M Zainudin  

Sabtu, Desember 27, 2008

Di Sebuah Senja

Cerpen Oleh M Zainudin

Suara Karya, Sabtu, 19 Juli 2008


Sayup-sayup gema adzan maghrib menyirami ketenangan Dusun Kartaghanna. Dedahan berumbai mengikuti irama angin yang semakin gesit, burung-burung kecil berhamburan menuju sarangnya masing-masing. Sementara di ujung barat, Gunung Kalebungan berdiri megah menyembunyikan cahaya matahari di punggungnya. Sore itu, teja seperti membentuk sketsa agung.

Di atas amben, di samping langgar joglo, Sarto mengaso, sesekali menyeduh segelas kopi dingin di hadapannya. Wajahnya kusut menatap langit. Bulir-bulir keringat membasahi tubuhnya yang legam. Seharian penuh ia bekerja mencangkul di ladangnya.

Kemarin sore, sehabis ia bekerja, Rahem menemuinya, membawa sepucuk surat undangan yang sengaja diselipkan di sebungkus rokok Oepet. "Acara rokatan [1], Kang, di rumahnya Mad Juma," ucapnya, sembari melepas senyum datar.


Sarto menimang-nimang bungkusan rokok itu. Matanya redup tak seperti biasanya. "Habis bekerja, Kang?" Sambung Rahem dengan senyum yang sama.

"Ia, antisipasi, Hem, takut si Zainur minta kiriman lagi. Maklum, sekolah tinggi sekarang bayarannya tambah mahal. Sebagai orangtua, kalau mau anaknya pintar, harus berani banting tulang."

"Pasti sebentar lagi Zainur akan menjadi orang besar," ucapnya penuh kekaguman.

"Amiin...duduk, Hem," sahut Sarto, sembari menggelar tikar yang dirajut dengan serat pohon siwalan, di atas emperan joglo langgar.

"Tapi sayang, semenjak Zainur sekolah di kota, desa ini jadi terasa sepi. Andai saja dia masih di desa ini, mungkin kita tidak perlu kesulitan mencari penerus tokang tegghes [2]," ucap Rahem tanpa mempedulikan raut Sarto yang semakin muram. Pandangannya kosong menatap kehampaan. Acara mamaca [3] empat tahun yang lalu, saat rumahnya baru direnovasi, kembali belingsatan meramaikan ingatannya.

Decak kagum para sesepuh desa ketika mendengarkan suara Zainur menggema penuh wibawa, neghasaghi [4] tembang yang menceritakan Bhetarakala [5], terasa semakin hangat dalam ingatannya.

Zainur muda, yang baru menyelesaikan sekolah menengah atas di Kabupaten Sumenep, dengan sekejap menjadi primadona di kalangan para sesepuh. Kekuatan vokal dan pamor suaranya memberi cukup alasan bagi mereka untuk mengaguminya.

Hampir dua bulan penuh namanya selalu disebut-sebut. Kata mereka, "Benar-benar keturunan tokang tegghes." Kehadirannya telah membawa lentera baru di Dusun Kartaghanna. Nama Sarto pun tidak lepas dalam pembicaraan para sesepuh desa.

Selaku orangtua sudah sepantasnya ia merasa bahagia dan bangga memiliki keturunan yang bisa diandalkan untuk meneruskan profesi keluarga sebagai tokang tegghes. Setiap hari Nikmah, istri tercintanya, sengaja menyisihkan waktu untuk sekadar meracik ramuan-ramuan sederhana guna menjaga kekuatan pita suara anak semata wayangnya. Tak jarang, di setiap sore dan pagi hari ia memarut khorbina jhei [6].

Sebagai istri tokang tegghes, Nikmah tidak terlalu kesulitan untuk sekadar merawat dan menjaga kekuatan pita suara anaknya. Terlebih ia juga keturunan keluarga ahli mamaca di desa sebelah. Ia turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh suaminya. Baginya, profesi sebagai tokang tegghes mamaca mempunyai kebanggaan tersendiri. Selain dihormati oleh sebagian besar orang-orang desa, tokang tegghes juga dipercaya sebagai pemegang kehormatan desa.

