukan kekasihnya. "Aku pamit dulu kalau begitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu terkejut. "Begitu ter- gesa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ada urusan, emm..." Lelaki itu memutuskan untuk tidak menceritakan rencananya membeli cincin kawin yang akan ia berikan pada kekasihnya esok sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok sorenya, perempuan itu sudah ada di taman kota saat lelaki itu tiba. Ia duduk di bangku, di bawah pohon elm dengan senyum mengembang. Lelaki itu menyerahkan dua belas mawar merah yang ia beli di toko bunga lalu mengecup kedua pipi kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku siap jadi istrimu," kata perempuan itu sebelum lelaki itu sempurna duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu begitu gembira. Ia segera mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Tapi perempuan itu lebih dulu menyerahkan selembar kertas. Di sana tertulis jumlah uang 20.000 dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini persyaratannya." Perempuan itu berujar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu ongkos memperistriku dan mewujudkan keinginanmu untuk menjadi penduduk negeri ini. Setengahnya kau bisa bayar dengan mencicil. Setengahnya lagi kau bayar kontan setelah kartu penduduk keluar. Cukup fair, kan." Perempuan harum itu berujar sambil terus tersenyum. Terpancar jelas kegembiraan di hatinya karena hendak diperistri orang Asia. Sementara si lelaki ternganga dan sejurus kemudian berucap, "Tapi aku melamar karena mencintaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mencium kedua pipi lelaki itu. "Aku tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setulus hati aku mencintaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku siap jadi istrimu. Tapi baca baik-baik kontrak ini. Setelah kau tanda tangani kontrak ini, telepon, e-mail, atau datangi aku kapan saja. Lalu kita tentukan waktu untuk menikah. Sampai jumpa...''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu kemudian beranjak pergi, meninggalkan si lelaki yang belum tahu akan berbuat apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Montreal, New Year 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-3526415034529371710?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/3526415034529371710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=3526415034529371710&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/3526415034529371710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/3526415034529371710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/08/ida-ahdiah.html' title='Ida Ahdiah'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-1340011210462961657</id><published>2008-08-13T14:42:00.000+07:00</published><updated>2008-08-13T14:42:00.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sinar Harapan'/><title type='text'>Heru Kurniawan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Cinta Gila&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Heru Kurniawan&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0709/bud1.html"&gt;Sinar Harapan&lt;/a&gt;, 9 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mencintaimu," kata ini meluncur dari seorang pemuda yang berpakaian rombeng dan belepotan kotor. Ia nyengir, seperti tak ada beban berkata seperti itu. Dan perempuan yang diajaknya bicara hanya cengar-cengir, menggerak-gerakkan tubuhnya yang terbalut kain kotor. Ia senyam-senyum, cengengesan dan mengulum ibu jarinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"A.....pa, akang mencintaiku," kata perempuan itu pelan dan lenjeh, "aku juga mencintai akang," lanjutnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu tersenyum, cengengesan, dan segera berlari. Aneh, tapi itulah yang selalu diperbuatnya. Ia lari kencang sekali, tak peduli. Lari tanpa arah, yang dibenaknya hanya ada kata: sungai. Dan, di sungai yang kotornya tak ketulungan pemuda itu menceburkan diri,"byuuuurrrrr" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Ha...ha...ha....," rupa-rupa anak gelandangan yang melihat kejadian ini tertawa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Sungai inikan habis kita kencingi" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Tadi, aku juga buang tahi" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Orang gila itu hebat, berani mandi dengan kencing dan tahi kita" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata anak gelandangan itu bersahutan. Menertawakan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu tak peduli, terus mandi dan berenang ke tepian. Seterusnya ia mengusir anak-anak gelandangan itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Dasar anak-anak gila, edan, gila...," teriak pemuda itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Kamu yang gila, ceritanya lagi jatuh cinta...ha..ha..ha.." ledek anak-anak itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di perkampungan kumuh itu, siapa yang tidak mengenal pemuda gila itu. Orang-orang memanggilnya pemuda gila. Tingkahnya yang selalu aneh semakin melegitimasinya sebagai pemuda gila; suka mandi di kali yang kotor, berteriak memanggil nama-nama perempuan, nyanyi-nyanyi sendiri, bicara sendiri semuanya sudah jadi kebiasaan setiap hari. Tapi, ada penghargaan terhadap pemuda gila itu, ia pintar, cerdas, dan dermawan sekalipun hidupnya sangat hina dan miskin. Jangan menyebutnya miskin, karena dalam dunia orang gila yang hina tak ada yang memikirkan harta, yang ada hanya pikiran mengisi perut untuk hari ini. Hebat, tak pernah memikirkan uang untuk jadi kaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya pemuda gila itu lagi jatuh cinta. Sama siapa? Sama gadis gila yang biasa berkeliaran di jalan. Siapa namanya? Tidak tahu. Rumahnya? Juga tidak tahu. Di mana ketemunya? Di tepi jalan. Waktu itu, gadis gila itu lagi nyanyi-nyanyi dengan menggendong boneka. Di matanya boneka itu adalah anaknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Mau ke mana, Neng?" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Cari ayah, untuk anak ini" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Emangnya siapa ayahnya?" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tahu. Tapi, kamu kok mirip juga dengan pemuda yang memerkosaku dan mengambil anakku." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Masak!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Iya bener, wajahmu, matamu, hidungmu, tubuhmu, iya mirip benar dengan orang yang kucari"&lt;br /&gt;Sejak itu, pemuda itu merasa bangga dengan dirinya. Ia merasa lelaki, sebab ada perempuan yang mencari. Dan dia jatuh cinta, saban hari yang selalu dilakukannya adalah berkata tentang Cinta. Cinta. Cinta. Tak mengherankan bila sebagian teman-temannya yang gelandangan dan gila juga mengatakan ia semakin gila karena Cinta. He...he...he... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu terus berlari, anak-anak gelandangan mengikutinya di belakang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Hidup Cinta, hidup Cinta, hidup Cinta," teriak anak-anak itu layaknya suporter kesebelasan yang mendukung timnya bermain pertandingan sepak bola. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di depan warung penjual es, semua berhenti. Dan, pemuda itu memesan es sejumlah dengan pengikutnya. Semua ditraktir es oleh pemuda gila itu. Asyik kan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Wah, hebat. Cinta itu hebat, ya. Bisa bikin kaya, buktinya si Gila ini mentraktir kita hanya karena Cinta," seru salah seorang anak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu tersenyum. Nyengir. Bego. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Cinta itu sebenarnya apa sih, Gila," tanya seorang anak pada pemuda gila itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Cinta itu,...nanti dech kutunjukkan. Sekarang habiskan dulu es-nya." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai pesta es, pemuda gila itu berkata, "apa kalian pingin tahu, Cinta itu apa?" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Serentak anak-anak gelandangan itu menganggukkan kepala. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, sekarang ikut aku. Akan kutunjukkan pada kalian Cinta itu apa," kata pemuda gila itu. Dan berlari. Semua anak mengikuti dengan perasaan penasaran. Di tepi jalan raya yang dipadati kendaraan pemuda gila itu berhenti. Anak-anak gelandangan itu mengikuti. Berhenti. Napas mereka tersengal-sengal. Kesal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, dong katakan Cinta itu apa, Gila?" kata salah seorang anak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Cinta itu tidak bisa dikatakan, tapi hanya bisa ditunjukkan," kata pemuda gila itu. Menegaskan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu tunjukkan dong, biar kita tahu Cinta itu apa?" tanya anak yang lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, lihat ini" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu segera berlari menyeberang jalan raya itu. Dan... &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Ha!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semua mata anak-anak gelandangan itu terbelalak. Gila, seru mereka dalam hati. Melotot, mereka tak percaya. Menyaksikan pemuda gila itu menabrakkan tubuhnya sendiri pada sebuah mobil yang melaju sangat kencang. Darah berhamburan membuncah. Tubuh pemuda gila itu berkeping-keping hancur. Pisah. Kepala pemuda itu menggelinding ke arah gerombolan anak gelandangan itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Inilah Cinta," lirih kata kepala pemuda gila itu. Kemudian menutup matanya. Mati. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Lari....!" seru salah seorang anak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhamburan pergi. Berlari dan salah seorang anak itu membawa kepala pemuda gila itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di padang perkebunan yang luas anak-anak gelandangan itu berhenti. Napas mereka tersengal-sengal. Dan ingatan mereka terus terbayang kematian pemuda gila itu yang tragis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Itulah Cinta anak-anak, sama dengan kematian," kata ruh pemuda gila itu yang merasuk ke batin anak-anak gelandangan itu. Semua pikiran anak gelandangan itu sedang berkecamuk, menafsirkan arti Cinta yang tadi dijawab oleh pemuda gila itu dengan kematian. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak, Cinta itu mati. Cinta itu mengorbankan nyawa. Cinta itu bunuh diri. Cinta itu membinasakan. Cinta itu memisahkan tubuh menjadi bagian-bagian kecil. Cinta itu sama dengan kematian. Ha...ha...ha...bisik ruh pemuda gila itu pada anak-anak gelandangan itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang kau bawa" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Kepala si Gila" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Ha!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semua anak terperanjat kaget, melihat teman mereka yang membawa potongan kepala pemuda gila itu. Kepala itu diletakkan di tanah, sebagian anak-anak menutup matanya takut melihat potongan kepala pemuda gila itu yang masih segar dan berlumuran darah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa kau bawa kepala pemuda gila itu?" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Untuk kuberikan pada gadis gila itu" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Maksud, kamu, pacar si Gila ini" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Ya" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semua mata anak-anak gelandangan itu menatap kepala pemuda gila itu. Tenang. Hening. Seperti sedang terjadi penghormatan atas kematian pemuda gila itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di tepi jalan ramai, seorang anak kecil menyerahkan sebuah bungkusan plastik pada gadis gila itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Ini untukmu, Gila" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Hore..hore...ada anak edan ngasih hadiah padaku. Hore.." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Dasar gila," gerutu anak itu seraya pergi. Berlari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di rumahnya yang kotor, berlantai tanah, berdinding kertas kardus dan beratap plastik gadis gila itu membuka bungkusan plastik itu. Darah tersegap. Berhenti sejenak, mata gadis gila itu membulat seperti bumi. Muka memerah dan air mata berurai. Tarikan napasnya mengisyaratkan tekanan batin yang luar biasa memilukan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seketika ia mengamuk, rumah kotornya diobrak-abrik dan dibakar, tak ayal api merambat cepat dan membakar seluruh isi perkampungan kumuh itu. Api membara melahap semua yang menghadang, dan ratusan orang berteriak-teriak minta tolong seraya berusaha memadamkan api dengan air. Tapi sia-sia, api kadung sudah gila pula. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gadis gila itu lari. Hilang. Entah ke mana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Lihat, itu ada mayat, di tepi sungai" seru seorang anak gelandangan. Segera, teman-temannya melihat yang ditunjuk anak itu. Dan, semua kaget saat mengetahui kalau mayat itu adalah gadis gila pacar dari pemuda gila itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Inikah Cinta, Gila" seru hati setiap anak gelandangan itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masanya terus beranjak, kini usia anak-anak gelandangan itu bertambah dua puluh tahun. Mereka telah dewasa. Tapi, aneh tak satu pun di antara mereka yang mau menikah atau pacaran. Kenapa? Mereka bilang takut dengan Cinta. Kenapa? Cinta itu Gila. Maksudnya? Dua manusia Gila itu telah mengajari Cinta, sungguh Cinta itu benar-benar Gila. Mematikan. Mereka tak mau mati. Tapi, apa kalian tidak melihat ibu-ibu kalian yang selalu resah menantikan kehadiran cucu, demi kelangsungan hidup manusia-manusia gila. Dunia perlu ekosistem, ada yang mulia, harus ada juga yang hina! Ha, apa benar, kita harus bagaimana? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Desa Mengger, 10 April 2005 &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;* Judul Cerpen ini diambil dari salah satu judul lagu DEWA&lt;br /&gt;"Cinta Gila".&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-1340011210462961657?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/1340011210462961657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=1340011210462961657&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1340011210462961657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1340011210462961657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/08/heru-kurniawan.html' title='Heru Kurniawan'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-1931804142056658651</id><published>2008-08-03T16:05:00.000+07:00</published><updated>2008-08-03T16:05:00.499+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Mustafa Ismail</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Pelabuhan Makin Jauh &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Mustafa Ismail&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;em&gt;&lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, 28 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam baru turun ketika aku tiba di pelabuhan itu. Tidak, sebetulnya itu bukan pelabuhan, tapi bekas pelabuhan. Dulu, kapal-kapal kerap merapat di sana, menelan dan memuntahkan orang. Hanya itu satu-satunya jalan bagi orang-orang yang ingin pergi ke pulau kecil di seberang. Tapi, setelah pelabuhan baru selesai dibikin, yang cukup jauh dari situ, pelabuhan ini pun mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya pelabuhan, semua terasa mati. Kedai-kedai, warung-warung, termasuk losmen-losmen kecil di pinggir pantai, semua menjadi onggokan. Tidak ada lagi pasar malam, juga barisan orang-orang yang berdagang tiap hari pekan, menghiasi suasana pasar di pinggiran kota itu. Kalau malam, kegelapan membalut, membetot. Hanya lampu-lampu nelayan yang masih membuat seolah-olah tepi pantai itu hidup.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah, memang begitulah. Sebab pantai itu sangat sepi. Tidak ada orang yang membikin rumah di situ. Di sana hanya tampak onggokan-onggokan gedung, toko-toko, juga losmen yang ditinggal pergi pemiliknya. Di rumah-rumah dinas awak pelabuhan, juga tak terlihat tanda-tanda bahwa di sana ada nafas yang berdenyut. Tak ada rumah-rumah penduduk biasa di komplek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali warung-warung kecil penjual minuman yang tetap tumbuh di situ. Warung-warung itu tetap seperti dulu: berdinding setinggi perut orang dewasa yang terbuat dari bambu terbelah dengan atap yang dianyam dari daun rumbia. Para penjual di warung-warung itu adalah perempuan tua atau laki-laki tua. Bukan perempuan muda, apalagi gadis-gadis. Begitulah sejak dulu. Warung itu mulai buka pukul 15.00 dan tutup ketika orang-orang sudah pulang, sekitar pukul 21.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari, terutama sore, banyak orang yang memancing di pelabuhan itu. Sementara malam, tempat itu dipenuhi pasangan kasmaran. Berpasang-pasang manusia tampak duduk di atas pasir. Mereka larut dalam diri mereka masing-masing, seperti tak merasa ada orang di sekelilingnya. Mereka datang dari berbagai sudut kota, yang bisa ditempuh selama sekitar 15 menit dengan kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku singgah di sebuah warung, perempuan berambut sebahu itu menoleh dan tersenyum. Setelah memesan minuman bersoda, aku duduk di bangku panjang di sebelahnya. Biasa, aku berbasa-basi. Perempuan itu merespon. Kami terlibat obrolan. Aku memancing pembicaraan dengan hal-hal kecil, sampai bicara soal pantai itu. Rupanya, ia dulu pernah tinggal tidak jauh dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku lahir dan besar di sini. Ayahku bekerja di pelabuhan ini. Nenekku juga tinggal di kota ini. Ketika kecil aku sering berlari-larian di pantai ini. Kalau sore, aku suka duduk sendiri memandang matahari. Ketika aku kelas dua SMP, pelabuhan ini ditutup, ayahku pindah ke kota lain. Kami sekeluarga pindah. Aku pun terpaksa ikut indah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terpaksa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, karena aku menyukai tempat ini. Aku senang tinggal di sini. Aku sempat menangis ketika meninggalkan rumah kami di kompleks perumahan pelabuhan. Pindah ke tempat baru, apalagi sebuah kota yang jauh dari pantai, bagiku sungguh tak menyenangkan. Aku kesepian tak lagi mendengar debur ombak dalam keseharianku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayahmu tidak lagi bekerja di pelabuhan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayahku ditarik bekerja di kantor pusat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kamu masih suka ke pantai?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, sebulan atau dua bulan sekali. Tapi setelah kawin dan punya anak, aku menjadi jarang ke pantai. Suamiku tidak suka suasana laut, ia lebih senang berlibur ke pegunungan. Anak-anakku juga tidak tertarik ketika aku mengajaknya pergi ke pantai. Makanya, ketika ada kesempatan pulang ke kota ini, aku langsung menuju ke sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diam. Aku pun tidak meneruskan pertanyaan. Malam pelan-pelan merayap. Hawa dingin menyusup. Entah mengapa, duduk kami makin rapat. Mataku terus tertuju ke laut, ke lampu-lampu nelayan yang seperti membentuk sebuah kota di tengah laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu kedinginan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedikit," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bawa jaket?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang bisa kulakukan untuk mengusir hawa dingin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak usah," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam sejenak, tiba-tiba aku mendapatkan ide. "Bagaimana kalau kita bikin api unggun," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu persetujuannya, aku beranjak mencari-cari kayu, kertas, plastik dan daun kering, atau apa pun yang bisa dibakar, yang berserakan di pantai. Lumayan, aku bisa mendapatkannya beberapa potongan kayu kecil, plastik bungkusan makanan ringan dan beberapa helai daun. Lalu menumpuknya di atas pasir, tidak jauh dari tempat duduk kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kayaknya duduk di atas pasir lebih enak," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya juga," katanya, tapi ia tidak langsung beranjak. Aku lirik ia sedang mengeluarkan dompet untuk membayar minuman. Aku pura-pura tidak mendengar ketika ia mengatakan kepada ibu penjaga warung agar dihitung sekalian dengan minumanku. Aku ingin mencegah ia membayar, tapi aku takut ia tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menghidupkan api dengan susah payah, karena angin begitu kuat berhembus dan memadamkan api pada batang korek. Setelah menyala, beberapa helai-helai daun dan kertas kemudian diterbangkan angin. Aku segera mencegah, berdiri menghadang arah angin agar tak memporak-poranda api unggun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mendekat ke sampingku, yang sedang mencoba memancing-mancing api dengan lembaran daun kering agar lebih membesar dan membakar potongan-potongan kayu kecil. Jika api sudah menyala di atas potongan kayu, api bisa lebih besar dan cukup mengatasi hawa dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu suka membikin api unggun di tepi pantai?" Suara perempuan itu memecah keasyikanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandangnya sejenak, lalu berucap, "Ketika remaja, aku dan teman-teman suka membuat api unggun di pantai. Kami dulu suka berkemah di tepi pantai. Tapi sejak aku kawin dan punya anak, tidak pernah lagi. Aku larut dalam pekerjaan. Bahkan, aku menjadi jarang ke pantai, karena jaraknya sangat jauh dari kota tempat tinggal kami. Apalagi, aku kerap bertugas ke luar kota. Setahun, paling dua-tiga kali kami ke pantai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kamu juga bernostalgia ke sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Aku punya banyak kenangan di sini. Ketika aku masih tinggal di kota ini, pagi Minggu aku kerap ke sini dengan seorang teman baik. Kami suka duduk di pasir sambil memandang matahari terbit. Kadang-kadang, kami memancing dulu di atas pelabuhan dan baru pulang menjelang siang," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti teman baikmu seseorang yang cantik," ia berujar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah sudahlah, tidak usah dibicarakan. Ia sudah kawin dan punya anak dengan kawanku sendiri. Ia kini sangat bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu bahagia dia bahagia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sangat bahagia dia bisa bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diam sejenak. Matanya diarahkan jauh, membentur malam, juga membentur lampu-lampu nelayan di tengah laut. Ia sempat menarik nafas panjang. Aku meliriknya, ia membalas dan tersenyum. Beberapa saat mata kami sempat bertubrukan, lalu ia buru-buru mengalihkan pandang ke tengah laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu terkenang sesuatu?" Aku mencoba bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak menyimpan kenangan lain di sini, selain kenangan dalam kesendirian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku orang yang penyendiri dan tidak punya teman baik laki-laki. Aku lebih suka sendiri. Aku baru merasakan punya seorang teman laki-laki ketika aku harus pindah dari kota ini, karena orang tuaku pindah. Tapi itu sudah terlambat, kami tidak mungkin lagi bertemu. Mungkin pula dia