Jangan heran jika acara mamaca sering kali dibalur dengan kekuatan-kekuatan magis. Karena, selain sebagai hiburan, kegiatan ini juga merupakan acara ritual yang sarat dengan ajaran-ajaran suci keagamaan dan ajang kompetisi ilmu kesaktian.

Sederetan susunan kidung yang terdapat dalam kitab kuno mamaca, kesemuanya menceritakan tentang tokoh-tokoh suci dalam agama Islam, dan dipercaya memiliki kesakralan tersendiri. Tokang tegghes dan ahli mamaca bagi kalangan sesepuh desa adalah orang-orang pilihan, selaku penyampai risalah kebenaran. Dan Nikmah sangat paham tentang semua itu.

Malam itu, tapuk matanya berkaca-kaca. Selain bangga dan takjub kepada anak semata wayangnya, diam-diam ia juga ketakutan. Ada cerita, ketika si tokang tegghes atau ahli mamaca tidak mempunyai kekuatan magis yang cukup memadai, di waktu ia negghasagi tiba-tiba pita suaranya rusak total. Setelah itu, ia hanya akan menjadi bahan gunjingan masyarakat.

Profesi sebagai tokang tegghes tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin karena itu Zainur muda, yang malam itu tampil dengan begitu menawan dan penuh kewibawaan, sebagai juru penjelas syair mamaca, dengan sekejap menjadi primadona di kalangan para sesepuh.

Malam itu, Nikmah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, orang-orang kampung berkumpul membentuk lingkaran sederhana di emperan rumahnya. Beragam bentuk senjata, berupa pedang, clurit, dan parang berukuran besar, menyembul di antara punggung mereka masing-masing.

Sesekali terdengar bisik-bisik kecil. "Kalau si-Zainur, persis seperti bapaknya, tidak bisa dicoba-coba sembarangan. Ilmu apa pun tidak bakalan mempan mencegah kehebatan suaranya." ucap mereka, sembari menggeleng-gelengkan kepala. Tapi, jangan heran dulu, kebiasaan membawa senjata, seperti clurit, parang, pedang atau keris berukuran besar, merupakan kebiasaan orang-orang Madura secara turun-temurun. Menurut kepercayaan mereka, datang ke sebuah pertemuan tanpa membawa senjata atau jimat apa pun, secara tidak langsung telah memamerkan kesombongannya.

Zainur muda pun tidak bisa lepas dari senjatanya. Malam itu, ia menggunakan pakaian serba hitam, dengan kopiah hitam berukuran tinggi 10 cm, semakin menambah kewibawaannya. Kumisnya pun dibiarkan tumbuh memanjang dan lebat. Meski waktu itu umurnya masih berkisar sembilan belas tahunan, namun perawakannya layaknya laki-laki matang dua puluh lima tahunan. Kepul asap tembakau perancak menguap dari bibirnya.

Orang-orang semakin takjub memandangnya. Semenjak dahulu tokang tegghes tidak ada yang berusia di bawah umur tiga puluh tahun. Selain keheranan, mereka juga semakin tertarik untuk menguji kekuatan ilmu kanuragannya. Dan hasilnya, semua usaha mereka sia-sia belaka.

Bisik-bisik kecil terus menjalar. Sarto semakin berkaca-kaca penuh kebanggaan. Di balik daun pintu kamar, Nikmah menyembunyikan air mata.

* * *

Lima bulan kemudian, saat Zainur masih hangat-hangatnya menjadi bahan perbincangan. Tiba-tiba Sarto dikejutkan oleh keinginannya untuk melanjutkan sekolah di kota Yogyakarta. "Untuk apa melanjutkan sekolah? Percuma, banyak orang yang sekolahnya sudah tinggi, akhlaknya tidak bisa diandalkan. Bahkan tidak jarang di antara mereka hanya menjadi gelandangan dan tidak mempunyai pekerjaan tetap," cegahnya.
"Tapi, mencari ilmu hukumnya wajib, Pak."
"Menjaga keutuhan tradisi para leluhur juga merupakan kewajiban bagi para penerusnya."

"Pak, saya sekolah paling cuma empat atau lima tahunan. Setelah itu, saya akan kembali ke desa ini untuk melanjutkan profesi keluarga kita sebagai tokang tegghes. Saya sadar, tradisi lama selaku jatidiri desa ini tidak boleh punah. Tapi, kata Ustadz, mencari ilmu selagi masih muda, dalam ajaran agama kita hukumnya wajib," tandas Zainur penuh keyakinan.

Mendengar pernyataan anak semata wayangnya, Sarto hanya mampu terdiam. Ia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam, sekadar untuk menetralkan perasaannya, lalu menatap istrinya yang diam-diam menguping pembicaraannya di balik daun pintu kamar. Sisa-sisa gurat kecantikan di wajahnya yang sudah mulai menggelambir masih teramat kental melekat.

Andai saja anaknya tahu, di waktu ia masih muda harus rela banting tulang untuk belajar menjadi tokang tegghes profesional, semata-mata demi memperebutkan perasaan istrinya, yang waktu itu menjadi kembang desa di desa sebelah, mungkin ia tidak akan sembarangan meninggalkan profesinya sebagai tokang tegghes.

Dulu, orang tidak bisa mamaca atau tidak bisa menjadi tokang tegghes, dengan sendirinya akan tersisihkan dari pergaulannya. Namun, perubahan zaman adalah isyarat halus berubahnya bentuk pemahaman dan pola berpikir manusia.

Sarto semakin gulana. Haruskah ia kecewa dengan pilihan putranya? Perlahan-lahan Nikmah menghampirinya "Kang, biarkan saja anak kita yang menentukan sendiri masa depannya," ucapnya pelan meminta pengertian.

"Nikmah, anak laki-laki adalah lambang penyambung tangan, yang akan meneruskan profesi dan citra keluarganya."

"Kang, kita tidak bisa terlalu dalam ikut campur pada semua ketentuan Sang Maha Kuasa. Andai saja Zainur dititipkan kepada kita sebagai penerus profesi keluarga kita, ia pasti akan kembali pada kita, kalau tidak..." Nikmah menundukkan wajahnya, sengaja menyembunyikan matanya yang mulai basah.

Lagi-lagi Sarto hanya mampu terdiam. Tak ada bahasa yang teramat penting untuk diucapkan. Lima bulan kemudian Zainur pun benar-benar hijrah ke kota. Empat tahun sudah berlalu, kerinduan Nikmah terus menikam kegalauanya. Putra kesayangannya yang dulu berjanji akan pulang setiap tahun, sampai saat itu masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Bahkan satu minggu yang lalu, ia mendapatkan telegram dari kota, sebentar lagi anaknya akan pergi ke negeri seberang sekadar meneruskan sekolahnya di Harvard University.

Perasaannya semakin berkarau. Haruskah ia bangga atau malah kecewa, sementara orang-orang kampung selalu menanyakan keberadaannya, "Kapan Zainur akan pulang?"

Ia hanya tertegun ketika nama putranya disebutkan. Ia juga tidak tahu bagaimana kabar putranya di kota seberang. Ia hanya berusaha menjadi orangtua yang baik, penuh pengertian, dan tidak terlalu mengekang keberadaan anaknya. Namun, salahkah bila seorang ayah menaruh harapan pada anaknya? Ia tidak paham semua itu. Ia hanya lulusan sekolah dasar sebagaimana juga Nikmah.

Perbincangan orang-orang desa tentang Mad Juma yang begitu getol memperjuangkan nilai-nilai tradisi para leluhurnya, semakin menyesakkan perasaannya. Setiap sore sehabis bekerja, di atas amben di samping langgar joglo, ia lesap dalam perenungannya. Sesal dan bangga bercampur menjadi satu dan ia tidak tahu apa namanya.