kini telah bahagia dengan istri dan anaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu masih mengingatnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terkadang, terutama ketika pulang ke kota ini dan melihat rumah yang kami tempati dulu yang sekarang sudah menjadi onggokan. Di situlah, ketika malam terakhir aku berada di sana, ia menyatakan sesuatu yang membuatku tersentak dan tak percaya. Ia mencintaiku. Aku terlonjak. Aku sangat senang. Namun waktuku di sini tinggal sebentar, aku pun berusaha melupakan. Kupikir itu cinta monyet. Tapi setelah pindah, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan aku selalu ingat dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak. Seperti ada sesuatu yang melintas di kepalaku, gambar-gambar bergerak yang merekam sebuah waktu. Tapi aku berusaha menepisnya. Aku justru ingin tahu lebih lanjut tentang lelaki yang dia ceritakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak berusaha menghubunginya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Aku tidak ingin bertambah ter- siksa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai kini tidak pernah mencoba untuk mencari tahu tentang dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Terakhir aku mendengar kabar dari seorang teman sekolahku dia juga pindah ke kota lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kamu masih menyimpan perasaan tertentu terhadap lelaki itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak punya perasaan apa-apa lagi, kecuali sebuah kenangan kecil. Cerita percintaan itu belum sempat diwujudkan. Jadi tidak ada yang bisa dipungut, tidak ada kisah yang bisa diingat. Aku mencintai suami dan anak-anakku. Tak mungkin berbagi dengan lelaki lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu masih ingat lelaki itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih ingat wajahnya dan seperti apa orangnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya bisa membayangkan sosoknya dulu. Aku tidak tahu seperti apa dia sekarang. Sebab itu sudah lama sekali. Itu kisah ketika aku kelas dua SMP. Kini aku sudah lulus kuliah, bekerja dan menjadi seorang ibu dengan tiga anak, dengan anak tertua berumur delapan tahun. Hitung saja berapa lama kami tidak bertemu. Pasti banyak berubah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi waktu itu kamu sempat begitu dekat dengan dia?" Aku seperti tak sabar ingin tahu lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Dia kakak kelasku, kelas tiga. Kami hanya kenal biasa saja, meski sebetulnya aku juga suka sama dia. Tapi seperti kubilang tadi, aku seorang yang penyendiri, tidak terlalu berhasrat mengejarnya. Aku baru tahu dia juga suka padaku saat-saat aku mau pindah itu. Ia juga tidak berani mendekatiku karena ia melihat aku menghindarinya. Padahal aku tidak menghindar. Aku lebih senang sendiri. Ketika ia tahu aku pindah, ia nekat datang untuk menyatakan cinta. Sebab, katanya, ia tidak ingin tersiksa menyimpan perasaan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak adakah secuilpun keinginanmu untuk tahu tentang dia ketika datang ke kota ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu diam. Ia memandangku tanpa berkedip. Aku pun memandangnya. Aku melihat sesuatu yang tersembunyi di matanya. Dan yang lebih mengejutkan, pelan-pelan, ingatanku semakin terbuka terbuka. Gambar-gambar bergerak di kelapaku makin memperjelas sosok yang berada di dekatku. Aku merasa sangat mengenal perempuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian matanya buru-buru kembali diarahkan ke laut, ke lampu-lampu nelayan yang seperti berkedap-kedip di kejauhan. Lalu, ia berkata pelan: "Cerita itu sudah lewat. Aku harus melupakannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harus melupakan, berarti perasaan itu masih ada?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tidak menjawab. Aku kembali menatapnya. Ia balas menatapku. Ia mengibas anak rambutnya yang diterbangkan angin menutup matanya. Semakin lama, wajah perempuan itu semakin tidak asing bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mengalihkan pandang ke depan, menatap api unggun yang tak menyala lagi dan hanya menyembulkan asap. Sesaat hening, lalu berucap, "Aku akan tersiksa bila aku membayangkan kembali sesuatu tentang dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Perempuan itu juga terdiam, memandang jauh menerobos malam. Api unggun sudah benar-benar mati. Asap pun sudah tidak ada. Suasana senyap. Hanya debur ombak yang terdengar, bersama suara angin yang seperti berlari dari jauh. Kemudian ia beranjak, berdiri menghadap laut. Aku ikut beranjak, berdiri di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian, ia berjalan, meniti tepi pantai. Aku pun melangkah, seperti tersihir untuk mengikuti apa yang dilakukannya. Sesekali matanya memandang jauh, lain kali matanya menatap pasir yang tetap tampak putih di kegelapan itu. Sesekali ia menendang kerikil atau benda-benda kecil yang terserak di atas pasir. Ia seperti sedang mengutip jejak-jejak lampau. Ia seperti sedang melakukan napak tilas terhadap sebuah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Gambar-gambar bergerak di kepalaku terus berbicara banyak tentang perempuan itu. Inilah perempuan yang sekian lama aku cari. Inilah perempuan yang sekian tahun aku harap-harap bertemu. Aku pernah berusaha menelusuri jejaknya, lewat teman-teman sekolah, tapi tak pernah berhasil. Aku hanya tahu kota tempatnya tinggal, tapi tak pernah tahu di mana alamatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah yang dulu datang malam-malam ke rumahnya untuk menyatakan cinta. Akulah lelaki yang dia ceritakan itu. Tapi haruskah aku katakan siapa sebenarnya aku? Aku jadi serba salah. Jelas, ia tidak akan bisa mengenaliku. Dulu aku seorang lelaki yang kurus dan kulitku agak coklat. Kini badanku agak besar dan kulitku bersih. Banyak temanku semasa SMA tidak mengenaliku. Apalagi teman semasa SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Dian, begitulah nama perempuan itu, tidak akan mengenalku. Bahkan, ia mungkin tidak percaya kalau kujelaskan bahwa aku adalah lelaki yang dia ceritakan itu. Akulah yang dulu kerap memandangnya dari balik rak perpustakaan sekolah ketika jam istirahat. Akulah yang selalu menunggunya ketika pulang sekolah, berdiri dari jauh dan memastikannya naik ke mobil jemputan dan berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia tidak tahu, ketika ia pindah itu, berhari-hari aku tersiksa. Aku berusaha mencarinya dan menunggu suratnya yang tidak pernah datang-datang. Aku ingin menyuratinya, tapi waktu itu ia belum tahu persis alamat mereka tinggal di kota tempat ayahnya pindah tugas itu. Berbulan-bulan aku memikirkan dia, dan selalu berharap kami bisa bertemu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, dia ada di sampingku. Tiba-tiba, aku begitu ingin merangkul pundaknya, mengelus-elus rambut, menggengam jari-jari, juga mendaratkan ciuman tipis di dahinya. Aku sangat ingin menikmati pertemuan itu walau beberapa detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tanganku seperti sulit digerakkan, bibirku enggan berucap, hanya kaki yang terus melangkah. Kami terus berjalan, terus diam, menyusuri pantai. Hanya suara ombak yang terus berdebur dan angin berdesir kencang. Malam makin tinggi. Pelabuhan itu makin jauh.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-1931804142056658651?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/1931804142056658651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=1931804142056658651&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1931804142056658651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1931804142056658651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/08/mustafa-ismail.html' title='Mustafa Ismail'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-5910575664649570956</id><published>2008-07-28T14:29:00.000+07:00</published><updated>2008-07-28T14:29:01.816+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lampung Post'/><title type='text'>Medy Kurniawan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Rahasia Bahagia &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Medy Kurniawan&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008051100562330"&gt;&lt;em&gt;Lampung Post&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;, Minggu, 11 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;MASIH ada segenggam kebahagiaan dalam diriku. Kebahagiaan yang selalu diiringi aliran air mata kerinduan akan hadirnya bidadari-bidadari tercinta dalam peristirahatan yang kekal kelak. Semakin basah hatiku oleh tangisan-tangisan jiwa, pengharapan yang tak pernah lelah akan datangnya cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam ruang tengah kudengar suara Maya, istriku, "Adek makannya yang banyak ya. Biar cepet gede dan bisa main dengan umi sama abi. Trus kita belajar ngaji, salat berjemaah, juga nangis bareng-bareng dalam munajat. "Sambil mengelus-elus perut yang semakin membesar, Maya terus saja berceloteh seakan sedang berkomunikasi langsung dengan janin yang dalam hitungan hari lagi akan menghirup udara dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan perilaku Maya, aku hanya bisa tersenyum geli dan tentu saja ada bahagia di sudut hatiku ini. Bukankah sebuah perasaan yang tidak berlebihan karena bagi kami ini adalah sebuah penantian, ujian kesabaran dalam perkawinan yang hampir menginjak tahun ke delapan berupa kehadiran amanah Allah, ananda tercinta. Makhluk sombong manakah yang berani menolak kehadiran buah hati yang dengan keberadaannya kehidupan berumah tangga akan semakin berwarna. Warna-warni dalam kanvas kehidupan dalam bingkai takwa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Betapa aku teringat hari-hari sebelum kehamilan Maya ini. Waktu yang begitu sepi. Aku yang selalu berada dalam rutinitas pekerjaanku larut dalam kesibukan dalam upaya melepaskan diri dari tekanan-tekanan opini negatif, baik dari keluarga besar ataupun dari tetangga. Apalagi Maya yang berkutat di rumah sembari menekuni bisnis rumahan, membayangkan pun aku tak sanggup bagaimana beban perasaannya ketika selalu ditanyakan perihal anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pada tahun-tahun pertama pernikahan kami mungkin belum terlalu menjadi masalah, tapi ketika tahun ke tiga, ke empat, ke lima bahkan ke enam penantian itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan kehadiran bayi kecil kami, hal yang sangat manusiawi kalau akhirnya kesedihanlah yang melanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Maya hanya bisa berpasrah dan memiliki persepsi positif kepada Sang Maha Memberi. Mungkin kami adalah makhluk yang dipilih untuk menjalankan cobaan ini karena dinilai mampu untuk melewatinya. Oleh sebab itu, kami tidak pernah lelah menanti, mengadukan dan memohon dalam doa-doa di atas sajadah kami yang selalu basah oleh bulir-bulir bening dari mata kami tiap malamnya. Ini juga yang selalu menguatkan dan memberikan pancaran semangat batin yang luar biasa serta bentuk ketabahan untuk tidak egois dalam menyikapi alunan lirik-lirik kehidupan yang terus berputar walaupun tetap saja sebagai manusia biasa kesedihan itu tidak bisa sirna sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Umi lucu ya, dek. Masa adek lagi tidur diomelin," suaraku mengagetkan Maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ih, Abi itu yang lucu, belum lahir juga udah diajak ngobrol!" Maya menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak kami terpingkal memecah keheningan malam. Tawa bahagia yang sudah lama tidak hadir di tengah-tengah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02.30 dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bi, salat yuk. Bangun dong, nanti ga dapet doanya malaikat loh. Adek, bangunin abi gih. Abi-Abi, bangun dong." Maya menirukan suara anak-anak sembari memegangkan tanganku pada perut besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adek mau salat juga?" tanyaku dengan suara manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ih. Abi! Bangun dong!" Maya sok galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, iya. Abi bangun nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah berat kuayunkan kakiku ke kamar mandi. Saat kubasuh setiap mili anggota tubuh ini, kurasakan sejuknya air yang seakan-akan melunturkan kotoran-kotoran dosa yang turut mengalir bersama air wudu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakaat kedua baru saja selesai. Sepintas kuamati wajah Maya yang terbungkus rapi dengan mukena. Sangat berbeda dengan keadaan sebelumnya. Wajahnya teduh dan meneduhkan siapa saja yang menatapnya, tanda penyerahan jiwa yang tulus. Sebuah bentuk kesadaran pada kesalahan yang tak perlu terulang. Keanggunannya terbias mengalahkan senyum Monalisa dalam lukisan yang melegenda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalui rakaat demi rakaat dalam kekhusyukan yang berteman dingin malam. Hingga tak terasa subuh sudah mengintip dari lorong sang waktu. Aku pamit untuk salat subuh di masjid sebelum sempat terdengar suara azan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Zikirnya jangan lama-lama ya, Bi. Umi merasa ini sudah waktunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah." Kutinggalkan Maya sendiri yang dengan matanya terus mengikuti langkahku sampai kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin gelisah aku memandangi waktu yang terus berlari di pergelangan tanganku. Seorang bapak di sampingku hanya tersenyum tipis melihat kegelisahanku ini. Aku sudah mengalaminya beberapa kali, mungkin demikian kata hati sang bapak kepada diriku. Tiga orang anak di sampingnya. Yang tertua kurang lebih usia siswa SMA, sedangkan yang kedua dan ketiga masih umur anak SD kelas V dan III. Beberapa menit yang lalu kami terlibat dalam percakapan yang cukup akrab, tapi belakangan ia membiarkanku larut dalam pikiran dan gelisahku sendiri. Ingin rasanya menemani Maya dalam kesakitannya, menguatkan hatinya. Tapi wajah yang pasrah itu memohon kepadaku untuk menunggu di luar karena ia tidak ingin membuatku ikut merasakan derita. Hampir lupa, aku belum duha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpamitan dengan si bapak, aku melangkahkan kaki ke musala rumah sakit ini. Aku harus membantu Maya dengan cara yang lain, yang mungkin justru kekuatannya lebih kuat daripada kehadiranku di sisinya, doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupasrahkan diriku tunduk kepada-Nya dalam setiap rakaat. Kurasakan zikir alam semesta yang juga tak kuasa untuk melakukan prosesi sembah. Kurasakan sinar matahari di pagi hari, bulan yang setia mengiringi bumi, siang dan malam dengan rutinitasnya, kekayaan bumi, keluasan langit. Dan tak kutemukan satupun alasan untuk berbuat ingkar kepada Yang Mahatinggi. Semakin terlarut dalam semua itu, semakin aku merasa kecil sebagai seorang makhluk dan semakin berpasrah juga akan apa pun yang akan terjadi pada istri dan anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah, hamba menyerahkan segala urusan hanya pada-Mu. Hidup mati kami, keselamatan istri dan anakku berada di tanganmu sepenuhnya. Tiada kuasaku sedikit pun untuk berpaling dari keputusan-Mu. Namun kiranya hamba memohon suatu kebahagian yang lengkap, mohon agar Engkau memberikan kami kesempatan untuk berkumpul sejenak di dunia-Mu dalam rangka saling membagi kasih sayang dan cinta dalam koridor keridaan-Mu. Kalaupun Engkau berkehendak lain, hamba rela apabila kami hanya bisa berkumpul di alam-Mu yang kekal kelak, amin." Kututup doaku dengan mengusap linangan air mata yang membasahi pipiku sedari tadi. Aku harus membasuh wajahku sebelum bertemu Maya di ruang persalinannya agar terlihat tegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrohmaanirrohiim. Kutinggalkan musala untuk kembali ke ruang persalinan. Kulihat bapak teman ngobrol tadi masih dengan ketiga anaknya. Serta-merta ia menyambutku dengan berita gembira darinya. "Alhamdulillah, Pak, anak dan istri saya selamat," katanya. Aku mengangguk dan memberikan seyumku yang tidak direkayasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mohon doanya untuk keselamatan istri dan anak saya juga, ya Pak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukeluarkan MP3 player dari sakuku. Headset kupasang di telinga. On, select menu, select folder Alquran, select file Q.S. 55 (Ar-Rahmaan), play. Mulai terdengar suara merdu Syekh Abdullah Al Mathroed melantunkan ayat-ayat suci. Sejuk hatiku menyimak ayat per ayat. Belum sampai ayat ke sepuluh, terdengar suara seseorang memanggil namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami dari ibu Maya?" suara tersebut terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya suster," aku mengacungkan tangan cepat-cepat seperti waktu SMP dulu ketika berebut pertanyaan dari guru biologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar Anda suami dari Ibu Maya?" perawat wanita berseragam putih-putih itu mengulangi pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar saya, Sus. Bagaimana keadaan istri dan anak saya Suster?" hatiku diliputi penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Maaf, Pak, kami sudah berusaha dengan keras, tapi takdir Allah berkehendak agar sang ibu mendahului bapak dan kita semua. Anak bapak perempuan, sehat, dan lahir dengan normal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," tak kuasa air mataku langsung tumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silakan kalau bapak mau masuk ke dalam," suster itu menutup percakapan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat langkahku menuju ke tubuh Maya yang jiwanya telah menunaikan janji untuk kembali kepada Rabbnya. Tubuh dan jiwa yang belum lama terpisah itu telah menorehkan berjuta memori dalam kehidupanku. Tubuh dan jiwa yang selama ini menjadi penopangku, penghapus kerinduanku, tempat berbagi kesenangan dan kasih sayang, juga mencurahkan segala duka yang menimpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku makin kabur oleh air mata ketika jarak kami kurang dari satu meter. Beginikah merasakan sebuah kehilangan atau lebih tepatnya terpisah dari yang selama ini kita rasakan sebagai milik kita? Buru-buru aku beristigfar, bukankah Allah yang lebih berhak mengambil yang memang milik-Nya? Kita tidak memiliki hak sedikit pun untuk menolaknya! Bukankah lafal innalillahi wa inna ilaihi rojiun yang tadi keluar dari bibirku merupakan manifestasi dari kesadaran ini! Bukankah isi doaku tadi adalah bentuk kepasrahan atas apa pun keputusan-Nya! Begitulah pertanyaan-pertanyaan itu timbul begitu saja yang membuat lisanku semakin memperbanyak memohonkan tobat atas kekeliruanku beberapa detik yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi wajah Maya lekat, dadaku semakin bergemuruh. Potongan-potongan mozaik memori tentang Maya tiba-tiba berkeliaran di atas kepalaku. Lalu ada suara yang hanya terdengar oleh telingaku yang mengingatkan bahwa aku tidak boleh larut dalam suasana kesedihan ini karena hanya akan memberatkan jiwa yang baru saja dicabut Izroil ini. Hatiku kemudian melakukan monolognya dalam diam, aku ikhlas ya Rabb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian doaku mengalir, "Ya Allah, terimalah dia di sisi-Mu sebagai hamba yang berserah diri, sebagai istri yang tidak pernah membangkang pada suaminya, sebagai ibu yang mengorbankan jiwanya untuk anaknya, sebagai syahidah yang akan menjadi bidadariku di surga-Mu kelak. Kumpulkanlah kami kembali bersama orang-orang yang kami cintai, bersama rasul-Mu, bersama orang-orang yang takwa kepada-Mu. Kabulkanlah ya Rabb, amin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuedarkan pandanganku ke penjuru ruangan ini. Ada, itu dia bayiku! Kudekati baby box dengan hati yang tetap basah. Subhanallah-subhanallah-subhanallah tak berhenti aku menyucikan nama-Mu. Wajah cilik ini, matanya, hidungnya, bibirnya, tidak ada yang berbeda dengan milik Maya, ibunya! Lihat, dia tersenyum padaku! Allahu akbar! Senyum inilah yang bagiku mengalahkan monalisa dalam lukisan yang melegenda itu! Sangat identik! Inikah rencana-Mu ya Allah...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Medy Kurniawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal di Bandar Lampung. Belajar menulis fiksi secara otodidak dan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt; tidak tergabung dalam komunitas seni apa pun&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-5910575664649570956?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/5910575664649570956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=5910575664649570956&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/5910575664649570956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/5910575664649570956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/07/medy-kurniawan.html' title='Medy Kurniawan'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-2617523540803552420</id><published>2008-07-16T15:14:00.000+07:00</published><updated>2008-07-16T15:14:00.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Niwi Krismawati</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Arti Sebuah Nama&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Niwi Krismawati&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 25 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bathari Saraswati. Ck...ck...ck." "Bathari Saraswati".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Suryo mengulang-ulang nama itu. Berkali-kali pula dia membuka handphone-nya membaca SMS nyasar beberapa hari yang lalu. Dia cukup mengagumi alat kecil berteknologi canggih itu, sehingga akhirnya memberikan seorang, Bhatari Saraswati, dalam hidupnya. Merasa penasaran dengan pemilik nomor cantik itu, Suryo melayangkan sebuah SMS perkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya Suryo lewat SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namaku. Bathari Saraswati. Kamu?" balasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suryo. Suryo Gumilar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak dia tahu nama cantik itu, seperti mendapat angin segar dia mulai sering mengobrol, baik telepon atau via SMS. Suryo berharap bahwa pemilik nama itu secantik orangnya. Bukankah, Bathari artinya bidadari, ucapnya berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih ingat kata temannya, Bayu, yang beberapa waktu juga mendapat SMS nyasar. Nama belum tentu sesuai dengan orangnya, ucapnya. Bukankah setiap orang berhak menamai anaknya dengan sebutan apa pun&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apalah arti sebuah nama, terkadang ungkapan klise itu muncul dalam benak, Suryo. Tetapi tidak bisa dimungkiri juga kalau nama memang mempunyai arti penting. Kelak nama itu juga diharap bisa mencerminkan sang penyandang nama. Seperti, Bathari Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak perkenalannya dengan Tari, panggilan akrabnya. Hari-hari Suryo seakan penuh warna. Tak jarang dia lebih sering mengurung diri di kamar sambil menghabiskan pulsa. Tak urung juga, dia harus merelakan uang makannya untuk membeli pulsa. Bayu, yang menjadi teman satu kosnya pun terkadang ikut direpotkan dengan ulah Suryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya, kamu pernah lihat perempuan itu, Yo," tanya Bayu penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum. Memangnya kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu, kenapa kamu bisa begitu yakin, kalau Tarimu seperti harapanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja. Dari namanya saja sudah terlihat. Bathari Saraswati. Pastilah orang tuanya menamai seperti itu, karena dia secantik bidadari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan terlalu berharap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapannya terhenti, karena handphone tercinta menyampaikan sebuah SMS dari sang pujaan hati. Teringat perkataan, Bayu, Suryo akhirnya berpikir untuk mengajak bidadarinya itu bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kabarmu, Mas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik. Aku boleh meminta sesuatu kepadamu," balas Suryo melalui pesan singkat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja. Asal jangan macam-macam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin bertemu denganmu." Suryo sedikit waswas menanti jawaban Tari, berharap agar keinginannya terkabul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh. Aku yang tentukan pilihan. Tetapi, dengan satu syarat. Belum saatnya kita bertatap muka secara langsung, kita ketemu di mal. Nanti aku akan kasih tanda. Bagaimana?" balas Tari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setuju," tanpa pikir panjang Suryo menyetujui. Sekalipun dia sedikit keheranan karena sikap Tari yang tidak mau bertemu secara langsung dengannya. Sempat terbersit bahwa yang dikatakan Bayu sahabatnya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu pun tiba. Mal penuh manusia yang memang ingin sekadar cuci mata, ataupun berbelanja. Suryo tidak begitu peduli, karena hari ini dia sangat ingin bertemu dengan Tari. Tidak berapa lama kemudian, Tari meneleponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku, di lantai tiga. Aku memakai baju warna merah. Nanti aku akan melambaikan tanganku, dan kau pun harus melambaikan tanganmu. Kamu, berdiri saja dekat kolam ikan itu. Aku pasti bisa melihatmu," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berlama-lama, Suryo segera melaksanakan apa yang diperintahkan sang pujaan hati. Matanya memandang ke atas tanpa berkedip. Mencari sesosok wanita berbaju merah, sekalipun rasanya banyak baju merah berseliweran di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pandangannya tertumpu pada lambaian tangan seorang perempuan. Tepat seperti perkiraan Suryo, baju merah. Dia pun membalas lambaian tangan tersebut Walaupun dengan sedikit kecewa, karena tidak bisa bertemu langsung. Tetapi dia bisa melihat sekilas sosok yang bernama Tari itu. Tubuhnya tinggi, langsing, dan berkulit putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryo merasa menang. Ternyata dugaan Bayu tidak selamanya benar. Tari memang secantik bidadari. Lalu lalang orang di sekitarnya, membuat dia kehilangan jejak Tari. Tetapi rasa kecewanya terobati karena tidak berapa lama, sebuah SMS datang menggoda, Suryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana, apa kau melihatku. Aku sudah melihatmu tadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah. Kalau begitu, bagaimana menurutmu. Apakah kamu kecewa setelah melihatku tadi?" balasnya sambil deg-degan menanti jawaban yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau seperti namamu. Rupawan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kamu, seperti namamu. Cantik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama setelah mereka ber-sms-an tiba-tiba saja, Suryo dikejutkan oleh seorang perempuan yang mendekatinya. Dia sempat terkaget melihat wanita gemuk, berkulit hitam di depannya sambil tersenyum. Suryo hanya melongo melihat, perempuan di depannya. Sampai akhirnya dia bisa menguasai keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" sapa Suryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lift-nya sebelah mana, ya, Mas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O.. Jalan saja ke arah timur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryo tersenyum sendiri melihat perempuan yang baru saja depannya. Sambil mencari tempat duduk dia kemudian melanjutkan SMS-nya yang tertunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, baru balas. Tadi ada perempuan aneh yang tanya lift. He..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aneh. Aneh kenapa?" balas Tari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak seperti dirimu. Orangnya gemuk, dan hitam. He...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu bisa saja. Apa kamu menyukai orang cantik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja. Seperti dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau aku tidak cantik, apa kamu akan menyukaiku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelas mau. Karena kamu memang benar-benar cantik. Ha..ha..ha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perjumpaan di mal itu, benih cinta mulai tumbuh dalam hati Suryo. Jalinan asmara yang didambakannya terbuka sudah, respons hangat diterimanya. Hari-harinya menjadi lebih berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari tidak telepon sang bidadari rasanya seperti satu abad. Sepertinya Tuhan sudah memberikan seorang jodoh baginya. Dan dia begitu bangga memamerkan sang pujaan hati kepada sahabat kentalnya, Bayu dan Paksi. Tampaknya pengaruh Tari sangat besar dalam hidup Suryo. Bagaikan kena sihir, dia seperti tergila-gila dengan kekasih barunya itu. Omongan Bayu untuk menyelidiki Tari lebih lanjut tidak dihiraukan. Bagaimanapun bidadarinya adalah bagian dari hati dan jiwanya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tiga bulan sudah jalinan asmara yang dia rajut. Tetapi setelah bujukan-bujukan Bayu dan Paksi, tampaknya hati Suryo menjadi luluh. Bagaimanapun juga, dia harus berjumpa dengan Tari. Dengan penuh kemantapan Suryo kemudian memberanikan diri untuk mengajak bidadarinya itu bertatap muka dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tari aku mau minta sesuatu sama kamu. Aku harap kamu jangan marah. Bukankah kita sudah resmi pacaran. Aku sangat ingin bertemu langsung dengan kamu. Apa kamu mau menuruti permintaanku ini?" SMS Suryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kamu yakin mau bertemu denganku. Apa kamu sudah siap, Mas," balasan SMS dari Tari sedikit membuat Suryo heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja, aku yakin dan siap. Memangnya kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kamu yakin, aku akan tentukan tempatnya. Tapi apa pun itu, terimalah keadaanku apa adanya." Suryo lebih merasa heran membaca SMS terakhir dari pacarnya. Tetapi dengan penuh kemantapan bahwa tidak akan salah dengan pilihannya. Maka dengan langkah mantap dia akan menemui bidadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu menjadi hari penentuan bagi, Suryo. Dengan dandanan yang rapi, dan bau harum parfum yang menyengat dia langkahkan kakinya dengan mantap bak serdadu yang akan maju berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa kalau langkahnya diikuti kedua sahabatnya yang super penasaran ingin melihat kekasih barunya. Sesampainya di "DEE CAFÉ" jam tangannya masih menunjukkan pukul setengah satu. Sedangkan pertemuannya jam satu siang. Suryo memang sengaja ingin datang lebih awal karena dia tidak ingin terlambat sedikit pun. Menit demi menit berlalu, rasanya penan tiannya begitu lama. Kemudian dia dikagetkan suara SMS dari handphonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, nanti aku memakai baju warna biru." Detak jantung Suryo tidak karu-karuan. Rasanya dia tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana jika sudah bertatap muka langsung dengannya. Rasa rindunya seakan, tidak terbendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kalau diizinkan dia ingin sekali merangkul ataupun memeluknya. Bukankah itu pula yang dilakukan orang yang sedang mabuk asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam tangannya menunjukkan pukul satu siang lebih seperempat. Rasa putus asa, bercampur dengan kegelisahannya. Karena yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul. Akhirnya, dia putuskan untuk pergi. Tetapi sebelum dia melangkahkan kakinya, matanya bertumpu ke arah perempuan berbaju biru. Tubuhnya yang tinggi langsing, dan berwajah cantik. Berharap itu adalah sang bidadarinya, Suryo ingin segera menyambut kedatangan sang Dewi yang dinantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi harapan itu pupus seketika, tatkala perempuan itu berbelok dan menghampiri laki-laki yang duduk di sebelah mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kecewa kemudian dia beranjak dari mejanya. Sampai akhirnya niatnya itu diurungkan karena tiba-tiba suara yang sangat dikenalnya menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kaget Suryo memperhatikan perempuan berbaju biru di depannya. Masih tidak bisa berkata-kata, akhirnya dia hanya melongo memperhatikan perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, Suryo," ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangannya. Suryo hanya terpaku, dan menjabat tangan yang terulur di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana, Anda tahu nama saya. Tetapi rasanya saya pernah bertemu, tapi di mana, ya," jawabnya sambil sedikit kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mal. Saya yang waktu itu menanyakan lift."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, saya ingat. Tapi bagaimana Anda tahu nama saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayalah, pemilik nama Bathari Saraswati. Dan selama ini sayalah orangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Suryo terasa lemas. Mau bagaimana lagi, akhirnya penantiannya dan rasa penasarannya terjawab sudah. Bayu, benar. Dia telah dibohongi. Ternyata pertemuannya di mal itu tak lain hanyalah sebuah rekayasa. Dia menyesal terlalu cepat mengambil keputusan. Ternyata nama cantik itu telah membuatnya merasa tertipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak perjumpaan dengan Bathari, dia lebih banyak merenung di kamar. Handphonenya pun ikut dimatikan. Rasanya harapannya hancur, untuk membawa Tari dan memperkenalkan kepada teman-temannya. Bayu dan Paksi hanya tertegun menatap wajah sahabatnya yang merana karena, sebuah nama. Beberapa hari yang lalu, Tari mengirimkan sebuah SMS kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, Suryo. Saya tidak berniat membohongimu. Tetapi aku juga tidak akan memaksamu untuk menerimaku. Mungkin kita belum berjodoh." SMS itu membuatnya merasa bersalah. Dan tak berapa lama pula, dia membuka handphone-nya kembali. SMS yang dia kirimkan beberapa waktu lalu, masih tersimpan di ponselnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan aku, Tari. Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita. Aku mungkin bukan laki-laki yang terbaik untuk kamu."Suryo menutup lembaran kisahnya dengan melupakan nama cantik, Bathari Saraswati dari ingatan dan ponselnya. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-2617523540803552420?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/2617523540803552420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=2617523540803552420&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/2617523540803552420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/2617523540803552420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/07/niwi-krismawati.html' title='Niwi Krismawati'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-370466923286909708</id><published>2008-07-13T14:38:00.000+07:00</published><updated>2008-07-13T14:38:00.925+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sinar Harapan'/><title type='text'>Suadi Sulaiman Laweueng</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Perempuan Air&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Suadi Sulaiman Laweueng&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0702/bud1.html"&gt;Sinar Harapan&lt;/a&gt;, 2 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu terus memandang ke sekelilingnya yang telah porak poranda. Setelah kampungnya dibinasakan ombak, dia langsung turun dari gunung menelusuri jalan-jalan yang penuh kenangan, jalan pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, setiap jengkal rerumputan yang berdecakan karena basah embun yang belum tersentuh para penyadap getah. Hutan karet bapaknya yang terpaksa dijual ke seorang tengkulak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia pulang sendiri, seperti kedatangannya. Tanpa siapa-siapa. Hening hutan dan kicau burung parau mengantarkannya pada kenangan. Daun karet gugur dan sinar matahari menyusup panas. Dia menghela napasnya. Dihapusnya keringat yang meleleh membasahi jenjang lehernya dengan setangan yang dulu dibordirnya sendiri. Tak lama keluarlah nyanyian kecil dari mungil mulutnya. Pedih, pilu, sebuah sayatan diperdengarkannya kepada alam yang sedang memusuhinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mengaduh. Dia meratap pada kenangan masa kecilnya. Pada setiap embun yang membasahi sepasang kakinya. Sepasang kaki kelinci yang diburu dengan sebuah alasan. ”Mamak....” desisnya. Dia terjatuh. Bulir-bulir bening air keluar dari matanya. Dia menggeram. Perempuan itu menahan rindunya. Diraihnya sepotong kayu karet kering yang ada di dekat tangannya. Dia berusaha bangkit, jilbab hitamnya menggantung dan berkibar ditiup angin kematian. ”Sudah dekat,” gumamnya sembari melangkah lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kakinya melangkah pada rumput basah dan genangan air. Semua masih hening. Sama seperti ketika dia meninggalkan kampungnya tiga tahun lalu. ”Kampung kita akan semakin hening,” kata Zahra suatu ketika. Perempuan itu berhenti sejenak. Dia seperti dibingungkan oleh ingatannya sendiri. ”Inikah kampungku? Inikah?” dia masih bertanya pada diri sendiri. ”Lalu, lalu di mana pos penjagaan yang dulu berdiri dan membuat kami semua ketakutan? Membuat kami tidak aman untuk menatapnya, membuat semua lelaki dewasa di kampung kami pergi. Sehingga kampung kami menjadi kampung perempuan.” Memang, di pintu masuk kampung perempuan itu dulu ada sebuah pos keamanan yang dibuat justru bukan untuk membuat isi kampung merasa aman. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu berdiri di atas tapak sebuah bangunan. Disingkapnya celana panjangnya sehingga kelihatan betis putihnya. ”Lumpur, lumpur telah menenggelamkan keangkuhannya kini,” umpatnya. Diseretnya lagi kakinya meninggalkan bangunan yang ditutupi lumpur dan disesaki sampah. ”Kenapa hai laut? Kenapa kau karamkan juga kampung kami? Kenapa tidak mereka saja yang kau ambil. Pelan-pelan, pada suatu malam, bahkan diam-diam. Sebagaimana mereka telah mengambil lelaki-lelaki di kampung kami pada malam hari, dengan rapi untuk kemudian kami temukan lelaki-lelaki kampung kami itu mati. Terpuruk di lubang-lubang galian, dan pinggir-pinggir jalan.” Perempuan itu mulai marah. Matanya merah. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seonggok daging tanpa lengan menyembul dari balik reruntuhan meunasah. ”Alahai… teungku,” dia terperanjat. Perempuan itu mengenal mayat yang ada di depannya. Dengan sopan dibalikkannya sesosok tubuh yang sudah menngelembung itu. Matanya semakin merah. ”Hidup tidak membutuhkan orang baik sepertimu. Karena hidup adalah kejahatan. Karena hidup adalah kekejaman, istirahatlah teungku. Istirahatlah.” Tubuh renta yang sudah tak berlengan kiri itu diletakkan dengan sopan. Selembar isi kitab suci mengapung di lumpur, tak jauh dari tubuh ringkih sang teungku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di tempat yang sama, banyak orang yang kembali turun dari tempat pengungsian. Mengumpulkan sanak saudaranya yang tercerai-berai. Mengumpulkan apa saja yang masih bisa digunakan, daun pintu, gergaji besi, grendel, gayung, penggorengan, kursi plastik, vas bunga, frame foto, kopor, piring pecah…. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa pula mereka mengumpulkan ingatan-ingatan masa silam. Rumah, kampung yang damai, seperti ketika orang-orang berseragam itu belum datang, menginjakkan kaki mereka dan mendirikan pos keamanan tepat di depan pintu masuk kampung kami. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu bangkit. Usianya masih belia. Seharusnya saat ini dia sedang memasak kuah pliek* atau menumbuk emping sambil bersenda gurau dengan Zahra. Atau juga, menghiasi tangannya dengan inai pengantin. ”Di mana Zahra?” batinnya. Perempuan itu panik dan menyeret kakinya menjauhi puing-puing meunasah. ”Di mana rumahnya?”. Perempuan itu memastikan bahwa pancangan kayu yang ada di depan matanya adalah puing rumah panggung orang tua Zahra. ”Tidak mungkin. Itu sudah tiga tahun yang lalu,” dia menggelengkan kepalanya. Sebuah boneka tergeletak basah oleh lumpur, kemudian dipungutnya. Matanya basah. ”Seandainya kau ikut aku…” katanya mengelus wajah boneka itu seraya beranjak dari tapak rumah Zahra. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Matanya merah saga. Dendam semakin jelas membara di sana. Di singkapnya selendang hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Keringat mengalir, membasahi kerah kemejanya. Dia berjalan tak tentu tujuan. Kampung itu telah rata. Bahkan pohon melinjo yang rindang dan menyemaki kampung tak satu pun lagi terlihat. Rumah-rumah panggung tinggal onggokan puing-puing monumen. Arca memoar bisu yang memendam seribu kisah. Bahkan jauh sebelum air naik dan menenggelamkannya. ”Di mana rumahku?” perempuan itu masih tak habis pikir. Seharusnya, setelah dia sampai di tiang listrik ketiga dari meunasah, dia akan menemukan rumahnya. Tapi tak ada. Bahkan tiang listrik ketiga itu sudah hilang tak berbekas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para tetangga mondar-mandir di hadapannya. Perempuan itu mengenal mereka. Namun semuanya terlihat sibuk mengumpulkan jenazah kerabatnya. Ada yang membawa sepotong kepala, ada yang membawa betis, ada yang membawa lengan kiri. Potongan-potongan tubuh itu dipungut, seperti batang jagung. Tak satu pun di antara mereka saling berbicara, sekedar mempertanyakan kabar masing-masing. Sebab mereka tahu, semua sedang mencari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebilah rencong terlihat menyembul dari pinggangnya, ketika perempuan itu membungkukkan badan. ”Di mana emak? Di mana rumahku? Di mana tanahku? Di mana Zahra? Di mana orang-orang semua?” kutuknya pada lumpur yang kini digenggamnya? Tak ada suara lain yang terdengar di sana, kecuali suara ombak laut yang kian jelas dan masih menyimpan amarah. ”Bagaimana mungkin hai laut, sekarang kau ikut memusuhi kami? Bagaimana mungkin hai laut, kami yang selalu bersyair untukmu kau gulung dalam gelombang lumpur? Apa maumu?”. Disapunya lumpur yang ada di genggamnya ke seluruh wajah. Hingga wajahnya hitam, sehitam jilbabnya. ”Sekarang aku juga benci kau! Aku benci kau laut!!!” teriaknya. Hening. Semua hening. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku ada di sana. Tepat ketika suatu malam terdengar suara letusan. Bapaknya mati. Bapak perempuan itu mati bersimbah darah. Tak ada yang mau membuka pintu. Siapa tahu? Tidak ada yang tahu malam ini giliran siapa yang harus mati. Ataupun diambil untuk kemudian ditemukan mati pada keesokan harinya. Atau bahkan tidak pernah ditemukan lagi sama sekali. Tidak ada yang tahu. Tapi aku tahu. Sebab aku ada di sana malam itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka perempuan itu naik ke gunung. Mencabut rencong dan mengujamkannya ke bumi. ”Emak!” teriaknya. Perempuan itu teriak ketika dia memastikan bahwa yang ada di samping kakinya adalah foto emaknya. Perempuan tua dengan kerut-kerut wajah yang muram. ”Emak!!” teriaknya luka. Ada ribuan orang yang teriak emak di saat yang sama. Tapi hening. Cuma suara ombak laut yang terdengar kian jelas. Di hapusnya lumpur yang melekat di frame foto hitam putih itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Di mana aku harus mengejar ombak? Di mana aku harus mengejar ombak? Di mana aku harus mengejar ombak?” teriaknya sambil mencabut rencongnya yang terendam lumpur. Luka hatinya semakin lebar. Pedih jiwanya semakin nyata. Perempuan itu berlari meninggalkan tapak rumahnya, meninggalkan penggalan-penggalan cerita lama. Dihunusnya rencong, disambutnya suara ombak yang menderau. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mendengar kisah perempuan itu lagi. Sejak pertemuan terakhir kami di antara reruntuhan puing-puing kampung tempo hari. Mungkin dia telah hilang kini. Bersama amarah ombak yang membuncah dan melumat segala sumber kesedihannya. Mungkin juga dia akan kembali lagi nanti. Dengan sepasang mata yang saga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak lagi larut dalam pencarian rumah dan emaknya. Mungkin dia kembali dengan niat dan cita-cita yang sama ketika dia mengawali kisahnya sebagai manusia gunung. Mungkin saja. Kenapa tidak? Selalu akan ada orang yang naik ke gunung dari kampung kami. Dan selalu ada yang turun kembali. Walau apa pun yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh, 22 Januari 2005 &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*Sayuran khas Aceh yang terbuat dari santan kelapa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-370466923286909708?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/370466923286909708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=370466923286909708&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/370466923286909708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/370466923286909708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/07/suadi-sulaiman-laweueng.html' title='Suadi Sulaiman Laweueng'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-4577076252218220320</id><published>2008-07-07T14:22:00.000+07:00</published><updated>2008-07-07T14:22:01.