"Mad Juma yang lulusan sekolah tinggi di kota masih mau pulang ke desanya hanya untuk melestarikan kebudayaan dan tradisi para leluhurnya, padahal dulu ia tidak pernah bersinggungan dengan semua itu," ucap Rahem kemarin sore.

Senja menyusut, pendar-pendar cahayanya sempurna berganti gelap. Lamat-lamat bunyi seruling mamaca menggema dari arah selatan. Adzan maghrib telah selesai, sebentar lagi orang-orang akan menjemputnya.***

Yogyakarta 2008


Mohamad Zainudin, cerpenis tinggal di Yogyakarta
dan Mantan Wakil Kepala Suku Sanggar ANDALAS,
di PP. An-nuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura.


Catatan:
[1]. Rokatan, (selamatan), biasa dilakoni ketika hajat orang-orang
Madura berhasil terwujudkan, semisal untuk membangun atau mereno
vasi bangunan rumahnya.

[2]. Tokang tegghes atau pamaksod adalah juru penjelas tembang mamaca

[3]. Mamaca (macapat) adalah bentuk kesenian tradisional yang menurut
para pakar berasal dari Jawa Timur. Kesenian ini memulai membiak
di Madura sebelum abad ke-15 (pra-Islam).

[4]. Neghasagi, menjelaskan tembang macapat yang terlebih dahulu di-
nyanyikan dengan menggunakan bahasa Jawa Kawi.

[5]. Bhetarakala dalam bahasa Jawa sering kali disebut Batara Kala,
salah satu tembang macapat yang dibacakan tanpa iringan instrumen
apa pun, dan biasanya dalam tradisi masyarakat Madura tembang ini
dibacakan khusus untuk acara rokatan

[6]. Korbina jhai, merupakan jamu tradisional Madura, yang diparut
guna diambil sari patinya, untuk diminum demi menjaga kekuatan
pita suara.
Selengkapnya...

AddThis Social Bookmark Button
Link ke posting ini


Yonathan Rahardjo  

Selasa, Desember 02, 2008

Tanya Tukang Cuci

Cerpen: Yonathan Rahardjo
Suara Karya, Sabtu, 26 Juli 2008


Setiap pagi kami berjalan beriring ke rumah tuan yang mempekerjakan kami. Di situ sudah tersedia pakaian kering, yang kami jemur kemarin hari. Akulah yang bertugas menyetrika pakaian mereka, sedangkan ibuku menuju tempat tuan yang lain, untuk mencuci pakaian keluarga tuan itu. Baru setelah itu ibu pun ke tempat aku masih menyetrika, untuk mencuci pakaian tuan dan anak-anaknya, serta milik anak-anak kos yang mempercayakan pakaian mereka.

Tempat aku menyetrika pakaian adalah teras kamar satu anak kos, yang tidak menyerahkan pakaiannya untuk kami cuci dan kami setrika sejak adiknya menumpang kos. Ia mengalihkan uang cuciannya untuk membayar tumpangan bagi adiknya. Hampir tiap hari, kini, anak kos ini mencuci pakaiannya sendiri. Namun, tidak pernah kulihat ia menyetrika, sehingga apabila kuamati pakaiannya memang tidak licin tersetrika, namun tetap dipakainya pergi bekerja.


Kami tahu, anak kos ini adalah seorang pegawai perusahaan. Namun, aneh bagi kami, kelihatannya ia kok enggan mengeluarkan duit untuk mencuci-setrikakan pakaiannya kepada kami, sebagai satu paket pembayaran kos kepada tuan. Sedangkan kami dibayar tuan untuk tenaga yang kami keluarkan, sementara sabun, air, dan listriknya tanggungan tuan. Dari pembagian itu, kami mendapat bagian yang tidak seberapa. Murah, kesemuanya.