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lampung Post'/><title type='text'>Diani Savitri Yahyono</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Wakil Rakyat&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Diani Savitri Yahyono&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;em&gt;&lt;a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008053114175711"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, Minggu, 1 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;MALAM itu, Suhaimi tiba di rumah dengan gelisah. Ada masalah yang membuat resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, tas laptop dan map kerja tak dihiraukan. Sopir yang sudah menghamba lama akan membawanya. Yang tidak biasa, wajah tegang Suhaimi. Matanya yang biasanya menyorot tegas penuh percaya diri, malam itu bersaput galau dan risau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangannya di pintu rumah disambut oleh pembantu rumah tangga berseragam putih-putih. Suhaimi menolak tawaran makan malam tanpa bicara. Si pembantu menaati dalam sunyi, mensyukuri dalam hati makan malam penuh citarasa yang akan jadi santapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhaimi menapaki kilat lantai rumah dalam diam. Langkahnya berteman ketuk bunyi sol sepatu Italia dengan marmer dari negara jauh yang sama. Setiap geraknya adalah semedi pikiran. Dituntun kebiasaan, ia memasuki kamar bersejuk udara yang kontras dengan panas malam jelang kemarau. Mengambil baju ganti di lemari. Mengucurkan air mandi. Membersihkan lekat peluh. Mengeringkan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari kamar mandi dalam kamar tidur mereka, Suhaimi mendapati istrinya tergolek di kasur mewah mereka. Sewaktu Suhaimi masuk kamar tadi, alas kasur masih tampak licin dan dingin. Suhaimi tak terkejut dengan keberadaan istrinya yang seringkali tiba-tiba. Atau sebaliknya, ketidakadaannya yang kerap tidak dapat direka. Sudah biasa bagi mereka untuk ada di antara tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang baik-baik aja, kan? Kenapa nggak makan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lestari, si istri yang cantik menarik, menyelonjorkan kaki sedemikian rupa agar Abang Suhaiminya melihat jenjang tungkainya. Gaun tidurnya berrenda ungu muda, dan sengaja disingkap hampir ke tengah paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lestari berusia di awal tiga puluhan, tapi berpenampilan setidaknya lima tahun lebih muda. Ketelatenannya melakukan rupa-rupa rawat diri mengizinkannya untuk tidak segera beranjak tua. Ini dipercaya sebagai bagian dari siapa dia, kalau tidak tampil jelita dan mendekati sempurna, bukan Lestari Suhaimi namanya. Ini juga tindak pengamanan. Kerap, ada gunjingan galib perselingkuhan pria-pria ibu kota, terutama yang sesukses suaminya. Gaun tidur ungu muda yang tersingkap hampir ke pangkal paha, adalah usaha untuk memastikan suaminya tetap tertawan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi Lestari sedang membaca majalah gaya hidup edisi terakhir di ruang baca mereka. Dapat laporan pembantu bahwa tuan rumah tidak berkenan makan malam, Lestari mengurungkan niatnya. Toh, agak jenuh juga ia pada majalah-majalah tersebut. Sudah beberapa lama mereka tidak memuat namanya, sejak keterlibatan terakhir di malam dana yang digelar partai suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijawab hening, kening Lestari mengerinyut tidak suka. Pandang Suhaimi tidak juga menyapa langsat kulit kakinya. Tapi disabarkan hatinya. Belakangan, harus dibiasakannya bersikap hati-hati pada Suhaimi. Ia ingin mereka terus menjadi, dan terlihat, sebagai pasangan idaman. Sebagaimana sebagian publik dan media mulai menamakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak sudah tidur, tadi tungguin Abang tapi rupanya keburu ngantuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti aku saat ini! pikir Lestari kesal namun dengan paras tetap tampak tulus sabar. Sesegera diyakininya Abang Suhaiminya tidak aneh-aneh, akan segera tidur saja ia. Delapan jam harus dipastikan, bila tidak ingin khawatir mengalami penuaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhaimi menimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, dipikirnya akan gamang untuk berbagi rasa dan kata pada Lestari. Sudah makin jarang mereka bertukar sapa. Sibuk dengan kegiatan yang berbeda. Baginya: rapat, lobbying dan networking di aneka dialog kebangsaan, seminar, acara seni dan budaya. Bagi Lestari: arisan, undangan peluncuran produk kecantikan, mengunjungi pusat kebugaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, berbalik ia dengan keputusan lain. Dipikirnya untuk masalah ini mungkin Lestari bisa mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka beranjak dari dasar yang sama. Berdua mereka tadinya aktivis pelajar, dan dipertemukan karenanya. Utusan universitas terkemuka untuk bicara dengan para wakil rakyat, di saat bangsa bergejolak di akhir suatu Orde Baru. Di saat itu mereka bertemu. Di saat itu, mereka adalah wakil suara rakyat. Saat itu, mereka bersama untuk satu tujuan mulia. Kedaulatan untuk rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhaimi lalu putuskan untuk, kali ini, berbagi cerita. Hal yang telah lama tidak mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari cerita bahwa perusahaannya berencana membeli sebentuk lahan yang belum juga terbebaskan, untuk pembangunan gedung arena belanja dan hiburan malam. Sayangnya, izin dari yang berwenang, belum di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada banyak harapan tertumpu padanya. Dengan serangkaian rekan di jajaran pemerintahan, dengan begitu banyak kenalan, Suhaimi diminta meluruskan jalan. Suhaimi memang bukan hanya profesional sukses. Dengan rekam jejak sebagai aktivis mahasiswa, kini sudah beberapa tahun ia bergabung dengan sebuah partai politik. Di sana, sudah lagi ia diusung sebagai salah satu kader yang dijagokan. Jejaring dan rekanannya merambah di aneka arena seperti virus tanpa obat tangkal. Diceritakan Suhaimi kian cepat dan bersemangat, betapa sesungguhnya ia menentang rencana itu. Rencana pembelian tanah dan pembangunan gedung itu ada begitu banyak cela. Pendanaannya mencurigakan. Kepastian hukumnya meragukan. Skema ganti ruginya penuh ketimpangan. Analisa dampak lingkungan yang akan penuh kecurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pamungkas, diceritakan rencananya esok pagi di rapat khusus petinggi perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan mengundurkan diri dari proyek ini, kata Suhaimi. Aku pernah menjadi wakil rakyat, bukan? Aku pernah menyuarakan kepedihan mereka, dulu. Aku tidak mau menyebabkan kepedihan yang lain, sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seleret senyum puas terbentang di wajah Suhaimi. Untuk beberapa saat ia yakin idealisme masa mudanya, kemurnian daya belianya, merasuki dirinya kembali. Begitu hangat dirasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening di akhir cerita Suhaimi diisi oleh dengung lirih pendingin ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhaimi sadar ia tidak mendapat tanggapan dari istri cantiknya. Ia mencari tatap Lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didapatinya mata yang sinarnya menembus dingin ke relung hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang sempat baca undangan di meja kerja Abang? Resital piano Prameswari minggu depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhaimi terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang perhatikan, Maharani makin fasih berbahasa Inggris? Ia finalis termuda, di final kompetisi baca puisi bahasa Inggris 2 minggu depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhaimi merasa seperti tertelan perlahan di pusaran mata Lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikan itu mahal, Abang. Pendidikan yang baik, terlebih lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lestari, bukan lagi seorang aktivis pelajar, tapi ibu rumah tangga berkecukupan. Tujuan mulia yang diyakininya adalah kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan menyingkirkan Abang. Menurut Abang, kenapa mereka menyukai Abang selama ini? Ambisi Abang. Lingkaran pertemanan Abang. Sekarang, Abang akan segera dibuang. Percaya padaku. Suara Lestari tegas teratur. Nadanya sama seperti yang dulu memikat Suhaimi, mendengarkan Lestari muda membacakan tuntutan mahasiswa di gedung wakil rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ucapannya yang terakhir Lestari berbalik di pembaringannya membelakangi Suhaimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokannya, dalam rapat kantor Suhaimi duduk dengan tatapan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta rapat lain tampak antusias dan bersemangat. Pagi ini, mereka akan membentuk kesepakatan akhir dari rencana pembelian lahan. Suara mereka keras dan lugas. Bagai dengung ribuan lebah yang menusuk-nusuk kepala Suhaimi dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Suhaimi berkata keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak perempuan pertamaku finalis termuda lomba puisi bahasa Inggris. Anak keduaku mengikuti resital piano. Jadi, ayo teruskan semua ini! Ayo bertemu dengan pejabat yang berwenang. Ayo rebut tanah rakyat, untuk keuntungan perusahaan kita!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengung ribuan lebah berhenti hampir bersamaan. Peserta rapat terperangah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, direktur utama tenang mengamati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, setelah beberapa saat, "Anak muda, semangatmu menakjubkan. Kami sungguh bangga memiliki Anda bersama kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, mereka tertawa. Bertepuk tangan. Sebagian, memukul-mukul meja. Pria di sisi kanan dan kiri Suhaimi menepuk-nepuk bahunya dengan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keramaian, Suhaimi merasakan sesuatu padam dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia rasakan idealisme masa mudanya, kemurnian daya belianya, meninggalkan dirinya. Selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dingin terasa.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-4577076252218220320?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/4577076252218220320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=4577076252218220320&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/4577076252218220320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/4577076252218220320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/07/diani-savitri-yahyono.html' title='Diani Savitri Yahyono'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-228591252345819415</id><published>2008-07-04T15:07:00.000+07:00</published><updated>2008-07-04T15:07:01.283+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Palti R Tamba</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Pembeli&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Palti R Tamba&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 1 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LELAKI itu tak ingin diganggu memerhatikan daerah-daerah di kiri kanan jalan Pulau Samosir itu. Di tangannya tergulung koran terbitan Jakarta empat hari lalu. Koran itu memuat liputan mengenai kabupaten pulau itu dengan ibukotanya Pangururan. Berita itulah yang telah menumbuhkan pertanyaan dalam dirinya: Ingatkah kau akan toko buku di kota itu, Polmer?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, Pangururan itu adalah ibu kota kecamatan. Dijuluki sebagai kota pelajar karena banyak sekolah bermutu. Terutama, SMP Budi Mulia. Yang bersekolah di situ, berdatangan juga dari Tebing tinggi, Pematang-siantar, Kisaran, Tanjungba-lai dan Tanah Karo. Bahkan dari Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu ada pekan di kota itu. Dermaga dipadati kapal- kapal dan bot. Jalan-jalan kota disesaki minibus dengan penum-pang berjubel, sepeda, sepeda motor, dan para pejalan kaki. Kota itu pun tumpah ruah oleh para pedagang dan pembeli, tukang-tukang obat di pinggir jalan, maupun anak-anak sekolah. Pada hari itu, anak-anak asrama Budi Mulia - selepas sekolah -- dibebaskan ke pekan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itulah anak-anak asrama itu berkesempatan bertemu orangtua mereka. Bila awal bulan, anak-anak itu akan mendapat bekal bulanan: beras dan uang. Sebagian orangtua mengantarkan bekal itu ke asrama. Ibu Polmer pun mengantarkan bekal Polmer ke asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya seorang diri me-nafkahinya dan empat adiknya. Bapaknya meninggal saat ia kelas lima SD, karena kecelakaan bus di Tele. Polmer membawa surat pengantar dari pastor paroki untuk bisa bebas uang sekolah dan tinggal di asrama tanpa membayar serupiah pun. Ia tak mempunyai uang saku yang cukup dibanding teman-temannya. Karena itu, ia mesti pandai mengatur pendapatanya hingga habis bulan. Tapi ia tak merasa kecil hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetaplah bersyukur pada Tuhan bagai-manapun ke-adaanmu!" kata pastor paroki, yang selalu diingatnya. Tapi banyak orangtua memilih bertemu anak mereka di pekan itu. Bila orangtua mereka sebagai pedagang kelontong maupun pedagang hasil-hasil bumi, tetap saja akan bertemu di pekan itu meski pun tengah atau akhir bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, anak-anak asrama yang berasal dari kota-kota besar sekadar jalan-jalan dan jajan saja. Orangtua mereka mengirim uang lewat wesel kantor pos atau lewat bank. Tapi Mahyudin Manurung yang anak Medan itu, lain. Ia lebih memilih membaca di kamarnya. Kalau ia ke pekan itu, pasti mampir ke toko buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, di jalan ke utara kota itu ada sebuah toko buku. Lokasinya, masuk gang. Sekali Rabu, Mahyudin mengajak Polmer ke situ. Baru kali itulah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polmer mengunjunginya. Ada dua toko buku yang diketahuinya di jalan pusat kota, namun menjual alat-alat dan buku tulis serta buku-buku pelajaran sekolah saja. Tapi, di toko itu, selain peralatan dan buku sekolah, menjual buku-buku lain juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ, ada buku tebal yang menarik hati Polmer, tapi harganya tak terjangkau kantongnya. Lebih mahal lagi dari buku-buku pelajaran yang ada. Beruntung Polmer memakai buku-buku dari kakak sepupunya. Seperti Mahyudin, Polmer juga suka membaca. Mahyudin meminjaminya buku-buku. Mereka sekelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari-hari Rabu ber- ikutnya, Polmer ke toko buku itu dengan atau tanpa Mahyudin. Buku-buku yang walaupun terbungkus plastik, selalu ada satu sebagai buku contoh. Tapi, buku tebal itu satu saja, terbungkus plastik. Ia hanya bisa membaca judulnya dan melihat harganya. Tiap kali memegangnya, ada janji dalam hati untuk membelinya. Ia berharap tak ada orang lain yang mendahuluinya. Dan keinginan itu ia simpan rapi dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Polmer mengangankan buku tebal itu. Sebagai anggota redaksi majalah dinding sekolah, ia ingin sekali memilikinya. Nasihat guru bahasa dan sastra Indonesia kepada mereka untuk rajin membaca, memacu keinginannya. Maka pada bulan kesepuluh tahun itu juga, Polmer memutuskan memakai uang sakunya ditambah dengan uang sisa sebelum-sebelumnya, untuk membelinya. Ia sudah hafal harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di toko buku itu, Polmer langsung menuju rak tempat buku itu. Dengan bangga, ia bawa buku itu ke kasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang, Nak..." kata si bapak, pemilik toko buku tersenyum setelah menghitung ulang uang dari Polmer. Polmer segera membalikkan buku itu untuk melihat label harganya. "Ma-maaf, ya, Pak....," katanya, malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada kenaikan harga, Nak.... Kami tak bisa apa- apa...!" kata si bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polmer pun pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian, Polmer kembali ke toko buku itu. Ia menawar buku itu. Tapi tak bisa. Ia memohon membayar buku itu dengan mencicil. Tapi tidak boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi tolong, ya, Pak," Polmer berharap. "Jangan dijual dulu. Aku pasti datang membelinya besok atau lu-sa....!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bapak bersitatap dengan Polmer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong, ya, Pak," ulang Polmer. "Aku pasti datang besok atau lusa...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bapak mengangguk. "Ya, ya.... Semoga memang rezekimu, Nak...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polmer pun pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak lama berselang, si pemilik toko itu menegun. Aku pasti datang membelinya besok atau lusa! Ah! Di-bayangkannya mata Polmer. Oh!... Lalu ia berlari ke pintu. Biarlah ia bawa buku itu, tak soal berapa ia bayar...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Pak...?" tanya seorang gadis remaja berbarengan dengan seorang pegawai toko buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang itu mencuri buku kita...?" kejar putrinya itu, di sisi bapak itu."Tidak...tidak..," kata si bapak. Matanya mencari-cari Polmer. Namun tak melihatnya lagi. "Mmm... tidak ada apa-apa...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEGITULAH. Ada-ada saja pengeluaran Polmer tak terduga. Kadang kala, ia sampai meminjam uang Mahyudin. Kegiatan belajar pun makin menyita waktu. Lama-kelamaan, ia lupa akan buku itu. Sampai ia kemudian tamat dari sekolah itu. Sampai ia juga melanjuti ke sekolah serupa di Pematangsiantar dengan rekomendasi pastor paroki. Sampai ia pun bisa kuliah di Medan dengan rekomendasi pastor paroki. Sampai ia bekerja, menikah, dan tinggal di Jakarta. Sampai ia telah memiliki dua anak: Partahi Hasiholan, kelas 11 dan Boru Hasian, kelas 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEGITULAH. Si bapak pemilik toko buku itu menunggu Polmer datang. Tapi hanya dua kali itu mereka bertemu. Sampai ia membuat tulisan di sepotong kertas di sampul depan buku itu. Sampai anak-anaknya me-nikah. Sampai ia telah mempunyai cucu-cucu. Sampai kemudian ia lupa rupa Polmer....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LELAKI itu menyuruh sopir menepikan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kampung Ompung kan di seberang danau, kenapa berhenti di sini, Pa ...?" tanya Boru. "Aku pengen kita cepat sampai. Aku mau tanya Ompung saja kenapa kita datang lebih awal...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Papa, mau ke mana...?" lanjut Hasiholan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu turun. "Ya, menghilangkan kepenatan dululah sebentar...!" jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu pun memerhatikan bangunan-bangunan yang ada di sepanjang jalan itu. Ia melihat banyak yang telah berubah. Perasaannya dihinggapi ingatan-ingatan semasa di kota itu. Ia memasuki gang itu. Istri dan anak-anak menyusulnya. Namun toko buku itu tak ada lagi. "Sudah pindah, Pak," kata seorang anak, sembari menunjukkan lokasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOKO buku itu luas, kini. Mata lelaki itu menjelajahi etalase-etalase dan semua rak Akhirnya, matanya menempel pada sebuah buku tebal. Langkah kakinya menyusul keinginan matanya ke etalase di pojok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu tetap berbungkus plastik. Plastiknya sudah tua. Sepotong kertas direkatkan di bawah judul buku itu. Kertas itu pun sudah kekuningan. Ada tulisan di kertas itu, begini: TIDAK DIJUAL (dengan huruf cetak dari spidol warna hitam). Tulisannya juga sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis remaja yang menjaga toko buku itu, menghampiri lelaki itu. Berikutnya, ia dihampiri istri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh saya lihat buku itu...?" lelaki itu menunjuk. Mata istri dan anak-anaknya mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja itu mengeluarkan buku itu dari dalam etalase. Lelaki itu memegangnya sambil meniup debu-debu di bungkus plastik buku itu. Remaja itu mengambil kain majun dan melap buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa harganya...?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja itu memperlihatkan label harganya. Lelaki itu mengangguk. Istri dan anak-anaknya memperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Papa kan sudah punya kamus besar bahasa Indonesia edisi disempurnakan? Buat apa ini...?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar kata Mama, Pa...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya membelinya...!" Le-laki itu mengeluarkan dompet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, Pak buku ini tidak dijual..." kata si remaja menunjuk tulisan di sepotong kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu, istri dan anak-anaknya membacanya secara spontan. Pelan. Terdengar bersamaan. Lalu, si remaja memasukkan buku itu dalam etalase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa pun harganya, akan saya beli...!" kata lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata kakek buku ini tidak dijual, Pak...." ulang si remaja, lebih lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak dijual ya...?" tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata kakek pembelinya sudah ada. Cuma belum datang mengambilnya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah ada pembelinya...?" tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si remaja mengiyakan. Lelaki itu saling pandang dengan istri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai sekarang buku itu belum diambil...?" tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si remaja mengiyakan lagi. Istri dan anak-anak dari lelaki itu saling pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adik tahu kenapa sampai sekarang buku itu belum diambil...?" tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si remaja menggeleng. "Entahlah, Pak. Kakek tak memberitahu kami...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma-af, Dik.... Apakah Kakekmu itu masih ada...?" tanya lelaki itu lagi. Istri dan anak-anaknya memperhatikannya sedemikian rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada. Di ruang dalam, Pak...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma-af, Dik.... Boleh dipanggil sebentar...?" tanya lelaki itu sekali lagi. "Karena saya ingin sekali membeli buku itu sekarang...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si remaja mengangguk. "Silakan tunggu, ya, Pak...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mengangguk. Di dalam dada, ada semacam gemuruh mengaduk-ngaduk. Ia datang seperti untuk membeli sepotong kenangan. Matanya berkaca-kaca. Tapi dengan sigap dibersihkannya. Dibayangkannya, masih banyak anak-anak seperti dirinya dulu yang tak mampu membeli buku karena harganya yang mahal. Di sebelahnya, istri dan anak-anaknya tak habis pikir atas apa yang dilakukannya. Namun, ia berjanji dalam hati akan menceritakan semua ini kepada mereka, nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cikarang Selatan, Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-228591252345819415?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/228591252345819415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=228591252345819415&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/228591252345819415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/228591252345819415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/07/palti-r-tamba.html' title='Palti R Tamba'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-113325398579650349</id><published>2008-07-01T14:47:00.001+07:00</published><updated>2008-07-01T14:56:04.133+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sinar Harapan'/><title type='text'>Ahmad Muchlish AR</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;SAMPAN &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Ahmad Muchlish AR&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0716/bud1.html"&gt;Sinar Harapan&lt;/a&gt;, 16 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun yang lalu, Ayah dan Ibuku meninggal di laut; apabila aku kangen padanya, mengharap belaiannya, aku segera berangkat ke laut karena Ayah dan Ibuku adalah laut itu sendiri.* Kudapati angin, udara, camar, ombak dan buih telah mempelajariku hidup dan bergaul. Atau bahkan pernah aku enggan pergi ke laut karena dalam pikiranku muncul bahwa laut adalah kekejaman. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, orang-orang pesisir utara pergi ke pantai Legung untuk menjemput kedatangan para nelayan. Anak-anak mereka, wanita-wanita berdandan, istri-istri mereka menjemput kedatangannya di pantai. Aku bersama Ibu juga datang di antara pergumulan mereka, menanti ayah yang melempar sauh ke pulau jauh; harapanku, ayah membawa ikan yang banyak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terus kupandangi biru laut bertaut, melihat sampan yang terus berdatangan. Sampan Juhinx (julukan sampan milik Pak Matrak) telah berlabuh di bibir pantai dengan membawa 2 ton ikan, istri-istri mereka tersenyum manis, menyambutnya dengan gembira, sesekali gelak tawa. Juga sampan Konir (julukan sampan milik Nom Sapura) menyusul berlabuh, membawa ikan 1 1/2 ton. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu banyak bermunculan sampan-sampan berlabuh. Namun, Ayahku belum juga datang, tak berbunga dalam pandangan, walau tatap tak henti tergilap, camar mencelupkan sayapnya ke laut, senyum-senyum para perempuan semakin tawar setelah suaminya datang dengan perolehan yang mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun kami berdiri cemas di bawah pohon cemara pantai itu, bersama Ten Suparmi (istri Shaleh), Suriyani (istri Mahfud), Suhartini (istri Addul) teman-teman Ayahku; bila pagi mereka pulang dan di sore hari mereka bersiap-siap berlayar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan kami lantaran sampan tak kunjung datang, sedangkan sampan-sampan yang lain telah berlabuh di pantai. Kami khawatir, mereka terancam derum ombak dan gelombang, terjungkir atau karam di tengah laut-gemelut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Matahari sejengkal di atas ubun-ubun dan sampan kami tak juga terpajang di pandangan. kami menghampiri Man Surahbi yang juga nelayan, barangkali di tengah laut ia bertemu sampan Osoy milik ayahku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, aku tidak bertemu!" tandasnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Segera kami temui Pak Matrak teman dekat Ayah. Ia sedang duduk bersama keluarganya di gugusan pasir menggunung, ia menjawab sama—tidak bertemu— mata kami berkaca-kaca, rasa cemas semakin menggumpal, air laut semakin asin di darah, getir ombak menerjang dada, angin melerai rambut kusut kami, sesekali menerbangkan kerudung yang tersaung di leher Ten Suparmi. Gundah gulana, gelisah cokelat tua di kening-kening kami, ke mana mereka tak datang hari ini? Akhirnya kami pulang dengan rambut pirang. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menjelang sore, tersiar kabar tentang tenggelamnya sampan Potre Koneng (Milik Massuri). Panik. Keluarganya mengutus lima sampan untuk mencarinya, menjelajah selat Masalembu dan Gili, mereka menyisir lautan. Kelima sampan itu dipimpin oleh Durahmat, seorang nelayan yang terbiasa menyelam dan berenang di laut tanpa alat, dia punya kekuatan insang ikan karena gendang-gendang telinganya terkubang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semalaman, Durahmat mencari sampan Potre Koneng di laut Masalembu, berkeliling, memperhatikan setiap benda yang mengapung, patahan-patahan kayu, tiang layar yang terbuat dari bambu. Tak ada. Durahmat melompat ke laut melawan arus, pinggangnya di tali tampar, berenang di antara belahan-belahan ombak yang tersibak. Sebelum menyelam, Durahmat memberi kode—apabila ia sedang panik atau sedang khawatir, ia akan memijit tombol yang menyalakan bunyi ke permukaan--Di atas sampan Matrabi dan Suparmo menjaga dan memegangi tampar itu, keduanya berdiri di samping mesin sampan itu, bersiap-siap; jika terompet melengking kencang berarti tampar harus segera di hambar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sampan itu terus berkeliling di Pulau Masalembu, Durahmat mengapung. Ah! tak menemukan bekas. Deram angin semakin keras, ia naik lagi ke sampan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Kita menunggu kabar saja" ucap Durahmat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Jangan. Harus kita cari sampai ketemu," bentak Matrabi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Mau dicari ke mana? Di dasar laut tak ada puing-puing pertanda ada sampan terselam. Tak juga ada mayat yang mengapung. Mungkin telah dibawa arus, entah ke mana?" tegas Durahmat sembari merogoh botol Kratingdaeng yang masih penuh. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Tugas kita bukan untuk menemukan, tapi berusaha. Besok atau lusa pasti sudah ada kabar dan mayat-mayat mereka pasti akan mengapung" tegas Suparmo. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Matrabi diam, matanya berkolong ke laut, menatap buih yang terserai menyebar, ombak mulai lirih, air laut tenang. Akhirnya mereka pulang. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, kami kembali mencagak di pantai, merapatkan pandang ke laut, hangat dingin badan, Ah! Matahari menelusup di balik laut, bianglala menggantung mengundang desah pantai pagi itu. Mata kami menampakkan garis-garis yang terang; garis ombak melempar sampan dan jejaringnya yang dilepas para nelayan. Kami tak melepaskan mata; mematung, menantinya yang belum pulang dari pulau-pulau yang jauh. Matahari semakin tinggi sampan itu tak juga kelihatan, sesekali kening Ibu mengkerut dan wajahnya tampak semakin cemas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian, seperti ada bayang-bayang sampan di penglihatan, kami terus memperhatikan satu titik sampan di jauh pandang itu, muka Ibu mulai menampakkan gembira, Ibu meyakinkan bahwa satu titik yang jauh dalam penglihatannya adalah sampan kami--Kami pun mencoba meyakinkan bahwa sampan kami segera datang, kibar layar mulai terlihat di titik kecil itu. Senyum Ibu semakin lebar, juga ten Suparmi, Suriyani, Suhartini, degup dadanya semakin berhambur ke permukaan. Kami nyanyikan lagu laut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Bila layar berkibar&lt;br /&gt;Angin sepoi memberi kabar&lt;br /&gt;Sauh sudah selesai dilempar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila layar berkibar&lt;br /&gt;Suara parau samar terdengar&lt;br /&gt;Sauh diangkat jejaring penuh ikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila layar berkibar&lt;br /&gt;Isteri mematung di bibir pantai&lt;br /&gt;Nelayan pulang hatinya berdebar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nyanyi kami berkumandang, sampan itu lambat laun mulai mendekat dan kelihatan semakin besar, tiba-tiba Ibu berteriak histeris memutuskan nyanyi sunyi kami di pantai, kami belum mengerti, mengapa ibu tiba-tiba begitu? Ibu menatap sampan yang terus mendekat, Ibu menohokkan pandang. Ya, bendera sampan kami---terbalik--- &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mata kami berkaca-kaca melihat Mahfud, juru mudi sampan itu melempar tampar ke pasir; mau berlabuh. Sementara Addul membopong seorang yang telah lemas, kulitnya pirang, kerut kening Addul menyapa kami seolah-olah memberi tahu "telah tiada". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teriakan histeris kami semakin keras, ombak membanting sampan yang kandas, Addul segera membawa seorang yang dibopongnya ke pinggir. Siapakah di antara empat orang &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;itu yang "telah tiada"? Addul turun dari sampan, menyusul Shaleh, kemudian Mahfud, ketiganya meletakkan mayat itu di atas pasir, siapakah yang dibopong Addul? Ayahku? Aku segera mendekat, melongok pada mayat yang mengembang, putih seperti kapur, mukanya tak jelas. Ibuku tersedu di samping mayat Itu. Ke mana Ayahku tak kunjung kelihatan? Ternyata orang itu adalah teman Ayahku seorang juru mudi sampan Potre Koneng. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Sekitar Jam 12.00 kemaren, Kak Sahnawi hilang ketika menolong Martaji, di laut Masalembu. Saat itu, Sampan Potre Koneng menabrak karang dan ketepatan kami bersamaan. Setelah sampan itu bocor, ombak menerjang sekeras-kerasnya bahkan saat itu sampan kami sempat oleng. Akhirnya kami menarik lagi sauh yang telah kami lempar. Shaleh, Mahfud juga sempat turun untuk membantu mereka, namun kelihatan arus sumur bersiap mengubur, shaleh dan Mahfud naik lagi ke sampan, demi menjaga keselamatannya" jelas Addul sembari menatap gugusan buih yang terlmpar, orang-orang berdatangan &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Mayat ini mengapung ketika kami mencari kak Sahnawi," &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang berkerumun mengangkat mayat Martaji, sebagian diantara mereka mengelilingi Addul, bertanya tentang kehilangan Ayahku, terselamnya sampan Potre Koneng. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hah! Ayahku hilang, tak lagi terpajang dalam pandang. Ke mana? Ke mana aku akan mencari ayahku? Mengapa Addul, Shaleh dan Mahfud pulang jika ayah tak jua datang? bukankah satu hilang yang lain juga hilang? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibu pun bertungku disamping Addul, matanya bergerimis, bau amis berserai di dadanya, aroma ayah terhisap Ibu ketika angin melerai rambutnya dan ombak menakar buih ke pantai. Ia tidak tahu, Ayah akan di cari ke mana? telah dimakan ikan? Tubuhnya terkeping-keping atau bahkan hancur berantakan? Tidak tahu. Addul terus menceritakan kejadian itu hingga jerit dan tangis histeris berkelindan di pantai; riuh. Lebih riuh dari derum ombak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibu tidak tega mendengar cerita Addul, rasa meringis di dadanya menggemuk, kemudian Ibu lari ke Sampan, ia menghidupkan mesin, aku mengejarnya, menghalanginya; namun Ibu tetap mengoperasikan sampan itu, menjalankannya, Ibu mau berlayar ke mana? Ke pulau yang jauh? Entah! Orang-orang di pantai semuanya berdiri; kaget. Addul dan Shaleh lari menghampiri kami, sampan itu berangkat dengan cepat. Kami berlayar bersama Ibu ke pulau yang jauh. Butiran demi butiran terus mengalir dari mata Ibu, ia berdiri di dekat tiang, sembari memegang Pancer. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh ke belakang, kulihat sampan. Addul, Shaleh, Durahmat mengejar kami, setelah sampan mereka mendekati sampan kami--tiba-tiba di tengah laut yang luas itu, Ibu melompat.&lt;br /&gt;"Toloong! Toloooooong!" aku berteriak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat ketiga orang di atas sampan itu melayangkan badannya, suara debur melolong. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Cepat tolong! Ibu" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga orang itu mencoba membopong Ibu dalam laut, ia terus berusaha melepaskan dari pangkuan ketiga lelaki kekar itu; lepas. Ibu bergusar dalam air. Aku mengikat kedua sampan itu, ombak raksasa datang tiba-tiba, Durahmat, Addul, Shaleh membopong Ibu ke atas sampan, Ibu lemas, matanya terpejam, perutnya mengembung, nyawa di kerongkongan; Ibu telah memberanikan diri melompat ke laut, ia akan menghabiskan sisa hidupnya di laut. Ah! Karena ayah telah hilang, ia ingin menjumpainya, ingin berbulan madu lagi di antara gugusan karang dan rumput-rumput di dasar. Ia berwasiat, aku menunduk; ia mengungkapkan kalimat terakhir di sampan &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Tidak Bu! Jangan. Jangan tinggalkan Ridwan" aku mencium wajah Ibu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena takdir sudah berkehendak untuk memberangkatkannya ke gorong-gorong yang terakhir, tak dapat dipinta, Ibu berangkat. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi dua tahun yang lalu, Ayah dan Ibu meninggalkanku di laut. Dan apabila aku kangen padanya, mengharap belaiannya, aku segera berangkat ke laut karena Ayah dan Ibuku adalah laut itu sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kudapati angin, udara, camar, ombak dan buih telah mempelajariku hidup dan bergaul. Atau bahkan pernah aku enggan pergi ke laut karena dalam pikiranku muncul bahwa laut adalah kekejaman. Wallahu A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan:&lt;br /&gt;* Ungkapan ini terinspirasi dari ungkapan Drum dalam film Novel Tanpa Huruf R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Mei 2005&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-113325398579650349?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/113325398579650349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=113325398579650349&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/113325398579650349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/113325398579650349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/07/ahmad-muchlish-ar.html' title='Ahmad Muchlish AR'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-1948847824709735981</id><published>2008-06-28T15:48:00.000+07:00</published><updated>2008-06-28T15:54:58.892+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Willy Hangguman</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Air Mata Batu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh Willy Hangguman&lt;br /&gt;Diambil dari&lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt; Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 21 Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi telah melahirkanku menjadi batu. Ya, jadi batu! Itu sudah kodratku. Aku tak bisa mengubahnya, misalnya, meminta menjadi manusia. Wah, tampaknya enak jadi manusia. Bisa ngomong. Bisa bercanda. Bisa menuding. Terlebih lagi bisa memfitnah. Sementara batu hanya bisa diam. Bermeditasi dari zaman ke zaman. Batu juga selalu dipakai sebagai simbol keterbelakangan. Ungkapan zaman batu membuktikan itu. Padahal, kalau tak ada batu mana bisa manusia membangun gedung pencakar langit, jalan layang, bendungan raksasa dan banyak lagi. Tak apa manusia lupa berterima kasih kepada batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlahir di rahim dapur magma gunung api. Setiap detik, aku disiksa. Dibakar. Aku tak paham, apa dosaku kenapa disiksa di perut bumi. Aku mengerang. Rantai api mengikat tangan dan kakiku. Ketika aku sedang mengerang, tiba-tiba aku terlontar dari perut gunung.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku yang semula merah panas mendadak terasa dingin. Aku mencoba mengamati apa yang terjadi. Gunung yang celaka itu telah meletus, memuntahkanku. Sekarang aku terjun bebas dari puncak gunung. Aku tak punya sayap. Aku terguling-guling. Kepalaku pusing. Tak terbiasa dengan gravitasi. Aku pingsan, tak sadarkan diri. Tahu-tahu, aku mendapatkan diri telah terdampar di dasar kali tempat orang menambang pasir dan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah aliran sungai itu, aku bisa ngadem. Ketika sedang menikmati masa yang indah itu, seorang laki-laki yang berotot muncul. Dia mengamatiku beberapa saat. "Ah, ini dia," katanya bahagia. Lalu dia memanggil dua anak buahnya. Dengan linggis mereka mengusirku dari tempat yang aman itu. Aku tak berdaya. Mereka mengikatku dengan rantai besi. Mereka menarikku ke pinggir sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, sebuah truk yang angkuh sedang menanti. Dengan derek orang-orang itu mengangkatku ke atas bak truk. Aku tak berontak karena aku bukan kerbau. Batu memang tak mempunyai sifat pemberontak. Dari dulu sampai masa depan. Aku kemudian dibawa ke suatu tempat. Dengan hati-hati dan sedikit disayang aku diturunkan dari bak truk. Aku tahu, itu rumah seorang seniman patung. Di sana bertumpukan batu-batu, dan patung-patung batu yang sudah diukir. Semuanya dipajang. Dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, itu tawanan baru datang," bisik beberapa patung. Aku mendengar mereka mengomentari kehadiranku. Mereka bersikap ramah padaku. Kami senasib. Sama-sama ditawan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebentar lagi kau akan merasakannya," kata salah satu patung perempuan cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Merasakan apa?" aku bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau akan diukir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana aku tahu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu urusan sang seniman yang rambutnya panjang dikuncir itu. Dia sedang duduk menikmati kopi, rokok, dan pisang goreng," kata patung batu perempuan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan-jangan kau akan diukir jadi Rahwana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rahwana itu siapa?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raksasa jahat yang melarikan Dewi Sinta," patung perempuan itu menjelaskan. Aku merinding dan cemas jangan sampai dijadikan Rahwana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sampai jadi patung Rahwana, kau akan dicerca selama-lamanya," kata salah satu patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi Rahwana 'kan ditakuti dan disembah," kata patung yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang. Tapi, apa enaknya jadi patung yang ditakuti," sergah yang lain. Aku merasa telah diadili. Padahal aku belum jadi patung. Masih batu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas, apa yang bisa aku lakukan agar tidak dijadikan patung Rahwana?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tak bisa pilih nasib. Nasib kita ada di jari-jari pematung dan pahatnya. Tetapi lebih banyak nasib kita ditentukan uang pembeli patung. Orang-orang yang mengaku mencintai seni akan datang memesan macam-macam. Berdoa sajalah semoga kau tidak menjadi Rahwana. Sebagai sesama patung, kami juga seram memandang wajah Rahwana," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cemas. Jangan-jangan aku bakal jadi Rahwana. Keringat dingin membasahi tubuhku. Cemas menyiksaku berhari-hari. Cukup lama aku dibiarkan telantar. Ketika terik datang, aku dibiarkan merasakan panas. Ketika hujan datang, aku dibiarkan merasakan kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, seorang laki-laki berambut hitam mengkilat karena minyak rambut, sepatu cokelat, datang ke padepokan kami dengan sedan mewah. Istri sang seniman yang menangani bisnis usaha suaminya menyambut tamunya dengan ramah. Lelaki itu membuka kaca mata hitamnya. Melemparkan pandangannya ke segala penjuru padepokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasanya pernah melihat wajah Bapak. Kalau tidak salah Bapak suka tampil di televisi," puji istri sang seniman. Muka laki-laki yang tadi dipasang tegang mendadak mencair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suka nonton talk show politik di televisi toh?" tanya laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suka, Pak. Biar tahu perkembangan politik negara kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus, bagus. Seniman juga harus tahu peta politik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendapat Bapak selalu cemerlang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu pura-pura tak senang mendapat pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, Pak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syukurlah, kalau pendapatku disukai pemirsa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri seniman itu mendadak mendapat ruang untuk menawarkan dagangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau pesan patung, Pak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politisi itu tak langsung jawab. Dia berkicau lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hidup itu tak sedap tanpa seni."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang terasa kering, Pak, hidup tanpa seni."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak contohnya. Hidup di lingkungan seni, Mbak tampak segar dan awet muda," kata laki-laki itu genit. Matanya jalang ke dada yang subur dari wanita itu. Istri seniman tersebut sadar mangsanya mulai terjerat. Dia pura-pura merunduk agar laki-laki itu bisa mengintip dadanya yang busung. Dengan ekor matanya dia memantau. Mata laki-laki itu sedang menerkam dadanya. Wanita itu langsung menangkap kesempatan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Politik juga butuh seni ya, Pak," istri seniman itu menjerat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelas dong. Politik tanpa seni akan jadi anarkis," kata politisi itu bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau pesan patung yang mana, Pak?" langsung wanita memasukkan laki-laki itu dalam pukat dadanya. Politisi yang belum terlalu tua itu tak langsung menjawab. Istri seniman itu menanti dengan cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada patung perempuan cantik?" tanyanya dan matanya memegang dada perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari, saya antar. Banyak. Bapak bisa memilih, mana yang cocok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti seorang bocah, politisi itu digiring oleh wanita itu. Dia mengamati patung demi patung. Dia sempat berhenti lama pada sebuah patung perempuan. Dia mengambil jarak barang tiga meter untuk bisa mengamati dengan saksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang ini, Pak?" tanya istri seniman itu berharap dan tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ada yang lain?" tanya politisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada, ada," wanita itu gelagapan. Dia mulai kehilangan harapan, karena patung yang tercantik itu pun tak berhasil merebut hati politisi tersebut. Ternyata, patung-patung yang lain tak menarik perhatiannya. Rasa kecewa mulai muncul di wajah istri sang seniman. Dengan susah payah dia berjuang menguburkan rasa kecewa itu agar tidak muncul di layar wajahnya. Dia kembali membusungkan dadanya yang subur untuk menjerat perhatian politisi itu sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa pesan enggak?" tanya politisi itu tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa, bisa, Pak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana pematungnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan saya panggilkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang montok dan ayu itu berlari kecil memanggil suaminya. Mata politisi tersebut mengejar pinggul perempuan itu. Tak lama kemudian, wanita itu muncul bersama suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, aku bisa pesan patung Cleopatra?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa yang telanjang enggak?" tanyanya dengan suara sedikit merendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang tidak bisa, Pak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Modelnya bisa seperti Mbak ini sajalah. Cleopatra lokal," kata politisi itu nakal. Istri pematung itu tak marah. Juga suaminya. Tamu-tamu harus dimanjakan dengan berlaku sedikit genit. Pematung itu kemudian mengantar politisi itu melihat batu yang cocok untuk patung Cleopatra. Mereka mengamati tiap batu. Dan, sampailah padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini batu yang cocok," kata pematung itu. Politisi yang buta seni setuju saja seperti dia menyetujui keputusan di parlemen sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Doaku ternyata didengar. Aku bahagia karena tak jadi patung Rahwana," kataku kepada batu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi kau akan menjadi patung sensual," komentar batu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Patung yang memancing birahi," komentar batu yang lain lebih sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Patung dosa," yang lain menimpali makin kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan yang ngeres saja. Sebagai batu kita kan tidak pernah ngeres, tidak pernah sensual. Ngeres itu hanya khas manusia. Seperti politisi itu," sebuah batu membelaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang, kau masih tersenyum. Tunggu nanti, akan kau tahu rasa saat pahat sang seniman mulai melukaimu," tiba-tiba sela sebuah patung perempuan. Topik pembicaraan langsung beralih ke rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sakit sekali, ya?" tanyaku ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Luar biasa sakit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi itu kan sakit untuk mendapatkan suatu yang indah," kataku menghibur diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahat si seniman akhirnya datang menancap tubuhku. Aku mengerang. Sakitnya, minta ampun. Hampir selama enam bulan pahat-pahatnya menerjang, dan akhirnya aku menjelma menjadi Cleopatra. Aku terkejut. Bentukku yang semula tak keruan, kini menjadi seorang wanita cantik. Sama persis dengan istri pematung itu. Sayang, aku wanita batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecahan batuku, juga pecahan batu-batu lain, yang tak terpakai diangkut sebuah truk ke kota. Dalam perjalanan, truk itu dibajak sejumlah anak muda ketika memasuki kota. Mereka membawa truk ke pusat pertokoan, lalu mengambil pecahan batuku dan melemparkannya ke toko-toko sepanjang jalan besar. Aku menutup mata, ketika harus berbenturan dengan kaca. Sakitnya bukan main. Kaca-kaca itu pecah, lalu rontok. Aku tergeletak di aspal jalan. Pingsan. Setelah siuman, aku berusaha mengingat-ingat. Hari itu bulan Mei menjelang tutup abad. Bukan zaman batu! Ya, bukan zaman batu, sebuah istilah yang sangat menyudutkan kami, golongan batu. Ada yang ikut terbakar bersama kota yang terbakar. Aku pecahan batu itu mengirimkan berita duka kepada batu utama yang kini menjadi patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, batu patung, meneteskan air mata. Seniman dan istrinya yang bahenol itu tak tahu kalau aku menangis. Mereka tak bisa melihat air mata batu. Aku berduka karena pecahan-pecahan batuku mestinya menjelma menjadi sebuah gedung yang agung atau jalan raya yang kokoh. Eh, malah sekarang dipakai untuk merajam kota. Kenapa nasib begini buruk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, istri pematung itu menyuruh pekerja-pekerja untuk segera mengepak aku. Aku akan segera dikirim ke ibu kota, ke rumah politisi yang telah memesan diriku. Walaupun batu, aku rindu juga melihat ibu kota. Sang politisi menyambutku dengan bahagia, ketika aku diturunkan dari truk. Dia sudah tidak sabar untuk melihat patungnya. Aku mendapatkan tempat istimewa di rumahnya, yakni di kamar tamu. Jauh lebih terhormat dari para pembantu dan sopirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tamu datang, terutama rekan politisi dan bisnis, politisiku membanggakan aku di depan mereka. Semua memuja kecantikan dan kemolekanku. "Sayang, batu," celetuk beberapa rekannya. Politisi itu sendiri tak pernah menganggapku batu. Dia selalu meraba tubuhku. Penuh sayang. Penuh asmara. Penuh gairah. Aku merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, politisi itu tiba-tiba kejatuhan pikiran, aku dianggapnya sebagai putri salju yang sedang tertidur lelap karena ulah nenek sihir. "Sebuah ciuman akan membangunkan patungku," kata politisi itu girang!