Aneh, ada orang sepelit pegawai yang kos ini. Uang yang tidak seberapa, mengapa ia enggan untuk berbagi dengan kami, dengan mempercayakan pakaiannya untuk kami cuci. Bukankah kini adiknya tidak menumpang di kamarnya lagi, sehingga uangnya bisa digunakan untuk membayar cucian? Bukankah dengan mempercayakan pakaiannya untuk kami cuci, berarti ia membantu meringankan kebutuhan hidup kami yang kekurangan ini?

Apakah sebetulnya yang ada dalam benaknya, setiap bangun pagi melihat kami berdua bahu-membahu mencuci dan menyetrika pakaian-pakaian ini? Apakah perasaannya tidak tersentuh melihat perempuan seperti ibuku menghidupi kami berdua dengan menjadi tukang cuci baju, dan jelas, aku yang masih sekolah pun harus membantu? Juga di sisinya, selain berbagi rezeki, ia juga mendapat keuntungan dengan pakaiannya selalu bersih dan rapi. Ah, dasar pelit.

Aku hanya menerka-nerka sebetulnya apa yang dipikirkan anak kos itu. Pikiranku menembus dinding kamarnya, yang di sisi luarnya aku setiap hari menyetrika pakaian tuan dan anak-anaknya. Kalau pikiranku melayang seperti ini, aku terkadang juga membayangkan apa yang dilakukan anak kos itu di dalam kamarnya.

Jendela kamarnya tertutup. Sering begitu, saat setiap pagi aku datang. Kadang ternyata anak kos ini tiba-tiba datang dari luar, dengan wajah kusut kepayahan dan pakaian kucal, membuka pintu, masuk kamar, menguncinya, dan tak keluar lagi barang seharian. Kadang lampu menyala dan ia baru bangun tidur, lalu membuka jendela, tepat di sisi aku sedang menyetrika. Kadang pula ia sudah bangun pagi, mencuci baju-bajunya lalu mandi, berpakaian rapi dan pergi. Meski aku tahu pasti, baju dan celananya tidak disetrika. Aneh. Benar-benar aneh, anak kos ini.

Kini juga aneh, setiap aku dan ibuku datang untuk bekerja mencuci pakaian, ia masih di dalam kamar dengan jendela terbuka. Aku suka lewat di teras kamarnya dan melalui jendela kulirik apa yang dilakukan. Ia mengetik di depan komputer! Kadang-kadang menulis di kertas, kadang tiduran, kadang duduk membaca. Di lain waktu kulihat ia berkata-kata sendiri membaca puisi sambil bergaya ke sana kemari. Kadang ia melukis di depan kanvas, dengan tangannya memegang kuas, dan menggoreskan cat di kanvas.

Aku yang selalu rutin melakukan pekerjaan kami, yang selalu sama setiap hari, heran melihat anak kos ini menjalankan kegiatan yang berbeda-beda setiap hari. Sungguh ia kaya dengan variasi kegiatan. Dulu bahkan sering kami dengar ia bernyanyi dengan lagu-lagu riang dan nyaring. Kini tidak pernah lagi kami dengar. Kalaupun ada suara, berasal dari televisinya yang dinyalakan olehnya. Sebetulnya, siapakah anak kos ini? Katanya pegawai perusahaan, tapi kok kegiatannya aneh-aneh macam itu? Sebetulnya, siapakah dia?

Sesekali ia keluar kamar, menyapa kami, lalu masuk kembali melihat suasana. Ia pun menyapa kami ketika berjalan menuju kamar mandi, lalu menutup pintunya. Kudengar gemericik air, disusul debar-debur air dari ember diguyurkan ke tubuhnya, pastinya. Segar ia keluar dari kamar mandi, melewati kami yang sedang beraksi dalam segala posisi. Ibuku berjongkok menggosok celana jins dengan sikat dan sabun berbusa, aku menyetrika baju. Anak kos itu minta jalan dengan mengucap permisi.

Pintu kamar ditutup, gorden jendela ditutup, apa yang dilakukannya di dalam aku bisa menebak. Tak berapa lama gorden dibuka, jendela kamar ditutup, ia keluar, mengunci pintu dan mendekat kepada kami.
"Atin, Ibu, ini kue.. silakan ambil..."