*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-1948847824709735981?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/1948847824709735981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=1948847824709735981&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1948847824709735981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1948847824709735981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/06/willy-hangguman.html' title='Willy Hangguman'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7279441991329958587</id><published>2008-06-23T14:57:00.000+07:00</published><updated>2008-06-23T15:05:30.655+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Republika'/><title type='text'>Rina Mahfuzah Nst</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;LANGIT MASIH BIRU&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Rina Mahfuzah Nst&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=364"&gt;Republika&lt;/a&gt;, Minggu, 08 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit memantulkan paras yang anggun, ketika iring-iringan pengantin yang membawamu, sampai di pintu rumahku. Seperti dua gumpalan mega yang menyatu di langit, aku dan kau bertemu di pelaminan, mengikat janji sebagai sepasang suami isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akad nikah kita berlangsung khidmat, dilanjutkan ritual tepung tawar. Para kerabat dekat kita bergantian menepung tawari kita. Saling menebar doa dan restu untuk sebuah babak kehidupan baru, yang akan kita lakoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat Tapanuli Selatan pun menyusul. Kau yang berasal dari Jawa mendapat keluarga angkat di Medan. Kau diberi gelar atau marga, sesuai dengan marga ayah angkatmu. Di belakang namamu kemudian ada embel-embel marga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berdua diminta melakukan tortor di atas panggung, dengan gerakan yang luwes dan indah. Mulanya kau kurang merespon, tapi kukatakan padamu, bahwa acara adat tak pernah bisa diabaikan. Dan, kau pun mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kau mengikuti semua acara di balik baju kebesaran. Semua orang bilang, kita cantik dan tampan sekali di atas pelaminan. Menjelma sebagai seorang raja dan ratu sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku, saat cahaya bulan tampak merona di langit, kau menyentuh dan menciumku dengan sepenuh hatimu. Kau telah memberikan aku sebuah kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan dalam waktu sesingkat apapun dalam hidupku. Caramu memperlakukan aku, membuatku serasa melambung di langit ke tujuh. Aku tak pernah sebahagia saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu minggu kemudian, kau memboyongku ke rumah dinasmu. Satu hal yang tak pernah kubayangkan, harus pergi dari rumah ayah dan emak. Sepanjang usiaku, baru kali ini aku berpisah dari mereka. Tak dapat kucegah kesedihanku. Kau mengusap kepalaku, menghapus butir-butir air bening di pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sofiya sayang, sudahlah. Jangan menangis lagi. Kalau kau masih menangis, nanti orang mengira, kau tidak bahagia menikah dengan abang. Kepindahan kita ke Rantau Prapat bukan berarti berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Kalau ada kesempatan, kita akan berkunjung ke Medan. Kalau perlu, kita menginap beberapa hari di sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-katamu terasa sejuk di sanubariku. Aku pun tak lagi memperpanjang tangisku. Aku benahi rumah kita, istana kita. Kini aku bukan lagi gadis remaja yang harus menunjukkan kemanjaan kepadamu. Aku harus menjalankan peranku sebagai seorang isteri. Sebuah peranan yang akan ikut menentukan perjalanan perkawinan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pesan orang tuaku, aku harus pandai-pandai membawa diri. Aku harus tahu kewajiban dan tugasku. Aku tidak boleh banyak menuntut kepadamu. Perkawinan adalah dunia baru buatku dan aku tak akan menyia-nyiakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan berlalu, aku belum menagih janjimu untuk berkunjung ke Medan. Di samping kesibukanmu yang padat, ada hal lain yang mengurungkan niatku. Aku hamil! Aku ingin mengatakannya di depan ke dua orang tuaku, sambil memeluk mereka. Namun, aku harus bersabar, dengan hanya berbicara lewat telepon saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya, tak lepas dari kemesraan kita. Hanya saja kesibukanmu sebagai seorang branch manager sebuah bank pemerintah, banyak menyita waktu. Terkadang kau pulang larut malam, karena harus bertemu klien. Atau karena menangani satu masalah. Kadang sepulang bekerja kau main bulutangkis dan olahraga lainnya. Tidak jarang kau juga menghadiri meeting di luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku, kau memang seorang pekerja yang ulet. Tak heran kau diangkat menjadi seorang kepala cabang. Dari semasa di bangku sekolah kau sudah rajin bekerja. Dari loper koran, penyemir sepatu sampai pelatih renang, pernah kau jalani. Kau juga sering memberi les privat dan berjualan kue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, saat ini pun kau mempunyai satu usaha sampingan selain pekerjaanmu. Kau banyak membutuhkan suntikan dana. Kau mengambilnya dari uang tabungan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau jadi membatasi pengeluaran kita. Sikapmu membuatku heran. Entah kenapa kau tiba-tiba jadi pelit. Saat aku minta dibelikan sesuatu, kau bilang sedang mengumpulkan uang untuk membangun rumah ibu di kampung. Di hari yang lain, aku minta kau membelikan keperluan ayah dan emak di Medan, kau bilang kau harus mengirimkan uang untuk saudaramu yang sedang pailit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku tak masalah, bila kau memperhatikan keluargamu di Jawa. Apalagi kau kini telah menjadi orang yang berhasil. Tentulah orang tua dan saudara-saudaramu juga ingin merasakan buah dari kesuksesanmu. Sebagai isteri, aku hanya minta kau berlaku adil. Itu pesan yang sering kusampaikan padamu dan kau menyetujuinya tanpa syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku, betapa bahagianya aku saat melahirkan bayi kita dengan selamat. Kau menjemput ayah dan emak di stasiun kereta api Rantau Prapat. Aku memohon agar mereka tinggal lebih lama di rumah kita. Ibu dan bapakmu tidak bisa datang ke Medan, hanya mengucapkan selamat lewat telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku, entah mengapa ayah dan emak tak bisa mengabulkan permohonanku. Mereka ingin cepat-cepat pulang ke Medan. Padahal baru tiga hari dua malam di rumah kita. Rasa kangenku saja belum hilang pada mereka. Aku masih ingin terus berada di dekat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emak, belum juga satu minggu di rumah kami, kok cepat sekali mau pulang ke Medan? Bukannya ayah dan emak mau tinggal lebih lama di sini?" protesku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sofiya, emak lupa bilang pada kalian. Di Medan lagi musim kemalingan. Seminggu lalu, rumah Pak Anwar dibongkar orang. Emak yakin, kau bisa mengurus Untari dengan baik. Kalau ada apa-apa, telepon Emak ya, Nak,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pun kembali mengantar ayah dan emak ke stasiun kereta api, menuju Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku, beberapa hari kemudian, kau mengabarkan berita terburuk yang pernah kudengar seumur hidupku! Kau dipanggil ke kantor polisi untuk satu pemeriksaan, karena adanya pembobolan mesin ATM di bank tempatmu bekerja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak habis mengerti, kenapa kau harus ikut menjalani pemeriksaan? Bukankah tiap bank mempunyai petugas keamanan, dengan sistem pengamanan yang super ketat? Kalau terjadi kebobolan uang di ATM, apakah harus pemimpinnya yang disalahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya kau harus terseret-seret di pengadilan. Seseorang memfitnahmu mendalangi semua ini. Benarkah, suamiku? Aku tidak mempercayai semua ini! Tidak mungkin kau melakukannya! Suamiku, kau terduduk lemah di kursimu. Hakim memutuskan, kau harus menjalani hukuman di dalam penjara selama enam tahun! Kau pun harus mengganti kerugian yang nilainya tidak sedikit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicaralah, suamiku. Kenapa kau hanya diam saja menerima perangkap ini? Kau pasrah menjalani hari-harimu di dalam jeruji besi. Suatu hal yang tak pernah kita bayangkan, akan terjadi dalam hidup kita! Aku tak sanggup harus berpisah darimu. Bagaimana harus kujalani hari-hari tanpamu? Bagaimana aku mengasuh anak kita, tanpa kehadiranmu di sisiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke Medan, dengan kesedihan menaungi hatiku. Tak kuhiraukan pandangan miring orang-orang di sekitarku, yang melecehkan dirimu! Aku hanya tidak dapat menguasai perasaanku saat mendengar sebuah kebenaran lain tentangmu dari emak dan ayah! Aku serasa tidak berjejak di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sofiya, di dalam mobilnya, sewaktu Panji menjemput emak dan ayah di stasiun kereta api, kami tak ubahnya orang asing dibuatnya. Kalau kami tak mengajaknya bicara, dia tak bicara. Kalau kami diam, dia lebih diam lagi! Bagaimana kami bisa kerasan tinggal di rumah kalian?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku, aku tak menyangka, air mata emak harus ke luar untuk suatu hal yang tak terduga dari dirimu! Satu hal yang tak pernah kutahu ada di dirimu! Baru kusadari ada sisi lain yang engkau punya di balik sikapmu selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kau begitu sulit mengajak bicara orang tuaku, yang datang jauh-jauh dari Medan? Mengapa kau tak perlakukan mereka sama, seperti kau memperlakukan aku, anak mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan itu bagai sebuah pukulan hebat untukku! Berhari-hari aku jadi orang yang murung dan tak bersemangat. Untunglah ada ayah dan emak yang terus menghiburku. Memintaku supaya tetap tawakkal kepada Tuhan dan menganggap itu semua sebagai ujian. Akhirnya aku bisa menguasai diriku dan mengasuh anak kita, Untari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku, aku akan selalu berdoa untukmu, semoga kau cepat ke luar dari penjara. Aku akan selalu mencintaimu, tak kan berubah meski kita berpisah ruang dan waktu. Cintaku akan tetap sama, seperti warna biru langit di atas sana!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7279441991329958587?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7279441991329958587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7279441991329958587&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7279441991329958587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7279441991329958587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/06/rina-mahfuzah-nst.html' title='Rina Mahfuzah Nst'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-1649230323552860242</id><published>2008-06-20T14:13:00.000+07:00</published><updated>2008-06-20T14:13:00.443+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lampung Post'/><title type='text'>Umi Seta W.L.</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Sudahkah Kau Menerima Beritanya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Umi Seta W.L.&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.lampungpost.com/cetak/cetak.php?id=2008061415182511"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;, Minggu, 15 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Malam Bu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUASANA ulang tahunku ini tidakkan mungkin seperti biasanya tanpa kehadiranmu. Namun aku akan mencoba menguasai diri mengenang banyak kenangan yang berasal dari masa 26 tahun kehidupanku bersamamu, Ibu. Satu-satunya kado ulang tahun yang kuinginkan adalah hadirnya dirimu kembali di depanku, Ibu. Kau datang dengan membawa nasi tumpeng yang dihiasi sayur-sayuran. Ada urap daun bayam dari kebun kita, kering tempe, sambel kentang, beberapa gelundung telur rebus, sambal terasi, dan tidak lupa sekaleng kerupuk singkong. Emm... nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ingat kan Ibu? Setiap ada anggota keluarga kita yang berulang tahun, baik aku, Ana, Alif, Bapak atau kau sendiri Ibu, kau selalu membuatkan nasi tumpeng itu. Walau tanpa daging ayam, telur ayamnya saja sudah terasa sangat nikmat. Kau tahu kenapa? Karena kita semua berkumpul dan makan bersama-sama, sambil bercanda tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau masih ingat kan Bu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena tahu suasana ulang tahun itu tidak mungkin terjadi lagi maka aku harus puas dengan berkirim berita saja kepadamu, Ibu. Ya, mudah-mudahan saja Tuhan akan menyampaikannya sendiri padamu ibu, tepat di hari ulang tahunku ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saja di sana ada fasilitas internet, telepon atau SMS--short message service--saja yang biayanya murah, pasti aku akan langsung saja mengirim berita padamu lewat SMS, sehingga kau bisa langsung mambalas beritaku ini. Karena aku khawatir Tuhan sedang sibuk menerima berita dari para makhluk ciptaan-Nya. Toh, bukan aku saja kan Bu yang mengirim berita untuk sanak saudaranya melalui Tuhan kan? Bahkan banyak juga kan Bu manusia yang mengirim berita langsung untuk Tuhan. Jadi aku khawatir kau terlambat menerima berita dariku, sehingga kau lupa bahwa hari ini hari ulang tahunku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku benar-benar merasa kehilangan dirimu Ibu. Tidak ada lagi nikmatnya nasi tumpeng di hari ulang tahunku. Atau segarnya sayur asem, hangatnya tempe goreng dan pedasnya sambel terasimu Ibu yang melengkapi kebersamaan kita. Itu makanan kesukaan kita untuk makanan sehari-hari kan Bu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kurasa kau masih tetap membantuku dari sana. Karena, kemarin-kemarin aku berhasil makan sayur asem, lauk tempe goreng, dan tidak lupa sambal terasinya. Rasanya hampir mirip dengan buatanmu, Ibu, manis-manis asem, pedas, segar rasanya. Tapi masih ada yang kurang, Bu. Kau tahu apa yang kurang itu kan, Bu? Ya, benar. Tidak ada Ana, Alif, Bapak dan tentunya kau, Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang bisa menemaniku makan lagi, Bu. Alif sekarang sudah sunat. Tingginya sudah melebihi aku, kulit wajahnya putih, tidak ada jerawat dan ada rambut tipis di bawah hidungnya yang mancung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beritanya ada beberapa mata-mata wanita yang mencuri-curi pandangan sekadar untuk melihat Alif dari jauh. Tapi, aku tidak tahu apakah dia sudah mempunyai teman wanita untuk berbagi berita atau belum. Toh dia tidak pernah memberi berita tentang teman wanitanya itu padaku. Dan kurasa Alif belum mempunyai teman untuk berbagi berita, karena badannya kurus, tidak gemuk seperti dia masih SD dulu. Mungkin dia juga sudah malas makan, karena tidak ada lagi yang menemaninya saat makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alif sudah SMA, kelas III. Dia aku masukkan ke Pondok Pesantren agar ada yang selalu mengawasi belajar dan banyak teman untuk berbagi berita. Kau tau kan Bu, aku tidak bisa selalu mengawasi dan menemani Alif. Karena sekarang aku sibuk bekerja sebagai sopir pengangkut susu sapi yang dibawa ke pabrik di luar kota, sehingga aku jarang ada dirumah. Jadi lebih baik aku masukkan saja Alif ke Pondok Pesantren agar ada yang mengawasi dan menemaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf Bu, bukannya aku tidak mau bertanggung jawab, tapi aku juga harus mencari uang untuk biaya aku dan Alif hidup. Toh setiap aku pulang dari mengantar susu, aku selalu menjenguknya. Menanyakan berita apa yang ingin dia kirim untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana, dia sudah menikah, Bu. Kau tentunya masih ingat, Ana menikah di hadapan jasadmu, Ibu. Kurasa jasadmu sudah mampu menunjukkan di mana arah timur, barat, utara, dan selatan. Di mana arah angin memberikan mata, walau jiwa sudah hilang dari suatu tempat di mana kau pernah hidup di dalamnya, Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku sudah memiliki keponakan perempuan berambut keriting, pipi tembam yang lucu dan ceria, mirip Ana waktu kecil dulu. Ais namanya Bu. Dan sekarang Ais sudah masuk sekolah TK. Aku senang saat Ais memanggilku dengan sebutan "Paman".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman, kalau Paman pulang Ais minta dibelikan balon ya. Kata Ibu, jika Ais ingin mengirim berita untuk Tuhan, Ais harus menulis berita di kertas lalu dimasukkan dalam balon. Setelah itu balon dilepaskan ke udara. Pasti berita Ais akan cepat sampai ke tangan Tuhan. Sebab balon itu yang mengantarkan berita Ais kepada Tuhan di langit. Ais ingin mengirim berita agar Ais cepat besar, menjadi wanita yang cantik dan baik seperti bidadari yang di TV itu lo, Paman".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaannya itu yang membuatku selalu membelikannya balon saat aku main ke rumah Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kau pergi meninggalkanku, Ana dan Alif karena ulah Ana dan lelaki bertato dan berambut gondrong yang sekarang menjadi suaminya itu. Kau ingat kan, Bu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun yang lalu, sejak Ana mendapatkan pekerjaan menjadi pelayan di sebuah toko baju di pasar Kota Malang yang jauh dari desa kita ini, dia sering pulang malam atau tidak pulang ke rumah karena katanya dia menginap di rumah temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beberapa bulan kemudian, kau menerima sebuah berita tentang Ana dari para tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menanyakan kebenaran berita itu kepada Ana di malam hari, tentunya setelah Ana pulang dari bekerja ketika Alif sudah tertidur. Dan Ana pun menyampaikan kebenaran berita itu sendiri kepadamu, Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu, aku seperti mengalami dongeng Bawang Putih-Bawang Merah. Dongeng yang pernah kau ceritakan kepadaku, lalu setelah kau selesai mendongeng aku berkata, "Aku tidak mau seperti Bawang Putih yang menderita atau juga Bawang Merah yang jahat itu". Kau ingat kan, Bu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah bapak dan ibu bercerai, lalu bapak menikah lagi, kehidupanku, Alif, Mas Firman, dan ibu menjadi berantakan. Hidup kita menderita Ibu. Karena bapak sudah tidak peduli lagi dengan kita, anak-anak kandungnya. Lihatlah Bu, bapak sibuk dengan keluarga barunya, istri baru dan anak gadis tirinya. Bapak sudah melupakan kita Bu. Mas Firman sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga kita. Tapi kau tahu sendiri kan Bu, uang yang didapat Mas Firman tidak mencukupi kebutuhan kita sehari-hari. Dan kau Ibu, Kau sering sakit-sakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan aku, aku harus menjadi gadis rumahan yang baik. Pagi-pagi setelah azan subuh terdengar, aku bangun tidur, sembahyang subuh, lalu aku membantumu memasak karena kau sudah sering mengeluh, yang kepala pusinglah, pinggang terasa copotlah, sesak napaslah, belum lagi kau sering batuk-batuk. "Iya kan Bu?" kata Ana dengan mata mulai terbias air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau, Ibu, dan aku hanya bisa diam karena berita Ana itu benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana menghelakan napasnya seperti ingin menyampaikan berita yang sudah lama yang ia simpan di dalam hatinya itu. Lalu ia melanjutkan menyampaikan beritanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum lagi aku harus mencuci baju Alif, Mas Firman, Ibu, serta bajuku sendiri. Aku sudah lelah Bu sebelum berangkat sekolah. Sehingga wajahku tidak pernah terlihat cantik lagi seperti dulu. Aku hanya menyisir rambutku saat akan berangkat ke sekolah, sehingga mukaku seperti orang yang bangun tidur saja. Dan aku menjadi gadis remaja yang penurut dan pendiam. Tapi kini, aku sudah menemukan seorang pangeran Bu. Dia membawaku terbang ke istananya ke negeri entah di mana. Di mana pangeranku memperlakukanku seperti tuan putrinya saja. Dengan cara memuji kecantikanku yang tersembunyi itu katanya. Dengan cara menyentuh jari-jariku dengan tangannya yang hangat dan lembut, aku tahu dia ingin berbagi berita denganku. Tidak hanya jari-jariku saja yang disentuhnya Ibu, tapi sentuhan itu mulai menjalar ke pipi, tengkuk leher, dadaku, dan sentuhan terus menjalar ke seluruh tubuhku. Sentuhan hangat dan lembut itu memberi sensasi baru dalam kehidupanku, lalu dunia serasa berbunga-bunga. Ya, mungkin rasanya seperti rasa setelah memakai obat-obatan terlarang. Yang kata orang jika mencobanya sekali saja akan terus ketagihan. Tapi kau harus tahu Ibu, aku tidak pernah mencoba ganja atau sabu-sabu itu. Tidak, aku tidak pernah mencoba obat setan itu. Tapi aku seperti itu. Aku ketagihan Ibu. Ingin lagi disentuhnya, ingin lagi dirabanya. Ada rasa puas dan memuaskan. Tapi Bu, setelah hilang rasa itu, aku menjadi lemas tidak berdaya dan meminta-minta untuk dibawanya lagi terbang ke negeri berbunga-bunga, entah negeri di mana itu Ibu?" Ana terdiam lalu menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah ia menangis menyesal atau menangis karena ketagihan. Dan kau Ibu, hanya bisa ikut menangis juga setelah mendengar cerita dari Ana. Aku? Seluruh tubuhku terasa panas dan gemetar. Bola mataku terasa perih dan berwarna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pfff...Ingin aku berteriak mengeluarkan endapan-endapan dari dalam tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awan tutup bulan sabit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit tak tersenyum kiranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku telah bernapas dengan mata setengah terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya aku sendiri melihat ke arah langit mendung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha bangkit mencari lebih dari pandangan tiada tepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin, Awan, Bulan Sabit, Langit Mendung, Padang Masyar Untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ini aku: Sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi aku sangat sibuk mempersiapkan hari besarku ini Ibu. Aku pulang ke rumah kita untuk mengambil kemeja kotak-kotak biru hadiah ulang tahunku darimu Ibu. Tidak perlu cemas Ibu, kuajak Alif bersamaku ke suatu tempat paling dekat denganmu di malam ini, agar kau dapat mendengar beritaku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku berziarah ke kuburmu, Ibu. Untuk menyingkirkan rumput-rumput liar dan serakan guguran daun yang kering, tua dan porak poranda oleh angin. Dan merayakan ulang tahunku dengan suasana yang berbeda. Tak apa, walau hanya Alif yang menemaniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu sendiri kan Bu. Ana dan Bapak tidak mungkin datang kemari untuk merayakan ulang tahunku. Toh, mereka sudah sibuk dengan keluarga baru mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya siang lekas tandas. Berganti hitam legam. Malam gelap. Dingin menyergap. Di tanah ini semua mulai merapat. Cepat. Kedua anak lelakimu datang. Berziarah tanpa kembang. Mengirim berita, lewat kata. Namun kau tak juga kunjung nyata. Angin April menderu. Mengejar waktu yang sudah berlalu. Kaki-kaki bergetar. Dada berdebar-debar. Mata ini memerah. Aku mulai tak betah. Lelah. Alif menyerah. Kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu, aku ingin mengirim berita ini padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak percaya diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bertanya-tanya kenapa dunia meninggalkan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap untuk menunjukkan lebih dari sekedar alasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena gagal untuk berusaha bangkit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ditakdirkan hidup untuk sesuatu yang lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita kehilangan diri sendiri??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu tempat di mana kita hidup di dalamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan DIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bertanya apakah setiap makhluk bernyawa memiliki kesempatan kedua??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita telah bernapas dengan mata terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita telah merusaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti berharap lebih dari sekedar yang diberikan dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua teriakan untuk kesempatan kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How very stupid we are&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kesempatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi KEHIDUPAN KEDUA di depan mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will see You soon.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kau menerima beritanya, Bu?***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Umi Seta W.L., mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-1649230323552860242?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/1649230323552860242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=1649230323552860242&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1649230323552860242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/1649230323552860242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/06/umi-seta-wl.html' title='Umi Seta W.L.'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-3216688903719091792</id><published>2008-06-19T15:03:00.000+07:00</published><updated>2008-06-19T15:18:42.346+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Tiang Wingking</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Tiang Wingking&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/08/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 8 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asya benar-benar tak dapat memahami pola pikir Vina. Menurut Tasya, Vina telah salah pilih suami. Betapa tidak, belum resmi menjadi suami saja Tonny dianggap sudah sangat mengatur. Tasya berpendapat demikian, karena dua bulan sebelum perkawinan mereka dilangsungkan Vina sudah mengundurkan diri dari tempat kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Vina punya kedudukan di tempat kerjanya. Dan ini artinya penghasilan Vina lebih besar daripada dirinya. Sementara itu, Tasya yang tak punya kedudukan - kecuali hanya sebagai staf administrasi - pun terlalu sayang untuk meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tidak salah?" tanya Tasya, tatkala sang adik menceritakan bahwa dirinya sudah mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan, tempatnya bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, mulai bulan depan saya sudah tidak kerja lagi, Kak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mau menikah, Kak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi menikah bukan berarti harus berhenti bekerja. Saya sampai sekarang juga masih bekerja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tonny minta saya berhenti kerja sebelum menikah nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak keberatan kok dengan permintaannya," potong Vina.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kamu bisa setolol itu menuruti permintaan Tonny," ujar Tasya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pernyataan ini Vina diam. Wajahnya berubah. Ia merasa tidak suka ketika sang kakak mengatakan dirinya tolol. Sebab belum pernah ada yang berani mengatakan dirinya tolol. Bahkan di kantornya ia pun bisa menjadi salah seorang manajer. Mana ada seorang manajer yang tolol, pikir Vina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksud saya, apa kamu tidak pernah berpikir kalau yang kamu peroleh selama ini - kesarjanaan dan posisi kamu di kantor - menjadi sia-sia. Apa kamu tidak sayang dengan prestasi yang sudah kamu raih? Cinta tidak seharusnya membuatmu buta seperti itu, Vin," Tasya memperbaiki kalimat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vina diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buat apa kuliah kalau akhirnya ilmu kamu tidak dimanfaatkan. Apalagi sekarang ini mencari kerja susah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vina masih tetap diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun tahu kalau cari kerja itu susah. Tapi bukan berarti orang yang kuliah harus kerja. Kalau hanya yang kuliah yang bekerja, lalu bagaimana orang yang tidak pernah kuliah? Apa mereka tidak boleh bekerja? Kenapa kuliah harus dihubungkan dengan pekerjaan? Apakah pekerjaan harus selalu mendapatkan upah atau gaji? Lalu bagaimana dengan pekerjaan seorang pelajar atau mahasiswa? Sebab jika seorang pelajar atau mahasiswa yang sudah ber-KTP dalam keterangan pekerjaan yang tertulis adalah mahasiswa atau pelajar? Padahal, pekerjaan mereka tidak menghasilkan uang. Bahkan mereka justru menghabiskan uang. Membutuhkan biaya. Apakah ibu rumah tangga bukan pekerjaan? Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran Vina. Namun, ia tak ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada kakak perempuannya. Lantaran ia menyadari dirinya berbeda prinsip dengan sang kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas apa yang akan kamu lakukan setelah tidak bekerja nanti?" tanya Tasya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, bagaimana nanti saja, Kak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang hidup kok tidak punya program. Bagaimana mungkin bisa meraih masa depan yang lebih baik," ujar Tasya, seperti menggerutu pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vina tidak menanggapi ucapan kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya makin heran setelah tahu keputusan adiknya ternyata mendapat dukungan dari papanya. Ya, setelah ia menanyakan apakah Kardiman tahu kalau Vina sudah mengajukan surat pengunduran diri kepada pimpinannya di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Papa sudah tahu kok," jawab Kardiman, ketika anaknya yang sulung menanyakan tentang keputusan Vina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa keputusan itu benar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar?" Kardiman balik bertanya, "benar menurut siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin menurut kamu tidak. Tapi, menurut adikmu? Adikmu juga sudah dewasa. Jadi, papa yakin ia sudah bisa memilih. Nah, barangkali mengundurkan diri dari tempat kerja menjadi pilihan yang terbaik sebelum ia menikah nanti. Sebelum menjadi seorang istri," kata Kardiman, setelah agak lama Tasya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua sama anak sama saja, pikir Tasya. Ah, andaikata mama masih hidup pasti ia akan sependapat dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau menuntut ilmu tujuannya untuk bekerja di kantor, menurut papa, justru keliru. Sebab banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Punya gelar kesarjanaan untuk meraih sesuatu? Itu pun yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Akibatnya banyak ijazah aspal. Karena yang dituntut ijazah bukan kemampuannya. Jangan heran jika akhirnya ditemukan ada anggota dewan yang terhormat bahkan pejabat negara yang - karena tuntutan persyaratan - mencari celah bagaimana mendapatkan ijazah, agar bisa menduduki posisi tertentu," tambah duda beranak dua itu, "Tidak aneh kalau negeri ini makin kacau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya masih tetap diam. Kenapa jawaban papa malah ngelantur tidak karuan, pikirnya. Kenapa papa malah bilang soal negara segala. Bukan dijawab pada pokok permasalahannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya bicara seperti ini karena kamu tidak berbeda dengan adikmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudnya?" Tasya baru membuka mulut, setelah agak lama terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu dan Vina sama- sama seorang sarjana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, prinsip kami ber- beda Pa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti kamu sudah tahu. Jadi, biarkan saja adikmu punya kesepakatan dengan calon suaminya. Mungkin ia lebih mencintai suami daripada pekerjaan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu apa gunanya Vina dikuliahkan jika akhirnya ....."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itulah salahnya kita," potong Kardiman, "Itu pendapat orang kuno. Jika seorang ibu tak harus bersekolah. Akibatnya orangtua malas menyekolahkan anaknya yang perempuan. Lantaran pendapat yang keliru itu - apa gunanya sekolah kalau akhirnya harus menjadi orang dapur. Menjadi tiang wingking. Menjadi istri zaman dulu memang hanya berkisar kasur, dapur, dan sumur. Tetapi tidak untuk sekarang ini. Sebab seorang istri, sekarang juga dituntut mendampingi sang suami, tatkala suaminya harus bertemu dengan relasi. Pada acara-acara di kantor. Nah, kalau istri yang tidak punya pendidikan apa bisa mendampingi sang suami pada saat acara seperti itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang perlu kamu tahu, menjadi ibu sekarang ini kalau perlu harus punya pendidikan tinggi. Jika tidak bagaimana bisa mendidik anaknya dengan baik. Anak sekarang banyak yang cerdas," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu saya tahu, Pak. Tapi, apakah ...." Tasya menghentikan kalimatnya, setelah ia ingat sesuatu. Ya, ia sadar bahwa dirinya tengah berhadapan dengan seorang lelaki. Kendati ia adalah papanya sendiri. Ia tak ingin melanjutkan kalimatnya. Jika kalimat itu diteruskan akan dapat membuat Kardiman tersinggung karena lanjutan kalimat itu 'bukankah hal ini berarti sikap sewenang- wenang kaum pria. Hingga kaum adam bisa mengabadikan sifat superiority complex-nya.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun juga istri yang tak punya penghasilan, hidup sepenuhnya tergantung dengan suami. Dengan demikian, istri bisa seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Akibat adanya dominasi pria terhadap wanita di dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, kenapa Nak?" tanya Kardiman, setelah agak lama Tasya tak melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andaikata diceraikan Tonny nanti. Berarti Vina sudah tak punya pekerjaan. Sudah tidak punya penghasilan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ngomong apa?" tanya Kardiman. Ada nada tidak suka mendengar anaknya bicara seperti itu, "Masa, belum apa-apa sudah bicara perceraian. Nah, kalau kita berpikir suatu ketika akan bercerai. Tak usah menikah. Kamu mengharapkan adikmu nanti bercerai?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya menggeleng. Kenapa saya jadi salah bicara, sesalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan sekali-kali berpikir tentang perceraian, jika tak menginginkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya berpikir keras, bagaimana meralat ucapannya. Setelah menemukan kalimat yang tepat Tasya berkata, "Maksud saya bukan cerai hidup. Tapi cerai mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Urusan mati urusan Tuhan," kata Kardiman. "Yang perlu kamu tahu. Setiap orang hidup punya pilihan. Nah, kamu memilih tetap berkarier ya silakan meskipun sekarang kamu sudah punya anak. Sementara adikmu ingin menjadi seorang istri tanpa harus berperan ganda. Papa juga tidak apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Vina menikah, kakak beradik itu nyaris tidak pernah bertemu. Ketika belum menikah adakalanya Vina bertandang ke rumah sang kakak. Pun Tasya sering me- ngunjungi papanya. Ya, ketika Tasya masih tinggal bersama papanya. Dengan demikian mereka masih saling bertemu. Namun, sejak Vina menikah hanya sekali Tasya datang ke rumah adiknya. Yakni ketika Vina melahirkan anak. Sejak itu, mereka hanya saling berkabar lewat telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, Tasya bertandang ke rumah adiknya. Tasya sengaja datang ke rumah Vina, lantaran diundang adiknya. Bukan hanya Kardiman, Tasya beserta suaminya yang diundang Vina. Melainkan juga segenap kerabat Tonny. Hari itu Tonny mengadakan syukuran karena hendak menempati rumahnya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah terkejutnya Tasya setelah melihat kemajuan ekonomi yang telah diperoleh keluarga adiknya. Betapa tidak, hanya dalam rentang waktu lima tahun keadaan keluarga Tonny sudah berubah total. Punya rumah mewah dengan perabotan lengkap dan sebuah mobil sedan terparkir di depan rumah. Di rumahnya ada dua orang pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, Tasya tak ingin menunjukkan keterkejutannya kepada sang adik. Apalagi saat itu banyak famili dari pihak Tonny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian, Tasya datang ke rumah adiknya. Sendirian. Tidak bersama suami maupun anaknya. Sebab sejak mengunjungi Vina batin Tasya merasa terganggu. Ia tak pernah menyangka kalau secepat itu keluarga adiknya memperoleh kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya ingin tahu perubahan keadaan adiknya yang demikian cepat tersebut. Vina tidak keberatan menceritakan keberhasilan rumahtangganya. Ketika Randy - anak mereka - berusia tiga bulan, Tonny diangkat menjadi salah satu kepala cabang di Jakarta. Sejak itu, ekonomi keluarga Tonny mengalami kemajuan pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi kalau sekarang kamu masih bekerja seperti dulu, Vin. Saya yakin keluarga kamu pasti lebih baik dari sekarang ini," komentar Tasya usai mendengar penuturan adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang bilang begitu?" Ummi balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Logikanya kalau kamu masih punya gaji otomatis pendapatan keluarga kamu pasti lebih besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secara teori memang benar. Tetapi saya tidak yakin seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saya masih bekerja seperti dulu, mau tak mau, akan menambah pikiran Tonny. Apalagi sering kita dengar berita anak yang diculik pembantu. Kalau saya masih berkantor. Sementara itu, Randy di rumah hanya bersama pembantu. Bukan cuma saya yang khawatir akan keselamatan Randy. Melainkan juga Tonny. Nah, bagaimana mungkin Tonny akan bisa konsentrasi bekerja jika pikirannya diliputi kekhawatiran terhadap anaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti kamu seperti orang zaman dulu, dong. Hanya sebagai tiang wingking. Kamu hanya dijadikan orang belakang. Orang dapur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau orang yang ada di belakang, saya setuju. Tetapi, kalau tiang wingking diartikan sebagai orang dapur saya tidak sependapat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika tiang wingking itu diartikan sebagai orang dapur. Maka yang pantas mendapat julukan ini Bi Asih atau Bi Turah. Karena mereka yang selalu berada di dapur. Toh, nyatanya tidak pernah ada pembantu yang mendapat julukan tiang wingking. Yang mendapat julukan seperti ini justru seorang istri. Kenapa demikian? Karena seorang istri berdiri di belakang suaminya. Dan ini artinya seorang istri pendorong alias motivator kesuksesan suaminya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah kesuksesan seseorang justru sangat ditentukan oleh orang yang berada di belakangnya. Seorang bintang yang sukses akan ditentukan siapa orang yang ada di belakang layarnya alias sutradara. Olahragawan yang berprestasi akan sangat dipengaruhi oleh pelatih andal yang ada di belakangnya. Nah, demikian juga kesuksesan seorang suami akan sangat dipengaruhi oleh siapa istrinya alias tiang wingking-nya. Sayangnya, sebagai wanita kita merasa tidak berarti apa-apa jika suami kita sukses. Seolah-olah kita tidak punya peranan apa-apa. Hingga kita ingin tampil sendiri. Ingin diakui eksistensinya oleh masyarakat. Lalu kita berupaya untuk menonjolkan diri," tambah Vina, "Padahal, diakui atau tidak, istri punya andil besar terhadap kesuksesan suaminya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya masih diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus terang Mbak, saya sangat menikmati hidup sebagai tiang wingking. Kendati tak pernah berada di dapur. Sebab Mbak sudah tahu sendiri bukan di sini ada Bi Turah dan Bi Asih. Lalu buat apa saya harus bersusah payah ikut bekerja jika suami berusaha memenuhi permintaan istrinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya tetap diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya yakin sekali, suami mana pun akan mati-matian - dengan catatan sesuai dengan kemampuannya - berusaha membahagiakan istrinya jika mendapat perhatian dan pelayanan yang baik. Bukankah ada yang sampai bersedia mencuri atau merampok demi kebahagiaan perempuan yang dicintainya. Pejabat sampai korupsi. Semua itu untuk apa kalau tidak untuk istri dan anak-anaknya." Tasya masih tetap diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak setuju dengan perbuatan-perbuatan seperti itu. Namun, yang ingin saya garis bawahi di sini bahwa kita sebetulnya tak perlu ikut bersusah payah mencari tambahan penghasilan untuk keluarga. Asal kita berusaha menjadi seorang istri yang baik pasti suami akan mati-matian berusaha membahagiakan kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu ....."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan dipotong dulu, Mbak. Saya belum selesai bicara," potong Vina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya diam lagi setelah kalimatnya dipotong oleh adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, saya sendiri contohnya. Tonny tidak tega melihat istrinya melakukan pekerjaan berat di rumah. Itu sebabnya di rumah ini ada dua orang pembantu - Bi Asih dan Bi Turah. Pekerjaan saya di rumah, nyaris tak ada. Kecuali memantau perkembangan kejiwaan Randy. Sebab mengurus fisik mereka - memandikan, menyuapi, membikinkan susu - sudah ditangani mereka. Yang pasti, dengan tetap sebagai tiang wingking seperti Mbak katakan, Randy tetap bisa dekat dengan saya. Tapi, kalau saya masih berkantor? Bukan saja saya tetap was-was, khawatir terjadi apa-apa dengan Randy. Melainkan pula saya tidak akan dekat dengan anak saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, Tasya masih tetap bingung dengan pernyataan adiknya tentang sebutan tiang wingking. Betapa tidak, Vina begitu yakin bahwa istilah tiang wingking sangat tepat untuk disandangkan kepada istri yang baik - bukan sembarang istri. Istri yang bisa menjadi motivator suaminya. Istri yang menjadi pendorong kesuksesan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tiang wingking itu diartikan sebagai orang yang berada di dapur dalam arti yang sebenarnya. Maka sebutan tiang wingking lebih tepat disandangkan kepada pembantu. Tapi, nyatanya tak pernah ada orang yang menyebut seorang pembantu dengan sebutan tiang wingking. Sebutan untuk pembantu biasanya batur, rewang, babu, bibi, yang lebih halus pramuwisma, atau yang agak keren ya bedinde. Karena itu, Mbak seharusnya tidak berpikir secara tekstual tiang wingking berarti orang yang berada di belakang alias dapur. Sebab ada hakekat yang lebih tinggi dari sekedar tukang masak dalam keluarga. Bukan sekedar berada di dapur," terngiang lagi kata-kata Ummi beberapa saat yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari mana Ma?" Susilo membuyarkan lamunan Tasya yang masih duduk di ruang tamu, sepulangnya dari rumah adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ditanya suami kok diam saja!" kata Susilo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya masih diam. Tidak tahu harus berbuat apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu anak-anak mau mandi!" seru Susilo. Memberikan perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya masih duduk mematung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan mentang-mentang Mama ikut bekerja lantas tidak mau mengurusi anak-anak. Mengurus anak tetap menjadi tanggung jawab kamu, Ma."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasya bangkit. Berdiri. Melangkah. Menghampiri anak ketiganya yang masih berusia empat tahun, yang sudah telanjang di kamar mandi, siap untuk mandi sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya Tasya menyesal karena berperan ganda. Padahal selama ini ia begitu bangga menjadi se- orang perempuan yang mampu berperan ganda. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-3216688903719091792?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/3216688903719091792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=3216688903719091792&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/3216688903719091792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/3216688903719091792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/06/tiang-wingking.html' title='Tiang Wingking'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-9058157916777334024</id><published>2008-06-16T14:29:00.000+07:00</published><updated>2008-06-16T14:29:00.256+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sinar Harapan'/><title type='text'>Agustinus Wahyono</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Peminum Minyak&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Agustinus Wahyono&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0820/bud1.html"&gt;Sinar Harapan&lt;/a&gt;, 20 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu tanggal di Juli 2005, sebelum bedug magrib ditabuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil-mobil berderet-deret sejauh ratusan meter di tepi jalan pinggiran kota. Truk, pick up, sedan. Memang tidak terlihat mobil-mobil mulus keluaran mutakhir. Urutan paling depan berada di pintu masuk pom BBM yang telah tutup menjelang adzan Azar. Kira-kira puluhan. Mereka terkapar seperti gelandangan yatim-piatu yang tengah kelelahan sekaligus kelaparan, atau musafir yang diperdaya kemarau dan kelangkaan air. Ketika mesin dihidupkan, suara rintih atau lengking luka terasa menyayat liang telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bulan kemarin, mereka sering berada di situ. Penduduk di wilayah sekitar pom BBM tidak tahu-menahu soal kepemilikan serta asal-muasal mobil-mobil tersebut. Memang identitas mereka pada plat hitam persegi panjang menunjukkan bahwa kebanyakan mereka bukan pendatang dari seberang. Tetapi jarang sekali terlihat mobil berplat merah apalagi berangka minimalis. Penduduk hanya bisa melihat dan menebak: antri BBM. Dan, sepenglihatan penduduk, antrian semacam itu pun terjadi di pom BBM di tempat lain, terlebih akhir-akhir ini terdengar teriakan pemerintah lokal bahwa pom BBM mendapat jatah tidak lagi sebanyak dulu (lucunya, ribuan kendaraan bermotor terbaru diperbolehkan datang dengan alasan kebutuhan masyarakat).