Aha! Ini yang kami tunggu, wajahku terasa cerah ketika tanganku mengulur untuk menerima kue pemberiannya. Ibuku juga tertawa dan mengucap terima kasih.

Anak kos itu segera pergi, ke luar rumah sambil mengucap salam. Pasti ia pergi ke kantor, sedangkan kami masih bekerja di "kantor" kami, beranda rumah lantai atas, berbasah-basah tangan dan kaki. Sampai hari kelihatan lebih terang dan mengarah ke siang. Begitu semua kerja kami hari ini selesai di rumah ini, kami pun beranjak ke rumah lain. Melakukan kegiatan yang sama. Namun, pikiranku masih tertuju pada anak kos itu... Siapakah sebetulnya dia?

Hari demi hari berjalan seperti itu, kami sibuk dengan sabun, sikat, pelembut pakaian, air, ember, pipa air. Sedangkan anak kos itu pasti sibuk dengan berbagai kegiatannya yang warna-warni.

Hingga ketika kami sedang menggosok pakaian, di belakang kami sudah berdiri Bapak Kos. "Bik," katanya kepada ibuku.
"Pembayaran upah mencuci bulan ini sebetulnya belum bisa saya berikan."

Ibuku tertegun. Terbayang kami tidak punya uang yang Rp 200.000 sebagai upah mencuci. Bagaimana harus membayar uang kos dan makan? Betapa berat hanya untuk mencukupi kebutuhan pokok ini.

"Mengapa belum bisa saya berikan...," lanjut Bapak Kos, "karena hampir semua anak kos di sini membayar kos bulanannya terlambat. Bahkan, ada yang sampai tiga bulan belum membayar."
Betapa pusing kepala ibuku, aku bisa melihat dari perubahan wajahnya yang memucat.
"Namun, pembayaran Rp 200.000 tetap kuberikan!"
Bapak Kos memberi kejutan.
"Karena ... ini berkat satu orang dari enam anak kos yang membayar uang kos tepat waktu."
"Siapa dia, Pak?"

"Mas yang kamarnya di sini," jawab Bapak Kos sambil menunjuk kamar kos anak yang kupermasalahkan, kuanggap pelit, aneh, dan tidak turut mencucikan pakaiannya.

Bulan berikutnya, hal itu pun terjadi lagi. Anak kos yang kuanggap pelit itulah, kata Bapak Kos, yang menyelamatkan pembayaran ongkos mencuci bulanan kami. Bagi kami jelas sudah, anak kos ini tidak turut menyerahkan pakaiannya untuk kami cuci, agar ia dapat membayar uang kos kamar secara tepat waktu.

"Mas, terima kasih telah membayar uang kos tepat waktu. Karena, dengan pembayaran uang Mas itulah, kami, sebagai tenaga pencuci pakaian, dibayar oleh Bapak," kata ibuku kepada satu-satunya anak kos yang selalu tepat waktu membayar sewa kamar kos itu.

Lelaki, anak kos itu, hanya tertawa. Pakaiannya tetap kucal tak tersetrika, sedangkan pakaian kotornya menggunung di depan kamarnya. Aku tak lagi mempersoalkan hal ini. Aku juga tak lagi mempermasalahkan siapa dia dan apa pekerjaannya.

Sedangkan terhadap anak-anak kos yang lain, aku makin bertanya-tanya, sebetulnya apakah pekerjaan masing-masing mereka. Mereka adalah anak-anak kos yang pembayaran uang kos dan cuciannya selalu terlambat, namun tetap saja pakaian mereka licin dan rapi. Yang berarti, setiap hari selalu menikmati hasil kerja kami dengan membanting tulang dan memeras keringat, untuk mencuci dan melicinkan pakaian mereka. ***

Catatan Redaksi
Yonathan Rahardjo adalah pengarang novel Lanang, salah satu pemenang "Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006"
Selengkapnya...

AddThis Social Bookmark Button
Link ke posting ini


Design by Amanda @ Blogger Buster