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bedug ditabuh di surau tak jauh dari situ. Sedang senja tidak pernah bisa tampil gemilang. Pepohonan, tubuh-tubuh jangkung penginapan walet, rumah penduduk, dan perbukitan kecil telah menutup layar ufuk barat. Di seberang jalan, teras sebuah rumah tua tak bertuan dikuasai oleh beberapa pria. Itulah para sopir mobil-mobil yang terkapar tadi. Beberapa diantaranya tengah asyik bermain kartu di atas koran usang bergambar gadis-gadis manis-mulus berbusana serba minimalis. Asap rokok mengepul di bawah permukaan plafon triplek yang terkoyak. Beberapa lainnya menenggelamkan diri dalam telaga mimpi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari mereka warung-warung tenda berukuran kecil mulai menjalankan tugas. Lampu petromak dan lampu dari pemasangan kabel atas ijin (hasil pertemuan antara uang dan kebijakan) dari salah seorang pemilik rumah di dekatnya pun telah menyala. Sedangkan badan jalan (yang kian ciut lantaran termakan mobil-mobil tak bertuan) dilalui oleh motor-motor yang dikendarai anak-anak muda dengan kecepatan tercepat. Motor-motor keluaran terbaru dipacu untuk menguji kecepatan sekaligus menguji nyali demi sebuah pengakuan diri pengendara terhadap persaingan tak resmi di jalan. Rupanya motor jenis 2 tak masih mendominasi perhitungan angka tercepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu tanggal di bulan Juli 2005, setelah sinar fajar berwarna kekuningan &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mobil-mobil berderet dalam dua barisan. Mereka merintih di muka moncong pom BBM seperti para tamu di luar ruang yang telah berjam-jam tidak diberi penganan di sebuah kenduri. Ada yang menggerutu, ada yang berteriak dengan suara mesin yang garang atau klakson yang lantang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, mereka harus bersaing dengan barisan jerigen saat selepas fajar berubah sangar. Beratus-ratus derigen dalam posisi bertumpuk sudah mengelilingi tempat pengisian. Semula tampak tak bertuan. Tapi itu barang titipan. Entah m,ilik siapa. Bahkan tidak sedikit ibu-ibu menjadi pemiliknya. Untuk dijual lagi, kata mereka. Memang demikian. Semenjak industri berupa penambangan rakyat marak, kebutuhan BBM khususnya solar pun menanjak. Waktu untuk antri terimbas. Harga berubah angka. Pejabat dan birokrat terkait seakan lepas tangan. Aparat tak kuasa mencegah mereka karena persoalan kampung tengah alias perut bukan persoalan sepele. Keinginan untuk kaya juga boleh dimiliki oleh rakyat. Maka makin hangar-bingarlah suasana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak udara pagi diberangus oleh asap-asap dan suara-suara. Burung-burung liar pun enggan bernyanyi bersahutan lagi di sekelilingnya karena kicauannya selalu dibungkam oleh suara mesin dan klakson. Belum ditambah suara orang-orang yang bertikai gara-gara berebut kesempatan awal, tempat di depan, dan jatah untuk demi perut besi, perut plastik atau juga perut-perut lainnya. Badan jalan dilahap dua pertiganya. Kemacetan bukan lagi milik kota Metropolitan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada deretan setengah ke belakang, mobil-mobil masih terkapar. Mungkin sudah kehabisan energi untuk bisa sekadar merangkak. Barangkali urutan paling belakang tiba terlambat. Beberapa laki-laki bertampang angker sibuk mengatur pembagian jatah perut besi dan perut plastik. Aparat keamanan entah di mana. Kalau pun suatu waktu ada razia, informasi selalu bocor sebelum hari H-nya. Mobil-mobil tidak akan antri di situ, tapi di tempat lain, yang berada di luar target operasi. Tinggal laporan “sudah dijalankan, Pak!” di kantor aparat. Sedangkan pengantrian masih berlangsung di tempat lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak hilir-mudik menjajakan koran, dari koran nasional berkelas sampai koran lokal yang memelas. Beberapa sopir membeli. Sebuah berita dibaca bahwa ada uang lima trilyun lebih. Tapi sayang, bukan disalurkan untuk BBM, melainkan untuk menambah minyak di lipatan-lipatan badan para pejabat. Dan wakil rakyat malah minta tunjangan dua kali lipat. Tak ayal bikin berang para sopir. Sumpah serapah, umpatan, caci-maki dan kutukan di mangsa asap knalpot. Tidak sampai menjadi huruf-huruf di media massa. Juga lubang telinga telanjur penuh tertutup lemak berminyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu tanggal di bulan Juli 2005, setelah senja ditelan bumi &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mobil-mobil mulus keluaran mutakhir terlelap di pelataran parkir sebuah hotel berbintang di sebuah kawasan wisata. Sebagian berplat merah, dan sebagian lainnya berplat hitam. Sudah beberapa pergantian matahari mereka berada di sana. Tak jarang datang lagi mobil-mobil mengkilat berplat hitam. Sebentar, lantas menghilang ke mana-mana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para pemiliknya, yang saat pagi berseragam safari dan berjas trendi, sedang berkumpul di tepi kolam renang. Bapak-bapak itu asyik berbagi hidangan tender dan proyek hingga berpatgulipat yang berujung pada pembengkakan perut sekaligus rekening. Bisa ditambah dengan imbalan berupa mobil baru sebagaimana jatah atas ijin dan segala macam kebijakan mutualisme kendatipun di rumah masing-masing anggota keluarga telah disediakan mobil masing-masing. Juga jatah puluhan liter untuk keluarga pejabat birokrasi agar bisnis bisa tampil manis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak juga ketinggalan gadis-gadis muda nan molek berpakaian bikini senantiasa menemani bahkan siap-sedia dibawa ke mana dan kapan saja asalkan mendapat penghargaan dalam angka-angka kesepakatan. Gadis-gadis itu menganggap pemberian-pemberian sebagai rezeki dari Tuhan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa HP berbunyi. Sering berdering. Ada suara yang menanyakan ini-itu, meminta ini-itu. Barangkali dari keluarga. Barangkali ada agenda bertamasya dengan kendaraan pribadi. Barangkali juga dari para kolega yang tanpa malu-malu mengkhianati profesi menjadi penjilat profesional atau malah peminta-minta. Ada yang minta perlindungan atas ekspor BBM ke negara tetangga, itu mudah diatur. Dokumen pun gampang diatur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bapak-bapak menjamin? Ha ha ha ha… jangan khawatir. Serahkan saja. Asalkan… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang meminta jaminan keamanan untuk pemasokan BBM secara tak resmi karena urusan prosedur lebih sering menjadi sarana pemerasan struktural. Bagi-bagi jatah sekian persen dan bonus ratusan liter. Penelpon di ujung sana menyanggupi, asalkan… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ha ha ha ha! Bapak-bapak itu terbahak-bahak lalu mengatakan, biarlah peraturan ditimpakan pada rakyat saja sebagaimana takdir rakyat semata-mata pelengkap penderita. Rakyat harus dipersusah bahkan disengsarakan berdasarkan resiko atas statusnya, tetapi bapak-bapak tidak patut menanggung susah sebab ongkos untuk bisa duduk di posisi penting bukanlah bermodal dengkul saja. Soal temuan angka saldo lima trilyun koma empat, terlalu mudah untuk dimanipulasi. Bila perlu, seret saja pemilik media itu ke penjara gara-gara memuat angka-angka tersebut. Bikin alasan: angka-angka fiktif sekaligus mencemarkan nama baik dengan fitnah dari data siluman. Kebenaran milik penguasa. Bukan milik media massa. Titik! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Termasuk urusan mendatangkan kendaraan bermotor. Gampang. Saban bulan datangkan saja ribuan unit. Tak usah pening-pening sampai kepala ikut miring. Yang penting, nomor rekening birokrat telah disimpan dalam saku pengusaha. Wakil-wakil rakyat pun menginginkannya, supaya dapat terus hidup meski sudah pensiun bahkan menjadi penghuni keabadian. Tidak usah munafik, sebagian besar orang selalu senang dan bangga dengan kekayaan duniawinya. Bila perlu, tambah lagi koleksi mobil mewahnya. Beres! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa? Jatah BBM untuk daerah kita tidak lagi sebanding dengan jumlah perut-perut besi yang kian menjubeli dealer-dealer dadakan dan jalan-jalan? Walah, macam orang pintar saja, main hitung-hitungan. Mana bisa rakyat berhitung. Otak rakyat hanya berisi hal-hal pragmatis. Bukan hitung-hitungan serba ruwet. Dak kawah nyusah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, jangan lupa bagi-bagi minyak pada LSM-LSM oportunis. Isi mulut mereka dengan minyak atau duit dengan MOU. Biarkan mereka bebas berdomentrasi karena semua aksi sebenarnya basa-basi belaka. Masih ada dana untuk LSM-LSM oportunis itu, kan? O tentu, tentu! “Kita ini pemain yang fair, bukan melulu mencari kenyang sendiri!” ucap seorang pejabat melalui HP-nya. Sekian persen saja dari isi kantong untuk LSM, urusan jadi beres. Atau mereka butuh mobil untuk operasional, beri saja. Mau yang mewah, atas kelas standar. Tinggal hubungi salah satu pengusaha. Ditanggung beres! Selagi hidup di negeri munafik ini, cerdik-cerdiklah memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di angkasa rembulan menjemur mobil-mobil yang senantiasa terlelap karena perut penuh isi. Para sopir mendapat kesempatan berkumpul sembari menikmati sajian serba mewah. Makanan dan minuman kelas diamond. Rokok beraneka merek pun berslop-slop. Tidak ada wajah-wajah muram. Kesejahteraan akan selalu terjamin sepanjang pengabdian masih dibutuhkan. Juga beberapa perempuan penunda sepi, berdandan melebihi penampilan selebritis sejagat. Sajian khusus untuk para sopir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu tanggal di bulan Juli 2005, saat matahari tengah naik birahi &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mobil-mobil beraneka bentuk, tampilan, dan berplat pelangi memadati pelataran parkir sebuah kantor pemerintahan. Satu-dua pohon berukuran mini berusaha melindungi kendaraan di bawahnya. Namun sia-sia. Cakar-cakar tajam matahari terlalu liar untuk bisa ditaklukkan. Semenjak Barat yang berempat musim telah menjadi kiblat kemajuan peradaban, para perencana lokal tak lagi menyadari konteks alam tropis yang berdua musim. Para perencana mana pernah merasakan ganasnya panas matahari tropis dan gersangnya udara. Kantor dan mobil dilengkapi AC. Kuku berapi yang mencakari kulit adalah resiko menjadi rakyat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para pengendara memenuhi ruang lobby sembari membawa peralatan yang telah mereka siapkan sekaligus disepakati sejak kemarin. Tak ketinggalan orang-orang dari LSM mengatasnamakan rakyat. Aparat berseragam loreng disiagakan, lengkap dengan gas air mata dan senjata pemusnah massal. Para pengendara tidak peduli. Sudah kepalang. Harga nyawa telah anjlok jauh di bawah harga BBM. “Mobil-mobil kami kelaparan! Tambahkan jatah karena di perjalanan laut ada kapal yang telah merampok jatah makan mobil-mobil kami!” Begitu kira-kira teriakan mereka melalui poster-poster. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka merangsek. Tapi aparat anti huru-hara segera menyambut dengan pentungan dan perisai. Beberapa pengunjuk rasa dipentung sekeras-kerasnya. Darah langsung muncrat dari batok kepala yang terkena pentungan. Lantai keramik mewah tersiram darah. Pengunjuk rasa tetap merangsek. Keributan semakin gencar. Aparat tidak peduli, dan tetap memukuli laksana memukul anjing-anjing kurap. Apakah diantara rakyat itu ada saudara atau tidak, pentungan terus bergerak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka berhasil melewati rintangan, masuk ke ruang kerja orang nomor satu di daerah tersebut. Namun mereka spontan kecewa sekali. Di dalam ruangan berperabot dan berfasilitas serba mahal itu tidak ada siapa-siapa. Memang sering kali begitu. Alasan beberapa pejabat, “Susah meladeni orang-orang itu! Otak kosong!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bangsat! Keparat! Laknat! Terkutuklah hidupmu, keluargamu beserta seluruh keturunanmu sampai yang ketujuh! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus mengumpat, menyumpah dan mengutuk dengan suara keras dan mata tiba-tiba semerah saga. Lantas mereka mengaduk-aduk seluruh isi ruangan itu. Barang-barang berhamburan dalam kondisi rusak parah. Di luar ruangan pun para pengunjuk rasa mengamuk. Kaca apa saja dihancurkan. Benda apa saja diremukkan. Mobil-mobil dan sepeda motor berplat merah di pelataran parkir pun babak belur. Tapi tidak sampai membakar karena mereka tidak mempersiapkan minyak tanah yang memang sebelumnya sudah sangat langka dan mereka pun tidak mau menyia-nyiakan bensin serta solar. Para pegawai berlarian keluar rumah sembari menjerit histeris. Para aparat tidak kuasa berbuat banyak. Pada pasca reformasi aparat tidak berani lagi sembarangan melepaskan mesiu. Mungkin juga lantaran belum ada petunjuk dari pemimpin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nun jauh dari sana, tepatnya di sebuah daerah pariwisata yang asri dan sejuk, para pejabat dan beberapa wakil rakyat tengah terbahak-bahak sambil memegang perut masing-masing. Di depan mereka terbentang meja yang baru saja terhidang menu serba berminyak. Kertas-kertas cek, slip bukti transfer uang, tiket perjalanan ke luar pulau, tender-tender pengilangan baru, impor baru, dan rencana-rencana pembangunan lain-lain sudah disimpan rapi dalam tas masing-masing sejak beberapa jam silam. *** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bumiimaji, Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-9058157916777334024?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/9058157916777334024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=9058157916777334024&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/9058157916777334024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/9058157916777334024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/06/agustinus-wahyono.html' title='Agustinus Wahyono'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-7787336427181071699</id><published>2008-06-13T14:02:00.000+07:00</published><updated>2008-06-13T14:06:07.226+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kompas Minggu'/><title type='text'>Agus Noor</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Serenade Kunang-kunang &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Agus Noor &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari: &lt;em&gt;Kompas Minggu &lt;/em&gt;15 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi, sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Aku tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium, ketika sepasang mata itu muncul dari sebalik kaca—membuatku terkejut. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni, sepasang mata itu bagai mengambang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Dan saat sepasang matanya mengerdip, aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Tetapi ketika ia menyebutkan namanya, aku seperti mendengar denting genta, bergemerincing dalam hatiku. Barangkali, seperti katamu, aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kamu takut tidur sendirian…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu mungkin tak percaya, kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Memang, berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta, mana yang pantas buat dipakai makan malam, mana yang pas buat jalan-jalan, dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan yang ini?”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti kukatakan, aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri, seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Laki-laki yang romantis rupanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Ia tak pernah mengucapkan rayuan, yang paling gombal sekali pun, untuk sekadar membuatku tersenyum. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Aku ingat, betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali menyentuh putingku yang ungu. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Kau tahu, bercinta dengannya seperti menikmati nasi goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Bersamanya aku tidak terobsesi untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Dan kupikir, kalau memang kepingin yang aneh-aneh begitu, aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Busyet!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah, kali ini, aku sungguh-sungguh jatuh cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku kangen, bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. Membuatku tergeragap. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya, yang membuatku menyukai kemurungan dan kesenduannya. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu lihat di iklan deodoran, yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar mendapatkan perhatiannya. Sungguh, penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah, dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya yang kelabu. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Sedikit berkumis, tipis, tak rapi. Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan baju yang pantas buat ke pesta, kukira!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Bukan karena kamu tak suka, tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Tapi—entahlah, aku begitu menyukainya. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anggap saja ini cinta sejatimu. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kau tahu, terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran, kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Kadang aku menganggap semua ini tiada lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Tapi, bukankah cinta memang ganjil dan penuh masalah?! Tapi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, aku mesti pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau ke mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang, aku selalu merasa dia tengah memikirkanku. Setiap melihat kunang-kunang, aku jadi ingin ketemu dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau suka kunang-kunang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku suka kunang-kunang...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku suka matamu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti ada kunang-kunang dalam matamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Padahal, pada saat-saat seperti ini aku ingin sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Itulah kenapa aku mengajaknya kemari. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana, bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Ibu selalu mengajakku kemari, setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu, kata ibu. Selalu, dengan mata yang layu, ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah, di zaman gestapu dulu. Aku masih dalam kandungan ibu, saat itu. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu, bersama ribuan tubuh lainnya. Seminggu setelah pembantaian, dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Membuat lembah itu menjadi berkilauan. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Dan setiap malam purnama, ketika lembah itu menjadi bisu, dan angin yang membeku membuat pepohonan tertugur kelu, ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang-layang menyusuri aliran sungai, kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuajak ia kemari, agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Agar ia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai menyimpan kunang-kunang. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau lihat kunang-kunang itu?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pertemuan ke-43. Seperti yang sudah-sudah, ia langsung tidur setelah bercinta. Dia meringkuk dalam selimut, seperti sosis dalam setangkup roti. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Dari jendela apartemen lantai sebelas, kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang-kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Rasanya aku pernah membaca cerita seperti itu—mungkin sewaktu SMA, aku lupa. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Enggak tidur?” Ia menggeliat, memandangku yang duduk telanjang di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sungkan dan jengah. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Kemudian ia bangkit, meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Membelakangiku, dan tergesa mengenakan pakaian. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Tak ada percakapan. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti jeritan yang teredam, handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Ia meraih handphone itu, dan dengan gerakan pelan menjauhiku, berbicara setengah berbisik. Aku hanya memandang keluar jendela. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. ”Anakku sakit …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sesuatu yang mengagetkan. Tapi, aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang, seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunang-kunang. Cahaya perlahan susut dan aus. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Kesunyian tak terpermanai. Dan dingin, seperti dalam sebuah puisi, tak tercatat pada termometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, seperti kerap kau katakan, aku memang wanita paling menyedihkan yang pernah kau kenal. Karena, selalu saja, aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki yang sudah beristri….***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2005-2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1731948047869575453-7787336427181071699?l=cerpenkoran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/feeds/7787336427181071699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1731948047869575453&amp;postID=7787336427181071699&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7787336427181071699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1731948047869575453/posts/default/7787336427181071699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenkoran.blogspot.com/2008/06/agus-noor.html' title='Agus Noor'/><author><name>Amanda  Regina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17584838437051412667</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_KfE6It5QeFA/SDponNFEvHI/AAAAAAAAAAo/VXH1ilSfFaY/S220/amanda.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1731948047869575453.post-6000091616731629551</id><published>2008-06-01T15:26:00.000+07:00</published><updated>2008-06-13T15:29:29.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Pembaruan'/><title type='text'>Adek Alwi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Bumbu Kasih Sayang&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Adek Alwi&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/last/index.html"&gt;Suara Pembaruan&lt;/a&gt;, 4 Maret 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih ayahku hanya satu sepanjang hidupnya. "Ibu kau pandai memasak. Ayah suka makan enak. Jadi, buat apa lagi cari yang lain?" ia bilang, menantang, pada suatu s
